NovelToon NovelToon
Cincin Kedua

Cincin Kedua

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Cerai / Single Mom / Konflik Rumah Tangga-Pernikahan Angst / Tamat
Popularitas:300.7k
Nilai: 4.8
Nama Author: IkeFrenhas

Novel romance pernikahan

Aku telah bertahan semampu yang aku bisa. Jika di sinilah pertahananku kandas. Maka biarkan diriku pergi dari kehidupanmu. Selamat tinggal.

Olivia meninggalkan sepucuk surat di atas meja riasnya. Sungguh, dirinya tidak pernah menyangka jika beginilah nasib pernikahannya. Lima tahun bersama seakan tiada berarti apa-apa. Kebahagiaan dan perjuangan dalam mempertahankan keutuhan rumah tangganya telah berakhir. Saatnya Olivia melangkah pergi, meninggalkan segala kenangan yang ia ukir bersama suaminya di rumah itu.

Derai air mata mengiringi langkahnya. Bagaimanapun kepedihan itu terjadi. Olivia harus mampu bertahan, demi janin yang dikandungnya.

Bagaimana Olivia dan calon anaknya menapaki hidup selanjutnya? Mampukah ia bangkit dari keterpurukan yang dialaminya? Atau, malah menyerah dan memilih kembali kepada kehidupan yang sebelumnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IkeFrenhas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Tiga Tiga

Hari ini, Olivia merasa bingung sendiri dengan perasaannya. Mamanya Nadia memberi kabar bahwa mereka akan pindah ke Jakarta. Sang papa dimutasi ke sana. Itu artinya, satu keluarga akan diboyong pindah dan tentu jalan berdampak kepada Nadia yang pasti ikut pindah juga. Setelah lepas dari seragam putih biru, Nadia akan melanjutkan sekolah di Jakarta.

Kabar yang lebih mengejutkan adalah saat mamanya Nadia meminta Olivia agar bisa mengurus rumah beserta rukonya yang terletak tidak jauh dari kampus. Tentu saja ia belum bisa memutuskan untuk menerima atau menolak tawaran itu. Olivia harus mendiskusikan berita tersebut dengan sang suami.

"Kamu bisa membuka usaha laundry di sana, Oliv. Aku rasa akan ramai karena banyak mahasiswa dan belum ada usaha itu di sana." Ucapan mamanya Nadia seakan memberi peluang besar kepadanya.

"Tapi saya tidak punya modal, Ma," balas Olivia apa adanya.

"Aku akan berinvestasi. Nanti kita bagi hasil. Bagaimana?"

Seperti hujan yang turun di musim kemarau, tawaran wanita itu tentu saja sangat menggiurkan. Namaun, lagi lagi Olivia belum bisa mengambil keputusan secepatnya. Ia harus bertukar pendapat dengan suaminya.

"Doakan semuanya lancar ya, Ma. Aku bicarakan ke Kak Vino dulu. Aku sangat berharap kalau dia setuju dengan rencana ini," pinta Olivia sungguh - sungguh.

"Aamiin. Aku juga sangat berharap kita bisa bekerjasama."

Olivia pulang dengan banyak rencana di kepala. Membayangkan jika Vino setuju dengan usulan itu lumayan sangat membantu perekonomian mereka. Vino juga tidak perlu lagi bekerja sebagai kuli, kalau pun masih ingin bekerja di sana maka Olivia lah yang akan menjalankan usah itu. ia bertekad akan bersungguh - sungguh dalam menjalankannya nanti.

Sesampainya di rumah Olivia langsung memasak makanan kesukaan sang suami. Menatanya di atas meja dan menunggu dengan gelisah. Hingga jam menunjuk ke angka tujuh, Vino belum juga pulang.

Olivia menghubungi suaminya itu menanyakan keberadaannya. Lelaki yang dikhawatirkan itu menjawab jika dirinya sedang dalam perjalanan. Benar adanya, tiga puluh menit kemudian suara kendaraan roda dua yang sudah dihafal Olivia tersebut berhenti di halaman.

Olivia bergegas membuka pintu, tetapi tidak berniat menunggu Vino di depan teras. Ia memilih bersembunyi di balik pintu. Setelah mendengar derap langkah memasuki rumah barulah ia keluar untuk menyambut kedatangannya.

"Kenapa sembunyi gitu, sih?" keluh Vino.

Olivia tidak menjawab hanya menampilkan cengiran lalu mengulurkan tangan untuk meminta salim. Seperti biasa, Vino pun akan mengecup kening istrinya.

"Kelihatan capek banget ...," ujar Olivia pelan.

Vino bergumam tak jelas.

Kemudian, Olivia pun menyiapkan air untuk mandi suaminya tak lupa menyiapkan pakaian di atas ranjang. Setelah itu barulah ia membutakan secangkir teh hangat.

"Buatanmu memang selalu enak. manisnya juga pas," puji Vino setelah menyeruput teh di cangkirnya.

Olivia hanya tersenyum menanggapi pujian itu. Tanpa ingin membuang waktu, ia pun segera mengajak Vino ke dapur untuk menyantap hidangan makan malam yang telah ia siapkan.

Satu kebahagiaan yang bisa Olivia rasakan saat Vino saat menikmati masakannya sampai habis lalu menambah lagi. Rasanya segala lelah yang wanita itu rasakan seharian ini lenyap begitu saja. Berganti perasaan senang yang tidak bisa tergantikan dengan apa pun.

"Duh, kenyang banget. Naik lagi kayaknya nih berat badan aku," ujar Vino seraya menepuk nepuk perutnya.

"Alhamdulillah," sahut Olivia dengan senyum terkembang.

Setelah membereskan meja makan, Olivia kembali duduk di hadapan Vino yang belum beranjak.

Olivia menimbang - nimbang apakah harus membicarakan masalah tawaran mamanya Nadia itu sekarang? Atau menunggu esok hari saat wajah Vino tampak lebih ceria. Pasalnya malam ini raut lelaki itu sangat tidak mengenakkan. Kusut dan lesu, padahal suaminya itu sudah mandi.

"Mau aku pijitin, Kak." Akhirnya, kalimat itu yang meluncur bebas dari mulutnya. Olivia mendekat lalu meletakkan kedua tangannya di kaki kiri Vino.Tanpa menunggu persetujuan dari lelaki itu, tangan Olivia mulai bergerak perlahan memberikan pijitan di kaki suaminya.

Olivia menyimpulkan diamnya Vino sebagai persetujuan atas tindakan yang ia lakukan. Lambat laun Vino memejamkan mata dan menyandarkan punggungnya ke dinding.

"Kayaknya ke kamar aja deh pijit memijitnya ini." Usulan Vino langsung dijawab anggukan oleh Olivia.

Setelah meletakkan meja makan kecil mereka ke sudut ruangan dan melipat karpet di lantai yang digunakan sebagai alas mereka makan tadi, Olivia pun segera menyusul Vino yang telah lebih dulu meninggalkan nya menuju kamar.

Di kamar, Vino telah berbaring dengan posisi tengkurap. Siap untuk di pijat. kaus oblong yang menutupi dadanya pun telah dilepas bersisa badan tanpa pakaian. Sedangkan celana yang dikenakan tetap dipakai.

Olivia mengambil minyak urut lalu meneteskannya di punggung Vino, memberikan pijatan pelan namun ditekan agar terasa efeknya. Kesempatan itu digunakan Olivia untuk bercerita kejadian hari ini di rumah Nadia.

"Kak, Nadia mau pindah ke Jakarta lho," ucapnya hati hati. Menunggu sejenak respons dari Vino barulah ia melanjutkan ceritanya.

Tidak banyak tanggapan yang diberikan lelaki itu. Sampai pada ucapan Olivia yang membuatnya bangkit untuk duduk.

" gimana maksudnya?" tanya Vino meminta penjelasan sekali lagi.

"Iya, jadi mamanya Nadia itu minta kita yang jaga rumah sama ngurusnya. Biar tetao terawat gitu. Sama satu ruko di dekat kampus, nawarin kita untuk buka usaha laundry ...."

"Terus?"

"Nanti modal semuanya dari sana. kita cuma jalani aja. Katanya juga di daerah situ belum ada yang usaha laundry, Kak. jadi ada peluang ramai," jelas Olivia.

"Utang kita gimana?"

"Kan bisa dicicil per bulan sambil laundryan jalan. Kaka setuju enggak?"

"Kami gimana?" Vino balik bertanya. Ia ingin mendengar pendapat sang istri atas tawaran tersebut.

Bagi Vino, asal Olivia setuju dengan tawaran itu untuk menerimanya dan nyaman menjalankan usahanya, ia pasti akan mendukung sepenuhnya.

"Kalau aku sih setuju, Kak. Lumayan kesempatan bagus kan. Lagian kalau Nadia nya pergi aku mau ngajarin siapa. nyari murid sekarang ini kan susah juga apalagi yang mau belajar."

Vini mengangguk berulang kali. "Kakak juga setuju. Yang penting kamu nyaman dan mau, Kakak kan dukung sepenuhnya."

"Serius kak?" Olivia bertanya tak percaya sekaligus kaget atas jawaban suaminya itu.

Binar bahagia di kedua mata Olivia itulah yang kini meyakinkan Vino agar bisa melangkah mengambangkan usahanya.

"Kapan kita lihat lokasinya?" tanyanya kemudian.

"Secepatnya, Kak. Senin depan mereka sudah pindah," terang Olivia semangat.

"Oke. Besok sebelum pergi kerja kita lihat lokasinya. Gimana?"

Olivia menghambur memeluk suaminya. "Terima kasih, Kak."

"Sama sama," balas Vino sembari mengelus punggung Olivia. "Tapi untuk sementara kamu ngurus sendirian bisa?" tanyanya.

"Siap. Enggak mungkin juga Kakak langsung berhenti di tengah tengah jalannya proyek pembangunan kan?"

Vino mengangguk. Harapan baru bagi mereka terbentang di hadapan. Keduanya tidak sabar menunggu esok hari.

1
Satria Devi
Luar biasa
Lienda nasution
gak seru akhirnya ..enak saja si veno mudah x diterima olvia gampang x ya dapatkan olivia
Yuliana Tunru
sakit bgt baca x thor ..jika tdk berdosa saat ini lbh baik minta cerai drpd jd mabtu yg tak dianggap dan disalqhkan trs ..vino jd suami tak guna dan mengabaikan istri demi hal yg tak jelas krn sampqi mati alvin jg viona sekalipun.mama x bino tak akan oernah mengagqp x ada ..murisss
Lina aja
terkena jebakan pelakor ni
Lina aja
klw suami kaya gtu emang cape k kita nya....
Lina aja
ahk suami luchnut itu malah nemenin bibit pelakor....istri lagi trauma juga....
Lina aja
mertua gda akhlak itu...suami nya juga lagi jaga anak malah di tinggal"udah celaka j g bisa txnggung jawab
Lina aja
kayanya Raisa tu cuma adik angkat....n vino mulai selingkuh tu m raisa
Lina aja
euleuh itu udah berapa tahun menunggu kehamilan Olivia ni
Lina aja
apakah vino udah punya Wil
Lina aja
keinginan yg harus di ikuti orang adalah keinginan yg egois itu.....
Lina aja
ihk ibu nya vino kayanya blum mau trima menantu nya dengan ikhlas tu
Lina aja
uhk kasian ni mna gda siapa" juga
Lina aja
masih suasana prihatin klw kita memulai semua dari nol.....sabar semoga berkah
Ike Frenhas: aamiiinnn
total 1 replies
Lina aja
klw mertua nya mau menerima menantu y kita juga senang lah
Ike Frenhas: Bener banget
total 1 replies
Lina aja
lanjut
Ike Frenhas
semangat bacanya sampai tamat ya, Kak
Lina aja
lanjut n semangat
Lina aja
lanjut
Lina aja
lucu
Ike Frenhas: 😁😁😁😁😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!