Tak selamanya menikah karena dijodohkan orangtua membuat hidup rumah tangga jadi terasa berat dijalani.
Meski sebelumnya telah memiliki pasangan masing-masing, namun nyatanya menikah adalah bukan hanya tentang kita ingin dengan siapa, namun juga orangtua merestui atau tidak.
Via dan Rifal mungkin salah satunya, yang belajar banyak hal setelah menikah karena perjodohan. Yuk ikuti kisah manisnya... ❤️
visual Rifal & Via diambil dari drakor im not a robbot ya.. 🙏
author bucin dengan pasangan Yo Seung Ho dan Chae So Bin, jadilah menulis ini. Love Seung Ho.. ❤️❤️❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cilamici, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. Bohong
"Maksud kalian, besok malam minggu kalian tidak bisa ikut acara keluarga?"
Ibu Rifal tampak kecewa.
Via memandang ke arah Rifal sekilas, Rifal di tempatnya memberi isyarat agar Via melancarkan aksi seperti yang sudah mereka rencanakan.
"Lain waktu kami akan ikut Bu, kami sudah kadung janji sama teman-teman yang lain mau jenguk teman yang sakit di Salatiga."
"Apa nda bisa minggu paginya saja?"
Ayah Rifal nimbrung.
Via menggeleng.
"Kami ikut rombongan Pak, Bu, jadi nda bisa buat jadwal sendiri."
"Oalah, piye iki Yah, apa diundur saja waktunya."
Kata Ibunya Rifal.
"Yo nanti Ayah telfon Pak Abi saja, bagaimana bagusnya. Via sudah ijin juga to sama Ayah?"
Tanya Ayahnya Rifal.
Via tersenyum kecut.
"Iya Pak, nanti Via juga ijin sama Ayah."
Kata Via dengan jantung nyaris copot.
Rifal senyum-senyum di tempat. Sepertinya kedua orangtuanya tak bisa berkutik menghadapi Via.
Coba saja kalau Rifal yang mengatakannya sendiri, sudah pasti yang ada jadi perdebatan panjang yang berakhir dengan kekalahan Rifal.
"Ya sudah kalau begitu, tapi kali lain tidak boleh begini lagi."
Ayah Rifal akhirnya mengalah.
Via mengangguk.
"Nggih Pak, Via janji."
Kata Via sambil tersenyum.
"Hmm ayu banget yo Yah."
Ibu Rifal merangkul Via dengan gemas.
Via jadi salah tingkah.
Entah kenapa perasaannya jadi aneh, bertemu dengan kedua orangtua Rifal seperti berkenalan dengan calon mertua saja.
Lepas Isya, Rifal akhirnya mengajak Via pulang karena tak enak pada Ayah Via.
Meskipun Ayah Rifal sudah menyampaikan lewat telfon bahwa putri Pak Abi ada di kediamannya dan Pak Abi justeru senang mendengarnya, tapi Rifal tetap merasa harus segera mengantar Via pulang.
Besok malam adalah jadwal Via tampil, jika Via tak istirahat, pasti akan mengganggu performa nya, dan itu akan sayang sekali.
"Wis lega to?"
Tanya Via pada Rifal di perjalanan.
Rifal mantuk-mantuk.
"Orangtuaku nda bisa membantah kalau kamu yang ngomong, kamu punya apa to Vi? Pelet opo?"
"Hahaha... Asem yo!"
Via menabok lengan Rifal.
"Apa perlu aku yang sudah semanis ini pakai pelet segala."
Seloroh Via sombong.
"Iyo iyo manis, mben kalo aku minum teh kamu tek cemplungin cangkir."
"Hahaha..."
Via tertawa.
Langit tampak cerah, bulan menggantung di kejauhan.
Jalanan kota Jogja seperti biasa selalu penuh dengan hilir mudik kendaraan dalam segala jenis, melewati Malioboro yang di sana sini banyak pula orang berjalan dan tongkrongan.
"Mau mampir angkringan ngga?"
Tanya Rifal.
Via menggeleng.
"Wis to, kamu bilang aku harus istirahat, malah diajak makan terus."
Kata Via.
"Ah iya... besok malam kamu musti tampil maksimal to depan Bayu."
Goda Rifal, membuat Via terus tertawa.
"Sudah terima saja kalau Bayu sampai menyatakan cintanya, dia salah satu mahasiswa berprestasi di kampus, dia juga ngga pernah main cewe Vi, padahal aku tahu dia banyak yang naksir."
Kata Rifal.
"Yo mbuh."
Via pura-pura santai saja, padahal hatinya sudah berbunga-bunga.
Ah yah, Bayu, besok dia akan melihat penampilan Via di atas panggung.
Ini kali pertama Via tampil di depan cowok yang dia sukai, sejak SMA Via memang bisa dibilang belum pernah benar-benar jatuh cinta, mungkin karena sudah terbiasa punya teman cowok, jadi buatnya sulit untuk sampai menemukan sosok yang benar-benar mampu menggetarkan hatinya.
**-------**
Rifal mengantar Via hingga masuk ke rumah dan bertemu dengan Ayah Via.
Jika Via diantar pulang terlambat oleh cowok lain, Ayah pasti sudah akan memasang wajah sangar dan setelah itu akan memarahi Via habis-habisan.
Tapi kali ini, Ayah Via tidak begitu.
Ia tampak begitu ramah menyambut Rifal, bahkan meminta Rifal untuk tinggal sebentar menemaninya duduk di teras sambil menikmati cuaca malam yang cerah.
Rifal tentu saja menyetujui. Ia menemani Ayah Via berbincang hingga jam melewati sembilan malam, saat di mana Via di kamar sudah tertidur karena kelelahan.
"Non Via sudah bobok Den Rifal."
Begitu kata Mbok Nah begitu Rifal pamit.
Rifal mengangguk.
"Saya pamit pak."
Rifal pada Ayah Via.
Pak Abimanyu menepuk-nepuk bahu Rifal.
"Hati-hati di jalan, jangan ngebut."
Pesan Ayah Via.
"Siap Pak."
"Salam buat Ayah dan Ibu di rumah."
Tambah Ayah Via lagi.
"Nggih Pak, nanti Rifal sampaikan."
Rifal kemudian beranjak meninggalkan rumah Via, Mbok Nah mengantar sampai pintu gerbang dengan mata yang sudah mengantuk.
"Maaf Mbok, jadi belum tidur karena tamunya pulang kemalaman."
Seloroh Rifal.
"Iyo Den nda apa-apa, yang penting besok-besok kalau main malam mending nginap sekalian."
Kata Mbok Nah sambil terkekeh.
"Wah Mbok Nah ini menyesatkan lho, kalo aku digrebek warga suruh nikahi Via gimana?"
Rifal tertawa.
"Yo pa ora, daripada disuruh nikahin saya."
Mbok Nah terus mengajak Rifal bercanda, membuat Rifal tertawa sambil masuk ke dalam mobil.
"Wis Mbok, aku mulih."
Pamit Rifal.
Mbok Nah mengangguk, begitu Rifal menyalakan mesin mobilnya, Mbok Nah menutup pintu gerbang rumah dan menggemboknya.
Di tempat tinggal Pak Dulah, Bayu baru selesai menata kajang-kajang bambu di rak yang berisi tempe.
Lelah ia keluar rumah lalu duduk bersandar di teras.
Slamet dan Cipto sudah lebih dulu berada di sama menikmati kopi, mendoan dan rokok mereka. Sementara Triono sedang membeli sate ayam yang biasa mangkal di dekat warung Bu Darsih.
"Triono lama sekali, jangan-jangan dia makan duluan di sana."
Slamet misuh-misuh.
"Wis biosone."
Sahut Cipto.
"Pada pesen Sate Ayam to?"
Tanya Bayu.
"Iyo, tadi padahal makan banyak tapi lho kok lapar lagi."
Slamet menepuk perutnya yang gendut dan sedang tidak paka kaos.
"Perut kentung."
Bayu ikut menepuk perut Slamet sambil kemudian berdiri.
"Ke mana Yu?"
Tanya Slamet.
"Nyusul Triono, aku juga pingin sate."
Kata Bayu.
"Ndang cepet, bawain punya kita sekalian Yu, jangan ngapel ke rumah Ratmi."
Ujar Cipto.
"Ngapel opo."
Bayu tergelak.
"Kowe neh, wong Bayu sudah ada Non Via kok dikata ngapel ke rumah Ratmi."
Slamet menyeruput kopinya.
"Ya lagi musim, punya istri lebih dari satu kok."
Sahut Cipto membuat Bayu melempar sandal ke arahnya.
"Gundulmu kuwi, isteri satu saja ndak habis kok pake isteri dua."
Bayu menggelengkan kepalanya lalu beranjak meninggalkan mereka.
"Kelihatannya Bayu iku asli sudah jadian sama Non Via yo, sekarang ceria."
Gumam Cipto sambil melihat Bayu yang menjauh.
"Iyo, tapi lupa traktiran jeh."
Ujar Slamet sambil menyalakan rokok barunya lagi, lalu keduanya tertawa.
Bayu sendiri sudah menuju gerobak sate ayam yang mangkal dekat warung Bu Darsih.
Tampak Triono sedang duduk bersama pemuda lain menunggu antrian dilayani.
Mereka tampak seperti sedang menonton sesuatu di hp Triono.
Bayu mendekat, terdengar seperti suara cewek yang ia kenal sedang bernyanyi.
Begitu Bayu ngelongok, semua langsung berdehem, Triono yang baru menyadari kehadiran Bayu langsung nyengir tanpa dosa.
"Kok kamu punya vidio Via to?"
Tanya Bayu merampas hp Triono dari tangannya.
Triono terbahak.
"Sori Bos, tadi pas aku pinjam hp mu, aku blutut."
Kata Triono.
Bayu langsung menekan delete dan vidio Via terhapus dari galeri Triono.
"Pacare ayu banget Mas Bayu."
Goda beberapa pemuda yang ada di sana kumpul-kumpul. Di antaranya bahkan ada yang sempat memarahi Bayu soal Ratmi.
Bayu hanya mesem saja menanggapi.
**--------**
ya jelas to ceritanya masih berhubungan dgn novel mistis yg judulnya Zizi maupun Pandawa
wong emang othor nya sama kok 😅
oh iya Thor di sini banyak bgt foto para tokoh nya
tapi kenapa kok di cerita Pandawa ga ada sh
padahal saya kan pengen liat anaknya Zizi bontot dan kakak nya
pasti unyu unyu banget deh 😅😅😅