Di dalam sebuah kamar sewaan yang sempit dan berbau lembap, seorang pemuda tiba-tiba tersentak bangun. Napasnya memburu, matanya yang tajam memancarkan kilatan cahaya keemasan sebelum akhirnya meredup dan berubah menjadi hitam pekat.
"Ini... di mana?"
Fang Yuan melihat kedua telapak tangannya. Halus, kurus, dan tidak ada bekas luka. Ini bukan tubuh kedagingan seorang Sovereign yang bisa menghancurkan galaksi dengan satu pukulan.
Dia menoleh ke meja belajar. Sebuah ponsel jadul menunjukkan tanggal: 20 Juni 2016.
Fang Yuan tertegun, lalu tawa pelan keluar dari tenggorokannya. Tawa itu semakin lama semakin keras, menggema di dalam kamar sempit tersebut.
"Hahaha! Kesengsaraan Surgawi sembilan warna ternyata tidak menghancurkanku! Aku, Fang Yuan, Sang Penguasa Surgawi Cangqiong, justru kembali ke masa usiaku delapan belas tahun?!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EAGLE EZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33.Benua Canglan
*SREEEET—!*
Distorsi ruang dan waktu yang dahsyat memelintir kesadaran fana, namun bagi jiwa seorang mantan Penguasa Surgawi seperti Fang Yuan, badai dimensi ini tak lebih dari sekadar hembusan angin malam. Ketika cahaya perak yang menyilaukan mata itu perlahan memudar, sensasi dinginnya salju Pegunungan Kunlun telah lenyap, digantikan oleh hawa panas yang menyengat dan aroma tanah yang pekat.
Fang Yuan membuka sepasang matanya. Mata kirinya yang keemasan berkilat, langsung menyesuaikan diri dengan intensitas cahaya di dunia baru ini.
Dia mendapati dirinya berdiri di tengah-tengah reruntuhan altar batu kuno yang telah hancur dan ditumbuhi lumut. Di sekelilingnya, membentang hutan belantara raksasa dengan pohon-pohon purba menjulang tinggi ratusan meter ke langit. Yang paling mengejutkan adalah atmosfer tempat ini—energi spiritual (*Qi*) di udara begitu padat, bahkan hampir seratus kali lipat lebih murni dibandingkan dengan dunia fana yang baru saja ditinggalkannya.
"Ah..." Fang Yuan menarik napas dalam-dalam. Setiap pori-pori di tubuhnya seolah berteriak kegirangan. Sutra Surgawi di dalam tubuhnya otomatis berputar cepat, menyedot *Qi* murni di sekitarnya hingga membentuk pusaran angin kecil di sekeliling jubah salju putih-hitam miliknya.
*KRETEK... KRETEK...*
Hanya dalam hitungan detik, belenggu energi yang menahannya di dunia fana hancur. Kultivasi Fang Yuan yang tadinya tertahan di Tahap Pengumpulan Tingkat Empat langsung melesat naik tanpa hambatan. Tingkat Lima... Tingkat Enam... hingga akhirnya mantap di **Tahap Pengumpulan Tingkat Sembilan (Peak Qi Refining)**! Hanya selangkah kecil lagi, dia akan membentuk Pondasi Tubuh yang sejati (*Foundation Establishment*).
"Dunia Kultivasi Sejati," gumam Fang Yuan datar. Senyum nakal yang sangat tampan kembali terukir di sudut bibirnya. Rambut biru keputih-putihannya bergerak tertiup angin hutan yang membawa aroma mistis. "Aku, Cangqiong, akhirnya kembali."
"Siapa di sana?! Berani sekali menodai Altar Terlarang Keluarga Mu?!"
Tiba-tiba, sebuah bentakan nyaring memecah kesunyian hutan. Dari balik semak-semak belantara, belasan sosok manusia melompat keluar dengan tangkas. Mereka semua mengenakan seragam pelindung dari kulit binatang buas dengan emblem daun perak di dada mereka. Masing-masing memegang tombak panjang yang memancarkan kilatan *Qi* tajam.
Di depan pasukan tersebut, berdiri seorang gadis muda berusia sekitar sembilan belas tahun. Gadis itu mengenakan jubah perang ringan berwarna merah menyala, dengan rambut hitam yang dikuncir kuda. Wajahnya sangat cantik namun dipenuhi guratan ketegasan dan kewaspadaan yang tinggi.
Gadis itu, **Mu Qingwan**, menatap Fang Yuan dari atas ke bawah dengan dahi mengernyit. Pakaian pemuda di depannya ini sangat aneh, dan rambut biru keputih-putihannya terlihat begitu mencolok. Namun, yang membuat Mu Qingwan waspada adalah sepasang mata berbeda warna milik pemuda itu yang memancarkan ketenangan absolut—seolah-olah keberadaan belasan pasukan bersenjata di depannya ini tidak lebih dari sekadar tumpukan jerami.
"Bicara! Siapa kamu sebenarnya? Apakah kamu mata-mata yang dikirim oleh Sekte Tengkorak Hitam untuk merebut wilayah perburuan kami?!" tuntut Mu Qingwan, menunjuk moncong pedangnya tepat ke arah dada Fang Yuan.
Fang Yuan tidak bergerak se-milimeter pun. Dia perlahan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jubahnya dengan gerakan yang sangat *cool*, lalu melirik gadis berbaju merah itu dengan pandangan malas.
"Mata-mata?" Fang Yuan mendengus remeh, suara merdunya mengalun santai di tengah kepungan pasukan. "Gadis kecil, turunkan pedangmu sebelum besi murahan itu patah dan menusuk matamu sendiri."
"Lancang! Beraninya kamu menghina Nona Muda Mu!" seorang wakil komandan bertubuh kekar di samping Mu Qingwan langsung naik pitam. Pria itu adalah seorang ahli Tahap Pengumpulan Tingkat Ketujuh. Dia melangkah maju, mengangkat kapak raksasanya dan menghantamkannya ke arah pundak Fang Yuan dengan kekuatan penuh.
*WUSSS!*
Kapak raksasa itu membelah angin, membawa kekuatan ribuan pon. Namun, menghadapi serangan fisik tersebut, Fang Yuan bahkan tidak repot-repot mengeluarkan tangannya dari saku.
Dia hanya melirik kapak yang mendekat dengan mata kirinya yang keemasan.
*PING!*
Sebuah tekanan spiritual yang tak kasat mata namun seberat meteorit jatuh mendadak meledak dari tubuh Fang Yuan.
*PRANGGG!*
Kapak baja raksasa milik sang wakil komandan hancur berkeping-keping di udara sebelum sempat menyentuh jubah Fang Yuan. Tidak hanya itu, pria bertubuh kekar tersebut langsung terlempar puluhan meter ke belakang, menghantam pohon purba hingga muntah darah dan pingsan seketika.
"A-Apa?!" Mu Qingwan melotot jantungan, seluruh bulu kuduknya berdiri murni karena insting bertahannya yang menjeritkan bahaya kematian yang mutlak. Hanya dengan satu tatapan, seorang ahli Tingkat Ketujuh langsung tumbang!
Fang Yuan melangkah maju satu langkah, senyum nakal yang sangat dingin menghiasi wajah sempurnanya.
"Sekarang," ucap Fang Yuan dingin, menatap Mu Qingwan yang kini tubuhnya mulai gemetar hebat. "Beri tahu aku, di mana ini, dan faksi sampah mana yang saat ini menguasai wilayah ini?"