Erina Hutomo, single mom yang harus berjuang sendiri mengatasi kekacauan hidup--anak sulung yang beranjak remaja dan banyak ulah, anak bungsu yang autis, tetangga yang selalu nyinyir karena dia janda--hingga tumpukan pekerjaan yang terus menghantuinya di kantor.
Sampai suatu ketika, petir terbesar menyambarnya--Erina divonis mengidap kanker otak, dan usianya tak akan lama.
Di tengah badai, Erina tak sempat menangis. Garis akhir itu seperti bom waktu. Dan ia memilih mati-matian mempersiapkan segalanya, terutama untuk buah hati yang paling dicintainya. Ia hanya ingin anak-anaknya hidup layak dan bahagia--bahkan setelah ia tak ada lagi di dunia.
Termasuk, memberi mereka sosok ayah yang bisa menjaga dan menyayangi mereka seperti darah daging sendiri, sampai akhir.
Berhasilkah Erina menuntaskan misi dan harapan terakhirnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Rumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. TIK, TIK, TIK, BUNYI HUJAN DI ATAS GENTING
"Saga sama Nala berangkat sekolah dulu, Ma, assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikumsalam... hati-hati ya, Nak."
Erina mengantar Saga dan Nala berjalan sampai pagar dan melambai. Senyumnya mengembang, namun matanya tampak sembab usai menangis akibat insiden sisir yang terjadi tiga puluh menit lalu.
Saga menatap ibunya dengan ekspresi muram, sebelum beralih memandang adiknya yang berjalan di sisinya--sepasang mata kecilnya juga sembab dan air mukanya keruh.
"Tik, tik, tik, bunyi hujan di atas genting... airnya turun tidak terkira..."
Sembari melangkah, Saga sengaja menyanyikan lagu anak-anak itu lambat-lambat.
Nala mengerjap dan menatap Saga. Perlahan ia mulai ikut menyanyi meski dengan nada datar--ekspresinya pun berubah lebih tenang.
Diam-diam Saga menghembuskan napas lega.
Lagu itu adalah mantra khusus yang bisa mengubah suasana hati Nala menjadi lebih stabil dan tenang--karena lirik dan nadanya lembut dan menenangkan. Biasanya Erina akan menyanyikannya juga jika Nala telanjur tantrum dan bermuka kusut setelah emosinya meledak tanpa kendali--tetapi pagi ini, Erina tak melakukannya. Lebih tepatnya, lupa.
Padahal menjaga suasana hati Nala tetap baik itu sangat penting. Jika tidak, emosinya akan terus meledak-ledak, dan salah-salah bisa membahayakan dirinya dan orang sekitarnya.
"Busmu sudah datang, Nala. Waktunya ke sekolah. Belajar. Main. Ketemu teman-teman dan Bu Elsa."
Saga menepuk-nepuk bahu adiknya lembut dan mengucapkan setiap kata dengan lambat dan jelas, tepat kala sebuah bus sekolah warna kuning bertuliskan "RAN School" (RAN singkatan dari Rumah Autis Nusantara--yayasan dan sekolah khusus anak-anak autis) muncul dan berhenti di pinggir jalan raya depan gang.
"Bus. Datang. Waktunya sekolah. Belajar. Main. Ketemu teman. Bu Elsa," ulang Nala sambil mengangguk-angguk. "Da-dah. Kakak."
Saga tersenyum dan melambai saat Nala memasuki pintu bus yang terbuka dan langsung disambut salah satu guru yang bertugas mendampingi penjemputan setiap murid pagi itu.
Ketika bus sekolah itu menjauh, Saga tetap berdiri di trotoar selama beberapa menit--sampai angkot biru yang biasa ditumpanginya untuk pergi ke sekolah lewat dan membunyikan klakson.
Ia pun mencegat dan menaiki angkot itu, lantas duduk berdesakan dengan penumpang lainnya di bangku belakang--tetapi ia tidak meminta supir berhenti ketika angkot melewati SMP Tunas Emas.
Ia justru turun di perhentian terakhir--terminal.
"Pagi, Bu Atun."
Saga menyapa seorang wanita gemuk berambut mekar--yang nama dan sosoknya mirip Atun di serial Si Doel Anak Sekolahan--sekaligus pemilik salah satu warung kecil di sisi timur terminal.
"Eh, sudah datang, anak ganteng!" Bu Atun tersenyum ramah. "Sudah sarapan belum?"
"Sudah, Bu, di rumah," jawab Saga sopan. "Ada piring atau panci yang perlu Saga cuci sekarang? Atau ada yang perlu Saga bantu--masak atau belanja, sebelum Saga keliling jualan?"
"Bantu cuci piring aja di belakang ya... sama bungkus beberapa nasi dan lauk buat kamu bawa jual nanti," cetus Bu Atun lembut.
"Siap, Bu."
Saga menyelinap ke bilik sempit di sudut warung tempat Bu Atun dan suaminya, Pak Amir, sesekali beristirahat di atas dipan bambu kecil. Ia dengan cepat melepas seragamnya--dan kini hanya mengenakan kaus putih dan celana pendek hitam sederhana yang diam-diam sudah dipakainya di balik seragamnya sebelum meninggalkan rumah.
Usai menjejalkan seragamnya ke dalam tas dan meletakkannya di bawah dipan, Saga berjalan ke belakang warung dan dengan sigap mencuci tumpukan piring, gelas, dan panci kotor di bak-bak besar berisi air--hingga bersih.
Saga kemudian kembali masuk ke dalam warung, dan dengan cekatan membungkus dua puluh porsi nasi campur, dan menatanya di baki kayu yang sudah hampir penuh dengan aneka makanan ringan dan berbungkus-bungkus rokok.
"Kayaknya hari ini bakalan hujan," komentar Bu Atun sambil menatap gulungan mendung yang berarak pelan di langit. "Kalau nggak banyak yang beli, nggak apa-apa, Ga, kamu balik aja ke sini lebih awal... jangan sampai kehujanan, ya. Hati-hati."
Saga tersenyum dan mengangguk. Ia mengenakan topi, mengalungkan baki itu di depan dadanya, dan menjinjing sebuah termos berisi beberapa botol minuman dingin, lalu berjalan meninggalkan warung menuju salah satu bus antar-kota yang mulai ramai dijejali penumpang.
"Nasi campur... nasi campur... jangan sampai perut Bapak-Ibu kosong, nanti masuk angin, terus nyalahin mantan."
"Minuman dingin... dingin seperti sikap dia pas bilang 'kita temenan aja'."
"Tahu petis... kacang bawang... beli dua gratis doa semoga perjalanan lancar, meminang si dia yang orangtuanya galak kayak preman tukang labrak pun lancar. AAMIIN!"
Saga menawarkan dagangannya ke setiap penumpang dengan gaya humoris agar lebih menarik minat beli. Dan trik itu berhasil--banyak yang menoleh, tertawa, dan akhirnya tak ragu untuk membeli.
"Kamu jualan begini jam segini... nggak sekolah, Nak?" tanya seorang wanita paruh baya bergamis dan berjilbab hitam sembari membeli sebotol minuman.
"Nggak, Bu... saya sudah nggak pacaran lagi sama sekolah," sahut Saga pelan.
Wanita itu mengerjap bingung.
"Maksudnya?"
"Ee... itu, saya putus... putus sekolah, hehe," gumam Saga seraya terkekeh kecil, seakan tanpa beban--meski batinnya diam-diam teriris.
Wanita itu tampak terkejut sekaligus prihatin.
"Ya Allah... kenapa bisa putus sekolah, Nak? Nggak punya biaya? Orangtuamu masih ada?"
Saga terdiam sejenak, kehabisan ide kelakar.
"Itu..."
"Heh, bus sudah mau jalan--turun, turun!" Kernet bus tiba-tiba menegur dan mengusir Saga begitu saja.
Saga pun mundur dan meninggalkan bus itu tanpa sepatah kata. Kemudian ia mengedarkan pandang dan mencari bus antar-kota lain yang bisa dijadikannya prospek berjualan baru, atau yang bermurah hati memberinya tumpangan gratis hingga halte atau terminal berikutnya.
Selama sebulan terakhir, inilah kegiatan yang rutin dilakukan Saga hampir setiap hari--berjualan asongan dari bus ke bus, halte ke halte, terminal ke terminal. Ia melakoninya sejak tak lagi menjadi murid SMP Tunas Emas, terutama semenjak pihak yayasan dan sekolah secara sepihak memutus beasiswa yang selama ini diterimanya--bahkan menuntut pengembalian penuh akibat ulahnya menghajar cucu pemilik yayasan beberapa waktu lalu.
Kabar buruk itu diterima dan ditelannya sendiri, sebab kala itu Erina masih terbaring di rumah sakit. Saga memutuskan keluar dari salah satu sekolah bergengsi dan favorit di kota itu, karena tak mungkin ia membebani ibunya dengan biaya sekolah yang mahal tanpa talangan beasiswa, ditambah harus mengembalikan dana pendidikan selama dua tahun terakhir jika ia masih tetap berstatus siswa di sana.
Setelah keluar dari SMP Tunas Emas, Saga sempat berupaya mencari sekolah baru sendiri. Swasta, maupun negeri. Tetapi tak ada satu pun sekolah yang sudi menerimanya, dengan alasan namanya sudah tercatat dalam daftar hitam siswa yang memiliki riwayat perilaku buruk berupa penganiayaan. Ia tak bisa lagi melanjutkan belajar secara formal--di mana pun.
Air mata luka dan kemarahan sempat membanjirinya. Ia tahu semua itu adalah ulah Atika Baskara, ibu kandung Rudi, yang sengaja menggunakan nama, kuasa, dan harta yang dipunya untuk balas dendam dan menghancurkannya sampai sejauh itu. Namun tak ada yang bisa diperbuatnya untuk melawan atau membalik keadaan. Ia cuma remaja tanggung yang tak punya apa-apa, tak punya pilihan selain menerima kekalahan dan terbuang seperti pecundang.
Meski hancur, Saga tahu ia tak bisa terpuruk lama-lama. Tak ada gunanya meratapi nasib. Ia pun mencoba bersikap praktis dan mengambil hikmah--jika ia tak bisa lagi bersekolah, mungkin sudah saatnya ia melanjutkan hidup sebagai pencari nafkah. Apalagi kondisi kesehatan ibunya sempat memburuk, dan butuh waktu untuk memulihkan diri dari operasi besar dan terapi. Erina mungkin tak akan bisa lagi menafkahi Saga dan Nala--yang sebetulnya juga sama sekali bukan kewajibannya, jika saja mantan suaminya bisa berpikir lurus dan memenuhi tanggung jawabnya secara benar.
Saga pun memutuskan untuk bekerja dan mencoba menjadi tulang punggung keluarga--apa saja, asal halal. Dan sebisa mungkin, tanpa sepengetahuan siapa saja, termasuk Erina.
Peluang pertama yang bisa ditemukannya, dan dilakukannya, adalah berjualan di terminal bus pinggir kota.
Suatu hari ia sengaja menghabiskan waktu di sana, mengamati, lalu menghampiri salah satu warung kecil yang terlihat sepi. Sembari membeli sebotol air dingin, ia pun menawarkan diri untuk membantu melariskan dagangan di warung itu, dengan cara menjajakannya secara keliling.
Sang pemilik warung, Bu Atun dan Pak Amir, awalnya terkejut dan ragu. Namun Saga terus membujuk, bahkan memelas--sengaja agak mendramatisir cerita bahwa ia putus sekolah karena ibunya sakit kanker dan tak sanggup membiayainya lagi, dan sekarang ia harus mencari uang untuk membantu ibunya berobat dan tetap hidup.
Bu Atun dan Pak Amir seketika terenyuh dan luluh. Mereka akhirnya mengizinkan Saga berdagang asongan dari komoditi yang ada di warung mereka, dan memberinya upah lima puluh ribu rupiah sehari--bisa lebih banyak tergantung jumlah produk yang terjual hari itu. Meski begitu mereka juga tak pernah menuntut Saga harus bisa menjual semuanya--tetapi, di luar prediksi badan meteorologi dan cuaca, Saga ternyata sangat ulet dan cerdik dalam menawarkan sehingga membuat dagangan yang dibawanya laku keras hingga habis terjual.
Seperti hari ini--sekalipun hujan lebat mengguyur sejak pagi, Saga tak menyerah menjajakan dagangan dengan gaya khasnya, meski harus basah kuyup karena naik dan turun berkali-kali dari satu bus ke bus lainnya.
Menjelang sore, dagangannya di baki yang terlindungi plastik hampir habis--hanya tersisa beberapa makanan ringan, dan beberapa botol minuman dingin di termos yang es batunya sudah mencair semua.
Saga berteduh sejenak di sebuah halte di perbatasan kota, menghitung uang hasil penjualannya hari itu. Tiba-tiba, sebuah mobil mewah berwarna putih menepi dan membunyikan klakson.
Saga bergegas bangkit dan tersenyum, mengira orang di mobil itu ingin membeli dagangannya.
"Silakan--minuman dingin dan tahu petis! Enak, halal, dan dijamin nggak ghosting--"
Ekspresi cerianya memudar saat pintu mobil terbuka dan sosok jangkung yang tak asing kini berdiri di depannya, tersenyum kecil sekaligus pedih.
"Om... Alvin?!"
***