Tidak update harian!!
Zalina Asyara, seorang gadis muda yang harus menelan pahit kehidupan setelah ayahnya jatuh bangkrut dan terlihat hutang pada seorang rentenir. Ibunya memilih lari, meninggalkan ayahnya yang sudah jatuh bangkrut itu juga dirinya.
Zalina terpaksa bekerja sebagai pelayan restoran, untuk membantu ayahnya membayar hutang.
Namun, suatu hari, sepasang suami-istri kaya membawa sebuah lamaran pernikahan untuk Zalina.
mereka adalah kenalan lama ayahnya. Dulu, ayahnya pernah membantunya di saat mereka sedang kesulitan. Kini, saatnya mereka datang untuk membalas Budi.
Apakah Zalina akan menyetujui lamaran mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Ratnasari Husein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awal mula kehidupan yang baru.
Reyhan, Zafran dan Belinda tampak berbicara pada kedua mempelai sebelum mereka pulang ke rumah masing-masing.
Reyhan menggenggam erat tangan putrinya dengan tatapan mata yang berkaca-kaca. Walau Zalina tidak mengundang ibunya, namun kehadiran ayahnya sudah cukup untuk membuatnya merasa bahagia.
Mata lelah tuanya, seketika mengarah pada Kaiden yang berdiri di samping Zalina.
"Nak. Ayah titip Zalina. Tolong... jaga dan sayangi dia seperti Ayah menjaganya selama ini." kata-kata itu terdengar begitu memilukan hati.
Ungkapan tulus dari seorang ayah yang harus merelakan putrinya hidup bersama seorang pria hingga akhir hidupnya nanti.
"Kalau... suatu hari nanti kau tidak lagi menginginkannya, jangan beritahu padanya, tapi beri tahu pada Ayah. Ayah akan membawanya kembali..." lanjutnya dengan suara yang bergetar, disusul dengan air mata yang akhirnya jatuh.
Melihat Ayahnya menangis, membuat Zalina ikut meneteskan air matanya. Ia kini harus berpisah dengan pria yang selama dua puluh dua tahun hidupnya, menjadi satu-satunya pria yang mencintainya sepenuh hati.
"Aku akan menjaganya dengan baik, Ayah. Anda tidak perlu khawatir." sahut Kaiden dengan wajah yang datar, namun sorot matanya tampak tegas.
Tatapan Reyhan lalu beralih menatap putrinya yang terlihat begitu rapuh.
"Nak. Saat ijab kabul selesai di ikrarkan dan para saksi berkata 'sah', saat itulah tanggung jawab Ayah berpindah ke tangan suamimu. Sayangilah dia sebagaimana kau menyayangi Ayah." ucapnya dengan lirih. "Dan hormatilah dia... seperti kau menghormati Ayah."
Walau hatinya masih ragu, namun Zalina tetap mengangguk untuk menenangkan hati ayahnya.
Dengan linangan air mata yang tak henti mengalir, Zalina memeluk ayahnya dengan erat. "Jaga... diri Ayah baik-baik, ya. Aku akan sering-sering berkunjung untuk melihat Ayah." ucapnya, di tengah Isak tangis yang terdengar.
"Sudah. Kenapa kalian malam menangis histeris seperti itu? Kalian masih bisa bertemu setiap hari." ucap Zafran, berusaha untuk menenangkan ayah dan anak yang tak berhenti menangis itu.
"Ya. kalian masih bisa bertemu, tidak perlu menangis dan mengucapkan salam perpisahan." timpal Belinda lembut.
Wanita paruh baya itu lalu menggenggam tangan Zalina yang kini terasa dingin. Bahunya tampak gemetar karena isak tangis yang meluap.
"Sayang. Mama titip Kai, Ya. Mama akan selalu berdoa untuk kebahagiaan kalian berdua." ucapnya pelan, lalu memeluk Zalina, ikut melupakan kesedihan yang sedari tadi menghimpit dadanya.
Setelah selesai, para orang tua tampak meninggalkan tempat acara. Begitu pun dengan kedua mempelai. Dengan pakaian pengantin yang masih melekat di tubuh mereka, Kaiden dan Zalina pergi dari tempat tersebut dan melajukan mobilnya menuju apartemen Kaiden.
Jarak dari lokasi acara menuju apartemen memang cukup jauh, sekitar dua jam perjalanan.
Mobil melaju membelah jalanan malam yang mulai terlihat lenggang. Lampu-lampu kota memantul di kaca jendela, menciptakan bayangan samar di wajah Zalina yang sejak tadi menatap ke luar jendela.
Suasana di dalam mobil terasa hening dan canggung. Tidak ada satu pun dari mereka yang bicara, hanya deru mesin dan sesekali deru kendaraan yang melintas.
Kaiden melirik sekilas ke arah wanita di sampingnya. Gaun pernikahan yang dikenakan Zalina masih tampak rapi, meski wajahnya terlihat lelah. Entah karena acara yang melelahkan... atau karena pernikahan itu sendiri.
"Kalau lelah, tidur saja." ucap Kaiden datar, memecah keheningan.
Zalina tidak langsung menjawab, ia tampak menghela napas panjang. "Aku tidak mengantuk. Aku hanya..." Zalina tampak ragu untuk melanjutkan perkataannya. "Lapar."
Kaiden tampak mengernyit, menatap wanita itu. Ia tidak menduga bahwa ia akan mengatakan hal itu padanya.
"Kita makan di apartemen saja, nanti." jawabnya singkat, lalu kembali fokus menyetir.
Dengan tatapan mata yang masih mengarah ke luar jendela, Zalina tampak menggenggam jemarinya sendiri di atas pangkuannya. Pernikahan ini... bukan sesuatu yang ia inginkan. Tapi keadaan, membuatnya terpaksa menjalaninya.
"Kaiden..." panggilnya pelan.
"Hmm?"
"Setelah ini... kita akan seperti apa?"
Pertanyaan itu membuat Kaiden sedikit mengernyit. Ia tidak langsung menjawab, tatapannya kembali fokus ke jalan, seolah sedang menimbang sesuatu.
"Kita menjalani apa yang sudah kita sepakati sebelumnya." jawabnya datar, akhirnya. "Tidak ada kontak fisik, cinta dan menjaga privasi masing-masing."
Zalina menoleh, menatap pria itu dengan penuh tanda tanya. "Baiklah." jawabnya lesu.
Kaiden menoleh sejenak, lalu menyunggingkan senyum tipis yang hambar ke arah gadis itu. "Kenapa? Kau kecewa?" ucapnya dingin, seolah menyindirnya.
Hati Zalina seolah di remas. Ia membalas tatapan dingin itu, lalu mendengus kasar. "Kecewa katamu?" ia menarik sebelah sudut bibirnya. "Jangan mimpi. Aku malah senang dan merasa lega, mendengar hal itu darimu."
Zalina kembali menatap ke luar jendela, menahan amarah yang mulai menyeruak.
Perjalan kembali hening.
*
*
Dua jam kemudian, mobil akhirnya memasuki area apartemen milik Kaiden. Gedung tinggi itu menjulang dengan lampu-lampu yang masih menyala terang.
Mobil berhenti di basement. Kaiden lalu turun lebih dulu, lalu berjalan memutar untuk membukakan pintu untuk Zalina.
"Turun." katanya singkat.
Zalina menurut, meski ia masih terlihat cemberut. Ia menatap sekeliling, masih merasa asing.
Sementara Kaiden membuka bagasi, untuk mengambil koper milik Zalina.
"Apa hanya ini saja barang kau bawa?" tanyanya heran, ketika melihat hanya ada satu koper di sana.
Ia mengeluarkan koper itu, dan mendorongnya keluar.
"Ya. Aku tidak punya banyak pakaian. Jadi, hanya itu... yang ku bawa." Zalina tampak menjelaskannya dengan canggung.
Melihat Kaiden membawa kopernya, membuat Zalina merasa tidak enak dan ingin mengambilnya. Namun, Kaiden dengan cepat mencegahnya.
"Cepatl jalan!" perintah pria itu dingin, setelah pintu lift terbuka.
Zalina lalu mengangkat gaunnya sedikit, dan masuk ke dalamnya. Setelah itu Kaiden menyusul di belakangnya. Mereka berdiri berdampingan, namun terasa seperti dua orang asing.
Pintu lift terbuka di lantai panthouse. Kaiden melangkah lebih dulu, membuka pintu apartemen dengan kode akses dan sidik jari.
"Nanti, aku akan meminta teknisi untuk memasukkan sidik jarimu juga."
Zalina yang baru saja keluar dari lift menatap punggung pria itu. Alisnya sedikit terangkat.
"Sidik jariku?"
Kaiden mengangguk santai. Ia mendorong pintu hingga terbuka lebar, kemudian menoleh kepadanya.
"Mulai sekarang, kau tinggal di sini. Jadi, kau harus bisa masuk tanpa menungguku."
Zalina terdiam, lalu mengangguk mengiyakan.
Zalina lalu masuk ke dalam, menyusul langkah pria itu.
Begitu memasuki apartemen, pandangannya langsung tertuju pada ruangan yang luas dengan interior modern dan elegan. Dominasi warna hitam, abu-abu dan putih, membuat tempat itu terlihat mewah, tetapi juga terasa dingin.
Tidak ada foto keluarga, tidak ada pajangan berlebih. Bahkan tidak ada benda yang menunjukkan bahwa seseorang benar-benar tinggal di sana.
Zalina meletakkan tas kecilnya di atas sofa, lalu menatap ke sekeliling.
"Kenapa apartemenmu terasa seperti hotel?"
Kaiden yang sedang melepaskan jasnya menoleh.
"Karena aku jarang berada di sini?"
"Lalu... biasanya kau sering berada di mana?"
"Perusahaan, kadang hotel kalau sedang perjalanan bisnis."
Zalina mengangguk pelan, tidak lagi bertanya.
"Kau bebas melakukan apa pun di sini. Setiap tiga hari sekali, akan ada pembantu yang datang untuk membersihkan apartemen dan mengambil pakaian kotor." lanjutnya, sembari mengambil ponsel dan menekan nomor seseorang untuk melakukan panggilan.
"Kalau kau lapar, kau bisa memesan makanan dari luar atau memasak. Terserah." ucap pria itu, lalu tampak berbicara dengan seseorang di seberang.
Zalina masih tampak memperhatikan ruangan itu, bahkan tidak sadar kalau Kaiden sudah selesai melakukan pembicaraan melalui ponselnya.
"Kamarmu di sebelah kanan." ucap pria itu, mengejutkan Zalina.
"Kamarku?"
"Ya." ia menunduk sebuah ruangan di ujung koridor. "Kau bisa mandi dan mengganti pakaian. Mama sudah menyiapkan beberapa pakaian di dalam kamar."
Zalina mengernyit. "Pakaian?"
"Iya. Kau bisa menggunakan pakaian itu.Setelah itu, kita makan malam bersama."
"Baiklah."
Zalina lalu masuk ke dalam kamar yang ditunjukkan oleh Kaiden padanya.
Sementara Kaiden masuk ke dalam kamarnya sendiri.
Ini bukanlah akhir dari kisah mereka, melainkan sebuah awal baru yang akan membawa mereka ke akhir cerita yang mereka inginkan.
🥀🥀🥀
ini ya si pria yang merangkul kaiden kemarin ☺ centil juga orangnya...