NovelToon NovelToon
KULTIVASI RAHASIA SANG TUKANG SAPU: SISTEM CHECK IN

KULTIVASI RAHASIA SANG TUKANG SAPU: SISTEM CHECK IN

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: HINDRA10

"Dilahirkan dengan Tulang Roh yang Layu, Lin Chen dianggap sebagai aib terbesar bagi Kekaisaran Shenghuang. Setelah dijebak oleh saudara-saudaranya dan dibuang oleh ayahnya sang Kaisar, ia diasingkan ke Sekte Pedang Taixuan—sebuah sekte kuno yang hampir punah—dan hanya diberi pekerjaan sebagai murid tukang sapu.

Dunia mengira hidupnya telah hancur. Namun, mereka tidak tahu bahwa di hari pertamanya memegang sapu, sebuah Sistem Absensi Jejak Kuno bangkit di dalam jiwanya!

【Ding! Anda berhasil melakukan check-in di Gerbang Batas Taixuan. Hadiah: Tubuh Pedang Kekacauan Primitif!】
【Ding! Anda berhasil melakukan check-in di Makam Pedang Leluhur. Hadiah: Mata Dewa Kekacauan!】

Aturannya ketat: Hanya bisa check-in satu bulan sekali! Namun, setiap tempat yang pernah disinggahi para dewa kuno akan memberinya hadiah tingkat mitologi.

Ketika sekte-sekte besar mencoba menghancurkan tempatnya menumpang, dan Kekaisaran Shenghuang datang untuk menindasnya lagi, pangeran yang dianggap sampah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HINDRA10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8

Lin Chen tiba kembali di sekte saat matahari baru saja melewati titik tertingginya.

Turun dari Puncak Taixuan memakan waktu lebih lama dari naik—bukan karena medan yang lebih sulit, tapi karena Lin Chen sengaja memperlambat langkahnya. Ada banyak hal yang perlu dia pikirkan, dan lereng gunung yang sepi adalah tempat terbaik untuk melakukannya tanpa gangguan.

Kunci itu tersimpan rapi di dalam lipatan bajunya. Tidak memancarkan energi apapun, tidak menarik perhatian siapapun—benda paling tidak mencurigakan yang pernah dia bawa. Tapi sesuatu di dalam naluri Lin Chen yang sudah diasah selama bertahun-tahun hidup di lingkungan istana yang penuh intrik mengatakan bahwa benda kecil itu menyimpan sesuatu yang jauh lebih besar dari penampilannya.

'Nanti,' simpulnya seperti biasa. 'Satu hal dalam satu waktu.'

Tapi saat kakinya menginjak kembali tanah sekte, Lin Chen tahu sesuatu tidak beres.

Suasananya salah.

Bukan salah dalam artian berbahaya—tidak ada teriakan, tidak ada suara pertarungan, tidak ada kepanikan. Tapi Lin Chen sudah cukup lama mengamati ritme harian sekte ini untuk tahu perbedaan antara ketenangan biasa dan ketenangan yang dipaksakan.

Murid-murid yang seharusnya berlatih di lapangan timur tidak ada di sana. Para sesepuh yang biasanya duduk di beranda Aula Diskusi sambil minum teh sudah masuk ke dalam. Bahkan pelayan-pelayan lain yang seharusnya sibuk dengan pekerjaan masing-masing tampak bergerak lebih cepat dari biasanya, kepala menunduk, menghindari kontak mata satu sama lain.

Semua orang menghindari alun-alun utama.

Lin Chen mengambil rute yang melewatinya.

Di alun-alun utama, ada rombongan yang tidak diundang.

Dua belas orang, berdiri dalam formasi yang terlalu rapi untuk disebut kunjungan santai. Jubah mereka ungu tua dengan aksen emas di bagian tepi dan kerah—warna yang bahkan dari kejauhan sudah memancarkan kesan bahwa pemakainya terbiasa dilihat, bukan melihat. Di dada kiri setiap jubah, tersulam lambang seekor naga berkepala tiga yang sedang melingkar.

Lin Chen mengenali lambang itu.

Sekte Naga Langit.

Sekte kelas satu. Dua tingkat di atas Taixuan dalam hierarki resmi dunia kultivasi—dan itu pun hanya karena hierarki resmi tidak mencerminkan seberapa jauh jarak sebenarnya di antara mereka. Bagi Sekte Naga Langit, Taixuan bahkan seharusnya tidak ada dalam radar mereka.

'Lalu kenapa mereka di sini?'

Lin Chen memungut sapu yang bersandar di dinding dekat gerbang alun-alun—sapu siapapun, tidak penting—dan mulai menyapu area pinggir alun-alun dengan langkah yang sangat santai.

Srak... srak...

Di tengah rombongan jubah ungu itu, berdiri pemimpinnya.

Seorang pemuda. Usianya tidak jauh berbeda dari Lin Chen—dua puluhan awal, mungkin. Wajahnya tampan dengan tulang pipi tinggi dan dagu yang tegas, rambutnya hitam diikat rapi dengan pengikat emas. Penampilannya sempurna sampai ke detail terkecil, seperti seseorang yang tahu bahwa setiap detil penampilannya adalah pernyataan kekuasaan.

Yang paling menonjol adalah senyumnya. Ramah, hangat, terbuka—senyum yang di tempat lain mungkin akan terasa tulus. Tapi Lin Chen sudah terlalu lama hidup di antara pangeran-pangeran dan bangsawan istana untuk tidak mengenali jenis senyum ini.

Senyum yang dilatih. Senyum yang dipakai seperti senjata.

Master Sekte Gu Changfeng berdiri di hadapannya dengan ekspresi yang Lin Chen belum pernah melihatnya sebelumnya—bukan takut, bukan marah, tapi sesuatu di antaranya. Ekspresi orang yang sedang berusaha keras untuk terlihat tidak tertekan sambil sebenarnya sangat tertekan.

"...tentu saja kami merasa terhormat dengan undangan ini," suara Gu Changfeng sampai ke telinga Lin Chen dari jarak dua puluh langkah. Nadanya terlalu hati-hati. "Namun tiga bulan adalah waktu yang cukup singkat untuk persiapan—"

"Justru itulah mengapa kami datang sendiri untuk menyampaikannya," pemuda jubah ungu itu memotong dengan nada yang tetap ramah, sama sekali tidak terdengar seperti memotong pembicaraan orang yang lebih tua. Kemampuan yang membutuhkan latihan bertahun-tahun. "Agar Sekte Taixuan punya waktu yang cukup. Turnamen Lima Sekte adalah kesempatan langka, Tetua Gu. Sayang sekali jika dilewatkan."

Turnamen Lima Sekte.

Lin Chen menyapu lebih pelan.

Mata Dewa Kekacauan-nya bergerak diam-diam—bukan ke wajah pemuda itu, tapi ke tubuhnya. Mengurai lapisan demi lapisan, mencari apa yang tersembunyi di balik jubah ungu yang sempurna itu.

Kultivasinya pertama. Ranah Jiwa Nascent Tingkat 3—jauh di atas Su Qingxue, tidak jauh di bawah kemampuan Lin Chen saat ini jika dia membuka semua yang dimilikinya. Untuk seseorang seusianya, itu angka yang sangat tidak wajar.

Lalu Lin Chen memperluas pencariannya.

Dan menemukan apa yang dia cari.

Di balik lipatan lengan kiri jubah ungu itu, tersembunyi sebuah benda kecil yang memancarkan energi hitam berputar dengan pola yang sangat spesifik—pola yang sudah pernah Lin Chen lihat sebelumnya, pada benda yang dibawa Lei Zhen saat Sekte Harimau Ganas datang menantang.

Tanda formasi yang sama persis.

Lin Chen menyapu daun yang sama untuk ketiga kalinya tanpa menyadarinya.

'Jadi kalian terhubung,' batinnya dengan sangat tenang. 'Harimau Ganas adalah pionmu. Dan sekarang kau datang sendiri membawa undangan yang kedengarannya seperti tawaran tapi terasa seperti ultimatum.'

'Menarik.'

Beberapa saat kemudian, pembicaraan di tengah alun-alun selesai.

Gu Changfeng menerima undangan itu—tidak ada pilihan lain yang masuk akal, dan semua orang di alun-alun tahu itu. Pemuda jubah ungu itu menerima jawaban tersebut dengan senyum yang tidak berubah sedikit pun, lalu memberi isyarat ke rombongannya untuk bersiap pergi.

Mereka berjalan ke arah gerbang sekte.

Melewati pinggir alun-alun.

Melewati Lin Chen.

Lin Chen menundukkan kepalanya saat rombongan itu lewat—refleks pelayan yang sudah menjadi kebiasaan otomatis selama enam bulan terakhir. Sapunya bergerak. Kepalanya menunduk. Matanya menatap tanah.

Langkah-langkah kaki jubah ungu melewatinya satu per satu.

Lalu berhenti.

Lin Chen tidak mengangkat kepalanya. Tapi Mata Dewa Kekacauan-nya—yang tidak butuh arah pandangan untuk bekerja—langsung tahu siapa yang berhenti.

Pemuda jubah ungu itu berdiri tepat di depannya.

Diam selama tiga detik.

Tiga detik yang terasa sangat panjang.

Lalu, dengan suara yang diturunkan cukup rendah untuk hanya didengar Lin Chen seorang, pemuda itu berkata—

"Bukankah ini... putra kesembilan Kaisar Shenghuang?"

Bukan pertanyaan yang membutuhkan konfirmasi. Nada yang dipakai adalah nada orang yang sudah tahu jawabannya sebelum bertanya.

"Lama tidak bertemu, Saudara Lin."

Lin Chen tidak mengangkat kepalanya.

Tidak mengubah ekspresinya.

Tidak berhenti menyapu.

Srak... srak...

"Pelayan ini tidak mengerti maksud Tuan Muda," jawab Lin Chen dengan suara yang bergetar tipis—akting yang sempurna. "Sepertinya Tuan Muda salah orang."

Keheningan sejenak.

Lalu pemuda jubah ungu itu mengeluarkan suara kecil—bukan tawa, lebih seperti hembusan napas yang mengandung sesuatu yang susah didefinisikan. Apakah itu geli? Atau kagum? Atau keduanya?

"Tentu saja." Senyumnya terdengar dari suaranya. "Maaf, aku salah orang."

Langkahnya berlanjut. Rombongan jubah ungu mengikuti.

Lin Chen terus menyapu sampai suara langkah terakhir mereka menghilang di balik gerbang sekte.

Baru kemudian, sangat pelan, dia mengembuskan napas.

'Shen Yufeng,' nama itu muncul sendiri di dalam kepala Lin Chen—terkubur di antara ribuan memori dari kehidupan lamanya sebagai pangeran yang tidak pernah benar-benar dia inginkan.

Shen Yufeng. Putra Pertama Adipati Wilayah Utara. Murid Utama Sekte Naga Langit.

Mereka bertemu dua kali di istana kekaisaran, bertahun-tahun yang lalu, di acara-acara kenegaraan yang Lin Chen selalu ingin hindari tapi tidak pernah bisa. Shen Yufeng yang waktu itu sudah terkenal sebagai bakat muda luar biasa, dan Lin Chen yang sudah terkenal sebagai pangeran cacat yang tidak bisa berkultivasi.

Mereka tidak pernah berbicara langsung.

Tapi rupanya Shen Yufeng cukup memperhatikan untuk mengingat wajahnya.

'Dan sekarang dia tahu aku di sini,' Lin Chen menyapu daun-daun kering dengan ritme yang kembali tenang. 'Pertanyaannya—apa yang akan dia lakukan dengan informasi itu?'

Mata Dewa Kekacauan-nya masih menyimpan gambaran tanda formasi di lengan kiri Shen Yufeng. Tanda yang sama dengan yang dibawa Lei Zhen.

'Apakah kedatangannya ke sini kebetulan? Atau dia memang sudah tahu aku ada di Taixuan sejak awal?'

Angin bertiup pelan melewati alun-alun yang kini kosong kembali.

Lin Chen tidak punya jawaban untuk pertanyaan itu.

Belum.

Di atas punggung kuda putihnya, beberapa li dari gerbang Sekte Taixuan, Shen Yufeng menatap jalan di depannya dengan senyum yang tidak berubah.

Di sebelahnya, seorang pengawal bertanya pelan. "Tuan Muda, apakah benar tadi itu—"

"Pelayan sekte," Shen Yufeng memotong ringan. "Tidak lebih dari itu."

Pengawal itu mengangguk dan diam.

Shen Yufeng tidak menambahkan apapun.

Tapi jari-jarinya yang memegang tali kekang bergerak sangat pelan—mengusap permukaan tanda formasi di lengan kirinya dengan sentuhan yang hampir tidak terasa.

1
Ihya Ilmi
Semangat thor
Ihya Ilmi
Lanjutkan thor, jangan kasih kendor, crazy UP thor👍👍
Hindra Hin: siap, masih di garap nihh 🙏👍👍👍
total 1 replies
Ihya Ilmi
Thor, 7 hari katanya tp knp MC nya bisa check in 2x?
Hindra Hin: terimakasih atas komentarnya, sangat membantu 🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Ihya Ilmi
Koreksi thor, " Enam Bulan?" atau "30 hari?", soalnya di sinopsis sebulan sekali.
Hindra Hin: baik, Terimakasih atas koreksinya 🙏🙏🙏
total 1 replies
Pecinta Gratisan
hiatus gak nih thor cerita nya
Hindra Hin: update terus bang tiap hari aman. nantikan aja🙏🙏
total 1 replies
Hadi Hadi
semangat 👍👍
Hindra Hin: makasih bro👍👍
total 1 replies
Hadi Hadi
up up up 💪
Hindra Hin
Jangan lupa di komen Bro kalau ada kata yg salah kritik aja biar ada masukan🫵
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!