"Sakit, Mas! Apa yang kamu lakukan ke aku itu sangat menyakiti hatiku! Gimana bisa kamu ngelakuin ini ke aku, dan itu adalah adikku sendiri. Lalu kamu, kenapa kamu tega sama kakak mu ini haah!!"
Suara Swastamita bergetar hebat ketika berkata demikia kepada suaminya, Erdio Rasmaluyo.
Betapa tidak bergetar, rasa sakit di hatinya sangat nyata. Suami yang memintanya untuk melepaskan karinya demi menjadi ibu rumah tangga seutuhnya ternyata malah berselingkuh dengan adik tirinya.
Yang lebih mengejutkan adalah, perselingkuhan yang dilakukan Erdio dan Medini itu diketahui oleh sang ibu.
Sakit hati Swastamita ketika mengetahui bahwa di rumah itu hanya dirinya yang tak tahu apa-apa.
Adik tiri yang sangat ia sayangi melebihi dirinya sendiri tega menjadi duri dalam daging pada rumah tangganya. Dan suami yang ia jadikan imam, malah menorehkan luka yang begitu dalam.
Bagaimana Swastamita menghadapi rasa sakit yang dirasakannya tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
"Lah Nduk, ketemu lagi kita?"
"Eh, Bu Asha?"
Mita terkejut ketika melihat wanita paruh baya yang ia temui di masjid agung tadi. Dia jelas tidak menyangka bahwa pasangan suami istri di depannya sekarang sekaligus orang yang ditemui di masjid tadi adalah keluarga Lingga.
Di dalam mobil tadi, Lingga berkata bahwa dia akan makan malam bersama keluarganya. Selama ini jadi karyawan Lingga, Mita tak pernah mengetahui siapa-siapa saja keluarga Lingga karena memang dia tak pernah berusaha mencari tahu. Terlebih kedua orang tua Lingga juga tak pernah mengunjungi perusahaan. Dan katanya lebih suka menghabiskan waktu di kediaman pribadi mereka.
"Lho, Ibu dan Mita udah saling kenal to?"
"Baru tadi siang sih ketemunya. Mita yang minjemin mukena ke Ibu soalnya Ibu lupa bawa dan kebetulan di masjid tadi abis mukenanya. Nggak ndak nyangka ketemu lagi, dan ternyata Mita temen kamu toh?"
Lingga menganggukkan kepala tapi Mita menggelengkan kepalanya cepat. Sungguh Mita tidak merasa bahwa ia dan Lingga adalah teman. Bagaimanapun juga Lingga merupakan atasannya.
"Waahahaha Mbak nya nggak mau ngakuin kalau dia temennya Mas. Mbak, Mas ku ini pasti rese kan? Dan kayaknya Mbaknya terlalu manis buat jadi temen Mas Lingga yang kayam kanebo kering hahahah."
"Sttt Lintang ndak boleh gitu sama Mas mu."
Asha langsung menengahi putri bungsunya yang tengah meledek sang kakak. Anaknya hanya dua, namun saat bersama ramainya melebihi lima anak.
Lingga Putra Darsuki merupakan anak dari Asha Budi Lestari dan Adam Dwi Darsuki. Lingga juga memiliki adik yang usianya 7 tahun lebih muda darinya yakni Lintang Putri Darsuki. Meski usia Lingga sudah 27 tahun dan Lintang 20 tahun, namun mereka masih sering bertingkah seperti anak kecil.
Lintang gemar sekali mengejek sang kakak, pun juga sebaliknya. Namun ketika mereka terbentang jarak, keduanya pun saling rindu.
Mita yang menyaksikan dua saudara itu 'bertengkar' hanya terkekeh kecil. Dia baru tahu kalau atasan yang terkenal kaku dan dingin ketika memimpin perusahaan, bisa terlihat berbeda dan begitu hangat saat bersama keluarganya.
"Sudah, ini makanannya ayo segera di makan. Nanti keburu dingin. Nah Mita silakan, jangan malu-malu," ucap Asha ketika semua pesanannya sudah datang ke meja mereka.
"Iya lho, ayo dimakan. Pilih aja mana yang kamu sukai," imbuh Adam.
"Terimakasih Bapak, Ibu. Saya akan makan dengan baik," jawab Mita dengan senyum tulusnya.
Sejenak Mita bisa melupakan rasa takutnya terhadap Erdio. Dia juga sedikit bernafas lega saat berada di tengah-tengah keluarga ini. Keluarga sang atasan yang sama sekali tak pernah ditemuinya selama ia kerja di PT Argo Darsuki (PT AD).
Siapa sangka bahwa Lingga benar-benar menjadi pribadi yang berbeda saat bersama keluarganya begini. Sungguh pemandangan yang sangat tak terduga.
Percakapan mereka juga begitu lancar di sela-sela menikmati makanan. Mita juga langsung akrab dengan Lintang yang merupakan adik dari Lingga. Gadis berusia 20 tahun terlihat sangat menikmati berbincang dengan Mita.
"Mbak mending tukeran aja deh. Mbak Mita yang jadi kakakku. Lebih asik Mbak Mita ketimbang mas Lingga,"seloroh Lintang yang diikuti gelak tawa Adam dan Asha.
"Jangan seenaknya begitu minta tuker-tuker kakak. Emang mbok pikir aku ini barang po yang bisa dituker kalau nggak pas,"sahut Lingga dengan wajah yang nampak kesal.
Lagi, gara-gara selorohan itu, perdebatan kakak dan adik pun dimulai kembali yang mana membuat Asha hanya bisa membuang nafasnya panjang. Ingin sekali marah namun agaknya rasanya sama sekali tidak pantas memarahi dua anak yang usianya sudah dewasa.
"Maaf ya Mita, mereka bener-bener nggak bisa dibilangin. Ughhh Ibu beneran capek ngadepin dua orang itu,"ucap Asha. ia berkata demikian kepada Mita karena merasa sangat tidak enak.
"Hehehe tidak apa Ibu. Itu wajar kok. Dulu saya pun ... ah tidak. Tidak apa-apa kok, itu sebenarnya bukti mereka saling menyayangi,"ucap Mita.
"Oh iya, tadi Lingga bilang kamu temennya. Tapi kamu koreksi kalau kamu pegawainya. Memangnya kamu ada di posisi apa di perusahaan, kok kayaknya pas aku ke sana nggak lihat kamu?" tanya Adam. Pria paruh baya itu bukan ingin menginterogasi, dia hanya ingin tahu saja apa posisi wanita muda ini di perusahaan yang dipimpin sang putra.
"Saya ... saya sebenarnya~"
"Dia kepala HRD, Yah. Tapi sementara emang lagi cuti karena mau nyelesein masalah. Nah kebetulan Ayah tanya, ada yang mau aku bicarakan ke Ayah dan Ibu,"sahut Lingga cepat.
Mita yang menjawab terbata-bata tentu langsung dipahami oleh Lingga. Saat ini wanita itu memang belum kembali ke perusahaan sehingga ia mungkin bingung harus menjawab posisi apa yang didudukinya.
"Apa itu, Lingga?" tanya Asha penasaran. Belum pernah dia melihat sang putra begitu serius membicarakan sesuatu selain pekerjaan.
"Itu, rumah yang Ayah dan Ibu yang ada di Ungaran kan sekarang aku tempati. Boleh nggak kalau Mita nempatin di sana,"jawab Lingga.
"Hei jangan aneh-aneh yang kamu Lingga Putra Darsuki. Kamu mau ngajak anak perempuan orang buat tinggal berdua? Kamu mau ngapain hah?" pekik Asha.
Stttt
Suara Asha yang begitu keras membuat Adam harus meredamnya dengan sebuah pelukan. Terlebih beberapa orang yang juga makan disana langsung melihat ke arah meja mereka.
"Sayang, jangan teriak,"ucap Adam lirih.
"Anak mu tuh Mas, bisa-bisanya dia ngajak seorang wanita yang bukan istrinya buat tinggal serumah. Kan nggak bener ini,"sahut Asha dengan mata yang melotot tajam ke arah sang putra.
"Ibu, dengerin dulu. Jangan langsung marah gitu,"ucap Lingga.
Mita hanya tertunduk. Dia sama sekali tidak menyangka bahwa Lingga akan meminta hal seperti itu untuknya kepada kedua orang tuanya.
"Terus maksudnya?" tanya Asha.
"Jadi begini. Mita, sebelumnya maafin aku ya Mit ... aku harus ceritain. Semua ini demi keamanan kamu. Mita sekarang ... ."
Sebelum menjelaskan duduk permasalahannya, lebih dulu Lingga meminta izin. Dan diamnya Mita, Lingga anggap sebagai jawaban bahwa dirinya boleh menceritakan tentang apa yang terjadi pada kehidupan pribadi nya.
Awalnya Mita memang malu, namun saat ini dia tak memiliki siapa-siapa. Dan bukan sebuah kesalahan untuk menerima pertolongan dari seseorang. Atau sesungguhnya Mita merasa harus bersyukur, karena Lingga muncul sebagai penolong.
"Ya Allah nduk ... Maaf ya,"ucap Asha setelah mendengar cerita Lingga tentang apa yang terjadi pada Mita.
"Tidak Bu, jangan meminta maaf. Saya tidak apa-apa kok. Ini mungkin proses dari perjalanan hidup saya,"jawab Mta dengan senyum kecutnya.
"Jadi sebenarnya Mita memang akan balik kerja lagi ke perusahaan tapi untuk saat ini dia butuh waktu untuk mengembalikan kondisi psikisnya,"sahut Lingga.
Asha dan Adam terdiam. Mereka berdua saling pandang, seolah memili sebuah ide yang sama.
"Kalau gitu, mending Mita tinggal sama kita aja. Lagian Lintang juga lagi libur semester kan. Jadi Mita ada temennya nanti. Dari pada sama kamu, Ibu sama sekali nggak percaya dengan isi kepala mu itu. Terlebih proses cerai Mita belum selesai, bahkan baru mulai. Jadi biar Mita tinggal sama Ibu, Ayah dan Lintang di rumah."
Eh?
TBC
typo kak
stidak nya kasih epilog lh,spya tau lingga nnggu Mita menerima perasaannya brapa lama,,