Secepatnya bakal direvisiz supaya tidak mengandung plot hole
Mereka bilang, itu nasib baik bila bertemu dengan Dosen tampan. Tapi, bagi Nara, itu tidak!
Kehidupan bebas menjadi penuh kekangan, misteri, tragedi, dan tangisan. Sempat dia tahu Nara melarikan diri, jangan salahkan dia memberikan hukuman setimpal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rainawjy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33: Jatuh
Awan cerah menemani langit biru. Tak ditutup matahari yang panasnya terik namun sejuk. Jam-jam 7 seperti ini, merupakan jam terbaik di mana seseorang melatih kebugaran jasmaninya. Pria itu dan Nara berlari mengelilingi taman rumahnya. Mereka berlari di bagian semen, bukan di rerumputan. Rerumputan hijau dan pohon-pohon kecil, membuat mata nyaman. Menurut penelitian, jika melihat tanaman hijau di pagi hari, maka akan mengurangi kerusakan mata seseorang. Apalagi diambil embunnya dan ditaruh ke mata.
“Bagaimana? Menyenangkan, kan?” tanya pria itu kepada Nara yang berada di sampingnya.
“Iya,” Nara menjawab singkat. Napasnya tersengal-sengal.
“Lebih cepat, bagaimana?”
“Ayok.”
Mereka berdua mempercepat langkah mereka. Nara berusaha mengejar pria itu, namun pria itu sudah jauh 1 meter darinya. Saat kakinya ingin melangkah lebih cepat lagi, dia kehilangan keseimbangan. Kakinya tersandung potongan semen. Gerakannya seperti lompat jauh, namun saat mendaratnya, Nara tengkurap di semen seperti kodok. Kedua lututnya terhantam permukaan semen yang kasar dan mengoyak bagian kulit terluarnya. Kedua telapak tangannya tergores sedikit.
“Astaga,” pria itu terkejut melihat Nara yang sudah tengkurap seperti kodok jatuh dari langit, “kenapa kau tak hati-hati?”
Pria itu dengan segera membantu Nara untuk duduk di semen. Dia menyuruh Nara untuk meluruskan kakinya.
“Auch,” Nara merintih. Dia sendiri ngeri saat melihat kedua lututnya bercecer darah. Sayang, tadi dia tidak memakai celana olahraga yang panjang. Lukanya sangat besar, jadi agak pedih.
“Astaga, ini sakit sekali. Kita pulang sekarang.”
Sial, aku tak bisa melarikan diri kalau begitu, batin Nara.
Pria itu dengan cepat memnggendong Nara dengan model bridal style. Dengan sangat cepat pria itu melangkah karena dia takut luka Nara infeksi. Bakteri-bakteri banyak tersimpan di semen, apalagi banyak debunya.
-oOo-
Nara duduk di tepi kasur, kakinya menggantung. Pria itu bercangkung sambil mengusap luka Nara dengan alkohol. Nara merintih sedari tadi. Wajah pria itu serius sekali. Alisnya sampai berkerut dan tak ada senyuman di bibirnya. Dia merasa bersalah karena menyuruh Nara untuk lari lebih cepat.
“Apakah sudah siap, Lorence? Itu—auch,” Nara merintih lagi saat pria itu mengusap lutut kirinya.
“Tahan, Nara. Ini belum ditaruh betadine. Kalau ditaruh betadine, kau jerit-jerit, lah?”
“Iya.”
“Kau macam anak kecil,” pria itu menggeleng-gelengkan kepala, “aku akan menaruh betadine. Tahan ya. Awas kalau nggak tahan.”
“I-iya.”
Pria itu mengambil betadine dari kotak P3K yang ia taruh di lantai. Mata Nara melihat botol betadine yang tingginya baru sekitar 5 cm namun sakitnya mematikan. Jari pria itu sudah mulai memutar tutup botolnya. Nara menggigit bibir bawahnya. Tutup botol kecil itu, sudah terbuka. Semakin ngeri detakan jantung Nara.
“Kenapa? Kau takut? Astaga...,” pria itu berkata. Dia dengan cepat meneteskan betadine ke luka Nara. Tak peduli apa yang Nara rasakan, yang penting cepat selesai.
“Auch!” Nara merintih, namun pria itu terus meneteskan betadine ke ke-dua lutut Nara.
“Sudah, tinggal diperban.”
Pria itu mengeluarkan kapas dan perban dari kotak P3K. Dengan hati-hati ia menaruh kapas dan menggunting perban. Setelah siap, ditempelkan perban itu ke lututnya. Pria itu menaikkan tatapannya dan menatap Nara dengan penuh kasih sayang.
“Sudah selesai, aku pergi berberes-beres dulu. Sebenarnya, aku ada acara nanti malam, cuman kakimu sakit. Bagaimana kau bisa leluasa berjalan nanti?”
“Kau saja yang pergi, aku di rumah.”
Ini kesempatan yang bagus, batin Nara.
Pria itu menaikkan alisnya, “Kesempatan bagus itu?”
Ha? Apa? Dia bisa membaca pikiranku? batin Nara.
“Apa maksudmu?”
Pria itu tersenyum seakan dia mengerti apa maksud Nara. “Kesempatan untuk lari atau hal lainnya... aku tidak tahu.” Dia mengangkat bahunya.
“Mungkin aku hanya akan duduk mematung sambil menonton TV. Btw, lari ke mana? Mana mungkin aku lari. Kau pikir aku apa?” Nara berusaha meyakinkannya.
“Bagaimanapun, aku tidak akan pergi ke acara itu.”
Perkataan pria itu berhasil menggidikkan bulu roma Nara. Nara tak bisa membantahnya lagi atau dia akan dalam masalah.
“Baiklah, berarti kita akan menghabiskan waktu bersama,” kata Nara walau ia tak menerima hal ini.
“Benar. Aku mencintaimu dan tak ingin meninggalkanmu sendiri. Nanti kau berbuat macam-macam dibelakangku,” jawab pria itu seakan dia benar-benar tahu Nara tidak kehilangan ingatan.
Perasaan Nara hanyut dari permukaan. Yang tadinya ia bahagia, sekarang malah cemas setengah mati. Jika drama ini terus berlanjut, dia bakal hidup dalam kebohongan.
“Aku? Aku mana mungkin berbuat seperti itu.”
Pria itu tersenyum miring, “Jaga kata-katamu. Aku tidak suka orang yang berbohong.”
“I—ya, Lorence.”
“Hem...,” gumaman pria itu, membuat Nara takut sejenak, “kira-kira, apa yang akan kau tunjukkan bahwa kau mencintaiku?”
Hati Nara menciut. Dia tak tahu apa yang harus ia katakan, namun ia berusaha mencari kata-kata yang layak untuk didengar.
“Menjadi istri terbaikmu,” Nara menjawab.
“Hem... terdengar bagus. Oh, ya, aku bahkan lupa memberi tahumu sesuatu,” jeda sejenak dan ini membuat Nara penasaran, “kau mau tahu apa itu?”
“Oh, tentu saja!”
“Saat kita pindah ke negara lain nanti, mungkin aku akan mengadakan pernikahan kita sekali lagi.”
Deg.
Bagaimana ini? Berarti kita punya 2 surat nanti? Yang satu adalah yang asli, dan yang satu palsu. Astaga... aku terjebak. Aku tak bisa pergi dari sini, batin Nara.
“Oh, baiklah,” Nara berusaha tenang dan memasang topengnya, “kapan itu?”
“Minggu depan, Nara. Tunggu saja,” pria itu bangkit sambil menenteng kotka P3K di tangan kirinya. Dia mengacak rambut Nara, “Aku beres-beres dulu.”
“Ok. Untung saja aku sudah beres-beres.”
Pria itu tersenyum. “Iyain biar cepat.”
Nara tersenyum padanya.
Pria itu membalikkan badan, dia berjalan menjauhi Nara. Nara melihat punggungnya yang semakin lama semakin kecil lalu menghilang dari mata Nara. Pria itu sudah keluar dari kamarnya.
“Huft,” Nara menghela napas kesal, “kaki sialan!”
Nara memarahi kakinya sendiri padahal dia yang salah. Dia mendengus kesal lalu memejamkan matanya. Dia mengacak rambutnya frustasi.
Nara mendaratkan kedua kakinya di lantai. Dengan sangat hati-hati, dia berdiri. Kedua tangannya menggenggam erat seprai kasur. Lututnya sulit diluruskan. Rasanya seperti patah dan perih. Nara merasa pergelangan kaki kanannya sulit digerakkan, mungkin terkilir.
“Auh,” Nara merintih dengan suara kecil. Dia mencoba berjalan beberapa langkah ke samping. Dia terjatuh saat melangkah ke-tiga kali. Kedua tangannya mengerat di seprai kasur, namun tubuhnya terpental ke lantai.
“Kenapa sulit sekali?” gumamnya. Dia berusaha berdiri, namun terjatuh lagi. Jadi, aku tidak bisa lari dari rumah ini nanti. Kapan aku sembuh? Cepatlah... sisa beberapa hari lagi! Minggu depan, aku akan pindah. Ayo, Nara! Berjuang! batin Nara berdecak kesal.
Nara menggenggam lebih erat lagi seprainya. Dia mencoba untuk bangkit sambil menarik-narik seprainya. Dia tak bisa bersujud, dia harus langsung berdiri dengan kedua kakinya. Namun, pergelangan kaki kanannya sangat sakit bahkan sampai sulit digerakkan.“Ergh,” Nara mengeratkan giginya. Urat-urat di kening menonjol dan wajahnya memerah. Butiran keringat kecil muncul di permukaan keningnya.
Sial, ayo, cepat! batin Nara.
Pada saat dia berusaha berdiri, dia terjatuh lagi. Kaki kanannya tak ada energi untuk menopang tubuhnya. Nara mendengus kesal dan memejamkan matanya. Sialan, batin Nara.
ak sukaaa cerita muuuu😍😍😍😍
ak sukaaa cerita muuuu👏👏👏
kasian aja klu Adam cuma pura'' suka ke Nara
ahh hasil nya sama aja
berawal dr WP