Setelah kedua orang tuanya wafat akibat insiden kecelakaan pesawat, Anya diasuh oleh mantan asisten rumah tangga mereka.
Meski hidup dalam kesederhanaan, Anya tetap merasa bahagia bersama keluarga barunya, hingga tiba-tiba sahabat baik sang ayah datang mencari gadis itu.
Guna membalas budi akan kebaikan keluarganya dahulu, serta pengorbanan yang pernah Anya lakukan pada putra sulungnya, Maxim berencana menikahkan Anya dengan sang putra yang notabene adalah cinta pertamanya.
Akankah Anya mampu menjalani kehidupan pernikahannya dengan bahagia? Terlebih ketika mengetahui fakta bahwa sang suami ternyata berperangai kasar dan telah memiliki seorang kekasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim O, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Daffa dengan Kinanti dan Jagat
Menjelang tengah malam Callista datang menjemput Kinanti dan Jagat. Padatnya jadwal pekerjaan membuat gadis itu harus lembur di kantor.
Sebenarnya Callista sudah menelepon Kinanti dan menyuruhnya untuk pulang duluan ke rumah. Namun, gadis itu merasa tidak enak jika tuan rumah tidak berada di sana, jadi Kinanti memutuskan menunggu Callista pulang di apartemen Anya dan Axton. Kan tetapi, ia sama sekali tidak menyangka menyangka jika Callista akan menjemput mereka, alih-alih hanya mengabari akan pulang ke rumah.
"Maaf merepotkanmu, Callis," ujar Anya tak enak hati. "Kau pasti lelah," sambungnya.
"Tidak apa-apa, Mbak. Lagi pula hari ini aku tidak bawa mobil sendiri," jawab Callista merujuk pada Faidhan, supir pribadi keluarga Caldwell, yang berdiri di sebelahnya.
"Makan dulu, Callis, Mas Faidhan," tawar Anya.
"Kami sudah makan di kantor, Mbak," jawab Callista ramah, yang juga diiyakan oleh Faidhan. "Kalau begitu kami pamit dulu ya, Mbak. Banyak-banyak istirahat dan hubungi aku kalau perlu sesuatu." Callista memandangi kedua kaki Anya khawatir. Dalam hati ia merasa kecewa sekaligus kesal karena sang kakak ipar yang juga sahabat kecilnya tidak memberi kabar soal kondisi yang ia alami.
Saat datang tadi, Callista bahkan sempat ingin melabrak Axton kalau saja tidak melihat keberadaan Kinanti dan Jagat.
"Iya, terima kasih ya, Callis," ucap Anya lembut.
Callista dengan penuh kehangatan memeluk erat tubuh ringkih Anya, sementara ia berlalu begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada Axton. Untung saja Kinanti dan Jagat tidak menyadari tingkah ganjil Callista.
Selepas kepergian ketiga adiknya, Axton menggendong Anya kembali ke dalam kamar untuk beristirahat. Ia tidak memperbolehkan Anya tidur di ruang televisi.
"Terima kasih," gumam Anya pelan. Axton menjawab dengan anggukan pelan lalu bergegas keluar dari kamar.
"Mau ... ke mana?" tanya wanita itu ketika Axton hampir menutup pintu kamar dari luar.
"Aku yang akan tidur di ruang tv."
Mendengar jawaban Axton, Anya langsung bungkam. Merasa tidak ada hal apa pun lagi yang ingin dibicarakan, Axton segera menutup pintu.
Selepas kakinya sembuh nanti, Anya akan kembali tidur di fitting room. Ia tidak ingin tidur satu kamar dengan Axton lagi.
Anya hanya harus bertahan selama kurang dari tiga bulan lagi, sebelum Axton mengajukan perceraian. Setelah itu, ia akan pergi dari hidup Axton ... selamanya.
...*****...
Siang ini Kinanti dan Jagat berkunjung ke apartemen Anya. Axton sudah memberitahu pihak apartemen untuk memberikan mereka kartu akses menuju lantai VIP.
"Terima kasih, Pak," ucap Kinanti seraya menerima kartu tersebut dari salah seorang petugas keamanan apartemen.
"Sama-sama, Nona."
Kinanti pun menandatangani buku catatan serah terima kartu akses dan pergi setelahnya.
"Kamu atau aku yang simpan?" tanya Kinanti pada Jagat yang saat ini sedang menunggu pintu lift terbuka.
"Mbak saja, aku takut lupa!" jawab Jagat cuek. Tangannya sibuk mengutak-atik ponsel.
Pintu lift terbuka. Kinanti dan Jagat bersiap melangkah masuk ke dalam. Namun, keberadaan seseorang di sana mengejutkan mereka.
"Kinanti? Jagat?"
"Mas Daffa?"
...*****...
"Aku tidak menyangka bisa bertemu kalian lagi di sini," ujar Daffa seraya menyesap kopinya. Pria itu mengajak Kinanti dan Jagat untuk sarapan terlebih dulu di luar apartemen.
"Aku juga tidak tahu adik Mas Daffa tinggal di apartemen yang sama dengan Mbak Anya." Kinanti menanggapi perkataan Daffa ramah. "Mbak Anya juga tidak menceritakan apanpun perihal pertemuan kalian."
Daffa tersenyum kecut.
"Bagaimana keadaan Anya? Sudah baik-baik saja, kan?" Alih-alih menanggapi, Daffa mencoba mengalihkan perbincangan dengan menanyakan kabar Anya, yang malah membuat keduanya terheran-heran.
"Mas Daffa tahu kondisi Mbak Anya?" Kali ini Jagat yang membuka suaranya.
Daffa tersentak.
"Shit!" makinya dalam hati.
"Ah, tidak. Aku hanya bertemu X kemarin, dan X bilang Anya sakit." Daffa dengan santai memberikan jawabannya.
"Ohh!" Jagat menganggukan kepalanya dua kali, seolah mengerti.
Benar juga, Daffa tadi sempat bercerita bahwa ia mengetahui soal kabar pernikahan Anya dengan Axton. Ia juga berkata sudah pernah bertemu dengan kakak iparnya itu beberapa kali.
"Sudah baikan, Mas. Paling besok perban di kaki Mbak Anya sudah bisa dibuka." Kinanti mengambil alih jawaban Jagat.
Mendengar jawaban gadis kuliahan itu sontak membuat Daffa mengerutkan keningnya.
Kaki Anya di perban? Mengapa bisa?
Separah apa luka Anya kali ini? Siksaan apa yang telah Axton lakukan pada gadis itu setelah dia pergi dari sana?
Tanpa sadar pria itu mengepalkan tangannya sekuat tenaga, hingga buku-buku jarinya memutih.
Dia harus menemui Anya, tapi bagaimana caranya? Axton pasti akan semakin ketat mengawasi Anya.
Tanpa Daffa sadari Kinanti melambai-lambaikan tangan di depan wajah pria itu. "Mas melamun?"
Daffa tersentak lalu menggelengkan kepalanya. "Bagaimana kuliah kalian?"
Obrolan mereka berlangsung lumayan lama, sebelum akhirnya Kinanti meminta diri untuk pamit.
"Terima kasih sarapannya ya, Mas," ucap Kinanti dan Jagat bergantian.
"Sama-sama. Sebelum kalian pulang kita harus bertemu lagi, ya? Sudah lama sekali kita tidak mengobrol seperti hari ini," ucap Daffa pada keduanya.
"Iya, Mas," jawab Kinanti tersenyum.
"Jangan lupa sampaikan salamku pada Anya." Setelah mengatakan hal tersebut Daffa segera memisahkan diri, sedangkan si kembar langsung menuju ke apartemen Anya.
Sesampainya di sana Jagat dengan antusias menceritakan pertemuan mereka di lift. Pria itu juga mengajak keduanya sarapan di luar dan tidak lupa menyampaikan salam Daffa untuk Anya.
Mendengar cerita Jagat, Anya hanya bisa menanggapinya dengan senyum kaku. Ia berusaha menyembunyikan ekspresi canggungnya.
"Omong-oming, Kak X tahu kalau Mas Daffa mantan Mbak?" tanya Jagat kemudian.
"Tahu." Anya menjawab singkat.
"Oh. Terus Kak X tidak cemburu?" tanya pria muda itu.
Anya mendadak salah tingkah. Ia tidak tahu harus menanggapi pertanyaan Jagat seperti apa.
"Kalau Kak X cemburu hubungan mereka tidak akan baik-baik saja, bodoh!" Kinanti lah menanggapi pertanyaan Jagat dengan raut jengkel.
"Kinan," tegur Anya karena sang adik mengatai kembarannya bodoh.
Jagat mencibir. "Cih! Aku hanya butuh penjelasan!" serunya ketus.
"Sudah, sudah!" Anya memasang wajah galak. Kedua adik kembarnya itu memang sering kali bertikai hanya karena perkara kecil, dan Anya sudah pasti akan menjadi penengah mereka.
...*****...
Daffa menghentikan mobilnya di lampu merah. Pria itu tidak bisa berhenti memikirkan kondisi Anya setelah mengetahuinya dari Jagat dan Kinanti.
"Dasar bodoh!" umpat Daffa. Ia benci pada Anya yang terang-terangan menolaknya hanya demi seorang pria kejam tidak berperasaan.
Daffa benar-benar tidak bisa menebak apa yang ada dipikiran Anya. Apa yang membuatnya begitu sangat mencintai Axton, padahal yang pria itu lakukan selama ini hanyalah menyiksa dan membuatnya menangis.
Haruskah ia menghancurkan Axton dan merebut Anya secara paksa, atau menunggu Anya untuk datang sendiri ke dalam pelukannya?
'Bedeb**! Bedeb**!" umpat Daffa sembari memukul-mukul stir mobilnya.
Semangatt terus berkarya nya 💪💪💪💪