NovelToon NovelToon
Pantaskah Aku Mencintai Seorang Polisi?

Pantaskah Aku Mencintai Seorang Polisi?

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Terlarang / Kriminal dan Bidadari
Popularitas:357
Nilai: 5
Nama Author: kikyoooo

"Aku membiarkan diriku ditangkap oleh hukum, hanya agar aku bisa tetap berada di dalam duniamu."

....

Herry adalah kapten tim elit kepolisian Seoul yang dingin, kaku, dan menganggap dunia hanya sebatas hitam dan putih. Baginya, Marysa ratu mafia termuda yang kejam hanyalah target besar yang harus dia seret ke balik jeruji besi.

Namun, di balik borgol dan dinding penjara yang dingin, sebuah rahasia berdarah lima tahun lalu di Pelabuhan Incheon terkunci rapat. Marysa mengingat semuanya termasuk bagaimana dia mengorbankan segalanya demi menyelamatkan nyawa Herry. Sementara Herry? Amnesia pascatrauma menghapus seluruh eksistensi Marysa dari kepalanya, menyisakan tatapan asing yang penuh kebencian.

Di saat Marysa rela menerima semua siksaan penjara asalkan bisa berada di bawah langit yang sama dengan Herry, sebuah kabar menghantamnya tanpa ampun, Herry akan bertunangan dengan wanita lain.

...

apa yang difikirkan Marysa? Kabur? atau memilih dieksekusi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20 Ditinju Lonte

.........

...Cerita ini Hanyalah Fiksi belaka....

...Tidak untuk ditiru....

.........

...Happy Reading...

.........

Malam beranjak semakin larut, membawa kepekatan yang lebih gerah di sudut kampung pojokan kota itu. Di atas tikar pandan yang sudah mulai lembap oleh uap tanah, botol-botol plastik berisi ciu berjejer lebih banyak daripada malam sebelumnya. Doni dan Jono tampaknya sengaja patungan untuk membeli stok alkohol eceran lebih melimpah, seolah ingin merayakan kehadiran pasangan masing-masing dengan kegilaan yang lebih total.

Aroma kuah kaldu yang gurih mendadak menusuk di antara sengatan bau ciu yang asam. Kebetulan sebuah gerobak bakso malang keliling lewat di depan gang dengan bunyi ketukan mangkok yang khas ting, ting, ting. Rangga, dengan suara medoknya yang lantang, langsung memanggil abang penjualnya untuk merapat ke dekat pos ronda.

"Ayo, Neng Tania, pesen! Tak panggilin bakso biar perutnya gak kosong pas minum," ujar Rangga.

Saat mangkok-mangkok bakso panas dengan tahu cokelat dan pangsit kering itu disajikan, para pemuda mulai merogoh saku celana mereka, membayar pesanan masing-masing. Rangga dengan cepat mengeluarkan selembar uang pecahan lima puluh ribu rupiah, bermaksud membayari piring milik Tania.

"Nih, Bang. Sekalian punya Eneng yang ini, tak bayarin," kata Rangga penuh inisiatif.

Namun, belum sempat abang bakso menerima uang tersebut, tangan ramping Tania bergerak cepat menaruh selembar uang pas di atas papan gerobak. Matanya yang sipit menatap Rangga datar, sedingin es. "Tidak perlu. Saya bisa bayar sendiri."

Penolakan yang kaku dan lugas itu membuat Rangga menarik kembali tangannya dengan canggung. Wajah rupawan pria jangkung itu mendadak berubah agak muram. Di dalam kepalanya, sebersit rasa bersalah merayap gila-gilaan

Dia mengira Tania sedang merajuk atau marah besar karena sepanjang malam ini dia terkesan mengabaikannya dan membiarkan wanita berambut ikal di sebelahnya terus menempel manja seperti perangko.

Padahal, kenyatannya tidak seperti itu. Tania menolak semata-mata karena dia tidak terbiasa berutang budi pada siapa pun, apalagi untuk sekerat makanan murahan di pinggir jalan.

Wanita berambut ikal yang duduk di sebelah Rangga bernama Anisa sejak tadi tidak melepaskan pandangan sinisnya dari Tania. Efek ciu yang sudah dia tenggak beberapa gelas mulai membakar kewarasannya. Ditambah lagi, dia bisa merasakan dengan jelas bagaimana fokus pikiran Rangga sebenarnya tidak pernah ada padanya, melainkan terus-menerus terlempar pada wanita asing di sudut pos.

Rasa cemburu yang bercampur dengan degradasi alkohol membuat emosi Anisa meledak. Dia berdiri dengan sempoyongan, wajahnya merah padam dan napasnya memburu bau alkohol.

"Eh, perempuan sok kecantikan!" Anisa berteriak, telunjuknya yang gemetar menunjuk tepat ke arah wajah Tania. "Dari tadi belagu banget sih lu! Merasa paling bener? Merasa paling wah di depan cowok-cowok?!"

Tania bahkan tidak berkedip. Dia tetap mengunyah bakso terakhirnya dengan tenang, sebuah ketegasan mental yang justru membuat Anisa semakin meradang seperti banteng ketaton.

Tanpa aba-aba, Anisa melangkah maju dengan brutal. Tangannya menjulur kasar, mencengkeram kuat-kuat rambut cokelat pendek sebahunya Tania, lalu menariknya ke belakang dengan sentakan keras.

Sret!

Tania tersentak kecil, kepalanya terpaksa mendongak akibat tarikan kasar itu. Namun, di luar dugaan semua orang yang ada disini, mantan ratu mafia itu tidak menjerit, tidak menangis, dan tidak membalas. Dia hanya diam, membiarkan tubuhnya menerima perlakuan kasar tersebut. Sepasang mata kelamnya menatap Anisa dengan kekosongan yang amat pekat. Tania bukan takut. Dia hanya sedang menahan diri dengan tingkat disiplin yang luar biasa. Dia tahu, jika dia menggunakan satu saja teknik bela diri klan malamnya, leher wanita berambut ikal ini bisa patah dalam sekali pelintiran, dan itu akan menghancurkan penyamarannya sebagai buronan di negara ini.

Namun, gerakan brutal Anisa yang tidak seimbang membuat kuku panjangnya sempat menggores sudut bibir tipis Tania sebelum tarikan itu terlepas.

"Astaga, Anisa! Gila ya kamu?!" Rangga berteriak panik. Kesadarannya yang setengah mabuk langsung pulih total oleh rasa terkejut. Dengan sentakan kasar, Rangga menarik tubuh Anisa menjauh dari Tania, mendorong wanita ikal itu hingga terduduk kembali di atas tikar.

Rangga berlutut di depan Tania, kedua tangannya gemetar saat melihat setitik darah segar mulai merembes keluar dari sudut bibir pucat Tania, kontras dengan kulit porselennya yang putih. "Neng! Neng Tania, kamu gak apa-apa, toh? Duh, maaf bener... si Anisa beneran udah ngawur!"

Tania menggelengkan kepalanya perlahan saat Rangga mencoba menyentuh wajahnya untuk memeriksa luka tersebut. "Jangan sentuh. Saya tidak apa-apa."

Di sekeliling mereka, suasana mendadak sunyi. Doni, Jono, dan pasangan mereka ternyata sudah tidak peduli lagi dengan keributan itu, mereka semua sudah tepar, mendengkur tak sadarkan diri di atas tikar pandan akibat over dosis. Tak lama kemudian, Anisa yang emosinya terkuras habis oleh alkohol juga ambruk dengan sendirinya, pingsan telentang di samping botol-botol kosong.

Rangga mengembuskan napas frustrasi, menyugar rambutnya dengan kasar. "Sumpah, Neng... aku bener-bener minta maaf. Tempat ini emang kadang liar banget kalau anak-anak udah mabuk."

Tania menyeka noda darah di sudut bibirnya dengan ibu jari tangannya yang ramping, lalu menatap bercak merah itu dengan pandangan kosong. Sebuah tawa hambar yang dingin keluar dari tenggorokannya.

"Sudah saya katakan, tidak masalah," ujar Tania, suaranya terdengar sangat rendah dan beku. Karena atmosfer malam yang sunyi dan pengaruh sedikit alkohol di kepalanya, dia keceplosan mengucapkan kalimat yang seharusnya dia simpan sendiri. "Kekerasan seperti ini... sudah sangat biasa bagi saya. Ini bahkan tidak ada apa-apanya."

Rangga tertegun mendengar kalimat dingin yang meluncur dari bibir Tania. Sudah biasa? Tatapan mata Tania saat mengatakan hal itu tidak mencerminkan ketakutan seorang gadis korban perundungan, melainkan ketegasan seorang veteran yang sudah kenyang melihat darah. Rasa penasaran Rangga berubah menjadi sebuah misteri besar yang semakin mencekam jiwanya.

...

Sementara itu, di belahan bumi bagian utara, fajar belum lagi menyingsing di Seoul, namun kesibukan di pangkalan militer udara Incheon sudah dimulai dalam senyap.

Kapten Herry berdiri di depan cermin besar di dalam ruang ganti pribadinya di markas kepolisian. Pria itu sedang mengancingkan kemeja hitam taktisnya dengan gerakan yang sangat mekanis dan tanpa emosi. Di atas tempat tidur, sebuah koper perak berukuran sedang sudah terbuka, berisi beberapa potong pakaian formal, seragam komando cadangan, dan lencana kepolisian elitnya.

Esok hari, Herry dijadwalkan harus ikut terbang menuju Indonesia untuk melakukan survei lokasi tempat pernikahan yang diminta oleh Jessica. Mengingat status Wakil Komisaris Jenderal Han yang merupakan petinggi negara, perjalanan survei ini tidak menggunakan maskapai komersial, melainkan difasilitasi dengan pesawat pribadi milik militer demi alasan keamanan VIP tingkat tinggi.

Namun, bagi Herry, persiapan barang dan pakaian ini terasa seperti mempersiapkan perlengkapan untuk menuju medan perang, bukan pernikahan. Pikirannya benar-benar terpecah. Di satu sisi, ego profesionalnya menuntutnya mendampingi sang tunangan, di sisi lain, laporan intelijen tentang pelarian laut Marysa yang mengarah ke Asia Tenggara terus berputar-putar di kepalanya seperti roda gila.

Herry mengambil sebuah kotak beludru kecil berisi cincin pertunangan mereka dari dalam laci, menatapnya sesaat dengan tatapan mata yang sedingin es, sebelum akhirnya melemparkannya secara kasar ke dalam koper.

"Jakarta..." desis Herry, suaranya memotong keheningan ruangan dengan ketajaman yang mencekam.

Ada getaran emosi gelap yang tertahan di dadanya. Dia tahu, keberangkatannya ke tanah selatan ini mungkin adalah jebakan takdir yang akan menyeretnya masuk lebih dalam ke dalam labirin yang ditinggalkan oleh sang ratu mafia.

Sambil menutup ritsleting kopernya dengan satu sentakan kuat, Herry memantapkan hatinya, dia tidak akan membiarkan keraguan menghalangi langkahnya untuk mencari kebenaran di balik hilangnya Marysa.

...

Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan like nya 😇

1
falea sezi
sebel liat kapten sok ganteng gk tau diri😒
falea sezi
moga aja ma rangga aja
falea sezi
gantengnya mas rangga🤣 ma rangga aja lahh biar miskin bukan tunangan orang yg gk tau Terima kasih😒
falea sezi
lanjut donk bkin si neng di taksir cogan 😒 sebel liat polisi sok cakep uda nikah aja ma anak komandan mu itu🤣 abis itu ingatan balik nyesel lu pria g tau diri🤭
falea sezi
nikah aja sana 😒 biar si neng ma cogan di Indonesia aja🤭
falea sezi
😕 nyesek amat sih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!