Oliver Robert dosen tampan bersatatus duda dan dia mempunyai anak kembar, suatu hari anak kembarnya Oliver bertemu dengan salah satu mahasisa Piskolognya yang bernama Zafana
Oliver dan kedua anaknya yang sellu menutup diri dari orang lain.
Pertemuan yang tidak sengaja itu membuat Oliver sadar jika Zafana berbeda dari wanita yang lain yang pernah ia temui dari wanita lain termasuk mendiang istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BJP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14
Sampainya dirumah, Zafana segera membawa Enzi kedalam kamarnya. Ia menidurkan tubuh Enzi diatas kasurnya lalu berjalan keluar untuk mengambil kotak obat. Setelah itu Zafana segera memijat tangan Enzi penuh kelembutan yang membuat Enzi kembali terlelap.
"Makasih ya, Zafa"ucap Oliver saat masuk kedalam kamar Zafa membuat Zafana menoleh kearah pintu yang terlihat Oliver berjalan masuk.
"Iya pak, sama-sama"jawab Zafana sambil tersenyum.
"Maafin papa ya nak"ucap Oliver sambil mengusap kening Enzi.
Sentuhan Oliver membuat Enzi kembali terjaga, tapi ia malas untuk membuka mata karena sudah terlalu mengantuk.
"Zafa, ada yang ingin saya bicarakan sama kamu"ucap Oliver.
Zafana kembali menoleh, “bicara apa ya pak?”
“Melihat bagaimana dekatnya anak-anak sama kamu, dan bagaimana kamu menjaga mereka membuat saya merasa untuk melamar kamu”ucap Oliver
sontak membuat pergerakan Zafana terhenti.
“M-maksud bapak?”
Oliver meraih tangan Zafana untuk membujuknya berdiri. Zafana hanya menurut lalu berdiri dihadapan Oliver dengan kedua tangannya yang digenggam erat oleh laki-laki dihadapannya ini.
“Saya ingin melamar kamu”Oliver mengulangi perkataan nya.
“B-bapak lagi bercanda ya sama saya?”tanya Zafana dengan wajah yang memanas.
Oliver menggelengkan kepalanya lalu menunduk, dengan tawa kecil ia kembali menatap lekat bola mata Zafana.
“Tidak ada sedikit pun saya ingin bercanda dengan kamu untuk membahas soal ini”jawab Oliver.
Zafana terdiam, matanya menatap manik Oliver lekat berharap bisa menemukan secarik kebohongan dari sana. Tapi sayangnya ia malah semakin jatuh pada tatapan tajam itu.
“Bapak serius?”tanya Zafana.
Oliver mengangguk, "Saya serius, Na"ucapnya.
Zafana sebenarnya bingung harus menjawab apa, semuanya terlalu buru-buru bagi Zafana.
‘Gue harus gimana? Gue terima atau gue tolak?’-batin Zafana.
“Kasih saya waktu ya pak”ucap Zafana memutuskan.
Oliver mengangguk, “saya akan kasih kamu waktu, tapi tolong jangan lama-lama”
Zafana menunduk lalu melepaskan genggaman Oliver perlahan,
“Enzi Cuma butuh waktu untuk istirahat setelah ini, tangannya juga mungkin udah gak terlalu sakit”
“Sekali lagi terimakasih”ucap Oliver dengan suara yang sangat dalam dan menenangkan.
“Kalau gitu saya keluar dulu”jawab Zafana lalu berjalan keluar.
Ia terkejut saat melihat mamanya yang berdiri dibalik pintu. Dengan langkah cepat Zafana berjalan melewati mamanya, tapi segera Clara menahan tangan Zafana.
“Kok kamu gak langsung jawab?”tanya Clara.
“Mama nguping ya?!”tanya Zafana sedikit memekik.
“Shhhh...mama tadi gak sengaja aja, tapi kenapa kamu gak langsung terima aja?”tanya Clara.
“Ma, Zafa sama pak Oliver itu baru aja deket, gak lucu banget kalau baru beberapa hari kenal tiba-tiba langsung ngelamar kayak gitu”jawab Zafana.
“Tapi kamu suka kan sama dia?”tanya Clara.
Zafana menatap jengah mama tersayangnya ini,
“mama kali yang suka sama pak Oliver”
Oliver mendengar dengan jelas obrolan Zafana dengan Clara didepan pintu kamar. Ia menyunggingkan senyumannya mendengar persetujuan yang diberikan oleh Clara. Bukankah itu tandanya Oliver sudah bisa bergerak lebih jauh untuk mendekati Zafana?
Hari demi hari berlalu, setelah kejadian Oliver yang melamar nya tempo hari Zafana semakin dibuat dilema setiap kali bertemu dengan Oliver di kampus, belum lagi jika ada jadwal kelas Oliver.
Ingin sekali rasanya ia kabur dan mengubur dirinya.
“Na, lo kok lemes banget sih? Semangat kek”ucap Roos yang sudah kesekian kalinya mendngar helaan napas berat dari sahabatnya itu.
“Roos, gue mau nanya pendapat lo deh”ucap Zafana sembari menghadapkan tubuhnya pada Roos yang sedang membaca buku pelajarannya.
“Hmm, nanya apa”jawab Roos lalu menutup bukunya.
“Gini Roos, kalau tiba-tiba lo dilamar sama orang yang baru kenal sama lo kira-kira lo bakal gimana?”tanya Zafana dengan jantung yang berdebar sangat cepat.
“Lo ngomongin diri lo sendiri apa orang lain nih?”Roos balik bertanya.
“Ya siapa aja lah pokoknya, kalau menurut lo gimana?”
Roos terdiam sejenak, jarinya bergerak menjentik-jentikan pulpen digenggamannya.
“Kalau yang lo omongin itu orang lain sih ya harus cari tau dulu lah cowoknya itu kayak gimana, jangan main asal nerima aja..tapi kalau orang yang lo omongin itu diri lo sendiri...orang yang baru-baru ini kenal sama lo tuh......pak Oliver, jadi......LO DILAMAR SAMA PAK OLIVER, NA?”Roos sontak berucap histeris hingga membuat beberapa mahasiswa yang berada didalam kelas itu menoleh.
“Shhhhh! Bukan itu”ucap Zafana.
“Terus apa?”
“Zafa, lo dilamar sama pak Oliver?”teman-teman yang tidak sengaja mendengar ucapan Roos itu menoleh dan berjalan menghampiri tempat duduk Zafana dan Roos.
“Dosen dingin itu?”
“Gila sih Zafa, kok lo bisa sih diem-diem suka sama kulkas berjalan gitu?”
Zafana memejamkan matanya lalu membukanya kembali, “guys, kalian salah tangkep, gue gak dilamar sama pak Oliver atau sama siapapun”
“Jadi yang lo tanyain ke gue itu apa?”tanya Roos.
“G-gue...gue lagi bahas scene di drama baru yang gue tonton kok, lo salah spekulasi, Roos”jawab Zafana.
“Jadi pak Oliver gak ngelamar lo nih?”tanya Roos memastikan.
“Ya enggak lah, masa iya dia ngelamar gue”jawab Zafana.
Tanpa sadar Oliver mendengar nya diambang pintu dengan air wajah datar seperti biasanya.
“Apanya yang ngelamar?”tanya Oliver sontak membuat Zafana menoleh dengan wajah panik.
‘Mampus deh gue’-batin Zafana.
Oliver mengangkat sebelah ujung bibirnya lalu berjalan masuk kedalam kelas membuat semua mahasiswa yang ada disana mulai merasa aura ketegangan yang dipancarkan oleh Oliver.