Daniel, Minami dan Latifa. Tiga sahabat yang bermimpi membangun sebuah roket bersama. Impian besar ini mereka rancang sedari mereka masih berada di sekolah dasar. mereka berambisius untuk membangun roket bersama.
Namun kondisi Latifa begitu kritis, disaat-saat terakhirnya, Latifa ingin impian mereka tetap berjalan meski tanpa dirinya.
Daniel dan Minami berjanji untuk menuntaskan misi besar yang diberikan Latifa sebelum dirinya tiada.
ini adalah kisah tiga sahabat yang bermimpi membawa umat manusia selangkah lebih maju.
ManuverNine.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awazaki Chiru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Soloist in the Stage V
Setelah berbincang-bincang dengan Minami, Latifa pamit ingin pulang dikarenakan sudah sangat malam.
"Sampai jumpa besok, Minami" Latifa berpamitan dengan Minami.
"Eh... Kenapa gak tidur di sini aja, sih??" Minami membujuk Latifa agar ia bermalam di rumahnya.
"Apasih, Minami. Besok sekolah, Lho. Aku harus bersiap. kamu istirahat yang cukup saja, nanti besok aku sama Daniel akan ke sini" Ucap Latifa yang perlahan melepas tangan Minami.
"Yaudah, deh... Awas aja besok kalian gak ke sini" Minami mengiyakan karena besok Latifa harus bersekolah.
Latifa pulang bersama ayahnya. Karna kecapean, Latifa tertidur di dalam mobil. Ayah yang melihat Latifa dari belakang mulai tersenyum kecil.
"Kalau saja kau masih di sini, Kamu pasti bangga, Sayang" Gumam Ayah sembari menyetir.
Latifa tertidur pulas di kuris belakang. Karna ini sudah pukul 11 malam Latifa tak sanggup untuk tetap sadar.
...
Setelah sampai Ayah Latifa tidak tega untuk membangunkannya, Ia lebih memilih mengangkat tubuh Latifa ke dalam Kamarnya. Ayah memberikan selimut hangat dan menutupi seluruh badan Latifa.
Saat ayah ingin keluar kamar, Latifa berterima kasih kepadanya dalam keaadan tertidur.
Sang ayah tersenyum dan menutup pintu kamar Latifa. "tidur yang nyenyak, suling indah-ku".
...
Keesokan paginya Latifa bangun untuk bergegas sekolah, karena selama satu minggu ini dia tak ada tampil, Latifa akan lebih bersantai.
Selesai mandi, Latifa mempersiapkan dirinya untuk segera berangkat. hari ini adalah hari yang sangat menegangkan, Ia tak tau apakah Daniel bisa meyakinkan Chiru atau tidak.
...
Di sekolah, Daniel dan Latifa tak sengaja bertemu, Karena bertemu, mereka mencoba membahas apa yang akan Daniel lakukan.
"Daniel, Apa yang akan kau rencanakan untuk membujuk Chiru?" Latifa bertanya
"Aku akan berusaha membuatnya berbicara denganku, kau ingat kan, terakhir kali dia juga marah denganku lalu kabur?" Jawab Daniel.
"Iya, waktu itu aku datang dan dia kabur, aku gatau perasaannya, apakah memang dia marah dengan mu atau dia hanya kesal denganmu" Ucap Latifa. Ia terhenti langkahnya di depan kelas 10-3, ia tak berani untuk lanjut berjalan.
"Latifa, kenapa?" Tanya Daniel yang kebingungan.
"Daniel, Lihat ke depanmu" Latifa menunjuk ke kelas 10-4
"Astaga.. kenapa kita malah bertemu Chiru secepat ini, sih.." Ucap Daniel yang terkejut melihat Chiru tepat berada di depan kelas.
"Jadi, apa rencanamu?" Tanya Latifa.
"Aku sendiri gak tau, ini terlalu tiba-tiba" Jawab Daniel yang masih kebingungan karena ia tak menyangka bisa bertemu dengan Chiru pada waktu yang tidak ia rencanakan
"Jadi, apakah kita cari jalan lain dulu?" Usul Latifa.
''aku bingung, jika selalu kabur, maka semua sama saja, Latifa " Jawab Daniel yang masih bimbang.
"Lalu, kau ingin menghadapinya sekarang?" Ucap Latifa.
"Mungkin, aku masih tak yakin untuk menghadapinya, tapi sepertinya aku harus mencobanyanya" Daniel mulai menarik nafas panjang dan pergi menemui Chiru yang sedang duduk di depan kelas 10-4.
Chiru saat itu sedang membaca buku, ia sedang membaca novel berjudul "Cantik Itu Luka". Sampai saat Daniel menyapanya "Yo, selamat pagi!" Ucap Daniel yang diabaikan Chiru.
Chiru menutup bukunya dan pergi menjauh. Tanpa perlawanan sedikitpun, Daniel hanya diam karna tak ingin dipukul lagi.
"Tuh kan gak berhasil" gumam Daniel.
Latifa datang menghampirinya...
"Wah, sepertinya dia sudah mebangun tembok untuk kamu, ya. Daniel" Latifa tertawa saat mengucapkan kalimat itu.
"Apasih, Latifa. Mana ada begitu, aku yakin!" Daniel masih yakin bahwa Chiru bisa diajak bicara.
...
Di kelas Daniel melihat Chiru sedang duduk seperti biasa, ia masih melanjutkan membaca bukunya. Daniel ingin sekali berbicara namun ia juga masih takut.
Daniel hanya diam dan ikut mengeluarkan buku untuk ia mengerjakan soal-soal di dalam bukunya.
"kenapa aku gak bisa bikin topik, sih!!" Gumamnya kesal.
"Apa sih yang Chiru suka, aku jadi penasaran. Siapa tau bisa bikin kami jadi akrab." Gumamnya lagi.
"Gimana kalau aku tanya pak Mil aja, ya?" Daniel bergumam dan mengusulkan untuk menemui pak mil dan bertanya apa yang disukai Chiru.
...
Sorenya setelah pulang sekolah, Daniel seperti biasa mampir ke restoran pak mil, Kali ini ia tak bekerja dulu karena Pak Mil ingin Daniel beristirahat sejenak dan menyembuhkan rasa sakit yang pernah Chiru lakukan kepadanya.
"Permisi, Pak Mil." Daniel membuka pintu dan menyapa pak Mil.
"lho, Nak Daniel, ngapain ke sini?" Tanya pak Milm
"Anu, Pak. Saya mau bertanya, ini soal Chiru." Ucap Daniel.
"Ah, Chiru, ya? Silahkan duduk dulu, kita bicarakan"
Daniel duduk di kursi yang biasa ia duduki saat bersama Minami dan Latifa.
"ngomong-ngomong soal Chiru, dia sebenarnya kenapa sih pak mil?" Tanya Daniel.
"Sebenarnya ya, Daniel itu jadi berubah semenjak ibunya bercerai, bukan hanya bercerai, beberapa minggu setelahnya ibunya meninggal" Jelas Pak Mil.
" maaf, pak, jadi menanyakan hal yang seperti inI" Daniel merasa bersalah karena sudah menanyakan hal yang tak penting.
"semenjak ibunya meninggal, Chiru itu tinggal di rumah Saya, namun karna saya jarang pulang kerumah dan hanya mengurus restoran ini, dia jadi begitu, gak keurus." Jelas pak mil.
"Maaf ya, gara-gara saya, dia malah melampiaskannya ke kamu" ucap Pak mil
"eh, bukan salah bapak, kok!" Daniel mengelak kalau itu bukan salah Pak Mil.
"Dan.. Kalau kamu pernah dengar dia bilang soal saya yg gak nerima anak sekolah lagi, itu juga ada hubungannya dengan dia" Pak Mil mulai membocorkan mengapa alasan dirinya tak mengijinkan Anak sekolahan untuk bekerja di tempatnya.
"Kalau boleh, bapak ceritakan saja." Ucap Daniel yang terdengar kurang ajar.
"Baik" singkat pak Mil
"Jadi waktu itu restoran saya bukan berada di sini , tapi ada di stasiun, dan itu restoran hasil kerja keras saya dan mendiang istri saya. Selama bertahun-tahun restoran itu berdiri, selalu ramai pengunjung. orang tua, anak-anak hingga remaja selalu nongkrong dan makan di sana , karna tempat saya dulu itu tempat yang sangat strategis dan mudah dijumpai, hari-hari terasa hidup bahkan lebih hidup dari hari hari sekarang. Alasan saya ikut audisi dunia juga karena janji dengan mendiang istri saya. Dan saya akhirnya bisa mewujudkan semua itu, niatnya setelah selesai audisi, saya ingin pensiun dan tutup permanen, tapi waktu itu saya melihat kamu makan di restoran ini dengan senang, bercanda tawa dengan teman kamu, saya jadi mengurungkan niat untuk menutup tempat ini. Saya pikir ini sudah berakhir, tapi ini berkat kamu, nak daniel. Saya tidak jadi menutup tempat ini karena senyum anak muda seperti kamu, yang semangat bekerja dan tak putus asa. tapi dulu saat restoran ini sedang jaya, ada satu anak sekolahan yang dia juga adalah sahabatnya Chiru datang ke sini untuk meminta pekerjaan"....