NovelToon NovelToon
Takdir Didunia Sihir

Takdir Didunia Sihir

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Fantasi
Popularitas:76
Nilai: 5
Nama Author: (Rahu)l

Haruto Kazehara hanyalah remaja biasa yang tak pernah bermimpi menjadi seseorang yang istimewa—sampai takdir mengubah segalanya secara tiba-tiba lewat sebuah kecelakaan. Saat ia membuka mata kembali, ia mendapati dirinya terbangun di dunia yang tak pernah ia bayangkan: sebuah negeri yang dipenuhi cahaya sihir, hutan berbahaya, monster purba, naga yang menguasai langit, dan kerajaan kuno yang menyimpan ribuan rahasia.

Penuh harap ia menyambut kekuatan baru sebagai pahlawan yang legendaris. Namun kenyataan berbalik mengecewakan: sihir yang ia miliki justru berjenis aneh, tak terduga, dan seringkali gagal total di saat-saat paling krusial. Alih-alih tampil gagah dan memukau, Haruto malah kerap menjadi bahan tertawaan teman-temannya—belum lagi tingkah laku slime rakus bernama Pochi yang selalu mengikutinya ke mana saja dan tak segan membuat kekacauan di mana pun mereka berada.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon (Rahu)l, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27 – PERTEMUAN DENGAN SANG MASTER

Matahari perlahan turun ke perbatasan langit, mewarnai awan dengan rona jingga dan ungu yang lembut. Angin sore menyapu permukaan danau, menciptakan riak-riak kecil yang berkilau seolah menyambut kedatangan malam. Haruto berdiri di tepi air, jari-jarinya menyentuh kalung berbentuk tetesan air yang kini tergantung di lehernya. Setiap kali ia menyentuhnya, ia merasakan aliran hangat yang menenangkan setiap kegelisahan di hatinya.

Pochi memantul ke pundaknya, menyentuh liontin kalung itu dengan tubuh kenyalnya.

“Pyoo…”

“Terima kasih, Pochi.” Haruto tersenyum kecil, mengusap kepala temannya itu. “Kau juga ikut, ya?”

“Pyoo!”

Tak lama kemudian, Mizuna keluar dari rumah mengenakan jubah biru tua yang jarang ia pakai. Di tangannya tergenggam tongkat kristal yang kini memancarkan cahaya lebih terang dari biasanya. Daichi sudah berdiri di depan pintu, pedang panjangnya tergantung rapi di pinggang, tatapannya siap menjaga setiap jengkal jalan yang mereka lalui.

“Waktunya,” ucap Mizuna pelan. “Jalan menuju tempat persembunyian Master tidak jauh dari sini, tapi dilindungi oleh sihir penghalang. Hanya mereka yang diizinkan olehnya yang bisa melewatinya.”

“Apakah dia… orang yang menakutkan?” tanya Haruto ragu.

Mizuna tersenyum tipis. “Dia orang yang paling bijaksana yang pernah aku kenal. Tapi dia tidak akan memanjakanmu. Bersiaplah untuk pertanyaan yang mungkin tidak siap kau jawab.”

Mereka berjalan menyusuri jalan setapak yang menembus hutan lebat di sisi lembah. Semakin jauh mereka melangkah, semakin sunyi suasana di sekitarnya—seolah segala makhluk hidup memberi jalan bagi kedatangan mereka. Aroma tanah basah dan bunga sihir yang hanya mekar saat senja menguar lembut di udara.

Belum sempat mereka berjalan jauh, suara derap langkah tiba-tiba terdengar dari arah belakang. Mizuna langsung mengangkat tangan, aliran air dari sungai kecil di samping jalan seketika membentuk dinding pelindung di depan mereka. Daichi sudah menghunus pedangnya, siap menghadapi siapa pun yang datang.

Namun sosok yang muncul bukanlah pasukan Orde Air Kuno.

Seorang wanita muda dengan jubah biru berhias sulaman benang perak berhenti di hadapan mereka, napasnya sedikit terengah seolah baru saja berlari jauh.

“Mizuna!” serunya. “Kau benar-benar akan membawanya menemui Master saat ini juga?”

Mizuna menurunkan dinding air perlahan. “Apa kabar, Rin. Kenapa kau datang ke sini?”

“Berita buruk.” Rin menatap tajam ke arah Haruto. “Mata-mata Orde Air Kuno sudah terlihat di gerbang timur lembah. Mereka bergerak lebih cepat dari perkiraan kita. Kael sendiri yang memimpin pasukan kali ini.”

Wajah Mizuna berubah serius. “Jadi mereka benar-benar tidak membuang waktu.”

“Kita harus mempercepat langkah,” timpal Daichi. “Jika mereka sampai duluan, semuanya akan berakhir sebelum dimulai.”

Mereka kembali melangkah dengan langkah yang lebih cepat. Hati Haruto berdegup kencang—bukan lagi karena ketakutan semata, melainkan karena tekad yang semakin menguat. Ia tidak boleh membiarkan usaha Mizuna, Daichi, dan semua orang yang peduli padanya sia-sia.

Tak lama kemudian, sebuah gua tersembunyi di balik tirai air terjun kecil tampak di hadapan mereka. Mizuna melangkah ke depan, menyentuh permukaan air terjun dengan tongkat kristalnya. Aliran air itu terbelah seperti terbelah oleh tangan tak kasat mata, memperlihatkan lorong batu yang bercahaya lembut dari dalam.

“Masuklah,” ucap Mizuna. “Hanya Haruto yang boleh melangkah masuk sendirian.”

Haruto menatap Mizuna, lalu Daichi.

“Kami akan menjaga di luar,” kata Daichi sambil tersenyum tegar. “Pergilah. Tunjukkan pada orang tua itu apa yang kau miliki.”

Mizuna mengangguk pelan. “Jujurlah pada hatimu. Itulah satu-satunya syarat yang dia minta.”

Haruto menarik napas panjang, mengusap kepala Pochi yang masih setia di pundaknya, lalu melangkah masuk ke dalam lorong batu. Di belakangnya, tirai air kembali menutup rapat.

Di ujung lorong, sebuah ruangan luas terbentang. Dindingnya terbuat dari batu kristal yang memancarkan cahaya biru lembut, dan di tengah ruangan terdapat sebuah kolam air jernih yang permukaannya tenang bagaikan cermin. Di tepi kolam itu duduk seorang lelaki tua berjubah putih bersih, rambut dan janggutnya seputih kapas, namun matanya menyimpan kilauan kebijaksanaan yang tak terukur.

Ia tidak menoleh saat Haruto datang.

“Maju ke depan, anak muda,” ucapnya dengan suara yang terdengar seperti aliran air yang tenang namun berwibawa. “Biarkan aku melihat apa yang tersembunyi di dalam dirimu.”

Haruto berjalan perlahan mendekat. Saat ia berdiri tepat di hadapan lelaki tua itu, pria itu akhirnya menatapnya—dan seketika itu juga, Haruto merasa seolah seluruh isi hatinya terbaca tanpa ada yang tersembunyi.

“Namaku Ryuusen,” ucap lelaki tua itu pelan. “Dan kau adalah anak yang telah dipanggil oleh aliran air itu sendiri. Sekarang… katakan padaku, Haruto. Untuk apa kau memegang kekuatan ini?”

 

Kata-kata itu menggema pelan di seluruh ruangan batu. Haruto terdiam, bibirnya terbuka namun tak ada suara yang keluar. Ia menatap permukaan kolam yang tenang, lalu kembali menatap sosok Ryuusen yang menunggunya dengan sabar, tanpa sedikit pun terlihat terburu-buru.

Hatinya bergemuruh. Untuk apa?

Ia bahkan belum sempat memahami dunia ini sepenuhnya. Ia hanya seorang pelajar yang dulu lebih sering tertidur di kelas, yang tiba-tiba terbangun di tempat asing, dihadapkan pada monster, sihir, dan kini organisasi kuno yang mengincar nyawanya. Kekuatan ini datang begitu saja, tanpa peringatan, tanpa persiapan. Bagaimana ia bisa tahu tujuan yang sejatinya?

Ryuusen tak menyela. Ia hanya membiarkan keheningan itu berlalu, seolah tahu bahwa jawaban yang sebenarnya tak akan lahir dari kata-kata yang dirangkai indah.

Haruto meremas ujung bajunya, suaranya terdengar sedikit bergetar namun jujur sepenuhnya.

“Aku… aku sebenarnya tidak tahu, Tuan.”

Ia mengangkat wajah, menatap mata lelaki tua itu lurus-lurus.

“Aku baru saja datang ke dunia ini beberapa bulan yang lalu. Dulu aku orang biasa yang bahkan tidak tahu apa itu sihir. Tiba-tiba aku terbangun di sini, lalu ternyata aku bisa mengendalikan air. Aku belajar demi bisa bertahan hidup, demi tidak mengecewakan Mizuna dan Daichi… dan demi melindungi Pochi yang selalu bersamaku.”

Pochi di pundaknya mengeluarkan suara pelan seolah menyetujui.

“Orde Air Kuno bilang aku harus menjadi senjata mereka. Mizuna bilang aku punya potensi besar. Tapi… sejujurnya?” Haruto menghela napas panjang, melepaskan semua keraguan yang selama ini ia simpan. “Aku cuma ingin berjalan di jalan yang benar. Aku tidak ingin menyakiti orang yang tak bersalah. Aku ingin melindungi mereka yang baik padaku. Kalau kekuatan ini bisa membantu melakukan itu… maka itulah yang akan kulakukan. Sejauh ini, hanya itu yang aku tahu.”

Keheningan kembali menyelimuti ruangan untuk waktu yang lama. Haruto merasa jantungnya berdegup kencang, takut jawabannya dianggap terlalu sederhana, takut ia mengecewakan orang yang paling ditunggu Mizuna ini.

Namun perlahan, senyum tipis terukir di wajah Ryuusen. Senyum yang bukan berarti meremehkan, melainkan penuh penghargaan yang mendalam.

“Jawaban yang paling jujur adalah jawaban yang paling benar, anak muda.”

Ryuusen menepuk pelan tepian kolam di sebelahnya.

“Banyak penyihir yang datang kepadaku dengan beribu janji muluk—untuk menyelamatkan dunia, untuk menjadi penguasa, untuk membalas dendam. Tapi tak satu pun dari mereka yang memulai dengan kejujuran seperti dirimu. Kamu belum tahu seberapa besar kekuatan yang kau genggam, dan itu justru kelebihanmu.”

Ia menatap kalung yang melingkar di leher Haruto.

“Kalung itu dulu kupersembahkan bagi mereka yang mengerti bahwa kekuatan bukanlah hak milik mutlak, melainkan titipan yang harus dijaga. Mizuna memilihmu bukan karena sihirmu yang kuat, tapi karena hatimu yang masih bersih seperti air yang belum tercampur lumpur.”

Tiba-tiba, getaran hebat mengguncang dinding gua. Suara benturan keras terdengar dari luar, disusul teriakan peringatan Mizuna.

“Mereka sudah sampai!”

Wajah Ryuusen berubah tegas seketika.

“Waktunya tidak banyak. Haruto, majulah ke kolam ini. Jika kau benar-benar ingin melindungi apa yang kau sayangi… biarkan air ini mengajarkanmu apa artinya menjadi satu dengan elemen itu sendiri.”

Haruto menatap kolam yang kini mulai beriak hebat, lalu menatap Ryuusen. Keraguannya perlahan sirna. Ia mengangguk mantap.

“Baiklah, Tuan Ryuusen. Aku siap.”

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!