Ara Milano tidak pernah menyangka satu malam akan mengubah seluruh hidupnya.
Ketika kakaknya menghilang sebelum pernikahan, keluarga Milano tidak memiliki pilihan lain. Demi menjaga perjanjian antara dua keluarga, Ara dipaksa mengenakan gaun pengantin dan menggantikan posisi kakaknya.
Pria yang menunggunya di altar adalah Dante Theo, pewaris keluarga mafia paling berkuasa, yang terkenal dingin, keras, dan tidak mengenal kata kompromi.
Dante tentu tahu wanita yang berdiri di hadapannya bukanlah pengantin yang seharusnya.
Sementara Ara merasa terjerat dalam pernikahan pengganti ini. Bahkan sejak di malam pernikahan, ia berulang kali mencoba kabur. Meskipun pada akhirnya usahanya seperti usaha menjaring angin.
Lama kelamaan keduanya terbiasa dengan kehadiran lainnya. Bagi Dante, gadis itu telah menjadi bagian dari perjanjian yang tidak boleh dilepaskan. Sekalipun harus ia akui, Ara bukan wanita yang mudah dikendalikan. Sayangnya ia juga tidak pernah sanggup kehilangannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liza Navy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 Hari Pernikahan yang Berantakan
Dentang lonceng gereja menggema pelan, menyatu dengan alunan orkestra yang memenuhi aula megah di pinggiran Kota Florence. Ratusan tamu dari kalangan pengusaha, politikus, bangsawan, hingga para petinggi dunia bawah duduk rapi di kursi mereka. Tidak ada yang berani berbicara terlalu keras. Semua memahami bahwa pernikahan hari ini bukan sekadar penyatuan dua insan, melainkan peresmian aliansi antara dua keluarga yang selama puluhan tahun menjadi kekuatan besar di dunia bisnis internasional.
Di ujung lorong gereja, para wartawan hanya diizinkan mengambil gambar dari kejauhan. Tak seorang pun diperbolehkan mendekati altar. Pengamanan begitu ketat hingga setiap tamu harus melewati tiga lapis pemeriksaan.
Hari ini, pewaris keluarga Theo, Dante Theo, akan menikahi putri sulung keluarga Milano, Alessia Milano.
Di atas kertas, pernikahan itu tampak sempurna.
Keluarga Theo menguasai jalur distribusi dan investasi di Eropa. Sementara keluarga Milano adalah konglomerat Asia yang tengah memperluas bisnisnya ke pasar Barat. Pernikahan ini akan menggabungkan dua kerajaan bisnis dengan nilai investasi miliaran dolar.
Namun, hanya sedikit orang yang tahu bahwa calon pengantin pria dan wanita tidak pernah bertemu sebelum hari ini. Bagi mereka berdua, cinta bukanlah syarat mutlak terjadinya sebuah pernikahan. Kesepakatan keluarga jauh lebih penting. Seperti kata pepatah cinta tidak bisa dimakan.
Dante Theo, pria dingin dan berhati keras itu sudah berdiri di depan altar. Setelan jas hitam yang dikenakannya dijahit khusus oleh penjahit terbaik di Milan.
Wajahnya tampan dengan rahang tegas, tetapi ekspresinya sedingin marmer. Kedua tangannya terlipat di depan tubuh, sementara sepasang mata abu-abunya menatap lurus ke pintu utama gereja. Ia tidak terlihat gugup. Ia juga tidak terlihat bahagia. Pernikahan ini baginya tak lebih dari sekedar eksekusi perjanjian bisnis yang perlu dituntaskan.
Seolah apa yang akan terjadi beberapa menit lagi hanyalah satu agenda dalam daftar panjang pekerjaannya.
Di bangku paling depan, sang kakek yang juga kepala keluarga Theo memperhatikan cucunya dengan puas. Senyum mengembang di bibirnya.
"Dante tidak pernah mengecewakan keluarga," gumam pria tua itu. Setelah pernikahan besar ini, Dante akan mengambil alih kedudukan nya sebagai kepala keluarga Theo.
Para tetua keluarga mengangguk setuju. Sepanjang hidupnya, Dante selalu melakukan dan mempertimbangkan apa yang terbaik bagi keluarga besar mereka. Nyaris kesepakatan bisnisnya tak pernah mengalami kerugian. Ia adalah dewa fortuna mereka.
Pernikahan ini juga bagian dari langkah terakhir, sebelum kontrak kerja sama lintas benua resmi ditandatangani malam nanti. Karenanya tidak boleh ada kesalahan.
Di sisi lain bangunan, ruang rias pengantin dipenuhi kepanikan.
"Di mana Nona Alessia?" Seorang penata rias berlari keluar ruangan dengan wajah pucat. Ia mencari-cari Alessia Milano dengan panik.
Seorang pelayan memberitahukan padanya sudah tidak ada seorangpun di ruangan rias itu.
"Apa maksudnya tidak ada?" tanya penata rias itu pada pelayan yang berdiri di depannya.
"Bagaimana mungkin Nona Alessia tidak ada? Gaunnya masih di sini, tapi orangnya hilang," celoteh perias itu kehilangan semangat hidup. Ia lalai menjaga pengantin wanita keluarga besar Theo. Hidupnya sebentar lagi mungkin akan tamat.
Suasana langsung membeku.
"Hilang?" suara kepanikan makin menjadi riuh di dalam ruangan.
"Padahal aku baru keluar lima menit mengambil buket bunga. Saat kembali Nona Alessia sudah tidak ada."
Semua orang saling berpandangan. Seorang pengawal segera memeriksa seluruh lorong.
"Kunci semua pintu!" perintah suara yang terdengar paling keras. Itu sepertinya suara kepala pengawal pribadi Tuan besar Milano.
"Tidak ada seorang pun yang boleh keluar dari tempat ini!" serunya lagi lebih tegas.
Puluhan pengawal bergerak serempak menyisir seluruh penjuru bangunan. Lima menit kemudian, salah satu dari mereka kembali dengan napas memburu.
"Jendela belakang terbuka."
Pengawal yang sama berkata lagi, "Mobil hitam yang diparkir juga sudah tidak ada."
Ruangan mendadak sunyi. Semua orang memahami arti laporan itu. Alessia kabur.
Di ruang VIP, Victor Milano meremas ponselnya hingga buku-buku jarinya memutih.
"Apa maksud kalian belum menemukannya?" bentaknya.
"Maaf, Tuan." Tidak ada seorangpun yang berani menatap balik tuan besarnya. Mereka ketakutan. Tubuh mereka berkeringat dingin.
"Kami sudah mengejar ke jalan utama," kata pengawal pertama yang ditimpali oleh pengawal kedua, "Tetap tidak kami temukan jejak Nona Alessia."
Victor memejamkan mata. Dadanya naik turun menahan amarah.
Putri sulungnya benar-benar menghancurkan semua rencana yang telah ia susun bertahun-tahun.
Pintu ruangan terbuka. Seorang pria tua dari keluarga Theo masuk ditemani dua pengawal.
"Kami mendengar ada masalah."
Victor langsung berdiri.
"Berikan kami sedikit waktu."
Pria tua itu menatapnya tanpa senyum.
"Apakah calon menantu kami melarikan diri?"
Tidak ada jawaban. Giliran Victor yang menundukkan kepala kali ini. Ia benar-benar dibuat kehilangan muka oleh kelakuan putri sulungnya.
Keheningan di ruangan itu telah menjadi jawaban paling jelas.
Tatapan pria tua itu berubah dingin.
"Apakah keluarga Milano hendak mempermainkan kami?"
"Tidak. Tentu Tidak." Victor buru-buru menggeleng.
"Kalau begitu, temukan putrimu." Jeda. Pria tua itu memicingkan mata. Pupilnya menatap tajam bak anak panah ke kepala keluarga Milano.
"Upacara dimulai dua puluh menit lagi." Ucapan terakhirnya ini bukan ancaman. Ini peringatan. Ia harap keluarga Milano tahu apa yang harus dilakukan.
Setelah mengatakan itu, pria tua itu melangkah pergi.
Sementara itu...
Di sebuah kafe kecil yang berjarak hampir tiga puluh kilometer dari gereja, seorang gadis muda sedang menikmati secangkir cokelat hangat sambil membaca novel elektronik di tabletnya. Namanya Ara Milano. Ia adik kandung Alessia.
Berbeda dengan kakaknya yang sejak kecil telah disiapkan menjadi penerus perusahaan ayahnya, Ara lebih memilih bekerja di divisi desain kreatif perusahaan kecil di kota itu. Ia menghindari sorotan media dan hampir tidak pernah menghadiri pesta kalangan elite.
Seperti hari ini ia sebenarnya juga tidak ingin datang. Tapi bagaimanapun ini adalah hari besar kakaknya. Ia diminta hadir sebagai pengiring pengantin. Namun Alessia semalam sempat menelepon dan berkata, "Datang agak siang saja. Aku ingin menikmati waktu bersama Mama sebelum upacara."
Karena itulah Ara saat ini belum tiba di gereja. Ia berencana baru akan datang setelah upacara digelar atau janji nikah dikumandangkan. Tokh, itu juga tidak berarti apapun baginya.
Ia masih sibuk membaca ketika ponselnya tiba-tiba bergetar. Layar menampilkan nama ayahnya.
"Papa?"
Suara di seberang terdengar berat.
"Di mana kamu sekarang?"
"Masih di kafe."
"Segera ke gereja."
"Acaranya belum selesai, kan?"
"Datang sekarang."
Nada bicara Victor membuat Ara mengernyit.
"Apakah terjadi sesuatu?"
"Tidak usah bertanya. Dalam sepuluh menit kamu harus sudah sampai."
Sambungan teleponnya langsung terputus.
Ara menatap layar ponselnya dengan bingung. Ayahnya tidak pernah berbicara sekeras itu.
Tanpa membuang waktu, ia segera meninggalkan kafe. Ia sama sekali belum tahu jika dalam beberapa menit ke depan, hidupnya akan berubah selamanya.
Di gereja, Dante menahan emosi, ia melirik jam tangannya. Sepuluh menit telah berlalu. Pengantin wanita tak kunjung muncul. Bisik-bisik mulai terdengar di antara para tamu. Lagu pernikahan mulai mengalun kembali.
"Kenapa belum dimulai?" suara kasak kusuk salah satu tamu terdengar.
Salah satu pengawal mendekati Dante dan membisikkan sesuatu. Ekspresi pria itu tidak berubah sedikit pun. Namun udara di sekelilingnya seakan langsung membeku. Aura membunuhnya terasa lebih kuat dari sebelumnya.
"Dia kabur?"
Pengawal itu menundukkan kepala.
"Iya, Tuan."
Dante hanya mengembuskan napas pelan. Ia hanya berbalik menghadap jendela gereja, menatap langit kota yang mulai diselimuti awan kelabu.
Di belakangnya, para tetua keluarga Theo mulai berdiskusi dengan wajah suram. Jika pernikahan batal, bukan hanya harga diri keluarga mereka yang dipertaruhkan. Kontrak kerja sama senilai miliaran dolar juga akan gugur. Aliansi dua keluarga bisa berubah menjadi permusuhan. Bahkan tidak mustahil, menjadi malam pembantaian.
Dan ketika dua keluarga sebesar Theo dan Milano berubah menjadi musuh, akibatnya bisa sangat fatal. Dunia bisnis internasional akan ikut terguncang.
Mereka, dua keluarga besar masuk ke dalam ruang rapat tertutup. Di dalamnya, keputusan yang akan mengubah nasib seseorang mulai dibahas.
Sepuluh menit kemudian...
Di halaman gereja, Ara baru saja menginjakkan kaki, tanpa menyadari semua tatapan perlahan beralih kepadanya. Terutama tatapan keluarga besar Milano nya. Dan di balik pintu kayu besar gereja, takdir yang tak pernah ia bayangkan sedang menunggunya.
***