Saniya Syamira, tak memiliki pilihan lain selain menerima perjodohan amanah dari almarhum kakeknya.
Terlebih sang ibu mengkhawatirkan dirinya jadi perawan tua dikarenakan memiliki kekurangan. Saniya penyandang disabilitas fisik, kaki kanannya diamputasi sedari dia berumur 8 tahun.
Mampukah Saniya menjalani biduk rumah tangga bersama pria berstatus duda yang pernah gagal menikah sampai dua kali dengan wanita sama yakni, cinta pertamanya?
Lantas, bagaimana dengan sepasang anak tirinya, bisakah mereka menerima wanita lain selain ibu kandung?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencari perhatian : 05
Saniya mendorong pintu mobil, baru saja kakinya menjejak lantai paving block berwarna merah bata, seruan cadel balita bergaya bak bajak laut di serial kartun Spongebob Squarepants, menyapa indera pendengarannya.
“Ayo usil ibu tili yang cuma cinta duit papiku saja!” terengah-engah dia mengatakannya, perutnya kembang kempis, lirikan mautnya sangat sinis. Pedangnya diacungkan ke depan.
Brak!
Balita belum genap berumur empat tahun, lari ke belakang dan bersembunyi di balik kaki pengasuhnya. Senjatanya dilempar. Dia takut melihat sang ayah berkacak pinggang.
“Ardan Wilman, siapa yang mengajari ngomong seperti tadi?” suaranya naik setengah oktaf.
Saniya bergeming, dalam hati tersenyum menyaksikan anak laki-laki mengintip sambil memeluk paha pengasuhnya yang terlihat gelisah.
Kaki sang pengasuh bergerak, lalu gadis hitam manis berambut keriting diikat rapi, berbisik seraya menunduk.
Pelan-pelan Ardan maju, kedua tangannya bertaut di belakang tubuh, membuat perut bulatnya maju ke depan. Di berdiri pada batas tepian teras. “Aku nyanyi dangdut, Pi.”
Bukan Yarash yang menanggapi, melainkan Saniya. Dia melangkah sedikit maju, masih menyisakan jarak supaya Ardan tidak merasa terintimidasi. “Boleh Tante dengar ulang lagu yang kamu nyanyikan tadi?”
Mata bulatnya menyipit, bibir dimajukan, dia tidak berkedip menatap lekat. “Papi suluh panggil Mami.”
Sebelum Yarash mencoba membantu melengkapi kalimat putranya yang masih sedikit sulit merangkai kata pas, Saniya lebih dulu paham.
“Memangnya kamu mau manggil Tante, Mami?”
“Ndak!” Gelengan kepalanya seperti boneka berpegas, dia menjawab jujur. “Aku udah punya Mommy.”
“Anak pintar.” Saniya menahan tangannya agar tidak mengusap rambut tebal berwarna hitam.
“Kan aku udah besal,” dipuji pintar, langsung kedua tangan bersedekap diatas perut membuncit.
“Terus sekarang Tante boleh dengar kamu nyanyi lagu tadi tidak?” Saniya berbicara dengan suara sedang, intonasi biasa digunakannya ketika sedang berinteraksi dengan anak-anak didiknya.
“Lupa. Malas mikil.”
‘Anak ini cukup cerdik, pintar membaca situasi. Paham jika mas Yarash tidak suka kata-katanya tadi, langsung beralibi,’ Saniya memuji putra sambungnya.
“Ardan, salim ke Ma — Tante,” Yarash meralat kalimatnya.
Tangan kanan berjari gemuk terangkat, melambai. “Sini, ini ndak sampai.”
Saniya maju, lalu menyambut uluran kecil dan memperhatikan kuku dipotong pendek, rapi.
Salaman itu bukan sekadar kecupan di punggung tangan, melainkan lidah Ardan menjilat kulit halus. “Ndak ada lasanya.”
“Coba kamu jilat tanganmu sendiri, apa rasanya?” canda Saniya.
“Gak mau. Asin.” Dia menggeleng, pernah melakukan hal tersebut.
“Ngomong-ngomong namanya siapa?” tanya ibu sambung belajar mengakrabkan diri.
“Aldan Wilman.”
“Oh, Aldan Wilman. Nama —”
“Bukan Aldan, tapi ALdan pakek L bukan LL.” Ia kembali bersedekap tangan. Alisnya hampir menyatu dengan kening mengerut, mulut mengerucut, sorot mata dipaksakan memicing.
“Aldan Wilman, kan?” Saniya ingin mengetes, seberapa sabar balita berbadan gempal ini.
“Udah besal tapi ndak pintal. Males aku tu.” Kakinya menghentak lantai, sudah tidak bersemangat melakukan penyerangan seperti dalam kartun ditontonnya.
Saniya mengulum bibir, lalu kembali berekspresi biasa, tidak menunjukkan kalau dia menahan tawa. “Ardan Wilman, Tante senang bisa berkenalan sama kamu.”
Mata Ardan berkedip-kedip, terkejut tapi malu mengakuinya. Dia melengos, berbalik badan dan melangkah lebar meski kakinya masih pendek.
“Sus Suci dalam debu, ayo masuk!”
Sang pengasuh menunduk sungkan, takut dikira dia yang mengajari Ardan. “Maaf, Pak, Bu.”
Saniya mengangguk, memaklumi. Anak seusia Ardan sedang giat-giatnya menyerap hal baru, kritis, rasa ingin tahunya membumbung tinggi.
“Ayo masuk!” ajak Yarash, dia naik ke teras, awalnya ingin membantu Saniya, tetapi si wanita sangat mandiri, lebih dulu berdiri tegak.
Mereka jalan beriringan memasuki hunian dua tingkat yang terlihat lenggang, tepat dalam penataan furniture sehingga menjadikan setiap ruangan terasa lebih luas, nyaman.
Braakk!
Suara benda dijatuhkan ke lantai terdengar bising, ternyata pelakunya balita yang ingin pamer.
Ardan menuang isi kotak kontainer besar. Lego berukuran dari kecil hingga besar berserakan pada lantai marmer putih.
Bukan cuma Lego, Ardan juga membongkar mainan truk pengangkut kawanan Dinosaurus.
Hampir saja dia terpeleset dikarenakan menginjak lego warna kuning.
“Kamu nakal, mau buat aku nyungsep.” Kakinya menendang mainan sebesar jempol jari tangan.
Dua asisten rumah tangga menghampiri sang tuan dan nyonya baru, menyapa sopan.
“Bibi, Mbak, mulai hari ini, Ibu tinggal di sini. Tolong perlakukan dia sama seperti kalian melayani saya, Tatiana dan Ardan,” titahnya tegas, namun tak membentak.
“Baik, Pak. Selamat datang, Bu ….” Bibi berperawakan sedikit gemuk, berucap sopan.
Rekan kerjanya pun mengatakan hal serupa, lalu memperkenalkan diri saat dipinta. “Saya Juraida, Bu. Tukang bersih-bersih.”
“Kalau saya bi Lilik, Bu. Tugasnya masak, ya juga bersih-bersih rumah,” sambung bibi yang sudah berumur 42 tahun.
“Saya Saniya, kalian bisa panggil Niya atau Saniya juga gapapa,” sahutnya menyambut tidak kalah ramah.
Sopir bertanya tentang dua koper mau dibawa kemana.
“Letakkan di ruang santai saja dulu, Pak,” jawab Yarash.
Tung! Tung! Tung!
Si kecil berulah, merasa diabaikan. Palu mainan dipukul ke kaleng susunya yang isinya tinggal sedikit.
Ardan nyaris terjungkal. Kakinya tidak sampai naik ke sofa lumayan tinggi. Beruntung pengasuhnya bergerak gesit menahan bokong lebar nan padat.
Ujung palu dibalik, dijadikan mikrofon, lalu dia berteriak kencang. Menirukan salah satu tokoh yang ditontonnya ketika berpidato. “Hai antek-antek asing!”
“Astaga, Ardan Wilman!” Yarash mendekati putranya, langsung memanggul layaknya karung beras. “Kamu ini gak bisa apa tenang sebentar saja?”
Hahaha ….
Ardan terpingkal-pingkal, perut bulatnya digelitik sampai air liur menetes ke lantai.
Tatapan Saniya menghangat, teringat masa silam yang sudah sangat lama tak lagi pernah dirasakan olehnya.
Keseruan itu terganggu oleh suara ketus yang baru saja masuk ke dalam rumah. “Gayanya sok keibuan, padahal dalam hati sudah pasti kegirangan bisa menikah sama papiku. Cihh!”
.
.
Bersambung.
Teruntuk genre horor, akan dirilis ulang pada hari Jumat.
Bagi yang takut bacaan horor, tolong jangan buka bab ya, Kakak 🙏. Biarkan saja, jangan di beri komentar, gift atau lainnya. Terima kasih.
Dan yang berniat membaca, saya harap bersedia mengulang dari awal. Makasih banyak, Kak 🙏
ini sdh pol pas... bagus
si kecil ardan & si tita mulut racun😁
jngn di ganti lg ya kak cublik
lupakan lepaskan belenggu masa lalu.. sambutlah masa depan
dahayu apa kabarrr...