Syakira Anandita. Gadis cantik berusia dua puluh tiga tahun, rela bekerja menjadi apa saja demi menghidupi diri dan adiknya-Jonathan.
Sepuluh tahun lalu, ibu yang menjadi sandaran satu-satunya harus menghadap Sang Ilahi setelah melahirkan Jonathan, sedangkan sang ayah entah di mana rimbanya.
Hadirnya dua lelaki merubah perjalanan hidup Syakira. Sedih, tangis dan tawa mewarnai hari-harinya.
"Aku memang tak pandai mengungkapkan rasa cinta, tetapi izinkan aku menjagamu semampu dan sepanjang usiaku." Edric Michael Anderson.
"Bertemu denganmu adalah takdir, menjadi temanmu adalah pilihanku, tetapi jatuh cinta padamu di luar kendaliku." Alex Gavin Diaz.
Namun, Syakira, Edric dan Alex harus sama-sama menelan pil pahit karena sebuah kenyataan yang membuat mereka enggan mengenal cinta kembali.
Apa yang sebenarnya terjadi dan siapakah yang menjadi pelabuhan terakhir cinta Syakira?
Daripada penasaran, simak ceritaku, yuk!😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Suci Komala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terungkapnya Kebenaran
"Syakira, lebih baik kita pulang sekarang, ya, Nak?" ajak Arini.
Syakira menolak. Bulir bening mulai merembes dan membasahi kedua pipinya. Napasnya memburu dan sorot mata yang tajam menatap Lidya dan John bergantian.
Dadanya terasa sesak. Denyut jantungnya seolah berhenti kala mendengar dua kabar sekaligus. Matanya terpejam dan ia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengatur emosinya.
"Kau mungkin tidak akan pernah mengenaliku, tetapi aku ... mengingat semua kejadian itu juga wajahmu, pria br*ngsek!" teriak Syakira penuh amarah dan suara bergetar, "kau perlakukan mamaku dengan keji," sambungnya pilu.
Arini dan Syakira menceritakan kejadian pahit yang menimpa Arumi.
Saat itu umur Syakira menginjak tiga belas tahun. Seorang gadis yang baru beranjak dewasa, tentu sudah tahu mana yang baik dan buruk. Mana yang salah dan mana yang benar.
"Ma, Sya berangkat sekolah dulu, ya?" pamit Syakira.
"Iya, Sayang. Hati-hati di jalan, ya? Mama juga sebentar lagi mau berangkat ke butik, bantu Bibi Arini."
Syakira tersenyum seraya mencium pipi Arumi.
"Ma, Sya bolos aja, ya? Biarkan kali ini Sya nemenin Mama."
Arumi menggeleng diiringi dengan gerakan jari telunjuknya pertanda ia tidak menyetujui keputusan Syakira.
Gadis itu seakan berat meninggalkan sang mama, netranya terus menatap wajah cantik Arumi.
"Tidak apa-apa, Sayang. Berangkatlah."
Dengan menaiki sepeda yang kemarin dibelinya, Syakira berangkat ke sekolah.
Arumi masih terlihat muda, bahkan banyak yang mengatakan jika dirinya masih gadis, walau usianya kini sudah menginjak tiga puluh empat tahun dan memiliki seorang putri yang sudah duduk di bangku SMP. Pernikahannya diusia yang masih muda ternyata tak membuat Arumi menyesal karena tidak menikmati masa mudanya, melainkan ia bangga sudah dikaruniai seorang putri yang cantik juga cerdas.
Selang satu jam, Arumi berangkat ke butik. Hasil goresan penanya ternyata menghasilkan karya-karya indah dan banyak diminati. Ia juga mengajak beberapa tetangga untuk bekerja dengannya.
Sesampainya di butik, Arumi menyapa semua pegawainya dan tak lupa membawakan mereka camilan. Perlakuan Arumi yang ramah tentu saja membuat para pegawai segan dan sangat menghormatinya.
Suara dentingan terdengar, pertanda pintu terbuka. Arini yang melihat ada pengunjung langsung menghampiri dan menyapanya dengan ramah.
Seorang pria tampan nan gagah mencari gaun untuk istrinya. Matanya menyusur setiap sudut butik, hingga akhirnya pilihan tertuju pada gaun yang ada pada manekin.
"Saya mau yang ini," ucapnya sembari menunjuk.
"Ah, maaf, Tuan. Gaun ini pesanan orang," terang Arini.
"Saya bayar dua kali lipat."
"Maaf, tidak bisa."
"Kau tidak tahu siapa aku, hah!" hardik pria itu, "bahkan saya bisa membeli butik ini," sambungnya.
Arini kembali menjelaskan dengan hati-hati kepada pria itu. Namun, tetap saja ia menginginkan gaun tersebut.
Mendengar ribut-ribut, Arumi yang sedang mendesain gaun pengantin pun keluar dari ruangan.
"Ada apa, Arini?"
Arini dan pria itu melihat ke arah suara.
"Kau!" ucap Arumi.
"A-Arumi," pekiknya kaget, "kau betul Arumi, kan?"
Arumi menghela napas, "Arini, lanjutkan pekerjaanmu. Dia, biar Kakak yang urus.
Arini mengangguk dan meninggalkan sang kakak dengan pengunjung rese.
Arumi mengajak pria itu ke ruangannya.
"Jadi, kabar tentang kematianmu itu bohong?"
"Tak perlu bahas itu, John," sahut Arumi, "kenapa pagi-pagi kau sudah rusuh di butikku?"
"Aku mau gaun yang tadi. Tapi ... tidak jadi. Yang aku mau sekarang hanya kamu, Arumi. Sedari dulu aku mencintaimu, bahkan saat kau sudah menjadi istri siri kakakku. Rasa cintaku padamu sampai detik ini tetap sama. Menikahlah denganku."
Arumi mendelik. "Sampai kapan pun aku tidak akan mau menikah denganmu. Asal kau tau ... aku masih istri sah kakakmu."
John terbahak, ia merasa lucu dengan pernyataan Arumi. Bagaimana bisa orang yang sudah dianggap mati bahkan sudah belasan tahun tidak bertemu masih disebut suami istri.
"Kakakku sudah bahagia dengan Rachel. Jadilah istri keduaku, atau mungkin bila perlu aku akan ceraikan Lidya."
"Dasar gil4!"
"Ya, aku memang gil4. Aku gil4 karenamu, Arumi!"
John merasa bersyukur karena Louis menyuruhnya mengurusi bisnis yang ada di Surabaya. Bertemu dengan wanita yang sangat dicintai sedari dulu, ia anggap bonus dan merupakan sebuah keberuntungan.
"Maaf, aku sibuk!" Arumi kembali melanjutkan pekerjaannya.
John merasa kesal karena Arumi acuh kepadanya. Tinjunya mengepal dan sorot matanya begitu tajam menatap. Akhirnya pria itu pergi dengan tergesa.
Mendengar suara langkah mendekati pintu, Arini beranjak. Ya, sedari tadi Arini menguping pembicaraan mereka. Ia tidak menyangka jika pria itu adalah adik dari Diaz.
"Butik ini tutup jam berapa?" tanya John kepada Arini.
"Jam empat, Tuan."
John keluar dari butik. Namun, ia tak lantas pergi. Dirinya duduk termangu di balik kemudi, memikirkan cara agar Arumi mau menikah dengannya.
Nasib mujur berpihak kepada John, ia melihat Arumi meninggalkan butik lalu pria itu mengikutinya.
"Ini kesempatanku," gumam John sembari menyeringai.
Ya, rupanya Arumi pulang ke rumah hendak menyiapkan makan siang untuk putri tercintanya.
Arumi membuka pintu rumah. Tanpa wanita itu tahu John mengendap mengikutinya dari belakang. Saat akan menutup pintu, John mendorong daun pintu hingga Arumi terjengkang.
"Ka-kau! Mau apa ke mari?"
John tidak mengindahkan pertanyaan Arumi. Matanya yang dibutakan oleh kecantikan dan kemolekan tubuh Arumi, lalu tangan kekarnya memeluk dan menggiring Arumi ke salah satu kamar.
Arumi tentu saja berontak, tetapi tenaga John lebih kuat.
John menampar Arumi hingga wanita itu meringis menahan perih. Dengan membabi buta, pria itu mel*cuti pakaian Arumi, mengikat kedua tangan juga kaki Arumi pada ranjang. Dengan leluasa John bisa menikmati tbuh wanita yang ia cintai.
Arumi hanya bisa menangis pilu, menerima nasibnya yang begitu mengenaskan. Ia tidak bisa berteriak karena mulutnya ditutup kemeja miliknya.
Entah berapa hujaman yang John lakukan, hingga pria itu terkulai lemas di samping Arumi.
Melihat napas Arumi yang memburu justru membuat John kembali dirasuki rasa ingin menikmati lagi dan lagi.
Di luar, Syakira merasa heran karena ada sebuah mobil yang terparkir di pintu gerbang menghalangi ia masuk. Perasaannya mulai tak menentu, ia membuka gerbang lebih lebar dan berlari menuju rumah.
Melihat pintu yang terbuka, tanpa pikir panjang, gadis itu menerobos masuk dan memanggil Arumi.
Kakinya melangkah tertuju pada pintu kamar yang terbuka. Syakira membelalakkan matanya melihat apa yang sedang terjadi.
"Mama!" pekiknya.
Syakira tak tinggal diam, ia mengambil pas bunga kecil yang ada di pojok kamar lalu memukulkannya ke kepala John.
John yang memang tidak menyadari kedatangan Syakira, tidak dapat menghindar dan tentu saja menyudahi aksinya.
Gadis itu kembali memukuli John dengan benda apa saja yang ada di dekatnya sampai pria itu terkapar-pingsan. Kemudian ia segera menghampiri sang mama dan menyelimuti.
Syakira menghubungi Arini dan berlari keluar meminta tolong kepada warga. Beruntung, siang itu banyak warga yang berlalu lalang dan membantu dirinya.
Dengan air mata yang sudah menganak sungai, Syakira menatap wajah pria itu dengan sorot tajam dan seolah menyimpan baik-baik wajah si pria b*jat dalam otaknya.
Seminggu setelah kejadian itu, Syakira yang ceria tampak murung. Ia merasa sedih dan sakit hati mengingat nasib sang mama bahkan ia tidak mau sekolah.
Tersiar kabar bahwa John masuk penjara, tetapi hanya sebentar. Itu yang membuat Syakira tidak merasa puas dan kesal. Namun, apa boleh buat, kekayaan John tentu saja menjamin semuanya.
Satu bulan, dua bulan, sampai akhirnya menginjak tiga bulan setelah kejadian itu, Arumi dinyatakan hamil. Namun, Arumi menerima bahkan sangat menjaga kandungannya, karena menurut wanita itu, bayinya tidak bersalah.
Semakin hari perut Arumi semakin membesar. Tak sedikit ia mendapat cemooh dari warga, terlebih kaum hawa.
Melihat putrinya yang tertekan, akhirnya Arumi memutuskan untuk merantau ke ibu kota-Jakarta. Pun agar jauh dari bayang-bayang Diaz maupun John.
Sembilan bulan sudah Arumi mengandung dan malam ini dokter menyatakan bahwa ia akan melahirkan. Syakira dan Arini dengan setia menemani.
"Adikku laki-laki atau perempuan, Bi?" tanya Syakira di ruang tunggu.
"Adikmu laki-laki, Sya. Tampan sekali," sahut Arini.
Syakira mencoba melupakan kejadian itu dan berjanji akan menjaga dan menyayangi adiknya. Bagaimana pun juga, bayi itu terlahir dari rahim ibunya dengan kata lain mereka sedarah.
Semua orang yang mendengar cerita Syakira dan Arini, merasa sedih dan geram atas perlakuan John.
"Kau! Kenapa melakukan itu kepada Arumi, hah!" teriak Diaz penuh amarah. Satu tinju tepat mendarat di pipi John.
John hanya bisa pasrah menerima pukulan dari sang kakak.
"Jadi, anak itu adalah putraku?" tanya John sembari menunjuk Jonathan.
Syakira kembali merasakan sakit di kepalanya. Ia berteriak dan badannya luruh ke lantai.
"Syakira!" seru semua orang terkasihnya dan menghampiri.
Gadis itu mencoba berdiri dan merengkuh Jonathan seraya berkata, "aku tidak akan membiarkan siapa pun merebut Jonathan dari sisiku!"
Jonathan yang masih tidak mengerti dengan keadaan ini bertanya-tanya, ada apa sebenarnya dan kenapa papanya memukul pamannya.
Suasana menjadi tegang. Akhirnya Alex mengambil alih untuk mengisi acara. Bukan untuk melanjutkan pesta, tetapi membubarkan acara dan tamu undangan ia persilakan untuk menikmati hidangan yang sudah tersedia.
"Lantas, apakah benar Arumi kau bunuh, Lidya?" tanya Diaz dengan napas memburu.
Semua pasang mata mengarah kepada Lidya. Sontak membuatnya terpojok dan tidak bisa mengelak. Terlebih lagi, ada Helena yang menjadi saksi, karena beberapa bulan lalu Lidya bercerita kepada orang tua Helena. Tanpa sengaja gadis itu menguping.
"Ya, akulah yang sudah membunuh Arumi!" seru Lidya dengan lantang.
Pengakuan Lidya membuat tubuh Syakira terkulai lemas. Kakinya seolah tidak mampu untuk menopang tubuh jangkungnya.
"Kenapa kau lakukan itu?" tanya Syakira dengan suara gemetar, "kenapa?!" sambungnya berteriak diiringi bulir bening yang tak mampu lagi ia bendung.
"Aku membenci Arumi karena setelah John kembali dari Surabaya, setiap malam dirinya selalu menyebut nama Arumi. Dan yang membuat aku benci, dia selalu menolak ketika aku ajak berhubungan suami istri. Foto Arumi memenuhi dinding ruang kerjanya," tutur Lidya sendu, "semakin hari aku semakin kesal. Berminggu-minggu bahkan bulan aku menunggu perubahan John. Tapi, nihil ... sikapnya sama saja seperti itu. Pikiran jahatku muncul dan ingin mencari Arumi untuk menghabisi nyawanya. Aku mengutus orang-orangku untuk mencari Arumi di Surabaya. Tetapi, nasib mujur berpihak padaku karena ternyata musuhku ada di Jakarta dan terbaring lemah di rumah sakit karena pendarahan setelah melahirkan."
Hening.
Lidya menatap kosong seolah kembali menerawang ke masa lalu.
"Tidak membuang kesempatan emas itu. Segara aku datangi rumah sakit setelah mendapat informasi dari anak buahku dimana Arumi dirawat. Terlalu mudah bagiku untuk melenyapkannya, hanya dengan membuka selang oksigen dan membekapnya dengan bantal. Hahahahahaha ... dan dia mati di tanganku. Aku puas ... ya ...aku puas sekali, hahahaha ...."
"Perempuan gil4!" teriak John.
Semua tercengang dengan pengakuan Lidya.
Syakira tak mampu lagi berkata. Ia malah merutuki kebodohannya sendiri karena meninggalkan sang mama sendiri saat itu. Arini yang kala itu mengurus Jonathan di rumah dan Syakira lah yang menunggu Arumi di rumah sakit.
Maafin, Sya, ma ... maaf. Gara-gara Sya mama meninggal. Sya tidak bisa menjaga mama dengan baik. Batin Syakira.
Edric merasa tidak percaya dengan perlakuan kedua orang tuanya, ia merasa malu kepada Syakira. Hanya kata maaf yang keluar dari mulutnya seakan mewakili rasa bersalah John dan Lidya kepada Syakira.
Kenyataan yang benar-benar membuat semuanya merasa sakit dalam hati. Cinta dan dendam telah membutakan semuanya.
SheRaz suka smaa ceritanya🤗🤗🤗🤗🤗