NovelToon NovelToon
The Ragen: Escape From Zombie Apocalypse

The Ragen: Escape From Zombie Apocalypse

Status: tamat
Genre:Sci-Fi / Duniamasadepan / Zombie / Mutan / Tamat
Popularitas:165.3k
Nilai: 5
Nama Author: Aria Monteza

(Dalam mode edit)
Tahun 3035. Dunia yang dulunya damai kini berubah menjadi neraka. Virus mematikan, yang mereka sebut Ragen, mengoyak peradaban, mengubah manusia menjadi makhluk buas yang haus darah. Mereka bukan sekadar zombie, bukan sekadar mayat hidup. Mereka adalah Ragen, mimpi buruk terburuk umat manusia. Di tengah kekacauan, sekelompok pemuda berjuang untuk bertahan hidup, mencari perlindungan terakhir. Setiap langkah adalah pertaruhan, setiap pertemuan bisa menjadi akhir. Kehilangan adalah harga yang harus mereka bayar, luka dan duka menjadi teman setia. Mampukah mereka selamat dari kiamat ini? Akankah mereka menemukan harapan di tengah kegelapan? Perjalanan mereka baru saja dimulai...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aria Monteza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 32. Golden Card

Hari yang cerah di minggu pagi ini, suara anak-anak terdengar riuh rendah bermain bersama di taman. Beberapa orang dewasa juga terlihat bersantai dan bercengkerama di sana. Hijau rerumputan dan rindangnya pepohonan menambah indahnya suasana.

Bunga-bunga bermekaran menaburkan semerbak harum ke segala penjuru tempat. Burung-burung berterbangan dari satu pohon ke pohon lain dengan suara kicau merdu yang mengalun di udara. Semua pemandangan itu hanya bisa didapat di dalam camp, berbanding terbalik dengan di luar tembok yang keadaannya sangat menyedihkan.

Di salah satu pohon yang cukup rindang dengan bunga-bunga yang tampak bermekaran, terlihat Matthew dan Selena tengah bercengkerama. Mereka menikmati hari libur dengan bersantai di taman. Sesekali beberapa anak kecil menghampiri mereka dan memberikan untaian bunga berbentuk tiara untuk dikenakan pada Selena. Melihat kebahagian yang terpancar dari anak-anak kecil dan kerling nakal Matthew, membuat Selena tersipu malu.

“Kau terlihat seperti seorang putri, Selena,” komentar seorang gadis cilik yang mendadani Selena riang.

“Oh ya?” Selena tersenyum malu.

“Ya dan kakak Matthew sebagai pangerannya,” timpal yang lain  Selena melirik sekilas Matthew yang terkekeh mendengar komentar anak-anak itu, “Apa yang bisa membuatnya tampak seperti pangeran?” Tanya Selena.

“Aku bisa meminjamkan pedang mainanku,” sahut bocah laki-laki sambil mengacungkan pedangnya ke udara.

“Don’t please,” tolak Selena yang kemudian mendekat ke bocah itu dan membisikkan sesuatu. Bocah itu tampak mengangguk dan berlari menjauh dengan riang. Matthew yang melihatnya tampak menyelidik, tetapi Selena hanya memberikan senyum penuh arti.

Tak lama kemudian bocah itu kembali dengan menggenggam sesuatu di balik kedua telapak tangannya, kemudian menyerahkannya pada Matthew. Matthew yang menerima pemberian bocah itu tampak terkejut melihat seekor katak yang kini berpindah ke dalam telapak tangannya.

“What?!” teriak Matthew menoleh pada Selena.

“Pangeran yang tampan berasal dari katak kan,” kekeh Selena disusul sorak sorai anak-anak kecil yang bermain bersama mereka.

“Oke. Kalau begitu sang putri harus mencium katak terlebih dahulu, agar bisa menjadi pangeran,” kata Matthew sambil menyodorkan katak di tangannya.

“No, get it of.” Selena yang panik mengibaskan tangannya, agar Matthew menjauh. Namun pria itu justru semakin mendekatkannya pada Selena dengan tersenyum riang.

Selena yang merasa geli melihat katak memilih untuk lari menghindar, membuat Matthew mengejarnya sambil tertawa memamerkan katak di tangannya. Tawa anak-anak itu semakin menggelegar melihat Selena terjatuh dengan katak yang berada di atas tubuhnya, dengan cepat Selena menyingkirkan katak itu darinya dengan wajah jijik. Matthew hanya bisa tertawa terpingkal-pingkal melihat penderitaan Selena. Tidak terima dengan apa yang dilakukan Matthew, Selena menghampiri pria itu dan memukuli bahu pria itu, yang tidak bisa menghentikan tawa Matthew sama sekali.

Sepeninggal anak-anak kecil itu, Selena dan Matthew bersantai kembali di bawah pohon tempat mereka duduk tadi. Selena merebahkan dirinya di pangkuan Matthew yang bersandar di batang pohon sambil membelai rambutnya. Mereka tampak bahagia menghabiskan waktu bersama.

“Kau tahu, kemarin Balthier dua kali ke ruang medis karena berkelahi dan yang pertama sangat parah?” Tanya Matthew memecah keheningan.

“Aku tahu, aku yang melakukannya,” jawab Selena santai.

“Apa?” kata Matthew terkejut.

“Dia yang menyabotase mobilku jadi dia pantas mendapatkannya.” Terang Selena membuat Matthew hanya menggelengkan kepala.

“Aku sedikit khawatir kau dekat dengan Balthier,” ungkap Matthew.

“Kenapa?” Tanya Selena bingung.

“Bukankah Guardians memburu Assassins bagaimana jika dia tahu kau seorang Assassins dan mencelakaimu,” jawab Matthew.

“Tenang saja dia tidak akan mencelakaiku, menyentuhku saja dia tidak bisa. Lagi pula jika dia melakukannya akan ada hukuman yang setimpal buatnya,” terang Selena sambil duduk di samping Matthew. “Dan yang diburu Guardians hanya satu Assassins, tetapi dia sudah dipecat. Aku pun juga memburunya sebagai target pertamaku,” lanjutnya.

“Siapa dia?” Matthew menoleh penasaran.

“Mantan Assassins 1st class,” jawab Selena.“It’s look so bad,” komentar Matthew bergidik ngeri.

“That’s a job,” kata Selena santai.

Matthew tampak terdiam merenung, dipandanginya air kolam yang jernih memantulkan sinar mentari.

“Apakah kau tidak bisa berhenti dari pekerjaanmu?” Tanya Matthew gamang.

“Itu bukan sebuah gaya hidup yang bisa kupilih Matt, itu takdirku. Berbeda dengan yang lain, aku telah dikontrak sejak aku masih dalam rahim ibuku dan aku tidak bisa menolaknya,” kata Selena menundukkan kepalanya.

Melihat kesedihan Selena, Matthew meraihnya dalam pelukannya dan mencium sekilas. Baginya bukan masalah dengan apa yang dikerjakan Selena, tetapi keselamatannyalah yang ia khawatirkan. Mereka terdiam untuk beberapa saat lamanya.

“Bisa kau beritahu aku kapan pertama kali kau membunuh orang?” Tanya Matthew tersenyum penasaran.

“Aku tidak ingat,” jawab Selena membuat senyum Matthew memudar. “Tapi aku ingat saat di highschool pertama kali aku mencelakai orang dan hampir membunuhnya, jika saja Arvent tidak datang mencegahku.”

“Apa yang terjadi?” Tanya Matthew.

“Saat itu di sekolah ada dua orang anak yang sangat menyebalkan. Mereka setiap hari mengganggu seorang anak laki-laki, karena terlihat berbeda. Beberapa kali aku membantunya menjauhkan berandalan itu. Aku berharap anak itu mau melawannya, tapi sepertinya dia membiarkan terus perlakuan mereka padanya. Dan suatu hari aku benar-benar kesal pada mereka berdua karena berencana mencelakai anak itu, aku menyerang mereka hingga luka berat,” cerita Selena.

“Lalu apa yang terjadi padamu?” Tanya Matthew.

“Tentu saja aku dikeluarkan dari sekolah, bahkan aku harus pindah keluar negeri untuk menghapus catatan buruk itu,” kata Selena sambil tersenyum.

Matthew memandangi Selena yang tampak tidak terganggu dengan peristiwa tersebut. “Jadi itu mengapa kau tiba-tiba menghilang dan anak-anak itu berhenti menggangguku,” pikirnya. Dieratkan pelukannya

pada Selena, dan kekasihnya itu bersandar di bahunya.

“Apa kau kenal dengan anak yang kau tolong itu?” selidik Matthew.

“Tidak sampai sekarang aku tidak mengenalnya. Aku harap dia masih hidup hingga sekarang,” kekeh Selena.

Matthew hanya bisa menunduk dengan senyum mengembang di bibirnya memaklumi jika Selena tidak ingat padanya. “Anak itu di sampingmu sekarang Honey, akulah yang akan menjagamu mulai saat ini,” bisik Matthew dalam hati.

“Aku mempunyai sesuatu untukmu.”

Matthew sambil merogoh kantongnya membuat Selena menegakkan tubuhnya penasaran. Ia melihat Matthew mengeluarkan sebuah benda di genggamannya sekarang. Sebuah kalung dengan hiasan botol kecil yang di dalamnya terdapat cairan biru yang sangat indah dipamerkan Matthew pada Selena.

“Dari mana kau mendapatkannya?” Tanya Selena takjub.

“Itu rahasia, sini aku pakaikan.”

Selena mendekat pada Matthew yang kini memakaikan kalung itu di lehernya, ia tampak berseri-seri melihat kalung itu kini melingkar di lehernya dengan sangat indah.

“Berjanjilah kau akan menjaga kalung ini apa pun yang akan terjadi” pinta Matthew menyodorkan jari kelingkingnya.

“Tentu aku akan menjaganya untukmu,” ucap Selena menautkan jari kelingkingnya pada jari Matthew.

Mereka berdua kemudian bercanda menghabiskan waktu santai mereka bersama di taman itu. Menikmati suasana ceria yang masih terlihat dari beberapa anak-anak kecil dan para orang tua yang sama menghabiskan hari libur mereka di satu-satunya tempat hiburan mereka kini.

 ***

Di dalam sebuah gedung tidak jauh dari taman, Leo bisa melihat keceriaan Selena dan Matthew bermain dengan anak-anak dari sebuah kaca jendela. Jarang sekali Leo melihat Selena tertawa lepas seperti saat ini. Dia tampak bahagia sekali dan tentu saja Matthew bagian dari kebahagiaan Selena sekarang. Leo tampak melamun memikirkan kesepakatannya dengan Balthier kemarin. Ia menerimanya tanpa berpikir jernih terlebih dahulu dan sekarang ia harus berhadapan dengan buah simalakama.

“Tidak bosan memandanginya seperti itu terus?” Tanya Ignis yang baru datang membuyarkan lamunannya Leo.

Leo menoleh ke arah Ignis yang sekarang berdiri di sampingnya memandangi ke luar jendela.

“Baru kali ini aku melihatnya bahagia seperti itu,” komentar Ignis.

“Aku tahu.” Kata Leo menghela napas panjang. “Semalam aku mendengar dia bertengkar dengan Balthier. Aku rasa Balthier tidak begitu suka dengan Matthew dan dia ingin Selena menjauh darinya,” cerita Leo.

“Benarkah?” Ignis tampak tidak percaya, tetapi mengingat perkelahian kemarin pagi ia mendengar sekilas Balthier meminta Selena untuk menjauhi seseorang sepertinya apa yang dikatakan Leo benar.

“Menurutmu apa yang akan terjadi dengan Selena, jika dia berpisah dengan Matthew?” Tanya Leo meminta pertimbangan Ignis.

“Jawaban jujur atau menghibur?”

“Menghibur.”

“Dia akan segera melupakan Matthew dan mungkin saja dia akan jadi pacarmu,” sahut Ignis dengan tersenyum.

“Bagaimana dengan jawaban jujur?” Tanya Leo dengan masam.

“Well, sejujurnya aku tidak bisa membayangkannya. Dia terlihat bahagia sekarang,” komentar Ignis. “Ada apa?” tanyanya kemudian.

Leo hanya menggeleng, dia melihat Matthew kini meninggalkan Selena setelah seseorang dengan pakaian medis menghampirinya. Selena yang ditinggal sendirian masih tetap di taman dan merebahkan tubuhnya di rerumputan. Leo dan Ignis masih memperhatikan Selena saat Balthier menghampiri mereka berdua.

“Cukup memperhatikannya,” kata Balthier mengagetkan kedua pria itu. Balthier tampak tersenyum melihat Leo dan Ignis menjadi salah tingkah. “Leo, your time now,” lanjut Balthier mengarahkan pandangannya keluar.

Leo seperti mengerti apa maksud Balthier hanya mengangguk, dia yakin semua itu telah diatur pria yang baru saja memerintahkannya untuk keluar menemui Selena.

“Lakukan dengan baik,” ucap Balthier menepuk pundak Leo sebelum berlalu pergi.

Ignis menatap Leo penuh selidik setelah Balthier menjauh dari mereka. “Apa maksudnya?” Tanya Ignis menyelidik.

“Dia memintaku menjauhkan Selena dari Matthew,” jawab Leo sambil melangkah pergi.

“Kau tidak akan melakukannya kan?” Tanya Ignis. Namun Leo tak menghiraukannya dan pergi meninggalkannya. “Damn!!!” maki Ignis tidak percaya sahabatnya itu bertindak terlalu jauh.

Segera ia menyusul Leo yang berjalan ke arah Selena. Bagaimana pun juga dia tidak akan membiarkan Leo melakukan tindakan seperti itu.  Melihat kedatangan Leo dan Ignis, Selena yang sedang merebahkan diri di rerumputan segera duduk dan menyapa mereka berdua. Ia sedikit heran melihat Ignis yang terlihat masam di belakang Leo. Leo sendiri tampak mengacuhkan Ignis yang berjalan di belakangnya.

“Selena, aku ingin bicara denganmu.” Leo duduk tak jauh dari gadis itu. Ia tampak serius ingin membicarakan hal penting dengan Selena. Ignis yang duduk di sampingnya tampak menatapnya dengan tajam.

“Ada apa?” Tanya Selena bingung.

“Bisakah aku dan teman-teman yang lain ikut denganmu ke Moonlight?” Tanya Leo, ia berpikir untuk mengikutinya sekaligus menjaganya, jika yang didengarnya semalam benar setidaknya ia bisa melindungi Selena.

Selena tampak tertegun mendengar permintaan Leo, ia terdiam memikirkannya. Ignis yang tadi tampak masam kini terlihat lega mendengar kata Leo, ia lega terkaannya Leo benar-benar akan menjauhkan Selena dari Matthew tadi meleset.

“Kapan kau akan pergi?” Tanya Ignis melihat Selena masih terdiam.

“Rencananya sih besok, tetapi Matthew belum mendapatkan izin untuk meninggalkan tempat ini,” jawab Selena murung.

“Sial!!! Pria itu tidak main-main dengan ucapannya,” maki Leo dalam hati.

“Bukankah saat pertama dia sudah mendapatkan izin pergi?” Tanya Leo.

“Iya sih. Aku tidak tahu kenapa sekarang mereka berubah pikiran,” kata Selena.

Mereka bertiga terdiam terlarut dalam pikiran masing-masing hanya semilir angin yang menjadi penengah di antara mereka bertiga. Leo melirik kearah Selena, ia bisa melihat Selena tampak kecewa dengan nasib izin Matthew yang belum keluar.

“Jadi apa rencanamu?” Tanya Ignis memecah keheningan.

“Melarikan diri sepertinya menyenangkan,” jawab Selena sambil terkekeh diikuti gelengan kepala dari Ignis melihat kelakuan temannya itu.

“Sedang menikmati liburan nona Selena?” sapa Mr. Bhorton yang tiba-tiba muncul di hadapan mereka.

Melihat kedatangan Mr. Bhorton, Selena tampak terkejut dan langsung berdiri memberikan salam hormatnya diikuti Leo dan Ignis. Sangat jarang pemimpin camp itu keluar dari ruangannya, apalagi hanya untuk menyapa para penghuni camp yang lain.

“Seperti ini seharusnya dunia nyaman, tentram, damai.” Mr. Bhorton sambil mengedarkan pandangan ke segala penjuru taman. “Dan beberapa cinta bersemi di antara para pemuda,” lanjutnya terkekeh.

Ketiga anak muda yang di depannya itu hanya bisa saling berpandangan dan salah tingkah.

“Sayang sekali dokter Matthew melewatkan hari libur,” ujar Mr. Bhorton.

“Dia baru saja ke ruang medis karena ada sedikit masalah dan dia dibutuhkan di sana Sir,” terang Selena.

Mr. Bhorton tampak berbincang-bincang dengan mereka bertiga dalam waktu cukup lama. Setelah berbasa-basi, Mr. Bhorton mengajak Selena menjauh dari teman-temannya untuk membicarakan hal yang penting. Leo dan Ignis masih di taman menunggu pembicaraan Selena dengan Mr. Borthon selesai. Mereka memandangi kedua orang itu yang sedang membicarakan hal penting.

“Jadi kapan anda akan pergi Nona Selena?” Tanya Mr. Bhorton.

“Secepatnya setelah Matthew mendapat izin keluar Sir,” jawab Selena.

Mr. Bhorton tampak mengangguk-angguk mengerti. “Sebelum anda pergi bisakah anda membantu saya sekali lagi?”

“Bantuan seperti apa Sir?”

“Beberapa malam terakhir ini ada pergerakan para Ragen yang cukup aneh. Saya ingin anda bisa menyelidikinya terutama di pusat energi. Setelah kita berhasil menguasai tempat itu hampir tiap malam ada penyerangan.”

“Penyerangan?” Tanya Selena heran.

“Secara awam mereka seperti hendak menguasai tempat itu lagi,” terang Mr. Bhorton.

“Tetapi di sana hanya ada cadangan energi,” kata Selena tidak mengerti.

“Yang menjadi sumber daya kita sekarang.”

Selena tampak berpikir mengenai keterangan dari Mr. Bhorton. Kehilangan sumber energi akan membuat camp akan riskan terhadap serangan Ragen. Pintu gerbang akan lumpuh dan sistem keamanan lain akan mengalami mal fungsi, secara garis besar tempat pengungsian itu akan hancur jika kehilangan pusat energi mereka.

“Saya akan menyelidikinya malam ini Sir,” kata Selena mantap.

“Bagus, saya akan meminta Balthier menemani anda lagi.”

“Terima kasih.”

“Tidak, saya yang harus berterima kasih,” kata Mr. Bhorton senang. “Dan saya tidak tahu ada masalah apa di antara anda dan Balthier hingga ia melarang kepergian dokter Matthew, yang jelas saya tidak begitu suka melihat seorang gadis bersedih. Jadi saya ingin memberikan ini pada kalian berdua,” lanjutnya sambil mengeluarkan dua id card berwarna emas dari balik saku jasnya dan menyerahkan pada Selena.  Selena menerimanya dengan wajah bingung.

“Ini Golden id card. Dengan ini anda bisa datang dan pergi kapan pun anda inginkan tanpa ada pemeriksaan terlebih dahulu. Maaf hanya bisa memberikan imbalan seperti ini kepada anda,” kata Mr. Bhorton merendah.

“Saya rasa ini lebih dari yang saya butuhkan Sir,” ucap Selena sambil berseri-seri. Ia bisa pergi dengan mudah sekarang tanpa bisa ada yang melarangnya.

Sepeninggal Mr. Bhorton, Selena tak henti-hentinya tersenyum sambil menimang dua id card di tangannya. Kedua temannya yang masih menunggu tampak memandanginya penuh tanda Tanya. Setelah memasukkan kedua id card ke dalam sakunya, Selena kembali menghampiri teman-temannya di bawah pohon.

“Maaf, aku harus pergi. Kita bicarakan lagi nanti, OK,” kata Selena.

“Kau mau ke mana?” Tanya Leo.

“Aku mendapat tiket keluar dari sini. Aku akan menemui Matthew,” jawab Selena senang. “Da… aku pergi dulu,” lanjutnya langsung berlari pergi meninggalkan Ignis dan Leo yang masih kebingungan.

“Dia itu pergi seenaknya saja,” gerutu Ignis.

Leo pun tampak sedih melihat Selena pergi begitu saja, apalagi dengan berita yang mengejutkan seperti tadi. Rasanya sulit untuk bersama Selena lebih lama lagi.

***

“Apa kau bilang?” Tanya Balthier gusar.

“Dia mendapatkan ijin pergi langsung dari Mr. Bhorton tadi,” jelas Leo yang sengaja menemui Balthier di ruang wakil pimpinan.

“Arrgh….” Erang Balthier mengacak-acak rambutnya frustrasi. “Tidakkah kau bisa lebih cepat.”

“Bahkan jika aku memperkosanya belum tentu dia berpaling padaku,” kata Leo ketus.

“Hei itu ide bagus,” ucap Balthier menyeringai.

“Apa kau gila. Dia temanmu!” bentak Leo.

“Justru karena dia temanku, makanya aku harus melindunginya!” bentak Balthier tidak kalah sengit.

“Sebenarnya apa masalahmu dengan Matthew, sampai kau tidak menyukainya?” Tanya Leo ketus.

“Itu rahasia,” jawab Balthier pendek. Ia berjalan mondar mandir memikirkan cara lain agar Selena jauh dari Matthew. Leo yang memperhatikan Balthier semakin tidak sabar.

“I’m done. I can’t help you anymore,” putus Leo beranjak pergi.

“Kau tidak bisa berhenti begitu saja,” cegah Balthier.

“Apa kau pernah melihat Selena sebahagia pagi tadi setelah kepergian Sam?” bentak Leo.

Balthier hanya terdiam mendengar pertanyaan Leo. Jujur dia baru kali ini melihat Selena terlihat bahagia setelah sekian lama gadis itu tenggelam dalam kesedihannya. Melihat Balthier diam, Leo segera pergi dari ruangan itu. Ia tak ingin lagi mencampuri urusan mereka terutama memisahkan Selena dengan Matthew, seperti yang dikatakan Ignis tadi pagi ia tidak bisa membayangkan apa yang terjadi dengan Selena jika berpisah dengan Matthew.

--- TBC ---

1
Nuraishah❤💚
👍🏻
blueby
Itu tiap paragrafnya kenapa gitu., susah dibacanya.
Aria Monteza: nggak tau kak, soalnya dulu masih rapi
nggak mencar² kayak gitu paragrafnya
total 1 replies
Kaka Raffiana
keren bet ceritanya... maaf bru baca thor😅

season 2nya kak lanjutin
Kaka Raffiana
cloud adalah matthew yg dicuci otaknya
Kaka Raffiana
cool amat si leo ya!!! diliat dri foto visualnya
Kaka Raffiana
lebih suka sikap leo yg terlihat cool dan lebih santai...
Kaka Raffiana
keren sih respon Leo pas berantem ama si matthew.
Yurnita Yurnita
Thor nama visual nya
Aria Monteza: visual yg mana ya?
total 1 replies
Ahza Ahsanul
gue sukaaaaaaaaaaaaaa..
moon
he eh sepi
Z3R0 :)
yosh novel zombie lagi lanjut
RyanZxD
Lanjutt
Desi BA
hampir sama kayak zombie ya
moon
mattahew kah
moon
tegang tp seru
moon
waw pengendalian yang bagus mat
moon
jangan bilang klw selena dan sam yang bantai orang tua leo🤔🤔🤔🤔
Esriyana Noviani
kapan publish novel ke duanya thor.....
NauraNazifaNauzan
gantung ini...
NauraNazifaNauzan
k 3x q baca novel ini... tp blm juga ada part 2 nya... sayang sekali pdahal cerita nya kereeeen....
Aria Monteza: lagi ngumpulin mood nulis 😂😂😂
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!