Tiga tahun menjalani pernikahan, Rindu dan suaminya masih menanti kehadiran buah hati. Di tengah cinta yang mereka bangun, harapan itu perlahan berubah menjadi beban ketika sang mertua terus menyalahkan Rindu dan mendesaknya untuk segera memberikan cucu.
Tekanan yang tak kunjung reda membuat hubungan mereka mulai retak. Di saat kepercayaan dan komunikasi memudar, hadir sosok perempuan lain yang menawarkan perhatian dan kenyamanan kepada suami Rindu. Kehadiran orang ketiga itu menjadi ujian terbesar dalam pernikahan mereka. Kini, Rindu harus memilih terus bertahan memperjuangkan rumah tangganya atau melepaskan cinta yang perlahan berubah menjadi luka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permintaan yang belum bisa di kabulkan!
Di dalam unit apartemen, Di balik yang menampilkan gemerlap lampu kota, seorang perempuan berdiri disana.
Ia meremas jemarinya sendiri, mencoba menahan luapan emosi yang sudah berbulan-bulan mengendap di dalam dadanya.
Arsen berdiri beberapa langkah di belakangnya, menatap punggung perempuan itu dengan tatapan yang dipenuhi rasa bersalah yang teramat besar.
Perempuan itu tiba-tiba membalikkan badannya. Matanya yang kini tampak sembap dan merah, menatap Arsen dengan tatapan menuntut yang begitu perih.
"Sampai kapan kamu mau menyembunyikan hubungan kita, Mas?" tanya perempuan itu pada Arsen. Suaranya serak, sarat akan keputusasaan yang mendalam.
Arsen menghela napas panjang. Ia melangkah mendekat, mencoba mengikis jarak di antara mereka, lalu mengulurkan kedua tangannya untuk menyentuh pundak perempuan itu, berusaha menyalurkan ketenangan yang sebenarnya tidak ia miliki.
Semalam, baru saja dia berdebat dengan ibunya, karena terlalu menyudutkan rindu. Kini, istri keduanya malah meminta agar hubungan mereka di umumkan.
"Belum saatnya, Sayang," jawab Arsen dengan nada suara yang sangat lembut, mencoba meredam ketegangan.
Namun, jawaban klise itu justru menyulut api yang lebih besar. Perempuan itu menepis tangan Arsen dari pundaknya dengan kasar, mundur satu langkah untuk menjauh.
"Lalu, kapan saatnya?!" tanya perempuan itu dengan nada yang sudah mulai meninggi.
Ia menatap Arsen dengan kilatan amarah yang tidak bisa lagi disembunyikan.
"Setiap kali aku meminta kejelasan, jawabanmu selalu belum saatnya. Sampai kapan, Mas? Sampai setahun lagi? Dua tahun lagi? Atau sampai aku mati dalam persembunyian ini?"
Arsen memijat pangkal hidungnya yang terasa pening. Bayangan wajah Rindu yang tulus, wajah ibunya yang menuntut, dan kini air mata perempuan di hadapannya membuat kepalanya serasa ingin pecah.
"Nanti, aku takut kalau Rindu belum bisa menerima semua ini," kata Arsen, suaranya merendah, nyaris berbisik. Nama Rindu diucapkan seperti sebuah beban berat yang mengikat kedua kakinya untuk melangkah.
Mendengar nama itu disebut, perempuan itu tertawa getir. Air matanya mengalir semakin deras, membasahi pipinya yang mulus.
Tatapannya berubah menjadi sangat terluka, bercampur dengan rasa cemburu yang membakar.
"Rindu lagi, Rindu lagi! Apa cuma Rindu yang kamu pikirkan? Kamu anggap apa aku ini, Mas?!" cecar perempuan itu, suaranya melengking di dalam ruangan yang sunyi.
"Aku sudah kayak pelacur, yang sembunyi-sembunyi saat mau bertemu dengan suamiku sendiri! Punya suami, tapi kayak nggak punya suami!" ucapnya dengan suara yang tiba-tiba melosot lirih di akhir kalimat.
Tubuhnya melorot ke lantai, kehilangan seluruh kekuatannya.
Kalimat terakhir itu menghantam kesadaran Arsen bagai hantaman gada yang sangat keras.
Status pernikahan siri yang mereka jalani secara rahasia, tanpa sepengetahuan Rindu, kini benar-benar menguliti harga diri perempuan di hadapannya.
Arsen berlutut di atas lantai, mendekap tubuh perempuan itu dengan erat ke dalam pelukannya. Namun, di dalam hatinya, Arsen tahu bahwa ia sedang berada di ambang kehancuran. Rahasia besar ini perlahan-lahan mulai meruntuhkan seluruh hidupnya, dan waktu untuk membayar semua kebohongan ini tampaknya sudah semakin dekat.
Namun, pelukan erat Arsen sama sekali tidak menyelesaikan masalah. Di dalam keheningan itu, suara perempuan itu kembali terdengar, kali ini tanpa teriakan, melainkan dengan nada dingin yang menuntut kepastian mutlak.
"Kalau begitu. Beritahu ibumu tentang pernikahan kita," katanya sambil perlahan mendorong dada Arsen,
Matanya yang menatap lurus ke dalam manik mata Arsen, mengunci sisa-sisa keberanian pria itu.
"Bukankah ini yang ibumu mau? Seorang cucu? Kita sudah menikah secara sah di mata agama, Mas. Kalau memang dia yang menuntut semua ini, kenapa kita harus bersembunyi dari Rindu seolah-olah kita yang bersalah? Beritahu ibumu sekarang, dan biarkan dia yang menghadapi Rindu."
Arsen terpaku. Lidahnya mendadak kelu. Permintaan itu terdengar begitu sederhana di telinga istrinya, namun merupakan sebuah bom waktu di kepala Arsen.
Arsen memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan keheningan malam di dalam apartemen itu menekan dadanya yang kian sesak.
Pundaknya merosot, mencerminkan seluruh beban yang selama ini ia pikul sendirian di antara tiga wanita dalam hidupnya.
"Itu nggak mudah, Sayang..." kata Arsen. Suaranya serak, terdengar begitu lelah dan putus asa.
Ia kembali meraih jemari istrinya, menggenggamnya erat seolah takut perempuan di hadapannya akan benar-benar pergi atau hancur jika ia melepaskannya.
"Kamu pikir aku menikmati semua sandiwara ini? Kamu pikir aku tenang setiap kali harus membohongi Rindu, atau mengangguk patuh di depan Ibu seolah aku ini robot?" Arsen menatap mata sembap perempuan itu dengan tatapan memohon.
"Kamu tahu sendiri bagaimana kerasnya Ibu. Kalau kita bongkar ini sekarang, sebelum kamu mengandung, Ibu bisa saja membalikkan keadaan. Dia bisa mendesakku untuk menceraikanmu dan mencari perempuan lain demi obsesinya pada cucu. Aku nggak mau kehilangan kamu!"
"Lalu aku harus menunggu sampai kapan, Mas?" tanyanya lagi. Suaranya melosot lirih, terdengar begitu lelah oleh ketidakpastian yang terus-menerus menggerogoti harga dirinya.
"Sampai kapan aku harus hidup dalam bayang-bayang ketakutanmu?"
Arsen menangkup wajah perempuan itu dengan kedua tangannya, menghapus sisa air mata di pipinya dengan ibu jari. Ia menatapnya dengan tatapan penuh permohonan yang teramat sangat.
"Secepatnya aku pasti akan memberitahu Rindu dan Ibu. Kamu sabar ya, Sayang," kata Arsen, mencoba meyakinkan dengan nada suara yang bergetar.
"Beri aku sedikit waktu lagi untuk mencari momen yang tepat. Aku nggak mau gegabah dan malah mengacaukan semuanya."
Perempuan itu memejamkan mata, membiarkan sentuhan tangan Arsen menenangkan kulitnya.
"Kalau begitu malam ini kami nggak usah pulang ya. Kamu disini temani aku. " Kata perempuan itu.
Perempuan itu menatap Arsen lekat-lekat, lalu menggenggam balik pergelangan tangan pria itu.
Tatapan matanya yang semula penuh amarah, kini meredup, menyisakan permohonan yang teramat rapuh.
"Kalau begitu, malam ini kamu nggak usah pulang ya. Kamu di sini temani aku," kata perempuan itu.
Arsen tertegun. Pikirannya langsung melayang pada Rindu yang mungkin saat ini sedang menunggunya di rumah dengan cemas.
Namun, melihat bahu perempuan di hadapannya yang masih bergetar dan tatapan matanya yang begitu hancur, Arsen tidak tega untuk melangkah pergi.
Sambil menghela napas berat, Arsen mengangguk pelan. Ia menarik tubuh perempuan itu kembali ke dalam dekapannya, mengusap punggungnya dengan lembut.
"Iya, aku di sini. Malam ini aku nggak akan ke mana-mana," bisik Arsen pasrah.
Arsen memutuskan untuk menepis bayang-bayang bersalahnya pada Rindu untuk sementara waktu.
Malam ini, ia memilih untuk meredam badai yang ada di depan matanya, meski ia tahu kebohongannya kini telah selangkah lebih dekat menuju ujung jalan.
buatlah rindu bercerai dari Arsen & keluar dari keluarga toxic itu. aku ga rela rindu menderita lebih lama lagi 🥺🥹
btw jangan lama² bongkar kebusukannya si Arsen & Nia dong,Thor. kasihan banget di rindu...
tolong buat dia pisah dari Arsen & keluarga toxic nya itu lalu buat dia bahagia ya, Thor....🙏🫵🫰