Kesempatan hidup kedua yang kudapatkan, akan aku manfaatkan dengan baik.
Aku berpikir siuman dari pingsan, tapi pada kenyataannya aku kembali ke waktu satu tahun sebelumnya.
Akan aku balas mereka yang telah menyakiti ku selama ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moena Elsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Peluang
Tak terhitung berapa gelas yang sudah diminum oleh Sean dan Kevin.
"Aku iri sama kamu Sean, kenapa kamu bisa punya segalanya. Cucu keluarga kaya, bahkan semua yang kamu inginkan, kamu dapat dengan mudah," racau Kevin.
"Aku tak pernah mengandalkan keluarga. Bahkan papa ku sendiri bukan contoh yang baik buat anaknya," ucapan Sean pun ikutan kacau.
"Tetap saja aku iri padamu," gelas yang dipegang Kevin telah kosong... Tak butuh lama tubuhnya ambruk di sandaran kursi dan tak sadarkan diri. Sementara Sean mengambil gelas berikutnya.
Andrew sibuk merekam keduanya. Akan dia tunjukkan saat keduanya sadar. Dan tentu saja sebagai bukti kalau Sean lah pemenangnya.
"Lumayan, sepuluh persen dari empat milyar," Andrew terkekeh membayangkan komisi yang akan dia dapat dari Sean karena menang taruhan malam ini.
"Dosa nggak sih? Ntar aku tanya author aja deh," batin Andrew.
Sean hendak mengambil gelas lagi.
"Cukup Sean, tuh lihat si biang kerok. Dia udah keok duluan," Andrew menahan lengan Sean.
"Seret dia! Aku tak mau dia ingkar dengan omongannya," suruh Sean.
"Siap bos," Andrew meminta anak buahnya melaksanakan perintah Sean.
Kevin membuka mata perlahan dengan perut mual dan kepala berasa berat.
"Hhhmmm di mana ini? Bukannya aku di club semalam," gumam Kevin.
"Bangun.... Mana empat milyar yang kamu janjikan?" tagih Sean saat Kevin belum sadar sepenuhnya. Sean berdiri tegak di depan Kevin.
"Kita sama-sama mabuk, apa jaminan kamu nggak bohong?" sangkal Kevin.
"Ha... Ha... Memang beda kalau berhadapan dengan orang yang biasa ingkar," Sean terbahak.
"Jangan kuatir, sudah saya siapkan segalanya. Biar kamu tak mengelak," Sean memutar video yang disiapkan Andrew semalam.
"Nih... Lihat dengan jelas!" suruh Sean.
"Oke... Oke....," Kevin mengakui kekalahannya kali ini karena tak ingin berakhir babak belur berhadapan dengan anak buah Andrew yang berjumlah puluhan orang.
"Santai aja. Uangnya sudah siap. Tunai," Kevin beranjak meski jalannya masih sempoyongan.
Uang tunai yang dimaksud adalah uang yang diberikan Yola sebagai sarana pembayaran hutang ke Morgan. Dasar Kevin.
.
Sean tersenyum setelah mendapat kan apa yang dia mau.
Ponsel nya berdering.
"Halo tuan Morgan, tiga hari lagi balik nama vila itu atas namaku," suruh Sean
"Besok sudah siap bos," sahut Morgan di ujung telpon.
"Baiklah. Senang bekerjasama dengan anda tuan Morgan," ucap Sean menutup panggilan
.
Kevin duduk lemas dengan kepala menyandar di kursi karena baru kehilangan empat milyar dalam semalam.
Mau melawan Sean, situasi tak mendukung. Kevin sendirian dan Sean lengkap dengan teman-temannya. Kevin berpikir rasional, pasti kalah melawan mereka. Daripada setor nyawa sia-sia.
"Aku harus cari alasan agar mama tak marah," Kevin memukul wajahnya beberapa kali hingga lebam-lebam untuk menyempurnakan akting nya saat nanti ketemu mama Yola.
Ponsel Kevin berdering, ada mama Yola di sana.
"Halo Mah," sapa Kevin.
"Pulang sekarang! Kemana aja kamu seharian Kevin?" teriak Yola.
Kevin berjalan gontai, membayangkan singa betina mengamuk nanti nya.
.
Yola duduk menyilangkan kaki saat Kevin masuk rumah.
"Darimana saja kamu? Tadi Morgan telpon mama, kalau uang yang kamu janjikan belum dia terima," ulas Yola dengan marah.
"Mah, tuan Morgan sedang di luar negeri dan tidak mau diganggu. Kemarin aku sudah ke sana," lapor Kevin.
"Terus?" Yola ingin mendapat penjelasan lebih lanjut.
"Jelas saja anggotanya tak mau terima uang nya," imbuh Kevin.
"Terus kemana uangnya sekarang?" kejar tanya Yola.
"Apa mama tak lihat kondisi anak mu ini? Kevin habis dirampok Mah. Dan uang nya dibawa sama komplotan itu," Kevin membuat alibi.
Plakkkkk
Bukan rasa kasihan yang didapat oleh Kevin, tapi sebuah tamparan keras dari sang mama.
"Keviiiiiiiiin, sampai kapan kamu akan belajar dewasa. Mama capek. Kamu berbohong bukan?" teriak Yola kesal.
"Tuan Morgan bilang kalau kamu tak ada niat untuk bayar hutangnya. Dan anak buah nya semalam lihat kamu taruhan di sebuah club. Dan kamu kalah" cerca Yola karena kesal dengan ulah sang anak.
"Tak tahu lagi mama musti ngapain," Yola memegang kepala nya pening.
"Maaf kan Kevin Mah. Semalam Sean yang mengajak taruhan. Dan Kevin dipaksa mengalah, Sean dengan banyak teman dan Kevin sendirian. Jelas saja aku nggak berani melawan," jelas Kevin yang tentu saja memutar balikkan fakta yang sebenarnya.
"Hanya papa yang bisa bantu," Kevin meraih ponsel hendak menelpon tuan Abimanyu.
"Papa mu hari ini pusing mikirin laporan keuangan. Jangan ganggu dia," cegah Yola.
Yola sengaja nggak datang ke kantor karena dilarang Abimanyu. Tim audit terakhir kali menemukan beberapa ganjalan dalam laporan keuangan perusahaan.
"Aku musti gimana Mah? Vila mama apa kabar nanti nya? Kalau lusa kita nggak dapat uang, vila itu jadi milik tuan Morgan," kata Kevin penuh sesal.
"Buang penyesalan kamu itu. Kalau tak ada uang mau gimana lagi," tukas Yola pasrah.
"Mah, harga vila itu tak sebanding dengan hutang kita ke tuan Morgan. Rugi bandar itu namanya," Kevin tak rela.
"Itu karena kebodohanmu Kevin," bahas Yola.
"Mama juga menyetujui waktu itu," Kevin tak mau disalahkan sepenuhnya.
"Sekarang kita pikirkan saja agar tuan Abimanyu tak marah pada kita," kata Yola.
"Hhmm baiklah mama ku sayang," Kevin senang mama nya tak marah lagi.
.
Tuan Abimanyu datang dengan muka kusut.
"Gimana Pah? Tim audit aman?" sambut Yola.
Tuan Abimanyu melonggarkan dasi yang melingkar di leher.
"Besok hasil final akan dibahas di rapat direksi," jelas tuan Abimanyu.
"Nggak ada bocoran sama sekali?" telisik Yola.
"Nggak ada. Tim audit itu sukar sekali ditembus," cerita tuan Abimanyu.
"Apa ada kemungkinan papa disuruh mundur?" Yola duduk mendekat ke Abimanyu.
"Segala kemungkinan bisa terjadi. Dan papa tak tahu hasil akhirnya nanti seperti apa," ucap tuan Abimanyu.
"Penat sekali nih otak papa. Gimana kalau kita pergi ke vila. Otak papa butuh refreshing ini," ajak tuan Abimanyu sambil merangkul sang istri.
"Hhhmmm gimana ya Pah? Beberapa hari ini nggak ada yang bersihin vila. Nggak tahu kenapa asisten rumah tangga di sana ambil libur bersama," Yola mencari alasan yang tepat agar Abimanyu tak curiga.
"Kalau kita ke sana, takut kondisi nya kotor semua," lanjut Yola.
"Ya udah lah. Siapkan air hangat aja sayang, aku mau mandi," pinta tuan Abimanyu.
Yola tersenyum licik, 'mudah sekali mengelabui pria bucin ini,' batinnya merasa menang.
"Jangan lupa kamu hubungin orang buat bersihin vila. Habis rapat direksi besok aku mau ajak kamu ke sana sayang. Lama kita tak main di sana," senyum genit mengembang di bibir Abimanyu.
'Sialan Abimanyu,' umpat Yola ternyata tak semudah itu dibohongi.
Yola beranjak hendak menyiapkan air hangat yang diminta sang suami. Kebetulan Sean barusan datang.
"Sean, kebetulan kamu datang. Besok papa ajak rapat direksi, sekalian kamu bisa belajar," beritahu tuan Abimanyu.
"Sean pikirkan. Sean besok ada jadwal pertemuan dengan Dirgantara," bilang Sean.
Yola mengepalkan tangannya erat setelah mendengar Sean diajak rapat direksi. Peluang Sean semakin lebar, berbanding terbalik dengan kesempatan Kevin.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
atau pling gk nendang bpk nya biar miskin kl miskin yola pasti gk mau kn. 🤣.
pdhl Dr segi umur Sean sdh dewasa.