NovelToon NovelToon
SANG PEMBURU KEGELAPAN

SANG PEMBURU KEGELAPAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Balas Dendam
Popularitas:401
Nilai: 5
Nama Author: AL

Mengerahkan segenap kekuatannya, Arya menyerang Alam Dewa!

Awalnya Arya ditugaskan para dewa untuk memburu Pangeran Kegelapan yang telah menciptakan berbagai teror di dunia. Namun, di balik tugas ini, ada konspirasi yang busuk!

Para dewa rupanya berusaha melenyapkan keabadian dan kekuatan sang ayah yang ada di dalam dirinya. Kelak Arya akan memimpin perang melawan para dewa. Di perang besar ini dia akan menunjukkan kehebatan dan kesaktiannya yang tiada tara!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SPK 20

"Sial!" umpat Senopati Mandala dalam hati. Sebisa mungkin dia berusaha menghindari serangan cepat yang dilakukan Arya. Tapi sekuat apapun dia berusaha, kecepatannya masih jauh di bawah pemuda tersebut.

"Aaaakh!" Teriakan keras keluar dari mulut Senopati Mandala. Lolongan kesakitan yang keluar dari mulutnya seperti suara serigala yang memecah keheningan malam.

Lelaki setengah baya itu jatuh tersungkur di atas tanah. Tangannya bergerak meraba perutnya yang terasa begitu nyeri. Kernyitan di dahinya seketika muncul begitu dia tahu jika nyawanya masih menyatu di tubuhnya.

Beberapa langkah di dekat Senopati Mandala, Arya berdiri menatap sosok yang baru saja dibuatnya jatuh tersungkur itu. Dia sengaja tidak membunuh Senopati Mandala karena punya rencana lain dalam pikirannya.

"Kenapa kau tidak membunuhku?" tanya Senopati Mandala. Dia begitu penasaran dengan apa yang sedang direncanakan pemuda tersebut. Padahal dia yakin jika Arya bisa membunuhnya semudah membalik telapak tangan.

"Kalau aku lebih mementingkan dendamku dan membunuhmu, maka aku tidak ubahnya seperti kalian berdua. Aku masih bisa berpikir jernih tentang kelanjutan kerajaan Kanjuruhan ini ke depannya," jawab Arya.

"Aku tidak paham apa yang kau maksudkan?"

"Aku memberimu kesempatan kedua. Jika kau mau berubah dan memperbaiki kesalahanmu, aku tidak akan mengatakan kepada paduka tentang apa yang telah kau lakukan. Tapi berjanjilah untuk mengabdi dengan sepenuh hati dan hilangkan ambisi dari pikiranmu!"

Senopati Mandala mengeryitkan dahinya. Lelaki setengah baya itu tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Sebuah pengampunan yang sangat berharga baru saja diberikan pemuda itu kepadanya.

"Apa aku tidak salah mendengarnya?" Senopati Mandala bangkit berdiri. "Kenapa kau mau memaafkanku dari kesalahan yang sudah aku lakukan?"

"Sudah aku bilang, apa yang aku lakukan ini demi kerajaan Kanjuruhan. Kau jangan terlalu banyak bertanya atau aku bisa jadi berubah pikiran!"

"Maafkan aku. Tapi bagaimana caranya agar paduka tidak tahu tentang kesalahanku?" Bingung dan heran sekaligus lega, bercampur baur di dalam pikiran Senopati Mandala.

"Kau cukup diam dan pura-pura tidak tahu tentang kejadian ini. Semuanya biar aku yang mengaturnya. Aku jamin tidak akan ada yang tahu selain aku!" jawab Arya, kemudian melihat ke sekeliling.

Senopati Mandala menundukkan kepalanya. Dia tidak berani bertanya lebih lanjut atau sekedar berbasa basi untuk menyenangkan hati Arya.

"Apa kau kenal dengan ketua organisasi Iblis Kematian yang tadi kabur meninggalkanmu?"

Senopati Mandala mengangkat pandangannya. Dia sedikit terkejut dengan pertanyaan yang diajukan Arya kepadanya. Tapi dia sadar jika pemuda itu bertanya, pasti ada suatu rencana di baliknya.

"Namanya Ki Santoso. Dia sebenarnya pernah mengabdi di istana, tapi entah kenapa tiba-tiba dia mengundurkan diri dan tahu-tahu sudah mendirikan organisasi Iblis Kematian."

"Apa kau tahu di mana dia tinggal selama ini selain di markasnya?" tanya Arya.

Senopati Mandala mengganggukkan kepalanya.

"Besok lusa kau antarkan aku menemui dia, ada yang mau aku bicarakan dengannya!"

"Tentang apa?" Senopati Mandala mengangkat kedua alisnya, terkejut dan juga heran.

"Nanti kau akan tahu sendiri apa tujuanku menemui Ki Santoso."

Tak berapa lama, kurang lebih 200 orang prajurit istana yang dipimpin Jaya mendatangi tempat tersebut. Melihat Arya berdiri bersama Senopati Mandala, Jaya seketika mengernyitkan dahinya. Rasa penasaran penuh pertanyaan muncul memenuhi benaknya.

"Arya, bukankah ..."

"Tenang, Paman. Ternyata pelakunya adalah Patih Mahasura. Aku tadi menyelamatkan Tuan Senopati di dalam markas organisasi itu." Arya menunjuk bangunan yang letaknya tidak terlalu jauh dari tempatnya berdiri.

Jaya menggaruk kepalanya. Dia masih bingung dengan apa yang baru saja terjadi. Padahal laporan yang didapatnya dari Teliksandi mengatakan jika dalang dari percobaan pembunuhan terhadap pemuda itu adalah Senopati Mandala dan Patih Mahasura.

"Jadi laporan yang diberikan teliksandi itu tidak sepenuhnya benar, Paman. Tujuannya adalah untuk menjebak agar aku datang ke sini dan membunuhku. Nah, Tuan Senopati juga dijebak oleh Patih Mahasura karena mengetahui rencananya." lanjut Arya menerangkan.

"Berarti Teliksandi itu ..."

"Teliksandi itu berpihak kepada Patih Mahasura, Paman. Tapi tenang saja, aku sudah membunuh mereka!" Arya tidak memberi kesempatan kepada Jaya untuk berbicara banyak.

Senopati Mandala diam mendengarkan pembicaraan mereka berdua. Dia terkejut dengan kecerdasan Arya yang bisa dengan cepat membuat rencana untuk menyelamatkan nasibnya.

Arya memanggil beberapa prajurit dan memberi perintah agar mereka mengevakuasi jasad Patih Mahasura. Selain itu, jasad anggota organisasi Iblis Kematian juga dievakuasi agar tidak menimbulkan penyakit di kemudian hari.

Malam berjalan begitu cepat. Tanpa terasa hari sudah berganti. Terang benderang sinar sang Surya menyapa Bumi yang semalaman dilanda kegelapan.

Arya dan Jaya serta Senopati Mandala tampak sedang berada di aula. Mereka masih menunggu kedatangan Raja gajayana untuk membicarakan tentang kejadian tadi malam dan juga turnamen yang akan diadakan kurang dari tiga bulan ke depan.

Selain itu, kematian Patih Mahasura juga menjadi topik pembicaraan yang akan mereka lakukan, terutama tentang mencari siapa sosok yang tepat untuk menggantinya.

Sehari berselang ...

Sesuai dengan pembicaraan yang sudah mereka lakukan, Arya dan Senopati Mandala keluar dari kotaraja. Tujuan mereka adalah menemui Ki Santoso yang rumahnya cukup jauh dari Kotaraja. Menurut Senopati Mandala, setidaknya mereka butuh waktu satu hari berkuda untuk sampai di tempat tujuan.

Malam menjelang, Senopati Mandala memutuskan untuk beristirahat di sebuah penginapan yang berada di satu desa. Jarak tujuan yang masih setengah hari lagi tidak mungkin mereka tempuh di kegelapan malam.

Malam itu, Senopati Mandala kembali bertanya tentang alasan sesungguhnya kenapa Arya mau memaafkannya. Padahal kesalahannya sudah terbilang sangat berat dan tidak pantas untuk dimaafkan.

Tapi lagi-lagi jawaban yang diberikan Arya adalah semua demi kerajaan Kanjuruhan. Senopati Mandala masih tidak puas dengan jawaban Arya, akan tetapi dia tidak berusaha untuk bertanya lebih lanjut. Dia yakin pada saatnya nanti Arya akan memberi jawabannya.

Keesokan paginya, mereka berdua melanjutkan perjalanan menuju rumah Ki Santoso yang hanya tinggal setengah hari perjalanan.

Menjelang tengah hari, mereka akhirnya tiba di sebuah rumah kecil yang ada di bawah kaki gunung Arjuno. Keduanya melompat dari punggung kuda masing-masing, lalu berjalan menuju pintu rumah yang terlihat bersih dan terawat.

"Apa kau yakin ini rumah Ki Santoso?" tanya Arya keheranan. Dengan statusnya sebagai ketua organisasi pembunuh bayaran yang cukup terkenal, Ki Santoso seharusnya tinggal di sebuah rumah mewah. Nyatanya apa yang Arya lihat kali ini sangat jauh berbeda dengan yang ada di bayangannya.

"Aku sangat yakin. Dulu Ki Santoso sering mengajakku ke sini semasa dia masih menjadi pejabat istana," jawab Senopati Mandala.

Pintu rumah kecil itupun terbuka setelah Senopati Mandala mengetuknya berulang kali.

Seorang lelaki yang berumur setengah abad lebih mengernyitkan dahinya setelah melihat kedatangan mereka berdua. "Kenapa kalian berdua kemari? Aku sudah tidak mempunyai urusan dengan kalian? Pergilah!"

"Tahan dulu, Ki! Kami tidak berniat buruk kepadamu," ucap Arya menenangkan lelaki tua yang ternyata Ki Santoso.

"Aku tidak percaya dengan ucapanmu, Anak muda. Jelas sekali kau ke sini ingin membunuhku!" Ki Santoso berlari masuk ke dalam rumahnya dan kembali keluar dengan pedang hitam terhunus di tangannya.

Arya dan Senopati Mandala bergerak mundur menjauhi pintu. Keduanya tentu tidak mau menjadi sasaran amukan Ki Santoso yang sudah gelap mata.

"Tenang, Ki. Aku tidak berniat untuk melawanmu. Kalau kau tidak percaya, aku akan meletakkan pedangku," ucap Arya. Pemuda itu tetap berusaha untuk menenangkan kemarahan Ki Santoso.

"Aku tidak percaya! Lemparkan pedangmu kemari!" teriak Ki Santoso.

1
anggita
like👍, 2x☝☝iklan. untuk dukung novel laga nusantara
anggita
bocah kuckuk🤔🤭😅
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂
🚬🗿☕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!