NovelToon NovelToon
AKU SIBUK BEKERJA SUAMIKU SIBUK MENCINTAI ORANG LAIN

AKU SIBUK BEKERJA SUAMIKU SIBUK MENCINTAI ORANG LAIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Pengkhianatan
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Velin Agustiningtias

Aku pikir bekerja keras demi keluarga adalah bentuk cinta terbesar yang bisa kuberikan.
Setiap hari aku berangkat sebelum matahari terbit dan pulang saat langit telah gelap. Semua kulakukan agar suamiku hidup nyaman dan masa depan keluarga kami terjamin. Aku menahan lelah, mengubur keinginan pribadi, bahkan mengorbankan waktu bersama orang yang paling kucintai.
Namun, pengorbananku ternyata tidak dihargai.
Di saat aku sibuk bekerja dan berjuang untuk kami, suamiku justru sibuk memberikan perhatian, waktu, dan cintanya kepada wanita lain. Pengkhianatan itu menghancurkan kepercayaan yang telah kubangun selama bertahun-tahun.
Yang lebih menyakitkan, wanita itu bukanlah orang asing.
Saat rahasia demi rahasia mulai terungkap, aku dihadapkan pada pilihan sulit: mempertahankan pernikahan yang telah retak atau meninggalkan pria yang pernah menjadi seluruh duniaku.
Mampukah cinta bertahan setelah dikhianati? Atau ada luka yang memang tidak ditakdirkan untuk sembuh?
"Aku Sibuk

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velin Agustiningtias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 17 penyesalan

Malam itu apartemen yang dulu selalu terasa hidup kini terasa asing bagi Adrian.

Begitu membuka pintu, tidak ada aroma masakan yang biasa menyambutnya sepulang kerja. Tidak ada lampu ruang makan yang sengaja dinyalakan Nadia ketika mengetahui dirinya akan pulang larut. Tidak ada suara langkah kaki, tidak ada suara televisi yang menyala pelan, bahkan tidak ada pesan singkat yang menanyakan apakah ia sudah makan atau belum.

Yang ada hanyalah kesunyian.

Kesunyian yang selama ini tidak pernah benar-benar ia rasakan karena Nadia selalu berada di sana.

Adrian berdiri cukup lama di depan pintu sebelum akhirnya masuk lebih dalam. Pandangannya menyapu setiap sudut ruangan yang menyimpan terlalu banyak kenangan. Sofa tempat mereka biasa menonton film bersama. Rak buku yang sebagian besar berisi koleksi milik Nadia. Bingkai foto pernikahan yang kini sudah ia turunkan dan simpan di dalam lemari karena tidak sanggup melihatnya setiap hari.

Semakin lama berada di sana, semakin besar perasaan hampa yang menguasai dirinya.

Belakangan ini Adrian sering terbangun di tengah malam karena secara refleks mencari Nadia di sampingnya.

Lalu beberapa detik kemudian ia teringat bahwa tempat itu sudah kosong.

Bahwa wanita yang selama ini selalu memaafkannya sudah pergi.

Dan bahwa semua itu terjadi karena kesalahannya sendiri.

Tidak ada orang lain yang bisa disalahkan.

Dengan langkah lelah, Adrian berjalan menuju meja ruang makan untuk meletakkan tas kerjanya.

Namun langkahnya tiba-tiba terhenti.

Di atas meja terdapat sebuah kotak kecil berwarna putih yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.

Di sampingnya tergeletak sebuah alat tes kehamilan.

Tespek.

Jantung Adrian langsung berdetak lebih cepat.

Pikirannya seketika dipenuhi berbagai kemungkinan.

Beberapa saat kemudian Bianca keluar dari dapur sambil membawa segelas air hangat. Wajah wanita itu terlihat pucat sejak beberapa hari terakhir, sama seperti saat mual yang sempat dialaminya beberapa waktu lalu.

Ketika melihat arah pandangan Adrian, langkah Bianca ikut terhenti.

Tatapannya langsung jatuh pada tespek yang masih berada di atas meja.

Ruangan mendadak menjadi sunyi.

Tidak ada yang berbicara.

Tidak ada yang bergerak.

Hanya ada dua orang yang berdiri dengan pikiran masing-masing.

Adrian memandangi benda kecil itu cukup lama sebelum akhirnya mengangkat wajahnya perlahan.

"Bianca..."

Suara yang keluar terdengar serak.

"Apa ini?"

Bianca menggigit bibir bawahnya pelan.

Tangannya tanpa sadar saling menggenggam.

Untuk pertama kalinya sejak hubungan mereka dimulai, ia terlihat benar-benar ketakutan.

Bukan takut pada orang lain.

Melainkan takut pada jawaban yang mungkin akan mengubah segalanya.

Sementara itu, Adrian justru merasakan dadanya semakin sesak.

Anehnya, saat melihat tes kehamilan itu, bayangan pertama yang muncul di kepalanya bukanlah Bianca.

Melainkan Nadia.

Ia teringat bagaimana mantan istrinya pernah menangis ketika kehilangan calon anak mereka.

Teringat bagaimana Nadia berkali-kali membicarakan program kehamilan.

Teringat bagaimana wanita itu selalu berharap suatu hari mereka bisa menjadi orang tua.

Kenangan-kenangan itu datang begitu saja tanpa bisa ia hentikan.

Adrian menundukkan kepala.

Rasa bersalah yang selama ini sudah menghantuinya kini terasa semakin berat.

Karena semakin ia mengingat Nadia, semakin ia menyadari betapa banyak hal yang telah ia hancurkan dengan tangannya sendiri.

Ia kehilangan seorang istri yang selalu mendukungnya.

Kehilangan rumah yang penuh kehangatan.

Kehilangan seseorang yang selama ini mencintainya tanpa syarat.

Dan kini, ketika semuanya sudah terlambat, yang tersisa hanyalah penyesalan yang terus tumbuh setiap hari.

Di tengah keheningan itu, Bianca memperhatikan wajah Adrian yang tampak jauh dan kosong.

Untuk pertama kalinya, sebuah ketakutan muncul di dalam hatinya.

Karena meskipun pria itu berada di ruangan yang sama dengannya saat ini, pikiran Adrian jelas sedang berada di tempat lain.

Bersama seseorang yang sudah tidak lagi tinggal di apartemen itu.

Bersama seseorang yang namanya masih memenuhi setiap sudut rumah.

Dan bersama seseorang yang mungkin baru disadari Adrian nilainya setelah kehilangannya.

Malam yang sudah terasa berat bagi Adrian berubah menjadi mimpi buruk ketika ponselnya tiba-tiba berdering.

Nama asisten pribadi ayahnya muncul di layar.

Entah mengapa, sejak beberapa minggu terakhir setiap kali melihat nama yang berkaitan dengan keluarganya, perasaan tidak tenang selalu muncul di dalam dirinya.

Dengan cepat Adrian mengangkat panggilan tersebut.

Namun belum sempat ia berbicara, suara panik dari seberang telepon langsung terdengar.

"Tuan Adrian, Pak Mahendra pingsan di rumah dan sekarang sudah dibawa ke rumah sakit."

Darah Adrian seolah berhenti mengalir.

Wajahnya langsung pucat.

"Apa?"

Ia berdiri begitu cepat hingga kursi di belakangnya bergeser.

"Kondisinya bagaimana?"

"Tidak tahu pasti, dokter masih melakukan pemeriksaan."

jawab sang asisten.

"Tapi Ibu sangat panik."

Tanpa menunggu penjelasan lebih lanjut, Adrian langsung mengambil kunci mobilnya.

Tangannya gemetar.

Pikirannya kacau.

Selama ini, meski hubungan dengan ayahnya tidak selalu harmonis, pria tua itu tetap menjadi sosok yang paling berpengaruh dalam hidupnya.

Dan sejak perselingkuhan itu terbongkar, kondisi kesehatan ayahnya memang terlihat menurun akibat tekanan dan kemarahan yang terus dipendam.

Adrian tidak pernah membayangkan semuanya akan sampai sejauh ini.

Bianca yang melihat perubahan ekspresinya langsung ikut berdiri.

"Ada apa?"

tanyanya khawatir.

"Ayahku masuk rumah sakit."

jawab Adrian cepat.

Tanpa berpikir panjang, Bianca ikut mengambil tasnya dan berjalan bersamanya menuju parkiran.

Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Adrian hampir tidak mengatakan apa pun.

Tangannya mencengkeram setir begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

Lampu jalan yang berlalu cepat di luar jendela tidak benar-benar ia lihat.

Pikirannya hanya dipenuhi berbagai kemungkinan buruk.

Untuk pertama kalinya sejak semua masalah ini terjadi, rasa takut benar-benar menguasai dirinya.

Begitu tiba di rumah sakit, Adrian langsung berlari menuju lantai tempat ayahnya dirawat.

Namun langkahnya mendadak terhenti saat melihat beberapa anggota keluarganya sudah berada di sana.

Ibunya duduk dengan mata sembab.

Beberapa kerabat dekat terlihat berdiri di sekitar ruang perawatan.

Dan di antara mereka, Adrian juga melihat sosok yang tidak pernah ia duga.

Nadia.

Wanita itu berdiri tidak jauh dari pintu ruang rawat.

Wajahnya terlihat lelah namun tetap tenang.

Meski statusnya bukan lagi bagian dari keluarga mereka, ternyata ia tetap datang ketika mendengar kabar tentang ayah mantan mertuanya.

Karena bagaimanapun juga, pria itu pernah memperlakukannya seperti anak kandung sendiri.

Saat melihat Adrian datang bersama Bianca, suasana koridor yang semula sudah tegang mendadak berubah semakin dingin.

Beberapa anggota keluarga langsung menunjukkan ekspresi tidak nyaman.

Sementara ibu Adrian memalingkan wajahnya.

Tidak ingin melihat putranya.

"Ayah di mana?"

tanya Adrian dengan suara cemas.

Salah satu dokter yang baru keluar dari ruang perawatan menatapnya sebentar.

"Kondisi pasien sudah stabil."

jawabnya.

"Tapi beliau meminta sesuatu sebelum beristirahat."

Harapan langsung muncul di wajah Adrian.

"Aku ingin menemuinya."

Namun dokter terlihat ragu.

Kemudian pria itu menghela napas pelan.

"Maaf."

ucapnya hati-hati.

"Pasien secara tegas meminta agar Anda tidak masuk ke ruangannya."

Adrian membeku.

Seolah tidak memahami apa yang baru saja didengarnya.

"Apa maksudnya?"

Sebelum dokter sempat menjawab, suara berat yang sangat dikenalnya terdengar dari dalam ruangan yang pintunya sedikit terbuka.

"Suruh dia pergi."

Suara itu lemah karena kondisi kesehatan.

Namun cukup jelas untuk terdengar hingga ke luar.

"Aku tidak ingin melihatnya."

Tubuh Adrian langsung menegang.

Matanya memerah.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ayahnya sendiri menolak menemuinya.

Bukan karena kesibukan.

Bukan karena pertengkaran kecil.

Melainkan karena kekecewaan yang begitu besar hingga pria itu bahkan tidak sanggup melihat wajah putranya.

"Ayah..."

Suara Adrian terdengar lirih.

Namun tidak ada jawaban.

Hanya keheningan yang terasa semakin menyakitkan.

Di sisi lain koridor, Nadia menundukkan pandangannya.

Melihat keadaan itu membuat dadanya ikut terasa berat.

Karena ia tahu seberapa dekat hubungan Adrian dan ayahnya selama ini.

Namun pada saat yang sama, ia juga memahami rasa sakit yang dirasakan pria tua tersebut.

Orang yang selama bertahun-tahun selalu membela Adrian kini justru menjadi orang yang paling terluka oleh perbuatannya.

Sementara Bianca berdiri beberapa langkah di belakang Adrian dengan wajah pucat.

Untuk pertama kalinya ia menyadari bahwa dampak dari hubungan mereka bukan hanya menghancurkan sebuah pernikahan.

Tetapi juga menghancurkan sebuah keluarga.

Dan di koridor rumah sakit yang dingin itu, Adrian akhirnya merasakan sesuatu yang selama ini selalu berhasil ia hindari.

Akibat nyata dari setiap keputusan yang telah ia buat.

Koridor rumah sakit masih dipenuhi suasana tegang setelah Adrian ditolak oleh ayahnya sendiri. Nadia yang sejak tadi duduk menemani ibu mantan mertuanya akhirnya memutuskan untuk keluar sejenak mencari udara segar. Kepalanya terasa berat karena berbagai kejadian yang terjadi dalam waktu berdekatan.

Belum sempat ia benar-benar menenangkan diri, ponselnya berdering.

Nama Direktur firma hukum tempatnya bekerja selama bertahun-tahun muncul di layar.

Melihat nama itu saja sudah cukup membuat Nadia menghela napas panjang.

Ia sempat ragu untuk menjawab, namun akhirnya tetap mengangkat panggilan tersebut.

"Nadia, saya perlu bicara dengan Anda."

Suara direktur terdengar serius.

Nadia langsung mengetahui bahwa panggilan itu tidak akan berakhir dengan baik.

"Kalau mengenai surat pengunduran diri saya, semua dokumen sudah saya serahkan."

jawab Nadia tanpa basa-basi.

Namun beberapa detik kemudian ia justru mendengar jawaban yang membuat emosinya langsung naik.

"Surat pengunduran diri Anda belum saya setujui."

Nadia langsung menghentikan langkahnya.

Wajahnya berubah.

"Apa maksud Bapak?"

Nada suaranya mulai dingin.

"Saya sudah menyelesaikan semua prosedur."

Direktur menghela napas dari seberang telepon.

"Saya tahu."

"Tapi ada satu kasus yang harus diselesaikan."

Kalimat itu langsung membuat Nadia memejamkan mata.

Rasa lelah yang selama ini ia tahan kembali muncul.

"Bapak bercanda?"

Untuk pertama kalinya sejak perceraian itu terjadi, kemarahan yang selama ini berusaha ia kendalikan mulai terlihat jelas.

"Saya sudah kehilangan pernikahan saya."

"Saya menjadi bahan gosip satu kantor."

"Saya harus melihat mantan suami saya setiap hari bersama wanita yang menghancurkan rumah tangga saya."

Napas Nadia mulai terdengar berat.

"Dan sekarang Bapak meminta saya kembali ke sana?"

Di seberang telepon, direktur terdiam beberapa saat.

Ia memahami kemarahan Nadia.

Siapa pun yang berada di posisi wanita itu mungkin akan merasakan hal yang sama.

"Saya tidak sudi lagi satu kantor dengan mantan suami saya."

lanjut Nadia.

Suaranya bergetar karena emosi yang selama ini dipendam.

"Apalagi dengan perempuan yang menjadi selingkuhannya."

"Apa Bapak tahu seperti apa rasanya masuk ke gedung itu sekarang?"

"Tidak ada satu sudut pun yang tidak mengingatkan saya pada pengkhianatan mereka."

Beberapa orang yang kebetulan berjalan melewati koridor rumah sakit sampai menoleh karena mendengar nada suara Nadia yang tidak biasa.

Selama ini wanita itu dikenal tenang dan profesional.

Karena itulah ketika akhirnya ia menunjukkan kemarahannya, semua emosi yang selama ini dipendam terasa jauh lebih nyata.

"Nadia."

Suara direktur terdengar lebih lembut kali ini.

"Saya tidak meminta Anda kembali permanen."

"Saya hanya meminta satu perkara terakhir."

Wanita itu tertawa kecil.

Namun tidak ada sedikit pun kebahagiaan dalam tawa tersebut.

"Satu perkara terakhir."

ulangnya pelan.

"Aneh sekali."

"Saat saya kehilangan anak, saya tetap datang bekerja."

"Saat rumah tangga saya mulai bermasalah, saya tetap menyelesaikan semua kasus tepat waktu."

"Saat perselingkuhan itu terbongkar, saya masih menjaga nama firma."

Tatapannya kosong menembus jendela koridor.

"Dan sekarang ketika saya akhirnya memilih pergi, firma masih meminta satu hal lagi dari saya."

Direktur tidak langsung menjawab.

Karena sebagian dari apa yang dikatakan Nadia memang benar.

Selama bertahun-tahun Nadia adalah salah satu pengacara terbaik yang pernah dimiliki firma tersebut.

1
Mundri Astuti
emang ...ga ngotak si klo mo berkhianat, kan semuanya kena imbasnya, tu perempuan pilihan kamu
Mundri Astuti
ulah Bianca lagi ke nya, klo Iyya bener" ni org, masih aja ga da kapok"nya, oi ni tuh semua juga krn kamu
Mundri Astuti
si Adrian yg diingetnya calon anaknya yg sama Bianca, yg sama Nadia ga sama sekali, padahal sama" darah dagingnya juga, coba anak yg dikandung Bianca meninggal kira" gimana tu org yak🤔
Mundri Astuti
diiihhh bisa bisanya ngomong gitu, habis menghancurkan semuanya...karmanya yg kejam thor buat tu duo dajjal
Mundri Astuti
bagusnya pasangan duo laknat ini masuk bui, dan dpt sangsi sosial, selama ini Nadia yg kena getahnya padahal mereka yg berbuat
Mundri Astuti
woahhhh pasangan duo laknat ternyata...sama" mencapai ambisinya sendiri
Mundri Astuti
semoga lekas terungkap, dan karma tu duo dajjal
Mundri Astuti
hati" Anna, kamu dah bicara terbuka, semestinya di simpan dulu sendiri sambil cari bukti..klo dah begini bakalan panik pelakunya dan mencoba menghilangkan brg bukti
Mundri Astuti
Adrian romannya yg nyelakain ayahnya sendiri...fix double kill ni mah karmanya thor
Mundri Astuti
mudah"an Nadia jadi sama Revano yg lebih segalanya, biar tau rasa si Adrian ...beuhhh Nadia tuh lebih berharga dari selingkuhannya
Mundri Astuti
Thor kasih Adrian dan selingkuhannya karna yg double kill, masih ga ada penyesalan dan ga ngerasa bersalah banget dia, padahal dia tau Nadia juga mengandung anaknya, dan posisinya sendiri krn pengkhianatan ya...

coba ada yg kasih klarifikasi tentang gosip di kantornya Nadia, paling ngga namanya bersih sebelum dia pindah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!