NovelToon NovelToon
Menyamar Demi Kamu

Menyamar Demi Kamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Idola sekolah
Popularitas:11k
Nilai: 5
Nama Author: Umi Nurhuda

Rui Naru sebenarnya capek jadi pewaris yang hidupnya diatur-atur kakeknya. Baru bahagia sebentar saja bisa pulang ke Indonesia untuk memeluk sang bunda, kakek masih saja menjadi bayang-bayang yang terus mengekangnya.

Satu-satunya hiburan buat dia cuma Nuha, cewek polos berkuncir air mancur yang diam-diam dia taksir. Setiap kali bertemu, ada saja kesan yang membuatnya kian ingin mendekat.

Makanya, waktu tahu Nuha lagi diincar dan mau dimanfaatin sama cowok narsistik paling populer di sekolah, Naru enggak bisa tinggal diam lagi. Ini saatnya dia bertindak.

​Naru nekat lepas total atribut mewahnya dan menyamar masuk ke sekolah Nuha lewat jalur yayasan ibunya. Dia rela jadi cowok "biasa" demi bisa jagain Nuha dari dekat sekaligus jadi pembatas dari gangguan Dilan.

Bisa tidak Naru sukses melakukan penyamarannya tersebut sampai akhir? Apa sih yang dia cari sebenarnya??

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Umi Nurhuda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25. Perasaan & Keputusan

​​Di depan gerbang sekolah, Naru berdiri menunggu dengan cemas dan tak tenang. Matanya tak lepas menatap ke arah jalanan.

​"Pokoknya aku harus melihatnya ... setidaknya sekali lagi," batin Naru gemuruh. "Berapa lama pun aku harus menunggu, aku harus melihat wajahnya sebelum menyatakan perang secara terbuka pada Kakek."

​Pikirannya terus berputar liar,

tidak bisa tenang sedikit pun semenjak obrolan di meja makan kemarin. Rahasia besar yang diungkapkan Bunda masih terngiang jelas, fakta bahwa ia sebenarnya memiliki seorang adik perempuan dan bahwa ia memiliki keluarga yang utuh.

​Demi menyembunyikan identitas Dina, Rudi dan Maya terpaksa menitipkan putri mereka ke panti asuhan. Bukan berarti menelantarkannya, mereka tetap menyokong seluruh kebutuhan tanpa cela dan sesekali mengajak Dina keluar untuk merasakan hangatnya keluarga.

​Bunda mengira dengan membeberkan fakta serta alasannya, Naru akan bisa mengerti. Namun alih-alih menerima, amarah Naru justru membakar habis kesabarannya.

​"Supaya Dina tidak diambil Kakek seperti diriku? Alasan kerdil macam apa itu?!" amuk Naru kala itu. "Menjalani kehidupan yang damai ... itulah yang kalian inginkan? Kalian cuma hidup sebagai penakut yang memelihara trauma!"

​"Ayah tidak tahu harus melawan kakekmu dengan cara apa. Semenjak beliau mengambilmu, beliau membiarkan kami hidup tenang. Ayah hanya ingin fokus membangun masa depan keluarga kita."

​"Kebebasan apa?!" bantah Naru lagi. "Bahkan untuk mengakui Dina sebagai anak saja kalian tidak sanggup dan menaruhnya di panti asuhan! Kalian cuma terus hidup dalam ketakutan! Aku kecewa dengan sikap kalian semua ... dan aku akan sangat membenci diriku sendiri jika aku cuma diam tak berbuat apa-apa!"

​"Biarlah seperti ini, Naru-kun ..." potong sang bunda dengan mata berkaca-kaca. "Kalau Kakek tidak tahu apa-apa, semuanya akan aman. Maafkan kami ..."

​"Tidak," pangkas Naru tegas dengan nada dingin tanpa ragu. "Aku akan mengatakan semuanya kepada Kakek!"

​Hembusan angin pagi akhirnya membubarkan lamunan pahit itu, menarik Naru kembali ke alam nyata.

​Tepat saat itu,

deru mesin motor matic mendekat. Raut wajah Naru seketika melunak ketika matanya menangkap sosok Nuha turun dari boncengan motor kakaknya. Rasa lega melingkupi dadanya setelah dua hari penantian hampa di depan gerbang, gadis itu akhirnya kembali masuk sekolah.

​Senyum tipis yang tak sengaja mengembang di bibirnya langsung tertangkap oleh Muha. Sesaat kemudian, tatapan kedua pria itu saling berbenturan di udara, memercikkan aura permusuhan yang dingin bagai tebasan petir.

​Naru mengeratkan kepalan tangannya, batinnya bergemuruh sengit. ​"Padahal aku sudah menyiapkan semua rencana selagi Dilan diskors. Aku ingin pendekatan sama si doi. Aku bahkan sudah berencana bawa sepeda biar bisa pulang bareng dia ... Tapi kakaknya terlalu cerdik dan selalu selangkah satu step di depanku."

​Menangkap tatapan Naru yang makin serius bercampur kekesalan yang tertahan, Muha mengira itu adalah deklarasi perang terbuka yang ditujukan langsung padanya.

Dengan nada dingin yang dipaksakan tenang, Muha kembali menegaskan peringatannya tanpa mau menoleh ke arah Nuha. ​"Ingat! Belajar yang benar, jangan sekali-kali mikirin cowok."

​"Eh?" Nuha tersentak pelan.

​"Kenapa?" Muha menoleh cepat.

Matanya menyipit tajam, seolah baru saja berhasil menangkap basah kejujuran kecil yang disembunyikan adiknya.

​"Nggak! Nggak kok!" sahut Nuha panik dengan ekspresi gelagapan. ​Gadis itu memang refleks kaget karena tebakan kakaknya seratus persen akurat. Ia memang sedang memikirkan cowok! Sifat polosnya itu lagi-lagi membuat Nuha gagal total menyembunyikan kebohongan.

​"NUHA!" bentak Muha berkacak pinggang, melihat gelagat adiknya yang jelas-jelas sedang menyembunyikan sesuatu.

​"Aaaaa! Aku masuk dulu ya, Kak!" Nuha yang panik setengah mati memilih kabur. "Jangan lupa jemput jam empat! Jam empat, ya!"

​Ia bahkan mengacungkan empat jarinya tinggi-tinggi untuk menegaskan, lalu langsung ngacir melesat masuk menembus gerbang. Begitu terburu-buru sampai sama sekali tidak menyadari keberadaan Naru yang berdiri hanya beberapa langkah di sampingnya.

​Pagi itu di lab komputer,

Nuha duduk senyum-senyum sendiri. Ia menyangga dagunya dengan dua tangan, sementara jari jemarinya mengetuk-ngetuk pipi yang tengah merona pelan.

​"Wiiii ... tumben nih si Snow White sudah berangkat sekolah," ujar Sifa seraya meletakkan tasnya di kursi sebelah Nuha. "Sepertinya ada yang lagi dikangenin nih, makanya nggak mau lama-lama bolos."

​Nuha mendongak dari lamunannya.

"Emang aku kangen siapa?"

​"Lah? Ya siapa lagi kalau bukan pangeran yang bawa lo pulang malam-malam waktu studi banding?"

​"Ooh ... hehe ..."

​Sifa mendengus gemas.

"Hm ... ekspresi sama tingkahmu itu memang nggak bisa bohong, Nuh. Tapi kalau ditanya detail, pasti nggak bakal mau jawab."

​"Apaan, sih."

​"Tuh, kan! Ayo dong, ceritain kejadian waktu itu! Penasaran nih, entar gue traktir es krim deh. Atau-- atau bakso kuah!" bujuk Sifa.

​"Nggak mau."

​Tak lama kemudian, Asa datang menyusul. "Nah, ini dia si tuan putri yang dua hari berturut-turut menghilang! Dari kemarin-kemarin pangeran lo nanyain lo terus, woy."

​Nuha mengerutkan dahi bingung. "Kalian dari tadi ngomongin pangeran mulu, sebenarnya ada apa, sih?"

​"Emang bikin elus dada nih bocah," desah Sifa frustrasi. "Ngomong sama Nuha tuh harus punya kesabaran sepanjang Samudra Pasai!"

​"Samudra Hindia, kali!"

Asa membenarkan sambil tertawa.

​Pelajaran di laboratorium komputer hari itu berlangsung relatif tenang. Nuha benar-benar menikmati momen mendesain grafis di depan layarnya. Namun entah kenapa, poster anti-narkoba yang ditugaskan oleh guru justru berakhir dengan visual yang manis, penuh nuansa merah muda, dan terkesan romantis di tangannya.

​Asa, Sifa dan Fani hanya bisa terkikik geli melihat kelakuannya yang tidak ada habis-habisnya. Begitu pelajaran usai dan mereka melangkah keluar menyusuri koridor untuk kembali ke kelas, rasa penasaran yang dipendam akhirnya meledak juga.

​"Nuha, lo sadar nggak, sih? Dari tadi lo cengar-cengir mulu! Cekileh ih," seru Sifa seraya menyenggol bahu Nuha gemas.

​"Itu ..." Nuha bergumam pelan, berpura-pura berpikir keras mencari alasan. "Itu karena hari ini aku diantar-jemput sama Kakak."

​"Bohong!" timpal Asa cepat. "Bukan itu alasan yang ingin kita dengar. Lo pasti lagi memikirkan cowok itu, kan?"

​"Cowok siapa?"

​"Itu!" Asa tidak mau kalah. Matanya menangkap pergerakan di lapangan terbuka, lalu sengaja memancing Nuha. "Itu tuh, Nuh! Dia lagi main futsal sama anak-anak!" serunya menunjuk.

​Refleks, mata Nuha langsung melirik tajam ke arah lapangan futsal. Bahkan jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.

​"Nah! Ketahuan, kan?!" Sifa menunjuk wajah Nuha triumphantly. "Kamu beneran lagi mikirin dia, kan? Kamu suka ya sama dia?!"

​Nuha gelagapan, berusaha membela diri. "K-kenapa aku harus suka dia? Dia kan temenan sama si CrocoDILe (maksudnya Dilan). Nanti kalau dekat-dekat, aku malah kena masalah lagi ..."

​"Ealah, kamu ini 'oneng' sekali, ya!" celetuk Asa menyela. "Mikirin cowok terus-terusan itu tandanya kamu ada rasa sama dia, Nuha!"

​Sifa mengangguk setuju.

"Tapi fakta, sih. Setelah dia nggak lagi nempel sama Si CrocoDilan itu, bawaannya jadi adem banget. Kemarin saja dia sempat nanyain ke kita lo masuk sekolah atau enggak. Mungkin karena dia tahu Dilan itu cowok enggak benar, makanya dia sadar dan milih jaga jarak."

​Nuha memutar otak, mencoba mencari benteng pertahanan lain. "Lalu ... apa hubungannya sama aku?"

​"Ah! Muter-muter terus ini bocah! Capek gue ngadepin penganut introvert modelan begini!" seru Sifa frustrasi gemas sampai menepuk jidatnya sendiri.

Ia lalu beralih menatap sahabat yang paling tenang. "Lo saja deh Fani, yang ngomong! Lo kan lebih sabar dari kita berdua buat ngadepin si Pentium Dua ini!"

​Fani hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum maklum melihat tingkah sahabat-sahabatnya itu.

​Sebelum mereka sempat melangkah masuk ke dalam kelas, sebuah suara bernada tenang menghadang dari depan.

​"Bisa bicara sebentar?"

Naru berdiri di sana.

​Langkah keempatnya terhenti. Sifa dan Asa yang peka langsung saling menyenggol lengan, mata mereka menyipit jahil penuh kode.

​"A-- aku?"

Nuha menunjuk dirinya sendiri, kebingungan dan diliputi rasa canggung yang luar biasa. Ia refleks melirik ketiga sahabatnya demi mencari pertolongan.

​"Sudah, sana!" bisik Sifa menekan bahu Nuha, mendorongnya maju dengan gemas.

​Nuha berdiri mematung, mendadak dirayapi rasa grogi yang menyiksa. Tanpa ia sadari, kedua pipinya sudah memerah padam seperti hampir gosong hanya karena menatap pemuda di hadapannya.

​Tanpa peringatan, Naru meraih pergelangan tangannya. ​Aksi berani itu seketika membuat ketiga sahabat Nuha histeris tanpa suara.

"WWOOOOOAAAA!!"

​Naru menuntun Nuha menjauh dari keramaian koridor, membawanya ke lorong sepi yang agak tersembunyi di bawah tangga. Di sana, ia memutar tubuh, menumpukan kedua tangannya tepat di bahu Nuha.

​Keringat dingin serasa menetes sebesar biji jagung. Jantung Nuha berdegup berantakan. Apalagi tatapan Naru yang berada tepat di depan matanya begitu intens. Tenang, dalam, dan sangat serius.

​"A-apa? Mau ... mau apa?" cicit Nuha.

​Alis Naru mengernyit halus. Dengan sabar ia memandangi setiap jengkal wajah di hadapannya. Mata bening yang mengerjap panik, rona merah di punuk pipinya, hingga bibir kecil yang kelihatan gemetaran.

​"Apa ya yang kurang?" pikirnya, mengamati.

​"Kamu ... mau apa?" bisik Nuha lagi, makin panik. Bahkan, hampir kehabisan napas.

​Tangan Naru bergerak.

Dengan begitu berani, jemarinya terulur dan menarik ikat rambut yang dikenakan Nuha. ​Karet itu terlepas, membuat poni Nuha terurai jatuh seketika menutupi dahinya.

Nuha terpejam kaget, tubuhnya membeku tak berani bergerak. Naru menyisir helai demi helai rambut halus itu dengan jemarinya, merapikannya hingga jatuh membingkai wajah manis sang gadis.

​"Nah," senyum puas akhirnya mengembang di bibir Naru. "Kalau begini kan kelihatan cantiknya ... Dasar culun."

​Tanpa menunggu respons Nuha yang masih dalam mode freeze, Naru berbalik dan langsung ngacir melangkah pergi begitu saja.

​"Heh?" Nuha baru tersadar dari syoknya beberapa detik kemudian. "Heh! Apa?! Apa yang baru kamu lakuin?!" teriaknya kebingungan sambil memegang poninya yang terurai. "Apa-- apa yang kamu lakuin, BAMBANG?!"

​"Bambang?"

​Langkah Naru seketika terhenti di tengah lorong. Tulang lututnya serasa patah mendadak sampai tubuhnya agak oleng.

​"Bambang? Hahaha ..." Naru tertawa pelan, tak sanggup menahan rasa geli yang membuncah di dadanya. Ia menggeleng-gelengkan kepala. "Dia bahkan belum tahu nama asliku ya ..."

.

.

. NEXT》Bab 26. Ngantuk nih 👋

1
Filan
gimana mau cerita kalau dia tidur?
Filan
Harusnya Naru ngambil hati Muha bukan mengobarkan perang. Dasar bocah!
Surya Alfian
WKWKWK "BAMBANG" gue ngakak.
🤣🤣 Udah dibangun tegang, romantis, deg-degan, eh ditutup dengan panggilan Bambang.
Surya Alfian
gue kira mau dicipok ini ciwi, deg-degan woy!! 😳❤️ Kelihatan kalau dia udah mulai jatuh hati tanpa sadar.
Surya Alfian
Gue jadi pengen tahu pas Kakeknya nanti turun tangan bakal segila apa. 🍿😏
Surya Alfian
Ending-nya manis banget, asli bikin senyum. 😆💕 Waduh, fix ini mah udah masuk fase salah tingkah. 😂🌸
Surya Alfian
Scene Muha sama Nuha di meja makan tuh adem banget. 🥹☕ Kakaknya galak tapi kelihatan banget sayangnya tulus, sementara Nuha polos banget sampai bikin gue senyum-senyum sendiri. Chemistry kakak-adiknya enak dibaca.
Surya Alfian
Wkwkwk Naru ini licik level dewa.
🤣 malah ngajak tinggal bareng di kos biar bisa nyiksa mentalnya pelan-pelan. Musuh paling bahaya emang yang senyumnya paling kalem. 😭👌
Surya Alfian
😭📖 Doa Naru ke kakeknya kerasa tulus banget. Gue fix lanjut baca cuma buat tahu kenapa dia sampai harus minta "kebebasan". 🚀
Surya Alfian
🤔❤️ Dia perhatian banget sampai hafal detail-detail kecil tentang Nuha, tapi kalimat "cuma gue yang boleh memahami dia" itu vibes-nya agak posesif. Gue jadi penasaran dia bakal jadi green flag atau malah red flag nantinya. 👀
Surya Alfian
Dilan akhirnya kena mental. 😮‍💨👏
Selama ini dia kebanyakan gaya dan ngerasa semua bisa diselesain pake duit, eh giliran nama bokapnya dibawa langsung ciut. Karma emang nggak pernah salah alamat. 😂🔥
Muft Smoker
mereka lucuu kan ,, 😂😂😂😂 ,,



kak nama2 tokoh mu unik2 yx ,,
lanjut kak
Mega Siregar
padahal sebagai seorang dokter jiwa seharusnya tahu bahwa memanjakan anak tanpa ada kasih sayang dan perhatian dan pengajaran tentang hidup dari orang tua, hanya membuat seorang anak menjadi rusak
ginevra
ketikannya.... sumpah alay banget ini dilan....
ginevra
kakeknya keterlaluan sih... nggak heran baru jadi nggak betah. kasih kelonggaran dikit lah ...
Xlyzy
sumpah keterlaluan banget, pengen tak ketuk pala nya pakek martil
Xlyzy
Jahat ih kalian jangan gitu lah aku ketuk nih kening nya kalau nakal
Filan
gimana kalau diajak pacaran sama Naru? apa dia ga mikir ke sana?
Kan dia suka sama Naru.
Miu.Nuha: iya nanti dilemanya disitu...
Nuha blm sadar kalo dia suka, dia cuma lagi seneng2nya jatuh cinta #eh
total 1 replies
Filan
btw, Muha ini emang gampang marah juga ya.
Filan
ya ampun, tidur dua hari?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!