Siapa sangka Bayang, sosok misterius yang kerap membantu polisi membongkar jaringan narkoba pelabuhan, hanyalah gadis berusia delapan belas tahun bernama Alya Maheswari. Setelah dibangkitkan kembali ke masa lalu sebelum kematian tragis di tangan keluarga kandungnya, Alya menerima jemputan keluarga Wiratama yang membuangnya sejak bayi.
Dengan dendam tersembunyi dan kecerdasan di atas rata-rata, ia menghadapi ibu tiri licik penuh intrik, adik tiri bermuka dua, serta tunangan bisnis yang kejam dan tidak setia. Bersama Rafi sang pengawal setia, Alya menyusun langkah demi langkah balas dendam. Tidak ada lagi gadis desa yang lemah tertindas — kali ini, semua orang yang pernah mengkhianatinya akan membayar mahal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32
Bab 32
Eyang Laras dibawa ke rumah sakit sebelum tengah malam. Arman ikut di ambulans, wajahnya kaku, tangannya tidak berhenti memeriksa monitor kecil yang dipasang petugas.
Alya duduk di mobil belakang bersama Rafi. Raka menyetir mobil lain membawa Baskara dan Dinda. Tidak ada yang menangis keras. Di keluarga yang terlalu lama menelan kesalahan, duka datang seperti batu besar di dada, menekan napas sampai orang lupa cara bersuara.
"Dia masih hidup," kata Rafi.
Alya menatap kaca jendela. "Masih."
"Arman cepat. Itu membantu."
"Aku tahu."
Rafi tidak memaksa bicara lagi.
Di rumah sakit, Eyang langsung masuk ruang tindakan. Arman berganti jas dokter dan menghilang di balik pintu. Alya berdiri di depan ruang tunggu, masih memegang kantong plastik berisi gantungan kamelia merah dan ponsel kurir.
Komisaris Ardi datang setengah jam kemudian dengan dua penyidik.
"Kami amankan rumah Bu Laras," katanya. "Kurir itu belum ditemukan. Kamera jalan belakang mati sepuluh menit sebelum kejadian."
"Tentu saja mati," ucap Raka pahit.
Ardi melihat kantong bukti di tangan Alya. "Boleh?"
Alya menyerahkannya. "Pesan terakhir di ponsel itu masih ada. Nomornya mungkin kosong sekarang."
"Tetap bisa dilacak jalur kartunya."
Rafi menambahkan, "SIM card baru dipakai tiga jam. Tapi ponsel itu pernah terhubung ke Wi-Fi sebuah gudang di Cakung dua minggu lalu."
Ardi menatapnya. "Kamu sudah cek?"
"Ponsel itu tidak terkunci."
"Itu jawaban yang sangat sopan untuk pekerjaan yang sangat cepat."
Rafi tidak tersenyum.
Dinda berdiri agak jauh. Ia tidak berani duduk. Begitu Maya disebut oleh penyidik, ia langsung menunduk.
Alya mendekatinya.
"Apa lagi yang kamu tahu soal gantungan itu?"
Dinda menelan ludah. "Mama punya satu. Bukan gantungan kunci, lebih seperti tanda anggota. Dia simpan di kotak perhiasan, di bawah bros emas."
"Kenapa baru bilang sekarang?"
"Aku takut."
"Kamu selalu takut setelah semuanya terjadi."
Dinda mengangkat wajah. Matanya basah. "Aku tahu. Kamu tidak perlu mengingatkan."
Alya menahan kalimat berikutnya. Ia ingin menusuk, tetapi hari ini terlalu banyak darah yang tidak terlihat.
"Kalau kamu ingin Eyang selamat," kata Alya, "berhenti memilih bagian mana yang kamu sembunyikan."
Dinda mengangguk cepat. "Aku pernah dengar nama Jaka."
Rafi, yang berdiri beberapa langkah di belakang, langsung menoleh.
"Jaka siapa?" tanya Alya.
"Jaka Pratama. Mama pernah bilang dia orang yang mengambil barang dari rumah kami saat Papa pergi ke luar kota. Dia bukan sopir, bukan pegawai. Waktu aku tanya, Mama bilang jangan pernah bicara dengan orang yang senyumnya terlalu rapi."
Raka mendekat. "Kapan terakhir kamu dengar nama itu?"
"Malam sebelum Mama kabur. Dia bilang kalau Bayang ikut campur, Jaka akan membersihkan semuanya."
Nama Bayang membuat Alya merasa ruangan mengecil.
Ardi mencatat. "Jaka Pratama. Kami akan cari."
Rafi berkata, "Jangan pakai jalur terbuka dulu. Kalau dia orang Fajar, nama itu bisa jadi pintu jebakan."
Ardi menatapnya lama. "Saya polisi, Rafael."
"Saya tahu."
"Dan saya tahu kamu punya jalur sendiri. Jangan membuat bukti jadi tidak sah."
Alya masuk di antara mereka. "Yang penting Eyang dulu."
Seolah mendengar namanya, pintu ruang tindakan terbuka. Arman keluar. Maskernya turun di dagu. Wajahnya lebih pucat daripada saat datang.
"Dia stabil sementara," katanya.
Baskara hampir jatuh duduk karena lega.
"Keracunan sedatif dosis tinggi," lanjut Arman. "Ada campuran obat yang biasa dipakai untuk pasien saraf berat. Kalau terlambat sedikit, napasnya berhenti."
Alya memejamkan mata.
"Dia sadar?" tanya Raka.
"Belum. Kami pindahkan ke ICU."
"Bisa bicara nanti?"
Arman diam sejenak. "Kalau otaknya tidak kekurangan oksigen terlalu lama."
Baskara menutup wajah dengan kedua tangan.
Dinda menangis tanpa suara.
Alya berdiri lurus. Ia tidak sanggup duduk. Kalau duduk, mungkin seluruh tubuhnya baru sadar bahwa ia hampir kehilangan satu-satunya orang yang menyambutnya tanpa syarat.
Arman memandangnya. Nada suaranya berubah, lebih rendah.
"Alya, aku butuh daftar semua obat yang ditemukan di rumah Eyang."
"Ada di polisi."
"Aku juga butuh tahu siapa yang tahu Eyang sering minum teh melati sebelum tidur."
Raka menjawab, "Seisi keluarga."
Dinda berkata lirih, "Dan Mama."
Alya menatapnya.
"Dulu Eyang sering kirim teh itu ke rumah kami," kata Dinda. "Mama selalu mengejek, bilang teh orang tua. Tapi dia tahu."
Ardi menerima panggilan di koridor. Setelah beberapa detik, wajahnya berubah.
"Rumah Maya kosong," katanya. "Ada tanda pembongkaran paksa di gudang belakang. Kami menemukan noda darah dan sisa tali plastik."
"Maya masih diculik?" tanya Raka.
"Atau dipindahkan."
Rafi membuka ponselnya. "Nira masih di sekitar rumah Santoso. Aku minta dia mundur."
"Kenapa?" tanya Alya.
"Karena kalau mereka berani menyerang Eyang, mereka tahu kita sudah dekat. Orang yang menyamar di dalam rumah Santoso bisa jadi target berikutnya."
Alya mengangguk.
Namun beberapa menit kemudian, Nira mengirim pesan suara. Rafi memutarnya pelan, cukup untuk Alya dan Raka mendengar.
"Mas, saya tidak bisa keluar lewat pintu depan. Sari turun ke dapur bawa tas obat. Ada laki-laki datang, dipanggil Pak Jaka oleh penjaga. Dia bilang besok pagi keluarga Wiratama akan sibuk mengurus pemakaman."
Alya meremas ujung kursi.
"Nira," suara Rafi di pesan balasan terdengar tegas, "keluar sekarang."
Tidak ada jawaban.
Lalu pesan kedua masuk, hanya berupa foto buram dari celah pintu. Seorang pria berjas abu-abu berdiri di dekat meja makan. Wajahnya tampan, tenang, dengan senyum yang memang terlalu rapi.
Di tangannya, ia memegang kotak kecil berlogo rumah sakit.
Arman melihat foto itu dan langsung berkata, "Itu segel gudang obat saya."
"Maksudnya?" tanya Alya.
"Kotak itu hanya keluar dengan otorisasi dokter."
Rafi memperbesar foto. Di belakang Jaka, ada bayangan kursi roda.
Alya melihat jari tua mencengkeram sandaran kursi.
Fajar.
Satu pesan teks muncul dari nomor Nira.
Maaf, Mas. Saya ketahuan.
Rafi tidak bicara. Tapi Alya melihat perubahan kecil di wajahnya. Dingin yang biasanya rapi menjadi sesuatu yang lebih tajam.
"Aku ke sana," katanya.
"Aku ikut," kata Alya.
"Tidak."
Alya menatapnya. "Mereka menyerang Eyang. Mereka menculik orangmu. Mereka membawa obat dari rumah sakit tempat kakakku bekerja. Jangan suruh aku berdiri di koridor."
Raka berkata, "Aku juga ikut."
Arman melepas jas dokter. "Aku butuh kembali ke gudang obat. Kalau Jaka membawa kotak asli, ada orang rumah sakit yang membukakan akses."
Baskara berdiri perlahan. "Aku akan tinggal dengan Ibu."
Untuk pertama kali malam itu, ia menatap Alya tanpa keraguan.
"Bawa mereka jatuh," katanya.
Dinda mendekat. "Aku tahu jalur samping rumah Santoso. Waktu kecil, Kevin pernah mengajakku masuk lewat pintu belakang kolam."
Raka langsung menolak. "Kamu tidak ikut."
"Aku tidak minta izin."
Alya melihat wajah Dinda. Di sana ada takut, tetapi juga sesuatu yang mirip keputusan.
"Kalau kamu bohong," kata Alya, "aku tidak akan melindungimu."
"Aku tahu."
Rafi menatap mereka satu per satu, lalu mengambil kunci mobil.
"Kita tidak masuk untuk perang," katanya. "Kita masuk untuk menarik Nira keluar dan mengambil bukti. Kalau Fajar terlihat, jangan sentuh dia tanpa polisi."
Ardi yang dari tadi mendengar memberi tatapan keras. "Saya kirim tim dari belakang. Jangan membuat saya menulis laporan bahwa kalian mengacaukan operasi."
Rafi menjawab, "Tulis saja kami tersesat."
Untuk pertama kalinya malam itu, Raka hampir tertawa. Hampir.
Alya menatap pintu ICU sebelum pergi. Di balik kaca buram, Eyang Laras berbaring dengan selang oksigen dan mesin yang menjaga napasnya.
"Tunggu aku, Eyang," bisiknya.
Lalu ia berbalik.
Malam belum selesai.
sekarang malah jadi Rafi yang berubah jadi "bayang"🤔