JANGAN DIBACA!!!
ASLI, BUKAN TIME TRAVEL, YA!
HANYA KISAH ASAL PENUH PERKETYPOAN!
KALAU UDAH BACA, YA JANGAN NYESEL! BISA MENYEBABKAN MUAL DADAKAN, GANGGUAN SUSAH TIDUR, DIABETES BERLEBIHAN, DAN BUCIN DADAKAN.
(Gejala di atas berdasarkan survey dari zaman kuno hingga saat ini).
Bagai bulan yang tertutup awan, aku harus membuang semua hal tentangku, semua jati diriku, dan melanjutkan hidup sebagai kembaranku sendiri.
Terasa susah. Namun, itulah yang harus kulakukan. Hanya karena paksaan sang ayah dan juga kesalahan yang sepenuhnya bukan milikku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggrek, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pangeran Sekolah.
Tak terasa sudah tiga bulan Rian bersekolah di sini, semua berjalan dengan baik dan Rian juga merasa tak ada buruknya memulai lagi pelajaran yang telah dia lewati dulu. Dia mulai mengikuti pelajaran dan memperhatikan penjelasan guru di kelas, tak seperti sebelum-sebelumnya, Rian akan melihat keluar jendela setiap kali bel masuk kelas berbunyi.
Tanpa memperhatikan pelajaran pun Rian bisa menjawab dengan benar, apalagi kalau dia memperhatikan dengan seksama. Guru-guru menjadi lebih bersemangat dan senang mengajar di kelas Rian. Mereka merasa dihargai karena setiap pertanyaan yang mereka ajukan selalu dijawab dengan benar. Rata-rata yang menjawab soal yang mereka ajukan adalah Rian, sebagian kecil dijawab oleh siswa lain. Meski dengan jawaban tak sempurna, tapi sudah cukup jika jawabannya benar bukan.
Banyak pula yang menjadi fans dadakan dari Rian, dikatakan bahwa Rian akan menjadi pangeran sekolah yang paling tampan karena wajahnya. Wajah Rian yang terlihat sangat tampan, tapi juga cantik di saat bersamaan. Karena kepintarannya, dia dicanangkan akan menjadi kandidat terkuat sebagai ketua OSIS di pemilihan OSIS berikutnya. Tentu saja semua itu tanpa sepengetahuan Rian, sebagai orang yang bersangkutan.
"Istirahat nanti, ikut gue, ya," ajak Rafael dengan suara pelan.
Rian menoleh, menatap Rafael dengan wajah datar. "Ke?" pertanyaan singkat terlontar dari bibir tipis yang terkadang teramat pelit untuk berkata. Padahal suara Rian cukup bagus untuk didengar, ketika dia berbicara, Rian seperti sedang bernyanyi di telinga yang mendengar. Itu menggambarkan betapa enak didengar suara remaja yang selalu menyamar itu.
"Adalah! Ikut aja, ya, ya, ya!" bujuk Rafael tanpa memberitahu apa-apa. Akhirnya, Rian mengangguk kecil sebagai respon. Dia tak keberatan sedikitpun, dia juga tak memiliki rencana mau kemana istirahat nanti. Jadi, tak ada salahnya mengikuti sahabatnya yang satu ini. Rafael tersenyum senang, wajahnya terlihat lebih cerah karena sobatnya setuju dengan ajakannya. Dia sebenarnya hanya ingin mengajak Rian berkumpul dengan teman-temannya yang lain, selama bersekolah di sini, Rian hanya mengobrol dengan dirinya saja.
Rian memang baik, dia sering menolong siswa maupun siswi yang bertanya kepadanya. Namun, karena dia lebih pendiam kalau tidak ditanya, banyak yang enggan untuk mendekati lebih dulu. Ditanya pun kadang jawabannya terlalu singkat, Rian bisa berubah jadi cerewet kalau dia tak suka akan suatu hal, sahabatnya itu akan mengoceh panjang yang berisi omelan atau ceramah panjang ala Adrian.
Kadang Rafael curiga, Rian yang sekarang bukan Rian sahabatnya yang dulu. Terlalu banyak yang berbeda dari Rian yang sekarang. Dulu Rian ceria, selalu menceritakan dan mengomentari apa saja, setiap membuka mulut, pasti yang keluar ujung-ujungnya adalah pujian tentang sang adik. Rian tak terlalu menonjol, meski dulu dia juga pintar. Rian yang dulu ramah dan bisa makan apa saja tanpa takut alergi, sekarang dia memiliki alergi parah terhadap udang, mungkin juga ada makanan lain yang tak bisa dimakan sobatnya itu. Namun, apapun itu, Rafael tetap senang sahabat lamanya itu kembali. Tak peduli apa saja yang berubah dari sahabatnya itu, Rian tetap akan menjadi sahabatnya selamanya dan itu tak akan berubah.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Bel istirahat telah berdentang nyaring, para siswa bergegas keluar dari kelas masing-masing. Kebanyakan dari mereka akan menuju ke kantin, mengisi perut yang keroncongan dan mengembalikan tenaga yang terkuras, tenaga yang dikeluarkan untuk mengerti pelajaran selama di kelas tadi. Bagi para kutu buku, jam istirahat tak digunakan untuk membeli makanan. Mereka malah bertolak ke perpustakaan untuk mengembalikan buku atau meminjam buku baru di sana.
"Ayo, kita pergi sekarang!" ajak Rafael menghampiri bangku temannya. Rian mengangguk kemudian dia berdiri, mengikuti langkah temannya. Mereka berdua berjalan bersisian, banyak mata yang memandang karena tertarik akan pesona remaja tanggung itu. Rian dengan wajah dinginnya dan Rafael yang terus memasang senyum ramah yang meluluhkan hati.
"Jangan pasang tampang seperti itu kawan," tegur Rafael sengaja menyenggol bahu Rian dengan bahunya.
"Cobalah tersenyum meski hanya sedikit!" lanjut pemuda ceria itu.
"Hmm, tanpa melakukan itu pun, sudah banyak mata yang melihat ke sini!" balas Rian cuek dengan nada malas.
"Ck-ck-ck, coba lihat wajah sombong itu! Sungguh-sungguh menjengkelkan!" decak Rafael kesal dengan wajah bertekuk.
"Bercanda!" ucap Rian sambil menyeringai kecil, dia suka menjahili Rafael akhir-akhir ini, wajah Rafael terlihat lucu saat sedang sebal menurut Rian.
"Bercanda? Dengan tampang datar bak balok es, begitu? Yang benar saja, siapa yang akan percaya?!" ketus Rafael menyikut pelan lengan Rian.
Rian tersenyum tipis meski hanya sesaat, senyum itu langsung hilang tak sampai sedetik. Sungguh, senyum yang langka. "Lo benar!" Rafael menganggukkan kepalanya.
"Tentu saja!" balas Rian tak peduli, dia hanya membalas saja tanpa tahu apa yang menurut sahabatnya itu benar.
"Huh, seperti lo tahu saja apa yang benar? Maksud gue seperti lo tahu apa maksud ucapan gue tadi!" dengus Rafael.
Rian mengangkat bahu acuh. "Gak penting juga aku tahu, yang penting itu, menurut kamu, aku benar, kan!"
"Lupakan! Kita sudah sampai!" Rafael membuka pintu yang menghubungkan dengan atap sekolah. Begitu terbuka, angin yang cukup kencang menyambut kedatangan keduanya.
"Atap?" Rian mengikuti langkah Rafael yang berjalan satu langkah di depannya.
"Kamu gak lagi cari tempat tersembunyi buat merokok, kan?" tanya pemuda itu dengan tatapan curiga.
"Bukanlah, lo pikir gue mau ngerusak badan gue sama asap gak guna itu!" gerutu Rafael memasang wajah tak suka.
"Ohh, ya sudah!" ucap Rian terlihat lega.
Rian menatap ke depan, dia melihat ada dua anak laki-laki lain duduk tak jauh dari mereka. Salah satunya melambai ke arah Rafael, Rafael pun membalas dengan cepat, dia juga mempercepat langkah kakinya.
"Hoo, jadi ini sohib baru lo?" ucap siswa yang melambai pada Rafael setelah Rafael menghampiri mereka.
"Kenalin, gue Anwar!" katanya santai sambil menatap Rian.
"Gue Ale, orang paling ganteng seantero jagat raya!" kata yang satunya narsis.
"Masih aja songong lu, gak sembuh-sembuh ternyata," ledek Rafael sambil terkekeh kecil.
"Rian, senang bertemu dengan kalian!" kata Rian dengan nada datar tapi terdengar sopan.
"Astaga, lu nemu dimana temen kayak gini? Gak cocok banget sama lo, tahu. Wk-wk-wk," Ale meledek balik Rafael.
Si Anwar menggeleng pelan. "Sahabat lo udah kayak mesin etika berjalan, sopan banget dah. Yakin, dia pasti kesayangan para guru, kan?" komentarnya ikut terkekeh kecil.
"Dia temen kecil gue! Dan Rian, mereka berdua babu gue, catat ya, mereka itu babu gue, bukan temen gue!" delik Rafael memasang wajah garang.
"Uhh, takut! Rara marah keluar tanduknya, wk-wk-wk," ejek keduanya sambil berpura-pura ketakutan.
Rian hanya tersenyum kecil melihat kebebasan ketiga orang di depannya. Jika kakaknya yang di sini, apa kakaknya juga akan melakukan hal yang sama dengannya atau akan tertawa bersama dengan mereka. Rian tak akan pernah tahu jawabannya, karena sang kakak tak akan pernah kembali untuk selamanya.
ayang bebeb disuruh jd tukang parkir 😝😝😝😝