Ratna mengira pernikahan 28 tahunnya hanya sedang lelah. Sampai ia melihat Hendra, suaminya, memeluk sekretaris muda di rumah sakit, bersama anak laki-laki yang memanggilnya Papa.
Selama ini Ratna bekerja diam-diam, mengurus mertua, anak, menantu, dan cucu, sementara uang keluarga mengalir ke apartemen perempuan lain.
Saat semua orang mengira Ratna terlalu tua untuk melawan, ia justru bangkit. Dengan bantuan Arga Wijaya, CEO dingin yang tak pernah banyak bicara, Ratna mulai merebut kembali harga dirinya.
Tapi semakin jauh ia melangkah, semakin banyak rahasia keluarga yang terbongkar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anindita Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35
Bab 35 - Dua Anak di Meja yang Sama
Ratna mengundang Raka dan Bagas makan malam di apartemennya.
Ia memasak sendiri. Bukan karena ingin menunjukkan kemampuan sebagai ibu sempurna, tapi karena tangannya perlu melakukan sesuatu. Ia membuat sayur asem, ayam goreng, tahu tempe, dan sambal terasi. Menu sederhana yang dulu sering ia masak di rumah Hendra, tapi malam itu rasanya berbeda. Tidak ada mertua yang mengomentari garam. Tidak ada suami yang pulang larut dan bertanya kenapa lauknya biasa saja.
Arga datang membawa buah. Ia berhenti di depan pintu dapur.
"Perlu bantuan?"
Ratna melihatnya. "Kamu bisa apa?"
"Memotong buah."
"Kemarin kamu bilang bisa memasak."
"Aku bilang bisa membuat telur."
"Itu bukan memasak. Itu bertahan hidup."
Arga mengangguk serius. "Maka aku ambil bagian buah."
Ratna tersenyum. "Cuci tangan."
Mereka bergerak di dapur kecil tanpa banyak bicara. Ada rasa canggung yang hangat. Seperti dua orang yang belum punya nama resmi untuk hubungan mereka, tapi sudah tahu di mana letak piring.
Bel berbunyi pukul tujuh.
Raka datang lebih dulu bersama Maya dan Bima. Maya membawa puding. Raka tampak gugup.
"Ma, aku ajak Maya. Boleh?"
"Tentu."
Bima berlari memeluk kaki Ratna. "Eyang!"
Ratna mengangkatnya. Di atas semua kekacauan darah dan nama keluarga, panggilan itu tetap sampai ke tempat paling lembut di hatinya.
Bagas datang lima belas menit kemudian. Ia memakai kemeja hitam pemberian Raka, masih terlihat kaku di tubuhnya. Di tangannya ada plastik berisi martabak manis.
"Saya tidak tahu harus bawa apa," katanya.
"Martabak selalu benar," jawab Maya cepat.
Ketegangan sedikit mencair.
Makan malam dimulai pelan. Raka duduk di sebelah Maya, Bagas di seberang Ratna. Arga duduk di ujung meja, tidak mengambil posisi kepala keluarga. Ratna menyadari itu dan diam-diam berterima kasih.
Bima menjadi penyelamat. Ia bertanya kepada Bagas apakah Bagas bisa memperbaiki mobil-mobilannya yang rusak. Bagas menerima mainan kecil itu, memeriksa roda, lalu memperbaiki dengan tusuk gigi dan karet gelang dari bungkus martabak.
"Wah!" Bima berseru. "Om Bagas jago!"
Bagas membeku mendengar panggilan Om.
Raka juga membeku.
Maya menahan napas.
Ratna menatap mereka semua.
Bagas akhirnya berkata pelan, "Kalau rusak lagi, bilang Om."
Bima mengangguk senang.
Raka memalingkan wajah. Ia pura-pura mengambil minum, tapi Ratna melihat matanya merah.
Setelah makan, Maya membawa Bima ke ruang TV. Arga membantu membereskan piring bersama Ratna. Raka dan Bagas tertinggal di meja.
"Aku tidak tahu harus memanggilmu apa," kata Raka akhirnya.
"Bagas saja."
"Aku lebih tua?"
"Kata Bu Nanik, saya lahir lebih dulu hampir dua jam."
Raka tertawa getir. "Jadi kamu kakak."
"Kakak yang tidak pernah pulang."
"Dan aku adik yang mengambil kamar."
Bagas menatapnya. "Kalau kita terus bicara begitu, kita tidak akan selesai."
Raka mengangguk. "Aku tahu."
"Aku marah padamu," kata Bagas.
Raka menerima. "Aku tahu."
"Bukan karena kamu hidup di rumah Ratna. Tapi karena kamu menyakiti dia padahal kamu punya dia."
Kata-kata itu membuat Raka menunduk.
"Aku tidak punya pembelaan."
"Bagus."
Raka tertawa pendek. "Kamu lugas juga."
"Di bengkel kalau terlalu banyak basa-basi, motor tidak jadi."
Untuk pertama kalinya, mereka tersenyum di saat yang sama.
Di dapur, Ratna mendengar semuanya. Tangannya berhenti di atas piring basah.
Arga mengambil piring itu darinya. "Biarkan mereka."
"Aku ingin masuk dan memperbaiki setiap kata."
"Aku tahu."
"Kamu akan bilang aku tidak bisa?"
"Aku akan bilang kamu boleh mencoba menahan diri lima menit."
"Lima menit?"
"Kita mulai realistis."
Ratna hampir tertawa.
Setelah Raka pulang, Bagas masih tinggal sebentar. Ia berdiri di balkon, menatap lampu kota. Ratna menghampirinya dengan dua gelas teh.
"Tidak terlalu manis," katanya. "Kamu bilang tidak suka manis."
Bagas menerima gelas. "Ibu ingat?"
"Saya ingin mengingat hal-hal kecil mulai sekarang."
Bagas menatap teh itu lama.
"Dulu saya pernah sakit demam. Ibu Tari lupa beli obat. Pak Darma juga tidak pulang. Saya tidur di teras karena di dalam panas. Tetangga kasih teh hangat. Sejak itu kalau sakit, saya cari teh."
Ratna menggenggam gelasnya kuat-kuat.
"Maaf."
"Ibu tidak ada di sana."
"Itu yang membuat saya makin sakit."
Bagas tidak menjawab.
Angin malam berembus.
"Saya belum bisa langsung merasa punya ibu," kata Bagas.
"Saya tahu."
"Tapi tadi waktu Bima memanggil saya Om..." Ia berhenti. "Aneh. Rasanya seperti saya tiba-tiba punya tempat."
Ratna menatapnya dengan mata basah. "Kamu memang punya tempat."
Bagas mengangguk pelan.
Di ruang tamu, ponsel Arga berbunyi. Ia menjawab singkat, lalu keluar ke balkon dengan wajah berubah.
"Ratna, Siska baru mendapat kabar. Hendra diperiksa terkait laporan ancaman terhadap Clara dan dugaan penggelapan. Dia belum ditahan, tapi rekeningnya mulai ditelusuri."
Bagas menoleh.
Ratna menarik napas.
"Bagus."
Arga menatapnya. "Hendra mungkin akan mencoba mendekatimu."
"Biarkan."
"Ratna."
"Aku tidak akan bertemu sendiri." Ia menatap Arga. "Aku sudah belajar."
Arga tersenyum tipis. "Kemajuan besar."
Bagas melihat mereka berdua bergantian. "Ibu dan Arga..."
Ratna menoleh. "Apa?"
"Tidak apa-apa." Bagas mengangkat gelas teh. "Saya cuma bertanya dalam hati."
Ratna merasa wajahnya panas. Arga pura-pura melihat kota.
Untuk pertama kalinya, suasana canggung itu tidak menyakitkan.
Namun malam yang hampir tenang itu pecah ketika ponsel Ratna bergetar.
Nama Hendra muncul.
Ratna menatap layar.
Pesan masuk hanya satu kalimat.
"Kalau kamu terus menyeret keluarga kita, jangan salahkan aku kalau semua orang tahu siapa Arga sebenarnya bagimu."
Ratna membaca pesan itu dua kali, lalu meletakkan ponsel di meja.
Raka langsung gelisah. "Itu ancaman."
"Iya."
"Ma, jangan balas."
"Aku tidak akan."
Bagas menatap layar ponsel dari jauh. "Dia mau mempermalukan Ibu?"
"Dia akan mencoba."
Arga mengambil ponselnya sendiri. "Aku hubungi tim hukum."
Ratna menahan lengannya. "Tunggu."
Arga menatapnya.
"Kali ini aku tidak mau reaksi pertamaku ditentukan Hendra." Ratna menarik napas. "Dia ingin aku takut. Dia ingin aku merasa hubungan kita sesuatu yang kotor."
Raka menunduk. "Papa selalu begitu. Kalau dia salah, dia cari salah orang lain yang lebih mudah dijual."
Ratna menatap anak-anaknya. "Kalian dengar baik-baik. Aku dan Arga tidak melakukan perselingkuhan. Hubungan ini dimulai setelah aku keluar dari pernikahan itu. Kalau besok orang bicara, biarkan mereka bicara. Kita jawab dengan bukti, bukan panik."
Bagas mengangguk pelan.
Arga menatap Ratna dengan mata yang tidak lagi hanya melindungi, tapi menghormati.
Ratna mengambil ponsel dan meneruskan pesan Hendra kepada Siska tanpa menambah komentar panjang.
"Bukti ancaman baru," tulisnya.
Siska membalas hampir seketika.
"Simpan. Jangan balas. Besok kita susun langkah."
Ratna meletakkan ponsel kembali. Malam itu ia tidur tidak nyenyak, tapi ia tidur tanpa merasa bersalah.
Klo sudah tiada
Baru terasa,,,,,, 💃