Dijual oleh keluarganya sendiri sejak kecil, Viona Lin tumbuh sebagai pembantu keluarga Jiang. Hidupnya berubah ketika ia dipaksa mendonorkan ginjalnya untuk menyelamatkan Dylan Jiang, pewaris keluarga yang berkuasa.
Mengetahui pengorbanan itu, Dylan membawa Viona pergi dari keluarga Jiang. Namun alih-alih mendapatkan kebebasan, Viona justru terjebak dalam perhatian dan obsesi Dylan yang semakin sulit ia hindari.
Ketika seorang pria bertekad menjadikan dirinya miliknya selamanya, masih bisakah Viona menemukan jalan untuk bebas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
"Moly, bagaimana pun papamu masih Presiden Direktur Jiang Group. Rumah ini juga masih menjadi tempat tinggal keluarga Jiang. Kau tidak punya hak mengusir kami," ujar Moly dengan nada yakin.
Jay tersenyum tipis.
"Nyonya, sepertinya Anda belum mendengar kabar terbaru."
Moly mengernyit. "Kabar apa?"
"Hari ini Tuan resmi menjadi pemegang saham mayoritas Jiang Group. Dalam rapat pemegang saham, Tuan Delvin Jiang juga telah diberhentikan dari jabatannya sebagai Presiden Direktur."
Mata Moly langsung membelalak.
"Dipecat?"
Tatapannya beralih kepada Dylan.
"Jadi... kaulah yang membeli semua saham itu?"
"Iya," jawab Dylan singkat.
Moly menggeleng pelan, masih sulit mempercayainya.
"Jadi semua ini memang rencanamu sejak awal. Kau sengaja menghancurkan perusahaan, mengusir papamu dari jabatannya, dan sekarang ingin mengusir kami dari rumah ini."
Ia menatap Dylan dengan mata memerah.
"Dylan, kenapa kau begitu tega? Apa semua yang kau lakukan selama ini masih belum cukup?"
Dylan tersenyum dingin.
"Belum."
Satu kata itu membuat tubuh Moly menegang.
"Mamaku meninggal karena perselingkuhan kalian. Kau menggantikan posisi mamaku, menikmati semua yang seharusnya menjadi miliknya."
Dylan melangkah mendekati Moly.
"Selama bertahun-tahun kau hidup nyaman di rumah ini, memakai uang dari perusahaan ini, tanpa pernah merasa bersalah."
Tatapannya berubah semakin tajam.
"Apa kau benar-benar tidak tahu? Rumah ini... perusahaan ini... semuanya berasal dari mamaku. Sebagai putra tunggalnya, aku hanya mengambil kembali apa yang memang menjadi hakku."
Moly terdiam. Bibirnya bergetar, tetapi tidak ada satu kata pun yang keluar.
Dylan menunjuk ke arah pintu.
"Jadi, Moly... sudah saatnya kau, Delvin Jiang, dan putrimu angkat kaki dari rumah ini. Mulai hari ini, kalian bukan lagi penghuni mansion ini."
"Jay."
"Ya, Tuan."
"Ganti seluruh kunci mansion setelah mereka pergi. Aku tidak ingin ada seorang pun dari keluarga Jiang masuk ke rumah ini tanpa seizinku."
"Baik, Tuan."
Beberapa saat kemudian.
Pintu mansion terbuka.
Delvin melangkah masuk dengan wajah muram. Jas yang dikenakannya masih rapi, tetapi sorot matanya menunjukkan kelelahan dan kekalahan.
Begitu memasuki ruang tamu, ia langsung menghentikan langkahnya.
"Dylan?"
Tatapannya beralih kepada beberapa pria berjas hitam yang sedang berdiri di sana bersama Jay.
"Apa yang terjadi?"
Moly segera menghampirinya.
"Dylan..."
"Ada apa?" tanya Delvin.
"Dylan ingin mengusir kita dari rumah ini."
Wajah Delvin langsung berubah.
"Dylan, apa maksudmu?"
Dylan berdiri perlahan lalu menatap ayahnya.
"Mulai hari ini, mansion ini kembali menjadi milikku!"
Delvin mengerutkan kening.
"Rumah ini adalah rumah keluarga Jiang."
"Bukan."
Jay segera menyerahkan dokumen kepada Delvin.
"Tuan Jiang, silakan lihat sendiri."
Delvin membuka dokumen itu. Semakin lama membaca, wajahnya semakin pucat.
"Ini..."
"Rumah ini dibeli menggunakan aset atas nama mendiang Nyonya Lin. Selama ini Anda hanya menempatinya. Setelah seluruh proses hukum dan pengalihan hak selesai, mansion ini resmi menjadi milik Tuan Dylan," jelas Jay.
Delvin menurunkan dokumen itu dengan tangan gemetar.
"Dylan... kau sengaja merencanakan semua ini?"
"Aku hanya mengambil kembali milik mamaku."
"Dylan!" bentak Delvin. "Aku sudah kehilangan perusahaan. Apa sekarang kau juga ingin mengambil rumah ini?"
Dylan menatapnya tanpa ekspresi.
"Bukankah dulu kau juga mengambil semuanya dari mamaku? Perusahaan, rumah, bahkan kebahagiaannya."
Delvin terdiam.
"Kalian menikmati semua itu selama bertahun-tahun. Sekarang... saatnya mengembalikannya."
"Dylan, bagaimana dengan kami?" tanya Moly sambil menahan tangis.
"Itu bukan urusanku."
"Tapi Sanny masih dirawat di rumah sakit."
"Itu juga bukan urusanku."
Dylan menatap Jay dengan dingin.
"Jay, biarkan mereka hanya membawa pakaian dan barang-barang pribadi. Lempar semua barang mereka, termasuk barang-barang Sanny. Kasur, bantal, sprei, sofa, dan semua perabot yang pernah mereka gunakan, ganti dengan yang baru. Aku tidak ingin ada satu pun benda yang pernah disentuh mereka tersisa di rumah ini. Aku merasa jijik melihatnya. Selain itu, perhiasan, lukisan, barang antik, dan semua barang berharga yang ada di mansion ini tidak boleh mereka bawa. Semua itu dibeli menggunakan harta milik mamaku," perintah Dylan.
"Baik, Tuan," jawab Jay.
Mata Moly langsung membelalak.
"Dylan, kau sudah gila! Perhiasan itu diberikan Delvin kepadaku. Apa hakmu melarangku membawanya?" bentak Moly.
"Hakku?" Dylan tersenyum sinis. "Perhiasan itu dibeli menggunakan uang perusahaan yang berasal dari mamaku. Rumah ini juga milik mamaku. Bahkan kehidupan mewah yang kau nikmati selama bertahun-tahun berasal dari harta mamaku. Jadi, apa yang menjadi hakmu?"
Moly langsung terdiam.
Delvin mengepalkan kedua tangannya.
"Dylan, jangan terlalu berlebihan! Bagaimana pun Moly adalah istri sahku."
"Istri sah?" Dylan tertawa kecil. "Jangan lupa, dia menjadi istri sah setelah menghancurkan rumah tangga mamaku. Jadi jangan berharap aku akan berbaik hati kepadanya."
"Kalau begitu, apa yang boleh kami bawa?" tanya Delvin dengan suara tertahan.
"Hanya pakaian dan barang-barang pribadi kalian. Selain itu, semuanya tetap berada di mansion ini. Jay, awasi mereka. Aku tidak ingin ada satu pun barang milik mamaku dibawa keluar," ujar Dylan.
"Baik, Tuan," jawab Jay.
Moly menutup wajahnya sambil menangis. Ia tidak pernah menyangka suatu hari nanti dirinya akan diusir dari mansion dengan tangan hampir kosong.
"Dylan, dalam tubuhmu mengalir darahku. Kau dan Sanny sama-sama anak kandungku. Kenapa kau sama sekali tidak memiliki simpati kepada adikmu yang masih berjuang di rumah sakit?" tanya Delvin dengan suara bergetar.
Dylan menatap ayahnya tanpa sedikit pun perubahan ekspresi.
"Darahmu? Jangan gunakan hubungan darah untuk memintaku berbelas kasihan. Saat mamaku menderita karena pengkhianatanmu, apakah kau pernah memikirkan bahwa darahku juga mengalir dari tubuhnya?"
Delvin terdiam.
"Sanny tidak pernah menyakitimu secara langsung," ujar Delvin. "Kenapa kau harus melibatkannya dalam kebencianmu kepada kami?"
"Mati atau hidup, itu bukan urusanku. Kalau dia menderita... bahkan jika akhirnya mati, itu adalah karma yang harus kalian tanggung atas semua perbuatan kalian," jawab Dylan dengan dingin.
Setelah mengucapkan kalimat itu, Dylan berbalik dan melangkah pergi tanpa menoleh lagi.