Gimana rasanya suka sama customer sendiri?
Kalau customer-nya jomblo, oke lah... masih bisa dideketin pelan-pelan.
Lah, aku?
Aku ajah kerja di toko bunga.
Yang artinya, sebagian besar customer-ku datang buat beli bunga untuk pacarnya, calon istrinya, atau bahkan istrinya beneran.
Sial banget nggak sih?
Gini nih kalau kelamaan jomblo. Sekalinya suka sama cowok, malah suka sama cowok yang kemungkinan besar udah ada yang punya.
Huhuhu.
Tapi tenang, aku tahu diri kok.
Aku cuma mengaguminya dari jauh.
Lagian, mana mungkin ada kisah cinta antara karyawan toko bunga biasa sepertiku dengan customer yang cuma datang sesekali?
...kan?
Atau jangan-jangan, semesta memang sedang menyiapkan sesuatu yang nggak pernah aku duga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rygobii_15, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23 tak terduga
Seminggu setelah meeting bersama klien di kantor Saka, aktivitas di Ibusya Flower Studio kembali dipenuhi berbagai pesanan.
Pagi itu, Sarah tampak sibuk berbicara melalui telepon di ruang kerjanya. Sesekali ia membuka laptop sambil mencatat beberapa hal di buku kecil di sampingnya.
"Iya, Bu. Dekorasi bunganya sudah kami siapkan."
"..."
"Betul. Nanti pagi kami yang antar langsung ke lokasi."
"..."
"Baik, sampai besok." Telepon pun ditutup.
Sarah mengembuskan napas pelan sebelum keluar dari ruangannya.
"Wulan."
"Iya, Kak?" Wulan langsung menoleh dari rangkaian bunga yang sedang ia rapikan.
"Besok pagi ikut aku."
Wulan mengangguk. "Ke venue lagi?"
"Bukan."
"Terus?"
Sarah tersenyum tipis. "Ada klien yang minta dekorasi buat acara keluarga di rumah."
"Oh..."
"Nggak besar, cuma meja makan, ruang tamu, dan beberapa vas bunga."
"Siap, Kak."
"Nanti sekalian bantu aku setting."
"Oke."
Keesokan paginya, Mobil Sarah melaju pelan memasuki kawasan perumahan yang tenang.
Wulan duduk di kursi penumpang sambil memastikan semua kotak bunga tetap aman di bagian belakang mobil.
"Udah dicek semua?" tanya Sarah.
"Udah, Kak."
"Good."
Beberapa menit kemudian, mobil berhenti di depan sebuah rumah besar dengan desain modern dan halaman yang tertata rapi.
Wulan menatap rumah itu sekilas.
" Bagus bener nih rumah sholawat in dulu ahh."
Sarah hanya tersenyum kecil. "Yuk."
Mereka turun membawa beberapa kotak bunga.
Begitu sampai di depan pintu, seorang wanita paruh baya membukakan pintu dengan senyum hangat. "Selamat pagi."
"Selamat pagi, Bu," jawab Sarah sopan.
"Saya Sarah dari Ibusya Flower Studio."
"Iya, silakan masuk ya. Saya sudah tunggu."
Wulan ikut membungkuk kecil. "Permisi, Bu."
Wanita itu tersenyum lembut.
"Iya, Nak."
Di dalam rumah, Wulan sempat terdiam beberapa detik.
Bukan karena mewah,
Tapi karena hangat.
Cahaya matahari masuk dari jendela besar, memantul di lantai kayu yang bersih. Suasana rumah itu terasa hidup, bukan sekadar tempat tinggal.
"Meja makan di sini ya, Bu," kata Sarah.
"Iya." Wulan mulai menata bunga dengan hati-hati.
Setiap vas ia atur agar komposisinya seimbang. Sesekali ia mundur beberapa langkah untuk melihat hasilnya.
"Yang ini sedikit digeser lagi…" gumamnya pelan.
Saat ia hendak merapikan satu vas terakhir, Dari luar terdengar suara mobil berhenti.
Lalu pintu utama terbuka.
"Ma, aku pulang."
Suara itu membuat tangan Wulan berhenti seketika.
Suara itu, Ia kenal Refleks Wulan menoleh.
Dan di detik itu juga, matanya langsung membulat.
" L-loh kak Saka…?"
Saka baru saja masuk, masih dengan kemeja kerja yang rapi. Tatapannya langsung jatuh ke arah Wulan. "Wulan?"
Belum sempat suasana itu dipahami sepenuhnya,
"Eh?" Suara lain menyusul dari belakang.
Nara muncul sambil membawa beberapa kantong belanja. "Wulan?!"
Wulan berdiri mematung.
Pandangannya bergerak cepat Saka,Nara, lalu ke rumah yang sejak tadi ia kira milik klien biasa.
"..."
Pelan-pelan ia menoleh ke Sarah.
"Kak, Ini,"
Matanya sedikit melebar.
"Rumah Kak Saka?"
Sarah terdiam sesaat.
Sebelum sempat menjawab, Suara wanita tadi terdengar lagi dari dapur. "Oh, kalian sudah saling kenal?"
Nara langsung tertawa kecil. "Kenal dong, Ante. Ini Wulan."
Wanita itu, yang berarti ibu Saka, tersenyum hangat.
"Bagus kalau begitu. Nggak perlu canggung ya."
Wulan hanya mengangguk kecil.
"Iya, Bu…"
Pekerjaan dilanjutkan seperti biasa, Namun suasananya sudah berbeda.
Nara langsung membantu tanpa sungkan.
"O'om di mana?" tanyanya sambil menoleh ke arah dapur.
"Masih di ruang kerja," jawab rani mamanya saka.
Nara langsung mengangguk.
"Oke, berarti nanti aku gangguin bentar."
Saka hanya melirik sekilas.
"Jangan ganggu."
Nara langsung terkekeh.
"Siap, Bos."
Saat semua dekorasi hampir selesai, rumah itu mulai terasa seperti benar-benar hidup.
Meja makan sudah tertata dengan bunga-bunga putih dan hijau yang lembut. Ruang tamu dipenuhi aroma segar dari rangkaian bunga yang baru saja selesai disusun.
"Bagus banget," gumam rani sambil tersenyum puas.
Sarah mengangguk. "Terima kasih, Bu."
"Jangan buru-buru pulang ya. Makan siang dulu."
Sarah sempat ragu. "Tidak usah repot, Bu—"
"Tidak repot." Nada itu lembut, tapi tegas.
Wulan melirik Sarah sekilas,
Akhirnya Sarah mengangguk.
"Baik, Bu."
Beberapa saat kemudian, Suasana makan siang terasa ramai.
Nara duduk paling santai, langsung mengambil lauk tanpa basa-basi.
"O'om, ini kurang asin," katanya santai.
Sang O'om alias jafi ayah saka, hanya tertawa kecil.
"Dari kecil juga kamu paling banyak protes."
Nara terkekeh. "Karena Oom nggak berubah-ubah rasanya."
Saka duduk di sisi meja asyik makan tanpa peduli ocehan nara.
Wulan tersenyum kecil melihat itu, Hangat, Ramai, Terlalu hidup.
Namun semakin lama ia diam, sesuatu mulai terasa di dalam dadanya.
Bukan sedih yang jelas, Bukan iri,
Tapi, hampa yang halus.
Matanya bergerak pelan memperhatikan mereka satu per satu, Cara Nara bercanda dengan jafi, Cara rani menyuapi Saka dengan makanan tanpa diminta.
Cara Saka yang walau dingin, tetap membiarkan semua itu terjadi di sekelilingnya.
Dan untuk sesaat, Wulan teringat rumahnya sendiri, Dulu.
Sebelum semuanya menjadi lebih sepi, Ia tersenyum kecil tanpa sadar.
Tangannya tetap memegang sendok, tapi pikirannya sedikit jauh.
Di sisi lain meja, Saka sempat melirik Wulan, Hanya sekilas.
Tapi cukup lama untuk ia sadari, Wulan tidak banyak bicara hari ini Tidak seperti biasanya.
Makan siang pun berakhir perlahan.
Sarah mulai berpamitan. "Terima kasih banyak, Bu."
Sang Ante tersenyum hangat.
"Jangan sungkan datang lagi."
Wulan ikut berdiri. "Iya, Bu. Terima kasih juga, makanannya enak."
Nara langsung menyenggol Saka pelan. "Tuh, sak. Dengerin. Wulan aja bilang enak."
Saka menatapnya datar. "Nggak perlu kamu komentari." Nara hanya terkekeh.
Di depan rumah, Wulan berdiri sebelum masuk mobil.
Ia menoleh sekali lagi ke arah rumah itu, Hangat, Ramai.
Seperti sesuatu yang diam-diam ingin ia ingat lebih lama.
Namun ia hanya tersenyum kecil.
"Terima kasih, Kak."
Saka mengangguk. "Hati-hati."
Kalimat sederhana itu lagi-lagi membuat dadanya terasa aneh.
"Iya, Kak."
Mobil pun perlahan pergi, Saka berdiri cukup lama di tempatnya.
Nara meliriknya dari samping.
"Udah jauh."
"..."
"Nggak usah dilihatin terus."
Saka berbalik. "Masuk."
Nara tersenyum kecil. "okey boss."
Dan di dalam kepalanya, ia tahu satu hal, pelan-pelan, sesuatu sudah mulai berubah tanpa disadari siapa pun.
Mobil Sarah melaju perlahan meninggalkan area perumahan itu.
Wulan duduk di kursi penumpang sambil menatap ke luar jendela.
Rumah itu perlahan mengecil di kejauhan, sampai akhirnya hilang di balik tikungan jalan.
Tapi anehnya, rasanya tidak ikut hilang dari pikirannya.
"Capek?" tanya Sarah pelan.
Wulan tersadar dari lamunannya.
"capelah kak namanya juga kerja"
Sarah melirik sekilas lalu kembali fokus ke jalan. "Kamu dari tadi diem."
Wulan hanya tersenyum kecil.
"cuma mikir aja."
"Mikir apa?"
Wulan ragu sebentar, lalu menggeleng pelan. " adalah pokoknya"
Sarah tidak memaksa, hanya mengangguk kecil. Beberapa menit kemudian, mobil berhenti di depan Ibusya Flower Studio.
Wulan turun lebih dulu sambil membantu membawa beberapa kotak kosong ke dalam.
Setelah membereskan beberapa rangkaian bunga yang tersisa, Wulan akhirnya melepas celemek kerjanya.
Hari sudah mulai sore, Ia mengembuskan napas pelan lalu menghampiri Sarah yang sedang membereskan beberapa berkas di meja kasir.
"Duluan ya, Kak."
Sarah mengangkat kepala dan tersenyum kecil.
"Iya. Hati-hati di jalan."
Wulan mengangguk sebelum berbalik keluar toko. Di depan, Siwi sudah menunggu sambil bersandar di motornya. "WOY."
Wulan langsung menoleh. "APA, KAMPRET!"
Siwi mendecih. "Lama amat baliknya, Lu."
" hellow gue kerja ya, sawi busuk"
Siwi menyipitkan mata. "Kerja atau healing?"
"KERJA."
"Oke, oke."
Wulan langsung mengambil helm cadangan dan memakainya.
Tapi saat ia hendak naik ke motor, Siwi masih diam di tempat, Belum memakai helmnya, Belum menyalakan motor.
Cuma berdiri sambil memperhatikan wajah Wulan,
Wulan mulai risih. "Apaan sih?"
Siwi mengernyit. "Jujur, Lan."
"Hah?"
"Lu abis berantem di rumah ya?"
Wulan langsung melongo. "Hah? Nggak."
"Yakin?"
"Yakin lah."
Siwi menunjuk wajahnya. "Muka lu tuh ketara banget kalau lagi kepikiran sesuatu."
Wulan mendengus kecil. "Keren banget jir."
"Emang." Siwi mengangguk bangga.
"Gue memang berbakat."
Wulan langsung memutar bola mata."Udah lah. Nanti aja gue cerita."
Senyumnya sengaja dibuat santai supaya Siwi nggak makin khawatir.
Tapi Siwi masih belum sepenuhnya percaya.
"Lu beneran gapapa kan?"
Tatapannya kali ini jauh lebih serius, Wulan terdiam sebentar.
Lalu menepuk pelan pundak sahabatnya.
"Beneran, jir masih aman gue."
Siwi menatapnya beberapa detik lagi sebelum akhirnya menghela napas. "Yaudah."
Ia akhirnya memakai helm.
"Tapi kalau kenapa-kenapa cerita."
"Iya, Bu Guru."
"Najis."
Wulan langsung tertawa."Lu dulu yang mulai."
Siwi menggeleng sambil menyalakan motor,Wulan naik ke belakang seperti biasa.
Motor pun mulai melaju meninggalkan Ibusya Flower Studio. Sepanjang perjalanan, mereka kembali bercanda soal hal-hal random.
Tentang pelanggan yang aneh, tentang video TikTok yang lewat di FYP Siwi.
Tentang mie jebew yang katanya wajib dicoba minggu depan. Sampai tanpa sadar, tawa mereka beberapa kali memenuhi jalanan sore.
Untuk sesaat, rasa lelah setelah seharian bekerja terasa jauh lebih ringan Namun di sela-sela obrolan dan candaan itu, pikiran Wulan masih sempat kembali ke satu tempat.
Sebuah rumah yang hangat, Meja makan yang ramai Suara tawa yang saling bersahutan.
Dan seseorang yang hanya mengucapkan dua kata sederhana sebelum ia pulang.
"Hati-hati."
Wulan menatap jalanan di depan Lalu tanpa sadar tersenyum kecil sendiri. Mungkin karena hari ini ia melihat sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan.
Atau mungkin, Karena ada seseorang yang mulai pelan-pelan menempati ruang di pikirannya, Dan Wulan sendiri belum menyadarinya.