Follow IG @samsularipin_101
"Beberapa hati baru disadari berharga justru setelah mereka memutuskan untuk menyerah".
Alana Gabriela Indira selalu tahu bahwa hidupnya tidak sepenuhnya milik dirinya sendiri. Sebagai putri dari pengusaha sukses, Raden Wijaya dan Retno Indira, ada harga mahal yang harus ia bayar, termasuk menyetujui perjodohan bisnis dengan Jevandra Pratama, CEO muda dari Pratama Group. Alana menerima pernikahan ini dengan hati terbuka, siap belajar mencintai pria yang dipilihkan orang tuanya.
Namun, bagi Jevandra, pernikahan ini adalah sebuah penjara. Hatinya sudah terkunci rapat untuk Silvia Anita, kekasih yang sudah menemaninya selama bertahun-tahun. Terpaksa tunduk di bawah tekanan sang ayah, Bimo Pratama, dan ibunya, Diana Prameswari, Jevandra melimpahkan seluruh rasa frustrasinya kepada Alana. Ia bersumpah tidak akan pernah memberikan ruang bagi Alana di hidupnya.
Di bawah satu atap, Alana bertahan dalam keheningan dan penolakan yang dingin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M. Aipp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siasat Utara
Langit masih gelap ketika Jevandra dan Alana meninggalkan Pratama Tower. Mereka tidak kembali ke rumah singgah untuk beristirahat, melainkan langsung menuju sebuah kabin rahasia milik keluarga Wijaya di kawasan perbatasan Bogor. Tempat itu menjadi pusat koordinasi paling aman, sekaligus lokasi penyimpanan salinan data terenkripsi jaringan logistik Nusantara yang hanya bisa diakses oleh Alana.
SUV hitam yang dikendarai Jevandra melaju cepat menyusuri ruas Tol Jagorawi yang lengang. Di kursi sebelahnya, Alana segera membuka laptop hitam kesayangannya. Cahaya layar memantulkan sorot serius di wajahnya saat berbagai data mulai bermunculan.
"Aurelia Group ternyata tidak bermain sendirian," ucap Alana sambil menampilkan peta digital kawasan pelabuhan di pesisir utara Pulau Jawa. "Mereka baru menguasai delapan puluh persen saham Nusantara Prima Terminal. Pelabuhan itu menjadi jalur utama distribusi bijih besi dan semen dari Kalimantan serta Sulawesi. Kalau aksesnya mereka tutup, suplai material untuk proyek Temasek akan terhenti dalam dua hari."
Jevandra tetap fokus menyetir meski sesekali melirik layar. "Kalau itu terjadi, kontrak Temasek akan berubah menjadi bencana. Keterlambatan selama tiga hari saja sudah cukup memberi mereka hak membatalkan kerja sama dan menuntut ganti rugi dalam jumlah besar. Tujuan mereka jelas, melemahkan kondisi keuangan Pratama Group."
Alana mengangguk pelan sebelum tersenyum tipis. "Sayangnya, wanita yang menelepon tadi terlalu percaya diri. Dia mengira kita akan menghabiskan malam dengan kepanikan."
"Padahal kita justru memakai waktu ini untuk menyiapkan langkah balasan," jawab Jevandra sambil tersenyum. Alana hanya membalas dengan tatapan tajam yang menyimpan kehangatan.
Sekitar pukul empat dini hari mereka tiba di kabin. Ruangan sederhana itu segera berubah menjadi pusat strategi. Sebuah layar digital besar memproyeksikan peta logistik dan struktur perusahaan ke dinding kayu. Jevandra melepas jaketnya, sementara Alana mengikat rambutnya agar lebih leluasa bekerja.
"Siapa sebenarnya wanita yang menghubungimu tadi?" tanya Jevandra sambil mengamati bagan organisasi Aurelia Group.
"Namanya Valerie Vance," jawab Alana tenang. "Dia pewaris utama Aurelia Group, lulusan London School of Economics, dan dikenal sebagai negosiator yang sangat dingin di Singapura. Kedatangannya ke Indonesia hanya memiliki satu tujuan, yaitu menghancurkan aliansi antara keluarga Pratama dan Wijaya."
Jevandra mendekat hingga berdiri tepat di belakang Alana. Kedua tangannya bertumpu di sisi meja kerja.
"Kalau begitu, kita sambut kedatangannya dengan strategi yang tidak akan dia duga. Apa langkah berikutnya?"
Alana memutar tubuhnya menghadap Jevandra lalu menunjuk salah satu titik pada peta.
"Valerie yakin kita hanya bisa mengandalkan jalur laut utara. Dia pasti memperkirakan kita akan beralih ke transportasi darat biasa yang jauh lebih mahal. Namun, dia tidak mengetahui satu hal."
"Apa itu?" tanya Jevandra.
"Keluarga Wijaya memiliki jalur kereta logistik privat yang menghubungkan pelabuhan satelit di wilayah barat langsung ke kawasan proyek. Selama ini jalur tersebut hanya dipakai untuk kebutuhan internal perusahaan. Jika seluruh pengiriman dialihkan ke pelabuhan itu, material bisa langsung dikirim menggunakan jaringan rel tanpa melewati terminal yang kini mereka kuasai."
Perlahan senyum puas muncul di wajah Jevandra.
"Artinya Valerie akan menjaga pelabuhan yang sudah tidak kita gunakan, sementara seluruh pasokan telah bergerak melalui jalur lain."
"Tepat sekali," jawab Alana.
Ia kemudian menunjuk dokumen lain yang muncul di layar.
"Namun, agar jalur itu bisa dioperasikan secepat mungkin, kita membutuhkan persetujuan dari otoritas perhubungan wilayah barat. Dan orang yang memiliki pengaruh di sana bukanlah sosok asing."
Jevandra sempat menduga jawabannya.
"Ayahmu? Atau salah satu jaringan lama Kakek Haryo?"
Alana menggeleng sambil tersenyum kecil.
"Bukan. Kali ini semuanya berhubungan dengan keluargamu. Ada seseorang dari masa lalu keluarga Pratama yang selama ini sengaja disembunyikan oleh ayahmu karena pertimbangan politik."
Ucapan itu membuat Jevandra terdiam. Selama bertahun-tahun ia merasa mengenal seluruh sejarah keluarganya, tetapi ternyata masih ada bagian penting yang tidak pernah diungkapkan kepadanya.
Ia menatap Alana beberapa saat sebelum tersenyum tipis.
"Sepertinya perjalanan kita ke utara kali ini tidak hanya akan membuka jalur logistik baru, tetapi juga mengungkap rahasia lama keluarga Pratama."
Alana mengangguk pelan, menandakan bahwa permainan baru saja dimulai.
Di luar kabin, cahaya fajar mulai muncul di balik pegunungan Bogor. Langit yang semula gelap perlahan berubah menjadi merah keunguan, seolah menandai awal dari babak baru. Dengan strategi yang telah tersusun rapi, Jevandra dan Alana kini siap menghadapi setiap langkah Aurelia Group dan membalikkan keadaan sebelum lawan menyadarinya.
Bersambung.........