Karena jalan yang lama sudah tidak bisa digunakan. Maka dibuatlah jalan yang baru. Sebuah jalur baru untuk para pemudik yang selalu rindu ingin pulang ke kampung halaman.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon David Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah Pelarian
Terkadang perjalanan hidup tidak sesuai dengan apa yang direncanakan oleh seseorang.
Bukan hanya terkadang. Tapi kerap terjadi berulang-ulang.
Sama seperti kepada penumpang terakhir yang akan turut serta melewati jalur baru ini.
Namanya adalah Davis.
Dan sekarang ia sedang menunggu mobil MPV berwarna putih di pertigaan lampu merah yang dekat dengan pom bensin.
Laki-laki di usia matang yang baru saja kehilangan pekerjaannya itu berdiri mematung dengan memakai bawahan denim biru dan hoodie hitam bertuliskan free di dada yang menutupi kepala.
Tidak lama kemudian sebuah mobil putih yang tertempel sticker di samping bodynya nama jasa travel Gas Rem datang menghampiri.
"Pagi Ndan",
"Rupanya kamu Bono yang bawa",
"Aku duduk di depan saja kalau begitu",
Ternyata sopir Bono dan penumpang terakhir yang bernama Davis sudah saling mengenal.
"Temannya mana Ndan?",
"Dia tidak jadi pergi",
"Ayo jalan",
Davis memesan tiket untuk dua orang penumpang.
Namun satu tiket penumpang lagi yang seharusnya duduk bersamanya di pagi yang cerah ini batal terjadi.
Karena sebuah alasan pelik yang memilukan.
"Sedang libur Ndan?",
"Jangan pura-pura tidak tahu kamu Bono",
"Sudah, mulai sekarang jangan panggil aku Ndan lagi",
Memangnya apa yang sebetulnya terjadi dengan laki-laki ganteng bernama Davis ini?
Meskipun hari ini ia tampil dengan riasan wajah yang masih sedikit lebam akibat bogem mentah.
Beberapa waktu yang lalu Davis masihlah seorang anggota dari kesatuan yang terhormat.
Tapi karena melakukan perbuatan yang tidak patut dan tidak senonoh.
Status Davis berubah menjadi seorang oknum yang sama sekali tidak terhormat dan mengecewakan kesatuan bersama para kolega yang bekerja sungguh-sungguh sesuai dengan prosedur hukum demi melindungi dan mengayomi masyarakat.
Bukannya berprestasi malah memberikan contoh buruk kepada khalayak ramai dan menuangkan noda citra tercela bagi kesatuan yang sejatinya terpuji.
Dua hari yang lalu digelar sebuah upacara perpisahan bagi Davis yang disaksikan oleh para petinggi dan juga sesama rekan kawan sejawat.
Davis dicopot dari jabatannya dan dipecat secara tidak hormat dari kesatuan yang sudah selama lima tahun dijunjungnya.
Hanya karena masalah sepele yang sewajarnya masih sangat bisa dikendalikan.
Tentang gelora api asmara kepada seorang wanita yang merupakan kelemahan bagi siapa saja pria yang bertingkah tidak berhati-hati.
Yang menjadi biang masalah adalah perempuan itu bukanlah sembarang wanita.
Melainkan seorang istri dari atasan Davis sendiri.
Seorang pejabat yang memang tidak setiap hari Davis temui dalam tugas pengawalan.
Timbang persoalan konak yang kenikmatannya berlangsung beberapa saat.
Berbuah hilangnya sebuah pekerjaan tetap dan menjadikan buramnya masa depan yang akan datang.
Davis kalah dua kali.
Sebelumnya wanita yang tengah bosan dengan pernikahannya itu bersumpah untuk memilih bersamanya dan melarikan diri walaupun Davis sudah tidak berdinas lagi.
Tapi kenyataannya kebanting.
Dua-duanya Davis tidak dapat.
Perjalanan melewati jalur baru ini seharusnya adalah perjalanan mesra bagi Davis dan perempuan yang pada akhirnya lebih memilih kembali ke pangkuan suaminya.
Tiket yang dibeli dua. Yang berangkat hanya satu penumpang saja. Sungguh sia-sia.
Buyar apa yang sudah direncanakan matang-matang oleh Davis.
Tinggal menyisakan akhir penyesalan dan kenangan sakit yang tidak akan gampang untuk dilupakan.
Barang tentu Bono yang sudah kenal dengan Davis juga tahu mengenai peristiwa malang itu.
Karena beritanya dimuat di kolom surat kabar lokal.
Menjadi tajuk bintang utama yang disiarkan secara langsung oleh televisi daerah.
"Kira-kira berapa lama perjalanannya Bon?",
"Kalau sesuai dengan perkiraan, Insya Allah malam hari kita sudah sampai di tempat tujuan dengan selamat",