Season 2 dari " Maafkan Aku, Cinta "
Atharauf Elvano Permana putra pertama dari pasangan Boby Permana dan Novia Alisy. Tumbuh menjadi seorang pria yang tampan dan gagah, tapi sayang, dingin terhadap perempuan.
Cantika Ameera Putri seorang gadis SMA yang simple, supel, dan pinter mampu meruntuhkan tembok tebal yang berada di hati Atharauf.
Bagaimana kisah mereka yang sebenarnya??
Jangan lupa untuk membaca season 1 dulu ya guys...biar nggak bingung dengan karakter pemainnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alarice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sabar
" Assalamualaikum, Ameera. " sapa Athar ke Ameera di depan gerbang sekolah.
Ameera terkejut mendengar suara laki-laki yang selama ini dihindarinya memanggil namanya. Reflek Ameera menghindar.
Athar buru-buru meraih lengan Ameera.
" Tunggu Ameera. Beri aku waktu sebentar saja untuk bicara. " pinta Athar dengan lembut.
Ameera menepis tangan Athar yang memegang lengannya dengan wajah pias.
" Sorry...maaf..." ucap Athar sambil melepas tangannya dari lengan Ameera.
Ameera sama sekali tidak mau melihat Athar sedikitpun. Dia celingukan, mencari sahabatnya.
" Ameera, bisa kita bicara sebentar? " tanya Athar dengan hati-hati.
Ameera hanya melirik sekilas ke arahnya. Kini yang di rasakan Ameera adalah ketakutan jika Athar mengambil anaknya. Secara reflek Ameera memegangi perutnya.
Athar tak melewatkan pemandangan itu. Atharpun melihat ke arah perut Ameera. Ameera yang melihat Athar melihat perutnya, seketika menutupi perutnya dengan kedua tangannya.
Melihat reaksi Ameera, Athar sepertinya tahu kalau Ameera pasti sudah tahu tentang kehamilannya. Ada sedikit rasa tenang dalam hati Athar. Paling tidak, Ameera tidak menolak kehadiran janin yang ada di rahimnya.
Tiba-tiba debaran jantung Athar meningkat tatkala ia menyadari kalau janin yang ada dalam rahim Ameera adalah darah dagingnya. Anaknya. Ada sedikit perasaan aneh yang menyentil ulu hatinya.
" Bagaimana kabar kamu Meer? " tanya Athar mulai membuka suara lagi.
Satu detik...dua detik... tidak ada jawaban dari Ameera. Dia masih tetap celingukan mencari sahabatnya dengan perasaan was-was.
" Kamu baik-baik saja kan? " tanya athar kembali.
Masih tetep tidak ada jawaban. Athar menghela nafas berat. Dia merasa sakit melihat Ameera sama sekali tidak mau bicara dengannya. Di tambah lagi, sikap Ameera yang seperti ketakutan melihatnya.
" Sepertinya kamu sedang dalam keadaan baik. Syukurlah. Aku senang melihatnya. " Athar membuka suara lagi. Dia sudah tidak peduli, Ameera mau menjawab apa tidak. Dia hanya ingin berkomunikasi dengan Ameera, melihat Ameera, berada dekat dengannya juga anaknya.
' Anak ' , ada perasaan menggelitik di hati Athar ketika ia mengingat kata itu.
Sang sahabat yang sedari tadi melihat Ameera dan Athar memperhatikan dari kejauhan. Tapi ketika ia melihat wajah cemas Ameera, dia memutuskan untuk mendekati mereka.
Ketika melihat Reni berada di dekatnya, Ameera langsung menarik tangan Reni untuk segera pergi menjauh dari tempat itu.
" Ameera..." panggil Athar hendak mengejar. Tapi Reni memberi isyarat dengan menggelengkan kepala.
Athar langsung terdiam tidak jadi mengejar. Dengan gontai, dia melangkah menuju mobilnya. Dia menghenyakkan pantatnya ke jok mobil dengan kasar.
Athar merasa telah kalah dengan kehidupan. Dia mengusap wajahnya kasar. Kemudian dia menyalakan mesin mobilnya.
Di saat dia hendak menginjak pedal gas, ponselnya berbunyi. Ada sebuah pesan di sana.
¶ Kak, Ameera sudah aku beritahu soal kehamilannya. Dan Alhamdulillah, dia bisa menerimanya. Tapi dia agak down, memikirkan bagaimana dia nanti harus mengatakan ke orangtuanya.
Athar mengacak rambutnya kasar. Kemudian dia menggeram.
" Apa yang harus aku lakukan supaya aku bisa membantumu Meer? " gumam Athar.
¶ Katakan pada Ameera, aku akan menemaninya untuk berterus terang ke orangtuanya. jawab Athar dalam pesannya.
¶ Tidak semudah itu kak. Ameera berencana untuk tidak mengatakan soal kehamilannya kepada kak Athar. Dia berniat membesarkan anaknya sendiri.
¶ Tidak bisa. Aku adalah ayahnya. Aku mempunyai hak yang sama untuk anak itu.
¶ Sabar, kak. Kita harus berbicara secara perlahan ke Ameera. Tidak bisa dengan amarah saja. Kakak tunggu saja kabar dariku. Biar aku berbicara dengan Ameera perlahan-lahan.
¶ Baiklah. Aku tunggu kabar baiknya.
Setelah siang itu, Athar tidak bisa tidur dengan tenang. Dia juga tidak bisa menyelesaikan pekerjaan dengan baik. Sampai berulang kali papanya menelepon hanya untuk mengingatkannya.
Bahkan mamanya juga menelepon karena sudah hampir satu bulan Athar tidak pulang ke Jakarta.
" Kak, apa kerjaan kakak di sana banyak? Kenapa kamu nggak pulang-pulang, nak? " Tanya mamanya dalam panggilan.
" Maaf, ma. Urusan Athar di sini belum selesai. Biarkan Athar menyelesaikan urusan Athar dulu di sini ma. Athar pasti pulang kok. Mama tidak usah khawatir. "
" Terus bagaimana dengan kuliah kamu? Bukankah sudah waktunya kamu kembali kuliah? "
" Maaf ma. Athar belum bilang ke mama. Untuk semester ini, Athar hanya mengambil satu mata kuliah. "
" Kenapa begitu Thar? "
" Iya ma. Urusan Athar di sini sepertinya membutuhkan waktu dan juga pemikiran dalam waktu lama. Athar tidak bisa meninggalkan begitu saja. "
" Sebenarnya, urusan apa Thar? Apakah urusan pekerjaan? Sepertinya tidak kan? Karena papa bilang, kerjaan kamu di sana tidak ada yang beres. "
Athar menarik nafas panjang sebelum menjawab semua pertanyaan mamanya. Novia, sang mama, memang memiliki naluri yang kuat terhadap anak-anaknya. Terutama Athar. Selama ini, Athar tidak pernah bisa merahasiakan apapun dari mamanya.
" Ma... Athar mohon sama mama. Athar belum bisa menjawabnya sekarang. Tapi athar janji ma, Athar akan segera menceritakan semuanya ke mama. "
" Athar...."
" Ma, please. Kali ini ma. Biarkan Athar menyelesaikan urusan Athar dulu. " potong athar.
Novia sudah tidak bisa berkata apapun lagi. Anaknya sudah dewasa, dia harus percaya, kalau anaknya pasti bisa menyelesaikan permasalahannya sendiri.
" Baiklah kalau begitu. Tapi mama harap, kamu bisa segera menyelesaikan masalahmu, dan segera pulang ke Jakarta. Mama kangen.." ucap Novia lembut.
" Iya ma. "
***
bersambung
hahaha..ketahuan dah ini...si meera cuma mau numpang hidup senang,goyang kaki tanpa harus susah payah bekerja untuk menghidupi diri nya juga anak dlm kandungan...
sikapmu kekanak"an meera...
kamu bersikap baik hati dan menerima kluarga athar,tapi tdk bisa baik sikapmu ke suami mu sendiri...sdh betulkah sikapmu...
lama" jijik juga dgn kelakuan meera...sok ga menerima perlakuan suami,tapi menerima segala kesenangan kenyamanan yg di berikan suami...sungguh munafik sekali sikapmu meera...
maaf ya.. bukan tdk percaya,wanita hamil pasti ngidam..tapi klo sdh berlebihan permintaannya,itu bukan ngidam tapi sengaja,hanya ingin usil atau ngerjain aja...
mana ada baby dlm perut blm tau apa",mau nya minta aneh"..
KLO GK YAKIN BUKA AZA CHANEL TAUSIYAH2 YG BRKENAAN DGN ITU, TERMASUK HADIST2 YG MNGUATKN