Dijuluki sosok yang ditakuti bahkan oleh para dewa, ia menghabisi segalanya tanpa emosi selama masa hidupnya yang panjang. Tapi setelah pembantaian besar terakhirnya, sesuatu berubah emosinya yang lama terkubur akhirnya bangkit. Detik berikutnya, ia membuka mata di bumi, dalam tubuh baru, memulai kehidupan yang benar-benar berbeda dari masa lalunya yang kelam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Not men, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8 : SANG PENGUASA
Evelyn yang melihat seorang pria dengan rambut putih panjang dan jas penelitian berwarna putih serta wajah tampan itu pun langsung melemparkan dirinya ke arah Mahendra
"kau kemana saja..?, aku baru pergi sebentar tapi kau sudah tidak ada saat aku kembali.." ucap Evelyn dengan nada lembut
-------------
Mahendra yang dipeluk oleh Evelyn pun membalas pelukan nya dengan sedikit erat dan kemudian dia pun melepaskan nya
"Istri ku aku tidak pergi ke mana mana, aku hanya sedang mengembangkan alat yang bisa menjagamu.." ucap Mahendra dengan lembut
setelah itu di tangan nya pun terdapat sebuah cincin perak yang dihiasi sedikit warna emas. Evelyn yang melihat itu pun kembali menatap Mahendra dengan bingung dan kemudian dia pun mengambil cincin itu
“Hanya kau yang bisa menggunakan nya, bahkan aku menggunakan DNA mu untuk menciptakan nya.." Ucap Mahendra sambil mengenakan cincin itu di jari manis Evelyn
Evelyn yang melihat cincin itu pun sedikit bingung namun dia cukup senang karena cincin ini bisa melambangkan cinta Mahendra kepada nya. Mahendra yang melihat Evelyn yang masih bingung pun kemudian menarik wanita itu ke dalam pelukannya dan kedua nya pun mulai berciuman dengan lembut
setelah beberapa saat keduanya pun saling bertatapan dengan tatapan yang penuh dengan rasa sayang dan cinta
“Tenang saja, aku ini suamimu dan aku tidak akan memberikanmu barang yang tidak berguna.." Ucap Mahendra dan melanjutkan ucapannya “Bayangkan lah sesuatu yang kau inginkan.."
Mahendra pun mulai membimbing Evelyn dalam menggunakan cincin pemberian nya itu
Evelyn yang mendengar itu pun tampak bingung, namun kemudian dia pun langsung melakukan apa yang diinstruksikan oleh Mahendra. Dalam sekejap sebuah pistol warna perak yang ada garis emas pun dipegang oleh Evelyn
“Hhaa..?, ini bagai mana mungkin..?" tanya Evelyn dengan tidak percaya
Namun saat itu juga dia pun menatap ke arah Mahendra yang sedang duduk dengan tenang dan terlihat menatapku tanpa berkedip.
"ini bagaimana kau menciptakan benda yang seperti ini..?, tanya Evelyn dengan tidak percaya
Mahendra yang mendengar itu pun tersenyum dan kemudian dia pun berdiri dan berjalan ke arah Evelyn
"aku telah mempelajari dunia ini selama beberapa saat dan kemudian aku menghabis kan seratus tahun untuk menciptakan berbagai teknologi canggih.." ucap Mahendra
Evelyn yang mendengar itu pun dibuat bingung lagi. Untuk kesekian kalinya, Mahendra menceritakan bahwa dia memiliki sebuah ruangan khusus yang memiliki perbedaan waktu dengan dunia luar, sehingga dirinya dapat memiliki waktu yang jauh lebih banyak untuk melakukan berbagai hal.
"Ruangan seperti itu emangnya benar-benar ada?" tanya Evelyn dengan wajah penuh keraguan.
Mahendra hanya tersenyum kecil. "Aku tahu ini terdengar seperti sesuatu yang tidak masuk akal. Tapi kau sudah melihat sendiri bagaimana cincin ini bekerja, bukan?"
Evelyn pun kembali menatap cincin yang masih melingkar di jarinya. Dia kemudian mengangguk perlahan. "Kalau begitu... seperti apa ruangan yang kau maksud?" tanyanya penasaran.
Mahendra kemudian membuat sebuah portal tersebut. Evelyn yang melihat nya pun terheran, karena baru pertama kali liat seperti itu dalam hidup nya. Di dalam ruangan yang sangat luas dan kosong. Namun, di dalamnya terdapat berbagai macam perangkat aneh yang belum pernah Evelyn lihat sebelumnya.
"Ini adalah salah satu ruangan yang kubuat setelah aku mempelajari teknologi dari dunia ini," ucap Mahendra.
Evelyn melangkah masuk dan mengamati seluruh ruangan tersebut dengan tatapan penuh rasa ingin tahu.
"Dan kau mengatakan bahwa waktu di dalam ruangan ini berbeda dengan di luar?"
"Benar."
Mahendra kemudian berjalan menuju sebuah panel kendali yang berada di tengah ruangan.
"Di dunia luar, satu jam akan berlalu seperti biasa. Namun di dalam ruangan ini, aku bisa mengatur agar waktu berjalan jauh lebih lambat."
Evelyn membelalakkan matanya. "Jadi kau bisa memiliki waktu bertahun-tahun hanya dalam waktu beberapa jam di luar?"
"Kurang lebih seperti itu."
Evelyn terdiam beberapa saat. Kini dia mulai memahami bagaimana Mahendra bisa menciptakan begitu banyak teknologi canggih dalam waktu yang menurutnya tidak masuk akal.
"Kalau begitu... selama ini kau menggunakan ruangan ini untuk membuat semua benda itu?"
Mahendra mengangguk. "Sebagian besar." Kemudian Mahendra menekan beberapa tombol pada panel tersebut.
Bip... bip... bip...!
Beberapa perangkat di dalam ruangan mulai menyala. Cahaya putih memenuhi seluruh ruangan, sementara suara mesin yang berdengung perlahan terdengar semakin keras. Evelyn yang melihat hal tersebut langsung mundur beberapa langkah.
"Mahendra... apa yang sedang kau lakukan?"
"Aku hanya ingin menunjukkan kepadamu bagaimana ruangan ini bekerja."
Mahendra kemudian memasukkan beberapa perintah ke dalam sistem.
"Tenang saja. Selama sistemnya tidak mengalami gangguan, tidak akan terjadi apa-apa."
Evelyn hanya bisa mengangguk meskipun masih terlihat sedikit khawatir. Beberapa saat kemudian, sebuah layar besar muncul di hadapan mereka.
Di layar tersebut terlihat angka yang terus berubah.
10 tahun.
20 tahun.
50 tahun.
100 tahun.
Mata Evelyn langsung membesar ketika melihat angka tersebut.
"Seratus tahun...?"
"Ya," jawab Mahendra dengan tenang.
"Jika aku berada di dalam sana selama seratus tahun, maka di luar mungkin hanya akan berlalu beberapa Hari saja." Mahendra tersenyum tipis. "Itulah alasan kenapa aku bisa mempelajari begitu banyak hal."
Evelyn masih terpaku melihat layar tersebut. Namun sebelum dia sempat bertanya lebih jauh, tiba-tiba terdengar suara peringatan dari seluruh ruangan.
Bip! Bip! Bip!
Mahendra langsung mengerutkan kening.
"Apa yang terjadi?"
Sebuah tulisan merah muncul di layar utama.
[PERINGATAN]
[ Sistem mengalami ketidakstabilan...]
[ Stabilisasi energi sedang dilakukan…]
Evelyn yang melihat perubahan ekspresi Mahendra pun mulai merasa khawatir. "Mahendra, ada apa?"
"Sepertinya ada terlalu banyak energi yang masuk ke sistem."
Mahendra kemudian mencoba menghentikan proses tersebut. Namun… Tidak terjadi apa-apa.
Bip! Bip! Bip!
Suara peringatan semakin keras. Mahendra segera menarik Evelyn keluar dari portal tersebut dan menutup pintu aksesnya.
"Jangan mendekat sampai aku memastikan semuanya aman."
"Tapi kau sendiri?"
"Aku akan mengurusnya."
Mahendra kembali masuk ke dalam ruangan dan mulai mengendalikan sistem secara manual. Sementara itu, Evelyn hanya bisa berdiri di luar sambil memperhatikan apa yang dilakukan suaminya.
Beberapa menit berlalu. Kemudian suara peringatan perlahan menghilang. Mahendra menghela napas panjang.
"Sepertinya sudah selesai..."
Namun tanpa disadari olehnya, salah satu indikator energi di sudut ruangan masih terus meningkat. Mahendra yang melihatnya langsung terdiam.
"...Tidak."
Matanya membesar. Evelyn yang berada di luar pun langsung menatap Mahendra dengan cemas.
"Apa yang terjadi?"
Mahendra segera berbalik.
"Evelyn, menjauh dari sini!"
"Apa?"
"SEKARANG!"
Evelyn langsung berlari menjauh. Dan beberapa detik kemudian—
BOOM...!!!
Ledakan dahsyat mengguncang seluruh lantai paling atas Elyn Group.
Gelombang kejut menghantam berbagai ruangan di sekitarnya, membuat kaca-kaca pecah dan beberapa perangkat terlempar akibat tekanan ledakan.
Asap tebal langsung memenuhi area tersebut. Para penjaga yang berada di lantai bawah pun sontak panik dan segera berlari menuju lantai paling atas.
"Apa yang terjadi?!"
"Segera amankan lantai paling atas!"
"Hubungi pihak berwenang!"
Dalam waktu singkat, suasana di sekitar Elyn Group berubah menjadi kacau.Setelah satu jam lebih di lantai paling atas Elyn Group, terjadi ledakan yang sangat keras dan banyak pihak berwenang yang sudah langsung menjaga tempat itu.
Malam pun berlalu, Di dalam villa terlihat Evelyn yang sedang memegang cincin yang tadi di berikan oleh Mahendra dan wajah nya tampak sangat berseri seri
"Sayang seperti nya kau masih belum puas setelah meledakan ruangan mu sehingga membuat banyak kepanikan.." ucap Mahendra yang melihat istri nya itu
Evelyn yang mendengar itu pun hanya tersenyum dan kemudian dia pun berjalan ke arah Mahendra dan langsung memeluk nya
"karena telah memberikan ku barang yang begitu bagus, aku akan memberikanmu hadiah.." bisik Evelyn dengan lembut
"Datang lah ke kamar setengah jam lagi.." bisik Evelyn dengan suara yang sangat menggoda