NovelToon NovelToon
Panggil Aku , Ibu !!!

Panggil Aku , Ibu !!!

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Ibu Tiri
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Re _ ara

Samantha Alexander menikah dengan pria berhati dingin bernama Samuel Nugroho CEO yang terkenal arogan dia duda dan mempunyai anak laki - laki berusia 13 tahun saat ini dia sekolah kelas 2 SMP . semenjak ibunya meninggal dia menjadi anak yang nakal. sehingga sering mendapat hukuman dari ayahnya yaitu Samuel membuat Dia sangat ketakutan dan melihat pesan melampiaskan dengan sifat nakal. sampai datang seorang perempuan bernama Samantha yang menikah dengan Samuel . Samuel menikah dengan Samantha karena semenjak sekolah dulu dia sudah menyukai Samantha diam-diam tapi karena dijodohkan samuel dengan almarhum mantan istrinya bernama Ruri .Di balik keputusan pernikahan ini, tersimpan rahasia lama Samuel ternyata telah menyukai Samantha secara diam-diam sejak masa sekolah dulu , namun saat itu ia terpaksa menikah dengan Ruri karena perjodohan. Kini, dengan kehadiran Samantha dalam keluarga itu, harapan baru pun muncul akankah ia mampu menyembuhkan luka batin anak tirinya ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Mobil melaju perlahan lalu berhenti tepat di halaman depan sebuah bangunan yang tampak sederhana namun terawat sangat rapi, bersih, dan memiliki desain yang hangat. Dindingnya berwarna krem dengan aksen cokelat kayu, halamannya luas dan ditanami rumput hijau yang segar.

Bu Lastri dan Suci terpaku di tempat saat turun dari mobil. Mata mereka terbelalak lebar, mulut sedikit terbuka tak percaya. Bagi mereka yang selama ini tinggal di gubuk tua yang hampir roboh, rumah ini terasa begitu megah dan sempurna, jauh melampaui apa yang pernah mereka bayangkan.

Samantha tersenyum melihat reaksi mereka, lalu menepuk pelan bahu Bu Lastri. "Bu... Bu Lastri? Suci?" panggilnya lembut. Tidak ada jawaban, mereka masih terpana menatap bangunan di hadapannya.

"Bu, Suci..." panggil Samantha untuk kedua kalinya, namun mereka masih diam mematung.

Baru saat Samantha memanggil untuk ketiga kalinya dengan suara yang sedikit lebih lantang, "Hei, ayo bangun... kita sudah sampai," Bu Lastri dan Suci tersentak kaget dan perlahan menoleh ke arah Samantha.

Suci menggeleng pelan, matanya masih tak lepas dari rumah itu. "Sam... ini... ini benar-benar rumah untuk kami? Kamu tidak salah alamat kan? Bagaimana mungkin kamu memberikan rumah sebagus ini untuk kami? Rasanya tidak pantas bagi kami yang dulu hidup sangat menderita untuk tinggal di tempat seindah ini," ucap Suci dengan suara bergetar, masih sulit mempercayainya.

Samantha menggenggam tangan mereka berdua erat, lalu mengangguk dengan keyakinan penuh. "Tidak ada kesalahan sedikit pun, Suci. Ini memang rumah yang sudah disiapkan khusus untuk kalian. Anggap saja ini rezeki yang Tuhan titipkan lewat tangan saya untuk Bu Lastri dan kamu. Kalian berhak mendapatkan tempat tinggal yang layak, tenang, dan penuh kebahagiaan. Bagi saya, melihat kalian aman dan bahagia adalah hal yang paling berharga."

Setelah meyakinkan mereka, Samantha pun mengajak melangkah masuk. Begitu pintu utama terbuka, Bu Lastri dan Suci kembali terpukau. Ruangan itu luas, terang, dan berbau wangi cat baru.

"Ayo kita lihat bagian dalamnya," ajak Samantha sambil berjalan memandu. "Di sini ada ruang tamu yang nyaman untuk menerima tamu, di sebelahnya ruang keluarga yang hangat untuk berkumpul. Dapur di belakang sudah lengkap dengan perabotan yang baru, dan ada ruang khusus untuk mencuci serta menjemur pakaian."

Samantha kemudian menunjuk ke arah lorong. "Di dalam ada tiga kamar tidur. Masing-masing kamarnya sudah dilengkapi dengan kamar mandi pribadi, jadi kalian tidak perlu berdesak-desakan lagi. Di halaman belakang ada taman kecil yang asri, bisa kalian jadikan tempat berkebun atau sekadar menikmati udara segar. Dan di depan ini sudah ada garasi yang cukup untuk satu mobil."

Melihat semua fasilitas yang begitu lengkap dan nyaman, air mata Bu Lastri akhirnya menetes deras. Ia bersalaman dengan Samantha dengan penuh haru, lalu mendongak ke langit sambil berdoa lirih.

"Ya Allah... terima kasih atas segala kebaikan-Mu yang Engkau kirimkan lewat anak baik ini," ucap Bu Lastri dengan suara parau. "Terima kasih, Nak Samantha... terima kasih sudah mengubah nasib kami yang dulu kelam menjadi terang seperti ini. Kami tidak tahu harus membalas dengan apa."

Suci pun memeluk Samantha erat, menangis bahagia. "Terima kasih, Sam... ini adalah hari paling indah dalam hidup kami. Rasanya mimpi buruk yang kami alami selama ini benar-benar sudah berakhir."

Samantha tersenyum lega, hatinya ikut bahagia melihat wajah mereka yang kini penuh damai. "Sudah, jangan menangis lagi ya. Mulai hari ini, mari kita bangun masa depan yang cerah di rumah baru ini."

 Setelah puas berkeliling dan melihat setiap sudut rumah baru yang begitu indah dan nyaman itu, mereka bertiga berhenti sejenak di ruang tengah. Hati mereka terasa penuh dengan rasa syukur yang tak terhingga.

Suci pun bergegas kembali ke mobil, mengambil dua tas berisi barang-barang bawaan mereka yang tadi dibawa dari hotel milik Samantha. Dengan senyum lebar, ia memeluk tas itu erat sebagai tanda bahwa mulai hari ini, mereka benar-benar telah menetap di rumah baru ini, meninggalkan segala ketakutan dan penderitaan di masa lalu.

Samantha kemudian mengantar Bu Lastri menuju kamar tidur utamanya yang terletak di bagian depan rumah, yang memiliki jendela besar menghadap ke halaman hijau.

"Ini kamar Ibu ya, Bu. Tempatnya tenang dan udaranya sejuk. Silakan beristirahat dulu sepuasnya, Ibu pasti lelah setelah keliling rumah baru hari ini," ucap Samantha lembut sambil membukakan pintu.

Bu Lastri mengelus dinding kamar yang berwarna lembut itu dengan mata berkaca-kaca. "Baik, Nak Samantha. Terima kasih banyak... Ibu belum pernah tidur di kamar yang seindah ini seumur hidup Ibu."

Setelah memastikan Bu Lastri sudah duduk dengan nyaman di atas kasur yang empuk, Samantha pun berjalan bersama Suci menuju kamar tidur di sisi lain rumah. Kamar ini dihiasi dengan warna yang lebih cerah dan memiliki akses langsung ke arah taman belakang.

"Dan ini kamarmu, Suci. Semoga kamu betah di sini, dan bisa beristirahat dengan nyaman." kata Samantha sambil tersenyum.

Suci langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur, melompat pelan dengan wajah yang sangat gembira. "Wah, empuk sekali! Terima kasih, Sam... rasanya seperti berada di surga kecil."

Setelah sebentar duduk bersantai di kamar Suci menikmati suasana yang damai itu, Samantha tiba-tiba teringat sesuatu. Ia menoleh ke arah sahabatnya.

"Ngomong-ngomong, karena ini hari pertama kalian tinggal di sini, pasti dapur belum lengkap peralatannya dan belum ada bahan makanan segar. Bagaimana kalau kita berangkat sekarang ke supermarket? Kita belanja kebutuhan dapur, bumbu, bahan makanan, dan perlengkapan lain yang masih kurang," ajak Samantha dengan antusias.

Suci langsung bangkit berdiri dengan semangat. "Ide yang sangat bagus! Aku ingin sekali memasak makanan enak untuk Ibu dan juga untukmu sebagai tanda terima kasihku."

"Baiklah, ayo kita berangkat sekarang. Nanti kalau sudah lengkap, kamu bisa berkreasi di dapur baru yang luas itu," jawab Samantha sambil tertawa kecil.

Mereka pun berjalan keluar kamar, memastikan pintu kamar Bu Lastri tertutup rapat agar ibunya bisa beristirahat dengan tenang, lalu bergegas menuju mobil untuk pergi berbelanja. Langkah kaki mereka terasa ringan, membawa harapan baru yang cerah di hati masing-masing.

 Mereka pun melajukan mobil menuju supermarket terdekat yang lokasinya hanya sekitar lima menit dari rumah baru itu. Tempatnya cukup besar, bersih, dan lengkap menyediakan segala kebutuhan rumah tangga, sehingga sangat praktis bagi mereka yang baru pertama kali menempati rumah baru.

Sesampainya di sana, mereka mengambil dua keranjang belanja besar dan mulai menyusuri setiap lorong rak. Suci tampak sangat bersemangat, matanya berbinar melihat berbagai jenis bahan makanan yang dulu jarang sekali bisa ia beli.

"Sam, kita beli beras yang bagus ya, dan telur segar juga," kata Suci sambil menunjuk ke arah rak bahan pokok. "Nanti aku ingin memasak sayur bening dan ayam goreng kesukaan Ibu."

"Tentu saja, ambil sebanyak yang kamu butuhkan. Jangan ragu untuk mengambil apa pun yang kamu inginkan," jawab Samantha sambil membantu memasukkan barang ke dalam keranjang.

Mereka tidak hanya membeli bahan makanan segar, bumbu dapur, dan buah-buahan, tapi juga perlengkapan dapur yang belum ada: panci, wajan, piring, gelas, hingga spons cuci piring dan sabun pembersih. Suci berjalan perlahan memilih barang dengan teliti, sesekali tersenyum sendiri menyadari bahwa kini ia bebas memilih apa saja untuk rumahnya sendiri, tanpa rasa takut atau sungkan seperti dulu.

"Rasanya masih seperti mimpi ya, Sam," ucap Suci pelan sambil memegang sebungkus teh kesukaannya. "Dulu aku hanya berani melihat barang-barang ini dari jauh, takut dimarahi kalau meminta dibelikan. Sekarang... semuanya ada di depan mata, dan ini untuk rumah kami sendiri."

Samantha menepuk bahu sahabatnya dengan lembut. "Mimpi ini sudah menjadi kenyataan, Suci. Mulai sekarang, kamu berhak menikmati hal-hal sederhana seperti ini setiap hari."

Setelah keranjang penuh dengan segala kebutuhan, mereka menuju kasir untuk membayar. Suasana hati mereka terasa ringan dan gembira, tak sabar segera kembali ke rumah untuk menata semuanya dan memulai kehidupan baru yang damai.

Bersambung...

1
Anna Setyo
semangat up thor yg banyak👍👍👍💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!