Dulu Tiara berbohong pada mantan suaminya jika bayi yang dilahirkannya telah meninggal dunia. Itu semua dilakukannya karena kecewa pada pria tersebut yang mengabaikannya saat akan melahirkan.
Namun kini dia harus kembali berurusan dengan mantan suaminya tersebut, karena putra mereka membutuhkan bantuan donor sumsum tulang belakang.
Lalu bagaimana dengan reaksi Tom saat mengetahui jika anaknya yang lain masih hidup, dan dalam keadaan sekarat karena penyakit yang yang dideritanya?
"Menikahlah denganku lagi, Tiara." Tom.
"Baiklah tapi setelah aku hamil dan melahirkan, kita berpisah." Tiara.
Follow Ig : mom_tree_17
Tik Tok : Mommytree17
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mommy tree, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Setelah menemani putra mereka bermain. Tom pun mengantar Tiara dan Gio pulang ke kediaman mereka, lalu kembali melajukan kendaraan pribadinya menuju sebuah apartemen mewah yang berada di kawasan tidak jauh dari kantornya berada.
Tujuannya mendatangi apartemen yang tidak lain dan tidak bukan milik kekasihnya itu, adalah untuk menyelesaikan hubungan mereka yang belum sempat ia putuskan.
"Akhirnya kau datang juga," ucap Julia dengan menahan kekesalannya, setelah mengetahui yang datang adalah kekasihnya.
Ya, Julia harus menahan rasa kesalnya karena sudah diabaikan dan ditinggalkan begitu saja oleh Tom saat di kantor tadi. Padahal ia sudah datang jauh-jauh dengan meluangkan waktunya hanya untuk mengunjungi sang kekasih. Julia bahkan harus menahan kemarahannya, saat mengetahui kalau kekasihnya itu telah menikah kembali dengan mantan istrinya.
"Masuklah!" ucap Julia kembali sembari berjalan masuk ke dalam ruangan.
Tom pun mengikuti langkah Julia setelah menghela napasnya dengan berat. Karena ia tahu apa yang akan dibicarakan nanti akan menyita waktu dan emosinya, mengingat bagaimana sifat Julia yang keras kepala.
"Kau ingin minum apa?" Julia kembali bersuara karena Tom diam saja.
"Tidak perlu, aku datang kemari hanya untuk menyelesaikan urusan kita yang sempat tertunda tadi," sahut Tom dengan menatap intens wanita cantik di hadapannya.
Ya, Tom akui Julia sangat cantik. Bahkan karena kecantikan wanita itu, ia berhasil mengalihkan perasaannya dari Venus. Namun sayang, wanita cantik itu telah melukai hatinya dengan berkhianat hingga membuat rasa cinta itu hilang begitu saja.
"Menyelesaikan urusan kita?" Julia yang sejak tadi menahan rasa kesalnya, menatap Tom dengan bingung. "Apa maksudmu, sayang?"
"Maksudku, aku ingin hubungan kita selesai sampai di sini," jelas Tom to the poin.
"Apa?" pekik Julia dengan terkejut dan tak percaya.
"Kau dan aku selesai!" jelas Tom kembali.
"Tidak, aku tidak mau," tolak Julia tak terima. "Kau tidak bisa memutuskan hubungan kita begitu saja!"
Tom pun menghela napasnya dengan berat, karena sudah menebak Julia tidak akan mudah menerima keputusannya.
"Dengar Julia, sejak awal kau tahu betul hubungan kita seperti apa dan bagaimana. Kita kembali bersama hanya sebatas saling memuaskan di atas ranjang. Tapi sekarang aku sudah menikah, jadi —"
Plak.
Sebuah tamparan keras tepat mengenai pipi Tom, hingga membuat pria itu terdiam. Meskipun sudah menebak akan mendapatkan kemarahan dari kekasihnya itu, tapi Tom tak menyangka Julia berani menamparnya.
"Dasar brengsek!" umpat Julia dengan meluapkan semua kemarahannya.
Tadinya Julia pikir dengan bersikap baik, maka Tom akan meminta maaf atas apa yang dilakukan pria itu yang sudah mengabaikannya, dan menikah tanpa memberitahunya sama sekali. Tapi ternyata pria itu datang hanya untuk memutuskan hubungan mereka.
"Dua tahun lebih, Tom. Dua tahun lebih kita menjalin hubungan, dan sekarang kau memutuskan aku hanya karena pernikahan sialanmu itu," sentaknya tak terima dengan berlinangan air mata.
Ya, siapa pun wanitanya pasti tidak akan terima dan sakit hati jika berada di posisinya. Dibuang begitu saja setelah mendapatkan wanita baru.
"Walaupun hubungan kita diawali dengan saling memuaskan, apa tidak pernah sedikitpun kau mencintaiku?" lirih Julia masih dengan menangis. "Aku mencintaimu Tom, sampai rela menjadi penghangat ranjang untukmu dengan harapan kau akan kembali mencintaiku."
"Julia.." lirih Tom dengan perasaan bersalahnya. "Bukankah sejak awal sudah aku peringatkan untuk tidak berharap dengan hubungan ini!"
Julia menganggukkan kepalanya. "Tapi aku sangat mencintaimu, Tom. Aku mohon jangan tinggalkan aku."
"Maaf Julia, tapi aku sudah menikah. Jadi hubungan ini tidak bisa diteruskan lagi," tolak Tom dengan tegas.
Karena ia tidak mau mengkhianati Tiara untuk kedua kalinya, dan membuat wanitanya bersedih lagi. Apalagi kini ada Gio diantara mereka, yang membutuhkan kasih sayang dan dukungan dari ke-dua orang tuanya agar penyakit yang diderita sang anak bisa cepat sembuh.
"Menikah, menikah..." sentak Julia dengan emosi. "Kau menikah kembali dengan mantan istrimu bukan? Kenapa, Tom? Bukankah dulu kau tidak mencintainya?"
"Itu dulu, tapi sekarang aku mencintainya."
"Benarkah?" tanya Julia dengan tertawa geli setelah mengusap air matanya. "Kau pikir aku percaya? Ayolah Tom, aku tahu betul bagaimana dirimu luar dan dalam," ucapnya sembari memeluk sang kekasih. "Kau menikahinya hanya karena rasa tanggung jawab, sama seperti dulu."
Julia ingat betul saat di kantor tadi, Tom mengatakan anak laki-laki yang datang bersama Tiara adalah anak mereka. Jadi kemungkinan besar Tom menikah kembali dengan mantan istrinya karena keberadaan anak itu. Anak yang entah bagaimana bisa ada di dunia ini, karena seingatnya Tom mengatakan jika anaknya bersama Tiara telah tiada.
"Kau salah," Tom melepaskan pelukan Julia. "Aku menikahinya kembali, karena mencintainya."
Meskipun apa yang dikatakan Julia tadi tidak sepenuhnya salah, karena memang niat awalnya menikah kembali dengan Tiara karena ingin menebus semua kesalahan yang pernah diperbuatnya dulu, dan yang paling utama untuk menyembuhkan penyakit Gio. Tapi seiring berjalannya waktu rasa itu benar-benar ada. Tom mencintai Tiara, mencintai mantan istrinya.
"Jadi mulai sekarang lupakan hubungan kita."
"Tidak Tom, kau pasti berbohong."
"Terserah kau mau percaya atau tidak, tapi yang jelas hubungan kita berakhir!" ucap Tom dengan tegas sembari beranjak dari ruangan tersebut.
Julia yang tidak terima dan masih tak percaya ditinggalkan begitu saja hanya karena kehadiran seorang mantan istri, langsung mengambil pisau buah dari atas meja.
"Berhenti Tom!" teriak Julia. "Berani kau keluar dari apartemen ini, maka aku tidak akan segan-segan untuk bunuh diri," ancamnya dengan menghunuskan mata pisau pada pergelangan tangannya
Tom tidak peduli, dia terus berjalan tanpa menghiraukan ancaman Julia. Namun langkahnya terhenti saat telinganya mendengar suara rintihan kesakitan, terlebih saat melihat pergelangan tangan Julia yang berdarah.
"Julia..." Tom yang panik langsung mendekat. "Apa yang kau lakukan?"
"Jangan tinggalkan aku, Tom. Aku mohon." pinta Julia dengan menangis tanpa menghiraukan rasa sakit pada pergelangan tangannya.
Wanita itu bahkan tak peduli dengan banyaknya darah yang keluar dari luka sayatan yang dibuatnya. Karena yang ada dipikiran Julia hanyalah menghentikan kepergian Tom.
*
*
Sementara itu di tempat yang berbeda, lebih tepatnya di kediaman milik keluarga Tom. Tiara tampak gelisah menunggu kedatangan suaminya yang sampai tengah malam belum juga kembali.
Padahal tadi suaminya itu mengatakan akan pergi sebentar, dan langsung kembali jika urusannya telah selesai. Tapi sampai jam dua belas malam, Tom belum juga kembali. Bahkan ponselnya pun tidak aktif hingga membuat Tiara semakin khawatir.
"Kemana dia?" gumam Tiara dengan cemas.
Kalau saja suaminya itu tadi mengatakan akan pergi kemana, maka Tiara tidak akan khawatir seperti ini. Sayangnya tadi Tom tidak menjelaskan akan pergi kemana, bahkan asisten pribadi suaminya pun tidak tahu dimana keberadaan Tom. Karena sejak pergi bersamanya, Tom tidak kembali ke kantor.
"Tunggu dulu, apa jangan-jangan dia sedang bersama Julia?"
Menyadari jika kemungkinan besar Tom tengah bersama Julia, dengan kesal Tiara pun memilih untuk tidur tanpa menunggu suaminya pulang lebih dulu.