Zhafira Nayara Humaira, gadis berparas cantik, namun yatim piatu. Memiliki kepribadian lembut, ramah dan tegas dalam bersikap. Kini sedang berkuliah lewat jalur beasiswa.
Tak sedikit Mahasiswa yang ingin menjadikan pacar tapi selalu ia tolak secara halus, karena ia tak ingin fokusnya terganggu. Hingga ia menerima Bryan, pria yang selalu ada untuknya. Mereka memutuskan untuk menikah siri dan tinggal di aparteman yang sama.
Setelah wisuda selesai, Bryan izin pulang ke Jakarta, Zhafira sering mual dan muntah. Di tengah ketidaknyamanan, Zhafira tak sengaja menyaksikan siaran langsung di TV. Brian, suaminya sedang melangsungkan pertunangan dengan wanita cantik, elegan.
Seketika dadanya seperti tertusuk jarum besar, perih dan menyakitkan. Bersamaan itu ia baru saja mengetahui kalau dirinya sedang hamil.
Bagaimana ia menghadapi kenyataan pahit itu? Mampukah ia bertahan demi nyawa yang dikandungnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tientien AQuariuzz Girllzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7 TEMPAT TINGGAL BARU
SELAMAT MEMBACA !!!
"Saya terima nikah dan kawinnya Zhafira Nayara Humaira Binti Firman dengan emas kawin tersebut dibayar tunai."
"Bagaimana Saksi?"
Sah!
Sah!
Sah!
"Alhamdulillah, selamat untuk kalian berdua semoga pernikahannya Sakinah Mawaddah Wa rahmah," ucap Pak Ustad sambil membaca doa pernikahan untuk kedua mempelai.
"Amin amin ya robbal'alamin."
Zhafira langsung mencium tangannya Bryan setelah dipasangkan cincin dijarinya. Bryan mencium keningnya Zhafira sebagai selesainya prosesi pernikahan dadakan ini.
Tepat setelah selesai akad nikahnya, mobil yang mengantar makanan itu datang.
"Assalamualaikum, saya ingin mengantarkan nasi box atas nama, Tuan Bagas," ucap Karyawan itu.
"Walaikumsalam, saya Bagas. Silahkan semua bawa masuk ke sini, Mas!" perintah Bagas dengan sopan.
Zhafira masih mencerna emas kawin yang diberikan Bryan kenapa sangat banyak sekali. Apa dia nggak salah itu ya. Sudahlah nanti saja kalau sudah sampai rumah, aku tanyakan kepadanya.
Bryan yang mengerti kebingungan Fira, ia berucap, "Nggak usah terlalu dipikir. Itu semua memang pantas kamu dapatkan" ucap Bryan sambil mengusap kepalanya Fira dengan pelan.
Bagas memberikan satu per satu nasi box untuk jamaah yang masih tinggal di Masjid itu. Mereka sangat mengucapkan syukur telah mendapatkan nasi selamatan pernikahannya Byan dan Fira.
"Mohon maaf, Pak Ustad. Kalau saya boleh tau berapa anggarannya untuk membuat kanopi depan masjid, Pak Ustad?" tanya Bryan dengan sopan.
Pak Ustad yang ditanya begitu, ia menoleh ke bendara yang tadi sudah memaparkan rincian yang dibutuhkan untuk pembangunan kanopi di depan masjid.
"Maaf, Nak Bryan. Kami tadi sudah membuat rinciannya, kemungkinan kurang lebihnya itu membutuhkan dana lima puluh juta rupiah, Nak. Itu saja tenaganya belum kami masukan ke dalam rinciannya," jawab bendara masjid itu.
Bryan mengangguk paham sambil menikmati makan malam keduanya. Sebelum berjalan ke arah pulang tadi Bryan dan Bagas juga sudah makan malam.
"Boleh saya menyumbangkan sedikit rezeki saya untuk pembangunan kanopi ini, Bapak-bapak?" tanya Bryan dengan merendah.
"Alhamdulillah... terima kasih sebelumnya, Nak Bryan, tentu saja boleh, Nak Bryan," jawab serempak semua orang.
Bapak Bendahara itu maju berjalan, lalu duduk di depannya Bryan untuk menyerahkan nomor rekeningnya masjid. Nomor rekening itu disiapkan khusus untuk para donatur yang ingin menyumbangkan rezekinya bisa langsung ke nomor rekening masjid.
Bryan mengambil hapenya, lalu membuka M-banking salah satu bank terbesar di Indonesia.
"Alhamdulillah sudah saya tranfer ya, Pak. Tolong dicek, Pak! Maaf hanya bisa berikan sedikit!" seru Bryan setelah berhasil mengirimkan uangnya.
Bapak yang menjadi bendahara itu, langsung membuka hapenya yang dipegangnya. "Masya Allah banyak sekali, Nak Bryan!" teriak orang itu shock melihat tranferan yang ditranfer oleh Bryan.
Bryan tersenyum, lalu menjawab ucapan Bapaknya. "Alhamdulillah mumpung ada rezeki, Pak. Kalau begitu kami pamit dulu ya, Pak. Untuk nasi yang sisa, tolong bagikan ke siapa saja ya, Pak. Assalamualaikum."
"Walaikumsalam, Nak Bryan, Nak Fira sekali lagi menjadi keluarga Sakinah Mawaddah wa rahmah. Terima kasih Nak Bagas."
Mereka bertiga keluar dari dalam masjid, "Selamat untuk kalian berdua ya. Kadonya nyusul hehehehe! Siapa suruh nikah dadakan!" seru Bagas dengan cengengesan menggoda dua orang yang baru saja resmi sah menjadi suami istri, meskipun nikah siri.
Bryan langsung berjalan menuju mobilnya, sama sekali tak menghiraukan ucapan asisten sekaligus sahabatnya itu. Meskipun sebenarnya Bagas lebih tua tiga tahun darinya. Mobil Bryan pun segera melaju meninggalkan halaman masjid, berjalan perlahan menuju apartemennya.
"Ayo turun!" ajak Bryan kepada Fira yang sedang melamun. Entah apa yang sedang ia pikirkan.
Fira membuka pintu sampingnya dan turun dari mobil. Sementara Bryan menurunkan dua koper milik Fira.
"Pak..!" panggil Bryan kepada Satpam apartemen yang di tempatinya.
Dua satpam itu menghampiri Bryan. "Maaf, Tuan Bryan ada yang bisa kami bantu?" tanyanya dengan sopan.
Bryan mengangguk, lalu mengenalkan Fira sebagai istrinya. "Perkenalkan beliau istri saya, namanya Fira. Mulai malam ini beliau juga akan tinggal bersama saya, di apartemen saya. Dan tolong bawakan koper ini ke apartemen saya ya, Pak. Ini untuk kalian berdua!" seru Bryan memberikan sedikit bonus buat dua satpam itu.
"Ayo, Fir. Kita ke apartemenku. Di lantai dua puluh ya!" ajak Bryan. Ia membantu mengangkat baju pengatin milik Fira.
Bryan memencet angka dua puluh untuk menuju ke apartemennya yang selama kuliah ia tinggali sendiri. Sampainya di lantai dua puluh, pintu lift terbuka dengan sendirinya.
"Ayo kita keluar, lantai ini hanya ada tiga kamar. Satu punyaku, punya Bagas dan satu lagi punya Kakak sepupuku. Dia nggak tinggal di sini, kamarnya hanya digunakan saat dia dan keluarganya liburan ke Bandung. Ini apartemenku, sandi pintu aku ganti tanggal pernikahan kita," ujar Bryan menjelaskan semua yang berada di lantai dua puluh.
Bryan sudah mengganti sandi dengan tanggal pernikahan mereka. "Ayo masuk, selamat datang di tempat tinggalmu yang baru," seru Bryan dengan tersenyum dalam hatinya, dia bangga bisa menikahi gadis yang menjadi incaran semua teman-teman cowoknya di kampus.
"Sebentar nunggu Pak Satpam datang membawa kopermu dan mandilah. Kamar mandinya pintu yang tengah. Sebelah kirinya tempat menyimpan baju. Nanti aku bereskan dulu lemarinya buat menyimpan bajumu!" seru Bryan menjelaskan semua yang ada di dalam apartemennya.
Fira hanya menganggukan kepalanya. Bel pintu ditekan dari luar, Bryan membuka pintu dan membawa dua koper milik Fira masuk ke dalam kamarnya.
"Mandilah dulu, aku akan pergi ke ruang kerjaku di pintu sebelah kanan. Kalau sudah selesai panggil aku ya," ucap Bryan sambil berjalan ke arah ruang kerjanya.
Tiga puluh menit kemudian, Fira sudah keluar dari kamar mandi. Sudah berpakaian baju tidurnya, rambutnya di gulung menggunakan handuk kecil. Bryan yang sudah selesai mengerjakan kerjaannya, ia keluar dari ruang kerjanya.
"Malam-malam kok keramas nanti masuk angin. Aku nggak ada pengering rambut!" seru Bryan di belakangnya.
"Nggak apa-apa, Mas...boleh aku panggil, Mas?" tanya Fira menatap wajahnya Bryan. Ia sebenarnya masih tak percaya dalam satu malam dirinya sudah berubah jadi istri orang.
Deg...deg...deg! Jantung Bryan berdebar dengan kencang saat gadis yang disukainya dalam diam itu memanggilnya dengan panggilan MAS. Dalam hatinya ia tertawa, dasar kampungan banget sih hati ini, baru di panggil Mas saja sudah baperan.
Bryan menganggukan kepalanya. "Silahkan saja, panggil senyamannya kamu saja. Aku mandi dulu."
Setelah mengucapkan itu Bryan pun masuk kamar mandi untuk mandi. Sebenarnya sejak tadi tubuhnya sudah tak nyaman. Padahal seharusnya setelah pulang dari bertemu, ia pulang ke apartemen. Tapi pulang-pulang malah membawa teman tidur, hehehehe.
Sementara Fira duduk di pinggir ranjang sambil mengeringkan rambutnya. Dalam hatinya apakah Bryan akan meminta haknya sebagai suami tapi kalau menolak takutnya dosa.
Dua puluh menit kemudian Bryan keluar dengan menggunakan handuk di pinggangnya, tubuhnya yang atas dibiarkan telanjang begitu saja.
Fira yang melihat itu langsung menundukkan kepalanya, wajahnya berubah semu merah, jantungnya berdebar dengan cepat. Ini pengalaman pertamanya melihat seorang laki-laki telanjang dada begitu.
Bryan yang berhasil menggoda Fira, ia berlalu ke ruang ganti dengan tersenyum bangga. Tanpa menunggu lama Bryan kaget melihat wajah cantiknya Fira yang tak memakai kerudung.
"Cantik!" serunya tanpa sadar.
Fira yang mendengar ucapan Bryan seketika menunduk malu.