Sekuel dari Novel Arjuna Bopo Istimewa.
Di sini kita akan di suguhkan dengan perjalanan cinta antara Arjuna dan Meshwa.
Perjalanan rumah tangga dan kehidupan dari Bopo Istimewa ini, ternyata banyak sekali ujiannya.
Apakah Meshwa yang berstatus sebagai istri sanggup menemani perjalanan Arjuna? ataukah dia akan menyerah?
Di Novel ini juga akan ada kelanjutan kisah cinta Nala dan Mifta. Lalu, bagaimana dengan Dipta? Apakah dia akan menemukan tambatan hati?
simak kelanjutan cerita dari Keluarga Bopo Desa Banyu Alas di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Menjalankan Hukuman
Dengan di kawal beberapa staf Balai Desa, Rustam dan Wiwit melakukan Ritual Duka di Danau Gondo Mayit.
Sementara itu, Abimanyu bersama Arsha, Aksa dan Arjuna, memeriksa Kurungan Nyowo, tempat yang akan di gunakan Rustam dan Wiwit menjalani hukuman.
"Gubuknya masih kokoh. Gak ada yang bocor juga, Kung." Kata Arjuna setelah memeriksa dua rumah yang akan di tempati oleh dua tersangka.
Tak hanya memeriksa, mereka juga membersihkan gubuk berukuran satu setengah kali dua setengah meter itu.
"Pasungnya juga masih kuat, cuma ada rantai yang sedikit berkarat." Kata Aksa.
"Sudah bersih kan? Pastikan gak ada hewan apa lagi ular di dalam sana." Kata Abimanyu. Meskipun sudah memberikan hukuman yang berat, tetapi Para Bopo juga memastikan jika tempat itu aman dan bisa di gunakan dengan baik.
"In Syaa Allah aman kok, Mo. Lagian kalo ada hewan di dalam sana, pasti nyamperin Arjuna duluan kalau nyium bau Arjuna." Kata Arsha yang membuat Aksa dan Abimanyu terkekeh.
"Yasudah, kita pulang lalu bersiap mengantarkan Rustam dan Wiwit. Mungkin ritual dukanya sudah selesai." Ajak Abimanyu.
Tentu hanya Para Bopo yang berani menginjakkan kaki ke Kurungan Nyowo. Warga lain tentu tak ada yang berani, mengingat tempat itu sangat menyeramkan bagi mereka.
Sesampainya di rumah, Arjuna dan yang lainnya pun berganti pakaian dan bersiap. Tak lupa mempersiapkan keperluan yang akan di bawa ke Kurungan Nyowo.
"Kamu kenapa, Sayang?" Tanya Arjuna saat menghampiri istrinya yang nampak sedang melamun.
"Masih kepikiran Wiwit sama Rustam, Mas. Kok kasihan, ya." Lirih Meshwa.
"Apa gak ada hukuman lain, Mas? Sepertinya kalau di pasung seperti itu, gak manusiawi banget." Kata Meshwa.
"Beginilah yang namanya hukuman adat, Dek. Hukum adat gak berkembang menyesuaikan zaman dan HAM seperti hukum negara. Maka dari itu, di jatuhi hukum adat lebih mengerikan di banding di jatuhi hukum negara." Kata Arjuna sambil mengusap kepala istrinya.
"Semua ini sudah di tetapkan dan apa yang di lakukan Bopo juga sudah benar. Kalau Mas berada di posisi Bopo juga, Mas akan melakukan hal yang sama." Imbuh Arjuna. Ia lalu meraih tangan Meshwa dan menggenggam tangan istrinya itu.
"Bopo dan Biyung itu bukan hanya sekedar gelar turun temurun, Dek. Ada banyak tanggung jawab yang harus kita emban. Salah satunya seperti ini, membersihkan kesalahan yang di lakukan warga, juga memberi 'pelajaran' pada mereka yang bersalah. Kita juga gak asal memberikan hukuman, kok. Kalau sekiranya kesalahan itu tidak berat dan tidak merugikan banyak pihak, pasti hukum adat yang di berikan pun tak akan berat." Jelas Arjuna yang di jawab anggukan mengerti oleh Meshwa.
"Terus, hari - hari mereka, gimana nantinya, Mas? Mereka kan gak bisa kemana - mana?" Tanya Meshwa.
"Untuk makanan, kita akan kirimkan tiga hari sekali, nanti. Kalau untuk yang lainnya, seperti buang air dan mandi, mereka bisa tetap lakukan di dalam ruangan itu. Mereka masih bisa berjalan, karena bukan pasung berat yang di gunakan. Hanya rantai yang membelit kaki. Selain itu, separuh bagian gubug juga berada di atas aliran sungai, tujuannya untuk memudahkan urusan buang air mereka." Kata Arjuna.
"Ternyata sedetil itu ya, Mas, tempat yang di siapkan." Kata Meshwa.
"Layaknya seorang orang tua pada anaknya, Dek. Semarah - marahnya orang tua, tetap ada belas kasih untuk anaknya. Hal itu juga lah yang di lakukan oleh Bopo dan Biyung. Kita tetap siapkan keperluan untuk mereka, kita juga tetap antarkan makanan untuk mereka." Jawab Arjuna. Hal ini tentu membuat Meshwa semakin kagum pada Para Bopo dan Biyung sebelumnya.
Sebegitu besar kasih mereka untuk menjaga 'anak - anak' yang bahkan masih suka membangkang dan mengabaikan aturan yang sudah di tetapkan.
"Jangan terlalu sedih dan terlalu di pikirkan ya, Sayang. Ambil hikmah dan pelajaran dari setiap permasalahan yang kita lalui. Dari sini, kita akan belajar menjadi orang tua yang baik untuk anak - anak kita kedepannya, In Syaa Allah." Kata Arjuna yang di akhiri dengan mengecup dahi istrinya.
"Iya, Mas. Makasih karena sudah menenangkan." Ucap Meshwa yang kemudian memeluk Arjuna.
Tak hanya Para Bopo, Para Biyung pun sudah siap mengantarkan Rustam dan Wiwit ke Kurungan Nyowo. Mereka kini sudah berkumpul di Balai Pertemuan bersama warga lain.
"Ada yang mau ikut mengantar?" Tawar Aksa pada warga, terutama yang masih memiliki hubungan kekeluargaan dengan Rustam dan Wiwit.
Namun, semua warga hanya diam sembari menggelengkan kepala. Mereka tentu enggan untuk ikut ke sana, mengingat tempat itu sangatlah menyeramkan.
Mereka pun sama - sama tau, tak semua orang bisa kembali dari sana dengan sehat. Dua orang yang pernah menjalani hukuman ini dulu, satu orang keluar dalam kondisi gila sementara satunya dalam kondisi sakit - sakitan yang menyebabkan meninggal tak lama kemudian.
Entah apa yang mereka alami selama satu bulan berada di Kurungan Nyowo hingga kembali dalam kondisi seperti itu. Hal itu pula yang menjadi salah satu alasan mengapa warga enggan ke sana.
"Baiklah, kalau tidak ada yang mau mengantar, maka kami akan berangkat sekarang." Kata Aksa.
Para Bopo dan Biyung pun berangkat bersama Rustam dan Wiwit menuju tempat mereka akan menjalani hukuman.
Sesampainya di sana, suasana terasa begitu sendu. Angin yang berhembus terasa sangat dingin. Rustam dan Wiwit di bawa ke dalam gubug masing - masing.
Arjuna dan Aksa segera memasang rantai pada kedua kaki mereka dan menguncinya dengan gembok khusus yang sudah di siapkan.
Percaya atau tidak, gembok itu tak akan bisa di buka, bahkan dengan kuncinya jika belum tiga puluh hari. Gembok itu adalah warisan yang di jaga secara turun - temurun untuk mengunci pelaku yang mendapat hukuman di Kurungan Nyowo.
Tak ada listrik, hanya berbekal beberapa lilin dan lampu emergency tenaga surya untuk menerangi malam mereka. Banyak pesan - pesan yang di sampaikan oleh para Bopo pada Rustam, begitu juga para Biyung pada Wiwit.
Mereka meminta pada dua pelaku untuk terus bertaubat dan memohon ampun pada Allah. Jadikanlah hukuman mereka ini sebagai renungan agar tak semakin jauh dari Allah.
Kliik
Suara gembok terakhir yang di pasang di pintu, menandakan hukuman mereka akan di mulai.
"Kami pulang dulu, Le, Nduk. Ingatlah pesan kami tadi." Kata Abimanyu yang berseru dari luar gubuk.
Dari luar, mereka dapat melihat mata Rustam dan Wiwit yang memandang ke arah mereka dengan sendu.
"Kami akan datang setiap tiga hari untuk mengantar makanan dan memeriksa kondisi kalian. Jaga diri baik - baik, Njih. Jangan lupa untuk selalu beristighfar dan berzikir. Jangan tinggalkan sholat." Pesan Aksa kemudian.
"Njih, Pak Kades." Jawab Rustam dengan suara lirih. Suara penuh penyesalan.
Setelah itu, Para Bopo dan Biyung pun meninggalkan mereka dalam kesunyian dan keheningan Kurungan Nyowo.
selamat iyha Mbk Meshwa Mas Juna akhirnya 😍😍😍