Di saat teman sekelasnya dipanggil ke dunia lain sebagai Pahlawan dan memperoleh kemampuan legendaris, Haruto Mirakawa hanyalah korban yang ikut terseret.
Karena bukan bagian dari ritual pemanggilan, semua skill hebat sudah habis saat gilirannya tiba.
Yang tersisa hanya satu kemampuan biasa:
Shadow Tool.
Kemampuan untuk menciptakan satu alat dari bayangannya.
Bukan pedang suci.
Bukan sihir penghancur.
Hanya... alat.
Merasa bersalah, sang dewa memberinya berkah kecil untuk bertani dan sebuah tombak tua yang kemudian menyatu dengan skillnya.
Lalu Haruto dikirim ke tempat yang katanya tenang dan jauh dari perang.
Tempat itu ternyata adalah...
Hutan Kematian.
Di hutan yang ditakuti seluruh dunia, Haruto hanya ingin menjalani hidup santai, menanam sayur, membangun rumah, dan menikmati hari-harinya.
Namun sedikit demi sedikit, para monster cerdas, buronan, dan orang-orang yang kehilangan tempat pulang mulai berdatangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kūkyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pagi yang Tidak Masuk Akal
Pagi di Hutan Kematian tidak datang dengan kicauan burung, melainkan dengan perubahan tekanan udara yang samar. Kabut tipis merayap di antara batang-batang pohon raksasa, menelan sungai hingga hanya menyisakan deru air yang terdengar seperti napas panjang bumi. Haruto Mirakawa keluar dari gubuknya, menyambut udara dingin yang langsung menusuk pori-pori kulitnya.
Ia tidak langsung menyapa dunia dengan semangat. Hal pertama yang ia lakukan adalah memeriksa bara api unggun semalam. Setelah memastikan tumpukan abu itu masih menyimpan sisa kehangatan—sebuah modal berharga agar ia tak perlu bersusah payah menggesek kayu lagi nanti—ia melangkah menuju tepi sungai dengan wadah kayu buatannya.
Namun, baru beberapa meter ia melangkah, kakinya terhenti.
Matanya tertuju pada lahan yang kemarin ia cangkul. Di antara tanah yang lembap, ada beberapa titik hijau kecil yang memecah permukaan bumi dengan gigih. Haruto berjongkok. Ia memiringkan kepala, mengamati kecambah-kecambah yang jumlahnya hanya segelintir itu. Bentuk daunnya berbeda-beda—ada yang runcing, ada yang membulat. Haruto tidak merasa ada keajaiban di sana; otak praktisnya justru sibuk menyalahkan dirinya sendiri. Apakah kemarin aku tidak sengaja membawa benih di saku celanaku? Atau mungkin terbawa angin?
Tanpa berpikir jauh, ia menyiram kecambah-kecambah itu dengan air sungai yang dingin, sebuah rutinitas sederhana yang ia lakukan seperti sedang membasuh wajah sendiri.
Perutnya mulai mengeluarkan suara protes yang keras. Hari ini, ia tidak punya pilihan selain berburu.
Di sungai, ia belajar dengan cara yang kasar bahwa ikan-ikan di sini adalah predator puncak skala kecil. Tubuh mereka dipenuhi sisik sekeras lempengan baja, dan rahang mereka dilengkapi deretan gigi yang menyerupai gergaji piranha. Butuh waktu dua jam—dan hampir membuat tangannya terseret ke dalam arus—bagi Haruto untuk menjebak dua ekor ikan di area dangkal. Ia membunuh mereka dengan satu pukulan presisi menggunakan pisau bayangannya. Ia tidak menangkap lebih, karena ia tahu bahwa di tempat ini, sisa makanan adalah lonceng yang mengundang pemangsa lain.
Setelah itu, ia masuk ke area hutan yang lebih dalam, meski tetap menjaga radius aman dari gubuknya. Ia berhasil mendapatkan daging kelinci hutan berbulu kasar dengan bantuan Divine Shadow Tool. Semuanya dilakukan dengan efisiensi tinggi, nyaris membosankan. Haruto tidak menikmati perburuan ini; baginya, ini hanyalah bagian dari menjaga agar tubuhnya tetap bisa berfungsi untuk melakukan hal yang ia sukai: bertani.
Begitu kembali ke gubuk, Haruto menatap area tempat tinggalnya yang masih terasa sangat rentan. Ia menghabiskan sisa hari dengan menebang pohon-pohon muda di sekitar, menyusun batang-batang kayu tersebut menjadi pagar sederhana yang melingkar. Tidak ada desain, tidak ada keindahan. Hanya tumpukan kayu yang berfungsi sebagai pembatas agar ia setidaknya tahu di mana batas "rumahnya" berakhir.
Menjelang senja, rasa penasaran itu kembali.
Haruto menatap dua petak tanah kosong di samping kebun kecilnya. Ia teringat akan kebun di rumah kakeknya, teringat bagaimana kacang panjang tumbuh merambat dan kedelai menyebarkan aroma tanah yang khas. Ia berdiri di sana, memejamkan mata, membiarkan ingatannya bekerja. Ia memvisualisasikan tekstur kacang panjang dan bentuk bulat kedelai, menanamkan imajinasi itu ke dalam pori-pori tanah yang ia cangkul.
Tentu saja, tidak ada yang terjadi.
Haruto tertawa kecil, suara tawanya terasa ganjil di tengah hutan yang sunyi. "Haruto, Haruto... kau benar-benar mulai berhalusinasi gara-gara terlalu sering main simulator berkebun."
Ia tetap menyiram petak-petak itu, lalu melupakan semuanya. Malam itu, ia membakar ikan dan daging buruannya. Rasanya hambar—hanya rasa amis dan gosong—tapi perutnya berhenti menjerit. Sambil memandangi api yang menari, ia tidak memikirkan naga atau raja iblis. Ia hanya berharap besok matahari tidak terlalu terik agar tanamannya tidak layu.
...
Keesokan paginya, Haruto keluar dari gubuk dengan mata yang masih setengah tertutup. Ia membawa wadah air, siap untuk memulai rutinitas paginya. Namun, baru dua langkah, ia membeku.
Di atas dua petak kosong yang kemarin ia kerjakan, tanahnya sudah terangkat. Pucuk-pucuk hijau muda telah menembus permukaan dengan warna yang begitu cerah, kontras dengan warna tanah hutan yang gelap. Haruto mendekat, napasnya tertahan di tenggorokan.
Di pucuk kecambah petak pertama, kulit biji kacang panjang masih menempel—sebuah bukti tak terbantahkan. Di petak sebelah, kecambah kedelai tampak kokoh dengan sisa kulit bijinya yang masih menempel.
Haruto berdiri terpaku. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut, melainkan karena getaran aneh yang menjalar di punggungnya. Ia menyentuh tanah itu dengan jemari yang gemetar.
Aku tidak membawa benih. Aku tidak melakukan ritual sihir. Aku hanya... mengingatnya.
Ia menatap telapak tangannya sendiri. Jika ia bisa memanggil apa pun dari bayangan dan menumbuhkan apa pun dari ingatan, apakah ini berarti ia tidak perlu lagi bertahan hidup? Apakah ini berarti ia bisa membangun kembali dunia kecilnya di tengah neraka ini?
Sebuah senyum lebar yang tidak biasa muncul di wajahnya. Ini bukan lagi soal bertani. Ini adalah soal memenangkan permainan yang bahkan tidak ia sadari sedang ia mainkan.