Salsabila Nugroho adalah putri dari Malik Nugroho dan Kirana. Saat ini Salsabila menduduki bangku kelas tiga SMA, Salsa yang sudah tumbuh dewasa terkenal dengan kenakalanNya bersama dengan sahabatnya Naura.
Saat Salsa melakukan kesalahan, sang wali kelas Salsa selalu memanggil orang tuanya. Tetapi Salsa tidak pernah mendatangkan orang tuannya melainkan ia akan menyewa seseorang teman dekatnya.
Hingga sesuatu hari kenakalan Salsa sampai ke telinga Malik. Apakah yang akan Malik lakukan menghadapai putri bungsunya itu?.
Yok kepoin cerita dari Cinta Salsabila...😊
dan jangan lupa like commet dan beritahu kepada teman-teman sekalian supaya novel ini banyak yang tau.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanti sihite, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Salsa yang kini telah berada di jalan raya membuat Liam khawatir dari kejauhan, hingga ia melihat Salsa yang ingin menyebrang. Dengan mata membulat, Liam pun langsung berlari kearahnya sebelum Salsa melangkah. "Apa kamu sudah gila?" Bentak Liam sangat marah.
Salsa tersenyum melihat kekhawatiran diwajah Liam, "Aku pikir kamu akan membiarkan ku Liam, ternyata kamu masih perduli, terima kasih Liam" Peluknya.
Liam menghela nafas panjang menatap sekitarnya. "Sebaiknya kamu pulang, aku akan mengantar mu".
Salsa menggeleng.
"Jangan banyak melawan, ini sudah tengah malam" Liam segera menghentikan salah satu taksi. Setelah taksi tersebut berhenti dihadapan mereka, Liam dan Salsa langsung masuk kedalam, "Pak, tolong bawa kami ke perumahan xx".
"Tidak Liam, aku tidak ingin pulang".
"Diamlah".
"Kalau gitu, lebih baik aku turun disini saja. Pak tolong hentikan mobilnya".
"Salsa" Bentak Liam kembali sedikit pelan.
"Pokoknya aku tidak mau pulang kerumah".
"Terus kamu mau kemana malam-malam seperti ini".
"Kerumah mu hehehe".
"Tidak bisa, besok aku harus bekerja".
"Mmmmm.. Aku ikut kerumah mu".
Liam mendengus, "Pak, langsung saja ke alamat xx ya".
"Baik tuan" Angguknya membawa Liam dan Salsa ke alamat yang baru saja Liam ucapkan. Setibanya mereka disana, Liam membayar ongkos taksi mereka. Setelah itu ia dan Salsa segera menaiki anak tangga menuju atap paling atas dimana Liam tinggal.
"Ini rumah mu Liam?".
"Mmmmm.. Masuklah, diluar dingin".
Mereka berdua telah berada di dalam rumah, Liam menyiapkan teh madu hangat, lalu ia memberikan ditangan Salsa, "Terima kasih Liam" Senyum Salsa menerima miliknya. "Aahh, iya. Tadi sedang apa kamu disana Liam? kenapa kita berdua kebetulan bertemu disana?".
"Aku sudah biasa kesana".
"Mmmm.. Kalau aku tadi disana bersama dengan Naura, kami tadi sedikit membicarakan kamu dan akhirnya kita bertemu disana hehehe apa ini namanya jodoh?".
Liam terdiam.
"Sekarang kamu kerja dimana Liam?".
"SEGI" Jawabnya.
"Hhhmmm.. Perusahaan papa maksudnya?".
"Mmmmm".
"Wah.. Selamat ya Liam, akhirnya kamu diterima juga disana" Senang Salsa memeluk Liam dari sampingnya. "Liam, aku sangat merindukan mu" Ucapnya lagi.
"Sayang sekali, tapi aku tidak merindukan mu Salsa" Balas Liam melepaskan pelukan Salsa.
"Benarkah kamu tidak merindukan aku?".
"Mmmmm.. Sebaiknya kamu tidur, untuk malam ini kamu boleh menggunakan kasur ku".
"Kamu tidur dimana?".
"Aku akan tidur disini".
"Kenapa kita tidak tidur berdua saja di tempat tidur mu Liam?" Senyum Salsa. "Ayolah Liam, untuk malam ini saja mmmmm" Rayu Salsa.
"Sebaiknya kamu tidur sebelum aku berubah pikiran" Ujar Liam memasuki kamar mandi untuk membasuh wajahnya.
Kemudian Salsa tersenyum lagi melihat punggung Liam yang sudah memasuki kamar mandi, lalu Salsa melihat sekitarnya hingga kedua matanya tertuju kearah ponsel Liam yang terletak diatas meja kerjanya. Salsa menatap pintu kamar mandi kembali, dengan senyum mengembang di wajahnya Salsa, ia menyambar ponsel Liam dan segera membukanya
Namun sayangnya, ponsel Liam malah terkunci sehingga ia tidak bisa membukanya. "Apa yang sedang kamu lakukan dengan ponsel itu?".
"Astaga" Kaget Salsa langsung menjatuhkan ponsel Liam diatas meja. "Aahh maaf Liam" Tunduk Salsa merasa bersalah. "Aku tidak bermaksu.. Aahhh" Kaget Salsa begitu Liam menarik tanganNya kedalam dekapanNya hingga jarah diantara mereka berdua sangat dekat. "Liam".
"Kenapa?".
"Aku tidak bisa bernafas".
Liam mengerutkan keningnya, lalu ia melepaskan Salsa. "Ck, kok aku malah bilang enggak bisa bernapas sih? iikkhh, bodoh-bodoh kamu bodoh sekali Salsa" Umpat Salsa dalam hati.
"Kalau kamu ingin mencuci wajah dulu, masuklah" Ucap Liam.
"Mmmmm" Angguk Salsa segera masuk kedalam kamar mandi.
Begitu Liam mendengar suara pintu kamar mandi tertutup, baru ia menyentuh dadanya, "Apa yang aku lakukan? kenapa aku tiba-tiba ingin melakukanNya? Tidak, itu tidak boleh terjadi" Gumam Liam keluar dari dalam rumahnya menghirup udara segar. "Aahh, kenapa dia harus kembali lagi disaat aku sudah berhenti memikirkanNya?".
Sekeluarnya Salsa dari kamar mandi, ia tidak melihat Liam berada disana, "Liam kemana? kenapa dia tidak berada disini" Gumam Salsa mencari-cari keberadaan Liam.
Ceklek!
"Kamu dari mana Liam?".
"Aku menghirup udara segar sebentar diluar".
"Mmmmm".
"Kenapa kamu tidak tidur duluan? istirahatlah".
Salsa tersenyum, "Kita tidur bareng yah Liam? please".
"Apa yang sedang kamu pikirkan, kamu tidak takut tidur bersama denga..
"Aku tidak takut Liam" Potong Salsa menarik tangan Liam keatas tempat tidurnya. "Seperti ini saja Liam, aku janji tidak akan berbuat macam-macam".
Liam tersenyum, "Kenapa jadi dia yang berkata seperti itu?" Gumam Liam. Kemudian ia menatap wajah Salsa hingga kedua mata Liam berhenti di bibir Salsa. "Aaiiss, kenapa jadi aku sendiri yang berpikir kotor" Kesal Liam dalam hati.
"Liam, kamu kenapa?".
"Tidak apa-apa, tidurlah".
"Mmmm.. Selamat tidur sayang uummcchh" Dengan cepat Salsa langsung mencium bibirnya Liam, "Hehehe maaf".
Sedangkan Liam yang mulai tergoda membuat pikiranNya menjadi kotor, "Tidak Liam, jangan sampai kamu melakukanNya, jangan sampai Liam" Teriak Liam dalam hati meskipun kedua matanya masih saja memperhatikan Salsa yang sedang tersenyum manis kepadanya.
"Kamu juga tidurlah dan biarkan tangan ku menggenggam tangan mu" Salsa menutup kedua matanya.
Kemudian Liam menelan ludahnya dalam-dalam, lalu kedua matanya tertuju kearah bibir mungil Salsa kembali. Dengan pelan-pelan Liam melepaskan tanganNya dari genggaman Salsa, "Biarkan seperti ini Liam, aku sangat mengantuk sekali".
Liam tidak menjawabnya, ia dengan lembut menyentuh wajah mulus Salsa sambil mendekatkan wajahnya, "Liam, ada apa?".
Lagi-lagi Liam tidak menjawabnya, ia semakin mendekatkan wajahnya, dengan pipi merona Salsa menutup kedua matanya membuat Liam tersenyum senang, "Kenapa kamu menutup mata Salsa?".
"Hhhmmm?" Salsa membuka kedua matanya.
"Aku bertanya kenapa kamu malah menutup mata".
Dengan kesal Salsa mendorong tubuh Liam, "Yah" Bentaknya.
"Kenapa?".
"Ck, tau aahh".
Liam tersenyum.
"Wah.. Apa kamu sedang menertawai ku? ck".
Liam menggeleng, kemudian ia dengan cepat langsung menimpah tubuh Salsa dan menciumnya tampa meminta izin.
Dengan mata berbinar-binar, Salsa pun membalas ciuman Liam hingga ciuman itu semakin dalam. Saat keduanya mulai merasa kehabisan nafas, Liam segera menghentikanNya, "Kenapa kamu mencium ku Liam?" Senyum Salsa menggodanya. "Apa kita sekarang berpacaran? ini sudah 4 tahun lamanya loh dan sampai sekarang aku masih saja memegang janji itu".
"Aku tidak mengingatnya dan aku tidak pernah berjanji akan menunggu mu".
"Hey.. Ayolah Liam" Senyum Salsa kembali memeluk pinggang Liam. "Mari kita menghabiskan waktu malam ini Liam".
Liam tersenyum, "Kamu yakin tidak akan menyesalinya?".
"Mmmmm".
"Baiklah" Liam kembali mencium bibir Salsa begitu juga dengan Salsa yang membalas ciuman Liam, dan jangan lupakan kedua tangan Liam yang kini telah berada di dalam pakaian Salsa, dengan lembut ia melepaskan pengait bra Salsa lalu ia melepaskanNya. Kemudian Liam membisikkan sesuatu di telinga Salsa, "Jangan salah kan aku jika kamu menyesalinya nanti".