NovelToon NovelToon
Kali Ini Aku Memilih Menikahi Adikmu

Kali Ini Aku Memilih Menikahi Adikmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / CEO
Popularitas:16.8k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Setelah mengorbankan keluarga kandung, masa muda, dan hidupku demi menjadikan suamiku pewaris Mahendra Group, Sebastian justru memfitnah putra kami, membiarkan menantu dan cucuku meninggal, lalu mendorongku hingga tewas.

Saat kembali membuka mata, aku kembali ke hari Sebastian melamar ku.

Jika dulu aku memilih Sebastian Mahendra...
maka di kehidupan ini, aku akan menikahi adiknya, Stefanus Mahendra.

Aku tidak akan menikahi pria yang menghancurkan hidupku.

Aku akan memilih pria yang ternyata diam-diam mencintaiku sejak awal.

Namun, mengubah takdir ternyata tidak semudah mengganti calon suami.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

32. Mengambil Beban

"Aku menawarkan posisi Direktur Utama Divisi Logistik Mahendra Group kepadamu hari ini."

Suara Sebastian bergema di Ruang Rapat Utama Mahendra Tower. Ia duduk santai di kursi kulit kebesarannya di ujung meja mahoni panjang. Senyum tipis penuh percaya diri menghiasi wajahnya. Jari telunjuknya mengetuk meja perlahan, seolah sengaja membangun tekanan.

Stefanus duduk tegak di seberangnya. Puluhan anggota dewan direksi memandangnya dengan tatapan meremehkan. Ruang rapat di lantai lima puluh itu terasa dingin. Aroma kopi hitam dan parfum mahal memenuhi udara.

Fitnah pelecehan seksual yang disusun Sebastian runtuh sehari sebelumnya berkat Maya dan Daniel. Opini publik berbalik menghantam Mahendra Group. Sebastian pun segera mengganti strategi. Kali ini, ia memilih menjebak adiknya lewat permainan korporat di hadapan para pemegang saham.

"Divisi itu merugi tiga ratus miliar rupiah pada kuartal ini," lanjut Sebastian tenang sambil memutar pena emas di jarinya. "Ratusan truk tertahan di pelabuhan, rute distribusi berantakan, dan ribuan vendor menuntut pembayaran."

Stefanus menatap lurus ke mata kakaknya. Wajahnya tetap tenang. Ia sudah menduga langkah ini.

"Kalau begitu, kenapa divisi itu justru ditawarkan kepadaku?" tanyanya datar. Tatapan permusuhan dari para direktur sama sekali tidak menggoyahkan dirinya.

Bambang Wirawan mendengus dari kursi di sebelah Sebastian. Ia menyilangkan tangan di depan dada.

"Setelah skandal kemarin, publik menuntut wajah baru," katanya ketus. "Pak Sebastian memberimu kesempatan membuktikan kemampuanmu. Tentu saja, kalau memang kamu punya kemampuan selain bersembunyi."

Beberapa direktur langsung terkekeh. Mereka menikmati penghinaan itu. Selama bertahun-tahun, Stefanus hanya dianggap bayang-bayang keluarga Mahendra. Seseorang yang hidup di bawah nama besar keluarganya.

Sebastian mengangkat satu tangan. Tawa di ruangan itu langsung lenyap. Tak seorang pun berani mengabaikan isyaratnya.

"Kamu tetap anggota keluarga Mahendra, Stefan," katanya sambil berdiri. Ia berjalan perlahan mengitari meja. "Aku memberimu kesempatan menjadi pahlawan. Selamatkan divisi itu dari kebangkrutan."

Ia berhenti tepat di belakang kursi Stefanus, lalu membungkuk hingga bibirnya nyaris sejajar dengan telinga sang adik.

"Tapi ada syaratnya."

Suaranya berubah pelan.

"Kamu punya waktu tiga bulan. Benahi seluruh sistem logistik. Kalau divisi itu tetap gagal mencetak laba bersih di akhir kuartal, kamu harus menanggung semua akibatnya."

Stefanus menoleh sedikit.

"Menanggung dengan apa?"

Senyum Sebastian semakin lebar.

"Serahkan seluruh sisa saham warisan kakek kepadaku. Tanda tangani akta pelepasan hak waris, lalu keluar dari perusahaan ini untuk selamanya."

Ruangan langsung sunyi. Para direktur saling berpandangan, tetapi tak ada yang bersuara. Semua tahu ini bukan tawaran jabatan.

Divisi Logistik sudah nyaris lumpuh akibat korupsi internal dan sistem distribusi yang kacau. Data pengiriman dimanipulasi, operasional berantakan, dan kerugian terus membengkak. Mustahil membalikkan keadaan dalam waktu sembilan puluh hari.

Saham warisan kakek adalah benteng terakhir yang dimiliki Stefanus. Sebagian hak akses daruratnya sudah ia gunakan untuk menyelamatkan pabrik tekstil milik ayah Shaquena beberapa waktu lalu. Kini Sebastian mengincar sisa saham itu agar Stefanus kehilangan pijakan sepenuhnya.

Stefanus memejamkan mata sejenak. Ingatannya kembali ke pagi tadi, sebelum berangkat ke Mahendra Tower.

Shaquena berdiri di depan pintu apartemen dengan pakaian rumahan sederhana. Tangannya merapikan kerah kemeja dan dasi Stefanus. Sentuhan lembut itu terasa hangat di lehernya. Aroma sabun mandi dan teh kamomil yang samar membuat hati Stefanus jauh lebih tenang.

Tatapan Shaquena begitu teduh. Tidak ada sedikit pun kepanikan di wajah perempuan yang dulu terbiasa mengelola bisnis bernilai triliunan rupiah itu.

"Sebastian pasti sudah menyiapkan jebakan baru hari ini," bisiknya saat itu sambil menepuk pelan dada Stefanus. "Dia akan memberimu racun yang dibungkus emas. Apa pun yang dia tawarkan di ruang rapat nanti, jangan pernah menunduk. Jangan pernah memperlihatkan kelemahan."

Stefanus membalas tatapan istrinya dengan anggukan mantap.

"Aku akan menerima apa pun yang dia lemparkan kepadaku."

"Kita akan membangun semuanya dari bawah," lanjut Shaquena lembut. "Kalau dia memberimu divisi yang hancur, kita akan mengubahnya menjadi senjata untuk menyerang jantung perusahaannya."

Kenangan itu membuat napas Stefanus kembali tenang. Ruang rapat yang dingin tak lagi terasa menyesakkan. Ia tidak lagi sendirian di tengah lautan musuh. Ada seorang ahli strategi yang menunggunya pulang di apartemen kecil mereka.

Stefanus membuka mata. Tatapannya kembali tertuju pada Sebastian yang masih berdiri angkuh di sampingnya.

"Tiga ratus miliar dalam tiga bulan," ulang Stefanus pelan. Suaranya terdengar jelas di tengah keheningan ruangan.

"Kenapa?" Sebastian tertawa sinis. "Nyali anak haram sepertimu sudah ciut sebelum mencoba? Kalau takut, tolak saja tantangan ini. Berdiri, keluar dari gedung ini, lalu bawa pulang rasa malumu. Biar semua orang di ruangan ini melihat sendiri betapa pengecutnya dirimu."

Stefanus sama sekali tidak menanggapi hinaan itu. Pikirannya justru bergerak cepat, menyusun kembali setiap informasi dari analisis Daniel sehari sebelumnya.

"Divisi itu hancur bukan karena kekurangan dana," kata Stefanus tenang sambil mengetukkan telunjuknya di meja mahoni. "Jaringan distribusinya masih memakai sistem lama. Pemantauan waktu nyatanya nyaris tidak berfungsi. Sopir truk bebas memanipulasi rute dan penggunaan bahan bakar karena tidak ada pelacakan digital yang benar-benar akurat."

Bambang Wirawan langsung menatapnya tajam. Ia tidak menyangka Stefanus mengetahui kelemahan operasional perusahaan sedetail itu.

Sebastian mendengus. Ia kembali ke kursi kebesarannya di ujung meja. Langkahnya terdengar berat. Kekesalan mulai terlihat karena Stefanus sama sekali tidak menunjukkan kepanikan.

"Teori memang selalu terdengar indah bagi orang yang belum pernah memimpin perusahaan," sindir Sebastian. Ia membuka laci mejanya dengan kasar.

Sebuah map kulit berlogo Mahendra Group meluncur di atas meja dan berhenti tepat di depan Stefanus.

"Berhenti mendongeng. Tanda tangani kontrak itu." Sebastian menunjuk map tersebut. "Atau pulang saja dan terus bersembunyi di belakang istrimu."

Jari Stefanus menyentuh tepi map itu. Ia paham betul risiko yang ada di baliknya. Jika gagal memenuhi target laba, ia akan kehilangan sisa saham warisan kakeknya. Itu berarti ia tak lagi memiliki benteng terakhir untuk melindungi Shaquena dari keluarga Mahendra.

Namun, menolak tantangan ini juga bukan pilihan. Sebastian akan terus menyerangnya dari luar tanpa henti. Sebaliknya, jika mengambil alih Divisi Logistik, Stefanus mendapat jalan masuk ke jantung perusahaan. Dari sanalah ia bisa melihat sendiri seluruh kebusukan dan aliran dana gelap yang selama ini disembunyikan kakaknya.

Stefanus mengeluarkan pena perak dari saku dalam jasnya. Jas abu-abu yang semalam terkena noda kecap itu kini sudah kembali bersih. Ia menatap ujung pena itu beberapa saat.

Sistem distribusi yang sudah membusuk dari dalam tidak bisa diperbaiki sembarang orang, pikir Stefanus. Daniel memang ahli mengolah data keuangan, tetapi mereka masih membutuhkan seseorang yang benar-benar paham membangun sistem jaringan. Seseorang yang mampu membongkar dan menyusun ulang sistem distribusi dalam waktu singkat.

Stefanus teringat ucapan Shaquena saat sarapan dua hari lalu. Seorang programmer muda bernama Rudi. Sistem logistik buatannya pernah dicuri mentah-mentah oleh asisten dosennya. Mereka harus menemukan pemuda itu sebelum orang lain lebih dulu melihat potensinya. Begitu rapat ini selesai, itulah tujuan pertama mereka.

Stefanus menarik napas panjang. Ia membuka halaman terakhir kontrak itu. Matanya menyapu cepat setiap klausul yang sengaja disusun untuk membatasi langkahnya.

Bambang Wirawan ikut mencondongkan tubuh. Raut wajahnya berpura-pura prihatin.

"Anda yakin ingin mengambil beban ini, Tuan Muda?" tanyanya sinis. "Divisi itu merugi dua miliar rupiah setiap hari. Menandatangani kontrak itu sama saja dengan menandatangani surat utang tanpa akhir."

"Saya sangat yakin," jawab Stefanus mantap.

Tanpa ragu, ia menempelkan ujung pena di atas materai. Tinta hitam mengalir membentuk tanda tangannya.

Ruangan langsung sunyi.

Para direktur saling berpandangan dengan mata membelalak. Mereka mengira Stefanus akan menolak, memohon keringanan, atau setidaknya meminta tambahan waktu. Tidak ada yang menyangka ia menerima tantangan itu tanpa berpikir dua kali.

Sebastian sempat mengangkat sebelah alis. Keterkejutannya hanya sesaat. Senyum puas kembali menghiasi wajahnya. Dalam benaknya, jebakan itu akhirnya termakan.

"Keputusan paling bodoh yang pernah kamu buat, Stefan," ejeknya sambil tertawa. "Kamu baru saja menyerahkan lehermu sendiri ke tiang gantungan yang kubangun."

Stefanus menutup map itu perlahan, lalu mendorongnya ke tengah meja agar diambil sekretaris perusahaan. Setelah itu, ia berdiri. Punggungnya tegak, tatapannya lurus menghadapi puluhan pasang mata yang menunggunya jatuh.

"Yang akan tercekik oleh tiang gantungan itu bukan aku," ucap Stefanus datar.

1
Rini Hasmira
kok bs keren bgini sich thor
yula
💪💪💪💪💪thor
Anita Rahayu
jgn biarkan thor😡😡😡😡😡😤😤😤😤😤😤😤
gaby
Shaquena sok pahlawan sih. Sok jd donatur anonim, akhirnya uangnya terbuang sia2 oleh pengkhianatan Daniel. Mengulang wkt tp ko tetep bodo, tetep kalah. Kampret lah
gaby
Kayanya Sebastian jg mengulang wkt y?? Ko dia slalu tau pergerakan Quena
gaby
Trus wkt Quena ke kampus Daniel buat apa?? Ko bukannya menjalin kerjasma malah jd penonton kehancuran Daniel doang
gaby
Ko mendiang istri sih?? kan helena istri Stevanus & msh hidup
gaby
Oalah ini flasback sblm mengulang wkt. Coba di sisipin kalimat Flasback, biar ga gagal paham
gaby
Ko suaminya sih?? Bukannya shaquenq mengulang wkt, harusnya blm nikah dong. Ko Saquena di panggil nyonya mahendra?? Jujur aq bingung sm alurnya
Juriah Rahmat
lanjuut thor
Juriah Rahmat
kerreenn
Juriah Rahmat
lanjuuut thor gk pake lama yg b
nyaaaakk jg yaaa/Grin/
Santi Seminar
kalo cuma reinkarnasi sebelum menikah dgn Bastian sih gak adil ya rasanya
INeeTha: ka aku gagal paham, gimana maksudnya "ngga adil" coba tolong Kaka kasih aku penjelasan, kali aja aku dapet insight lain. 🙏🙏🙏
total 1 replies
R_Bell
💪💪💪
watno antonio
lanjut thor
Carisoy
Baca nti ajh tunggu kalau sudah selesai revisi deh👍
DdCantik
Emang bisaan bikin cerita seru, jadi si shqena paling udah gila, mantaplah ayok lanjut
DdCantik
Semangat 💪💪💪💪
Fahreziy
👣👣👣
falea sezi
jd saquena uda gila kali q 😓
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!