Gadis yang cantik bak seorang model yang bekerja sebagai cleaning servis di sebuah perusahaan terbesar di Indonesia.
gadis yang sangat cerdas yang memiliki cita-cita yang tinggi. Di usia 18 tahun selepas tamat SMA Arumi memutuskan untuk merantau ke ibukota. demi membantu perekonomian keluarga. setelah ayahnya meninggal. Arumi sangat berperan dalam ekonomi keluarga.
ada seorang pria yang begitu memperhatikannya. Habibi Iskandar, seorang anak pengusaha kaya yg memiliki perusahaan dan ahli waris. namun Arum tidak pernah tau akan jabatan tinggi pria tersebut. Ardi Wijaya seorang sahabat yg selalu setia bersama Arumi, tanpa malu dan selalu mendampingi Arumi di setiap waktu Arumi membutuhkannya .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lilik Bunda Abib, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 32
“Emangnya kantin masih buka ak?” tanya Arumi kepada Yuda.
“Masih Rum, tutup jam 12. Kamu lihat aja. Di sana masih ramai.” Jawab Yuda sambil menunjuk ke kantin yang mereka tuju.
Begitu sampai di kantin. Ternyata masih ramai yang duduk, makan dan minum kopi.
“Hai .. sini gabung,” Rio melambaikan tangannya.
“Gak usah kami duduk di sini aja,” sambung Yuda.
Mereka hanya tersenyum melihat ekspresi wajah Yuda yang tak ingin di ganggu.
Sementara, Prima datang dan duduk bergabung dengan yang lain. .
“Kamu mau pesan apa Rum?”
“Nasi goreng aja ak.”
“Nasi goreng dua mbak. Sepesial.” Teriak Yuda.
“Iya mas Yuda,” jawab pelayan kantin.
Tak lama nasi goreng datang. Yang menggugah selera campuran nasi goreng tersebut adalah telor mata sapi, sepotong ayam dan kerupuk, di tambah 2 buah irisan mentimun dan 1 buah irisan tomat. Arum dan Yuda sangat menikmati nasi goreng mereka.
“Ak,” sapa Arumi.
“Iya Rum.”
“Itu telor kuning kenapa gak di makan?” tanya Arumi.
“Aak cuman suka putihnya.”
“Arum suka kuning dan kurang mau yang putih ak. Kuning telur aak untuk arum aja. Ini putih telur Arum untuk aak. Sayang di buang ak. Mubazir.” Pinta Arumi sambil memberikan putih telornya.
“Boleh rum.” Mereka pun saling bater telur.
Setelah selesai makan.
“Ak. Arum capek. Arum mau langsung ke kamar ya.”
“Iya aak antarkan.”
“Eh gak usah ak. Arum bisa sendiri.”
“Tapi aak juga mau tidur Rum.”
“Tapi jangan ke kamar Arum,” kata Arumi.
“Kamar aak dekat kamar kamu,” jawab Yuda.
“Ooo gitu. Ya udah deh.”
Setelah membayar. Mereka pergi ke kamarnya masih-masing. Saat arum membuka pintu kamar. Di lihat nya lampu kamar sudah padam. Tiar sudah tidur dengan nyenyaknya di bawah selimut yang tebal. Arum masuk ke kamar mandi dan berwudhu. Setelah itu sholat Isya. Arum naik ke atas tempat tidur. Merebahkan tubuh di atas tempat tidur.
“Mas Bibi, apa kabar ya? Besok acara penyerahan jabatan mas Bibi. Pengen sekali lihat acara tersebut dan memberikan selamat secara langsung, tapi di sini gak bisa nelpon dan terus gak ada TV. Mas Bibi apa ingat Arum ya. Ah ..... Mana mungkin mas Bibi mikirin Arum. Apa lagi kalau suka Arum. Mas Bibi tu umurnya sudah pas untuk nikah. Kalau dia suka sama Arum. Berarti dia harus nunggu beberapa tahun lagi. Lagi pula udah pasti dia bakalan cari istri yang dewasa. Ha..ha..... Up, arum menutup mulutnya. Takut Tiar terbangun dengar. Arum kamu mikirin apa? Ya allah kenapa bisa mikir seperti ini sih. Duh efek malam ini. Tidur arum. Tidur. Jangan menghayal. Sambil berusaha memejamkan matanya agar tertidur. Malam yang dingin membuat tidur serasa nyenyak. Namun tidak untuk Habibi. Yang memang tidak bisa memejamkan matanya sama sekali.
Gedung Center Abadi.
Acara akan di mulai jam 8 pagi sampai jam 1 siang untuk acara resmi. Jam 2 acara hiburan sampai jam 5 sore. Jam 7 malam acara di hotel. Papan bunga sudah berjejer di depan gedung yang luas tersebut. Bahkan papan bunga sudah menyambut mobil-mobil tamu undangan dari jarak 1 km. Tamu undangan terdiri wapres, para pejabat, anggota dewan pengusaha, toko masyarakat dan para klien, dan berbagai kerabat dan tamu -tamu penting lainnya.
Habibi tegak berdiri dengan wibawanya. Dengan senyum yang selalu menyapa para tamu undangannya. Mami dan papi selalu mendampinginya. Karyawan yang terlibat sebagai panitia tampak sibuk mondar-mandir dengan membawa berbagai macam keperluan dalam acara. Para celana servis tampak sangat sibuk ditambah dengan tenang kerja dari perusahaan jasa cleaning servis yang di perbantukukan. Habibi masih mencari-cari sosok gadis yang di membuat jiwa dan raganya tidak tenang. Berharap dia ada di sini.
“Mi,” sapa Habibi.
“Iya sayang,” jawab maminya.
“Mami tau gak, Arum di mana?”
“Gak sayang. Emangnya Arum di mana?” mami malah balik bertanya.
“Gak tau Bibi mi. Tapi setelah insiden itu Arum menghilang mi.” Kata Habibi.
“Yang benar kamu sayang?”
“Iya mi.”
“Apa kamu sudah cek kosnya?” tanya mami.
“Sudah mi. Terus, kata penghuni kosnya, kalau Arum sudah 3 hari gak pernah pulang. Bibi cek di pecel lele juga sama mi.” Jelas Habibi.
“Kok bisa ya?” kata mami Habibi.
“Gak tau mi.”
“Apa dia lari dari kamu?”
“Maksud mami?” tanya Habibi.
“Jangan-jangan dia takut sama kamu.” Jelas maminya.
“Maksud mami?”
“Dia takut kamu mau nikah dengan dia. Dia kan masih kecil. Bahkan kalau menikah dan hamil. Itu lebih beresiko.” Kata maminya.
“Mi, bibi gak akan maksa Arum mi. Bibi akan tunggu sampai dia siap.”
Anita memandang anaknya dengan tatapan serius. “Jadi kamu suka Arum?”
“Iya mi. Ya tapi sekarang mau gimana.”
“Kamu coba aja cari.” Kata mami.
“Iya mi, bibi akan cari arumi sampai ketemu.” Sahut Habibi dengan wajah serius dan penuh keyakinan.
“Udah kamu semangat. Jangan sampai saat dia kembali. Dia mendengar cerita kamu yang frustasi saat ditinggalnya.” Jawab mami.
“Iya mi. Makasih ya mi.”