NovelToon NovelToon
Ternyata Dia Masih Ada

Ternyata Dia Masih Ada

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:273
Nilai: 5
Nama Author: Auliya Wulandari

Duan Melahirkan di usia 16 tahun, selama 7 tahun ini ia selalu percaya jika putra yang ia lahirkan dengan mempertaruhkan nyawa malah meninggal di hari kelahirannya, namun siapa yang menyangka saat dirinya kembali ke ibu kota muncul seorang bocah laki laki yang sangat menyebalkan namun Yan Fei merasa dirinya tak bisa membiarkan bocah itu jauh darinya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Auliya Wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Senyuman di balik wajah yang mendingin

“Benar sekali, dia sudah berusia dua puluh dua tahun, tapi saat berdiri bersama para nona muda yang baru berusia lima belas atau enam belas tahun itu, penampilannya masih terlihat seimbang bahkan lebih menonjol,” gumam salah satu gadis dalam kelompok itu, matanya tak lepas menatap ke arah Yanfei yang berdiri tenang di tengah keramaian.

Gadis lain yang berdiri di sampingnya segera mengangguk setuju, lalu menyenggol bahu gadis muda yang bernama Bai Shu dan berdiri di tengah-tengah mereka. “Bagaimana menurutmu, Bai Shu? Apakah pendapat kami benar?”

Bai Shu mengerutkan hidungnya dengan rasa tidak suka, lalu mendengus pelan sambil memutar bola matanya ke arah lain. “Hanya wanita yang sudah tua dan berusaha keras terlihat muda saja. Tidak ada yang istimewa,” gumamnya dengan suara rendah namun cukup jelas terdengar oleh teman-temannya.

Di sudut taman itu, para gadis muda berkelompok dan saling berdiskusi, membicarakan berbagai hal mulai dari pakaian terbaru, gosip di lingkungan keluarga, hingga menilai satu sama lain. Namun sejak kedatangan Yanfei, seolah-olah semua perhatian secara perlahan terpusat hanya padanya. Bahkan sejak tadi ia hanya berdiri diam, sesekali tersenyum dan mendengarkan percakapan orang lain tanpa banyak bicara, namun kehadirannya tetap menarik pandangan siapa saja yang lewat. Bagi mereka yang memiliki rasa iri, ini membuktikan bahwa Nona Duan itu memang pandai menampilkan diri agar terlihat istimewa di hadapan orang banyak.

“Lihatlah sikapnya itu, sungguh menyedihkan,” desis seorang gadis sambil mendecak lidah dengan nada mengejek. “Wanita yang memiliki angan-angan terlalu tinggi, namun tidak pernah mau berkaca dan melihat dirinya sendiri apa adanya. Dia berpikir dengan bersikap tenang dan anggun, semua orang akan memujinya terus-menerus.”

Kata-kata tajam itu melayang di udara, dan tanpa disadari terdengar jelas hingga sampai ke telinga Yan Xumin yang berdiri tidak jauh dari situ. Mendengar hinaan yang ditujukan kepada sahabatnya itu, perasaan tidak senang segera muncul di hatinya. Namun ia tahu, jika ia langsung meledak dan marah, justru akan membuat suasana menjadi kacau dan memberi alasan baru bagi mereka untuk membicarakan hal-hal buruk. Maka ia hanya menarik napas panjang, menahan amarahnya sekuat tenaga, dan dalam waktu singkat kembali mengendalikan ekspresi wajahnya agar tetap terlihat tenang.

Di sisi lain, perhatian mereka perlahan beralih kembali ke sosok Yanfei yang sedang menoleh ke arah kelompok itu.

“Eh… apakah Nona Duan sedang melihat ke arah kita?” tanya seorang gadis dari keluarga Shen yang selalu berdiri bersama Bai Shu. Sejak awal, keluarga Shen juga tidak memiliki hubungan baik dengan Yan Xumin, dan sering kali ikut serta dalam mengucapkan kata-kata yang merendahkan.

Namun saat menatap balik ke arah Yanfei, ia merasakan sesuatu yang membuatnya tidak nyaman. Tatapan wanita itu terasa tenang namun tajam, seolah bisa menembus ke dalam hati dan mengetahui segala hal yang baru saja mereka bicarakan.

“Wah, apakah itu sopan? Menatap orang lain dengan tatapan seperti itu?” tantang Bai Shu dengan suara yang sedikit meninggi, sengaja ingin memancing perhatian. Ia menatap balik Yanfei dengan pandangan yang penuh kebencian dan rasa ingin menantang.

“Kau… beraninya kau hanya diam dan mengabaikan ucapanku?” seru Bai Shu lagi, merasa tidak dihargai.

Namun, Yanfei hanya menatapnya sebentar dengan pandangan datar, lalu memutar badannya dan melangkah pergi begitu saja tanpa menjawab sepatah kata pun.

Melihat sikap itu, ingatan lama terlintas di benak Yanfei. Sejak kecil, gadis bernama Bai Shu ini selalu mengikuti ke mana pun ia pergi, memanggilnya “Kakak” dengan nada manja, dan berusaha mendekatinya agar bisa mendapatkan perhatian dan keuntungan.

Namun seiring berjalannya waktu dan perubahan situasi, semua kebaikan itu berubah menjadi rasa iri dan kebencian. Hubungan baik yang pernah terjalin itu tampaknya hanya akan menjadi kenangan masa lalu yang sudah tidak ada gunanya lagi.

“Kau! Beraninya kau mengabaikan aku begitu saja!” teriak Bai Shu dengan suara yang cukup keras hingga menarik perhatian banyak orang di sekitarnya. Wajahnya memerah menahan amarah yang meledak.

Ia adalah putri seorang Jenderal tingkat dua yang memiliki jasa besar bagi kekaisaran. Selama bertahun-tahun, ayahnya selalu menjadi tokoh yang bersinar dan sering mendapatkan pujian serta penghargaan langsung dari Kaisar. Sejak kecil, ia terbiasa hidup dalam kemewahan, kekuasaan, dan pujian dari semua orang. Tidak ada satu pun orang yang berani menyakiti hatinya, apalagi mengabaikan keberadaannya seperti yang baru saja dilakukan Yanfei. Bagi Bai Shu, hal itu adalah penghinaan paling besar yang pernah ia terima selama hidupnya.

Semua pandangan mata di sekitar taman kini tertuju pada mereka. Suasana yang tadinya riuh dengan percakapan perlahan menjadi hening. Para gadis muda dan para nyonya yang hadir menatap penasaran, ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dan mengapa Bai Shu sampai berteriak di tengah acara resmi seperti ini.

Yanfei berhenti melangkah, namun tidak langsung menoleh. Ia berdiri tegak dengan punggung lurus, membiarkan pakaian gaunnya yang berwarna krem lembut tertiup angin malam. Dalam hatinya, ia merasa tidak perlu meladeni pertengkaran yang tidak penting ini. Namun, ia juga sadar bahwa jika ia terus berdiam diri, orang lain akan menganggapnya lemah dan membiarkan dirinya terus diinjak-injak.

“Mengapa kau marah?” tanya Yanfei dengan nada suara yang lembut namun terdengar jelas hingga ke telinga semua orang yang mendengarkan. “Apa yang kau katakan barusan, apakah itu layak untuk didengar dan dijawab? Jika bukan, maka mengapa aku harus membuang waktuku hanya untuk menjawab hal-hal yang tidak ada gunanya?”

Kata-kata itu sederhana, namun menusuk tepat ke sasaran. Bai Shu terdiam sejenak, lalu semakin marah karena merasa dipermalukan di depan orang banyak. “Kau… kau pikir dirimu siapa? Hanya karena keluargamu lebih dulu terkenal, kau merasa bisa meremehkan orang lain? Jangan sombong, Nona Duan! Suatu saat nanti, posisimu juga bisa runtuh seperti debu yang tertiup angin!”

Yanfei hanya tersenyum tipis, senyum yang tidak mengandung ejekan, namun terasa sangat meyakinkan. “Aku tidak meremehkan siapa pun. Aku hanya tahu mana yang pantas untuk didengar dan mana yang sebaiknya dibiarkan berlalu. Jika kau merasa terhina karena aku tidak menjawab, itu bukan salahku, melainkan karena hatimu sendiri yang mudah tersinggung dan penuh prasangka.”

Suasana semakin hening. Banyak yang mulai mengangguk setuju dalam hati. Meskipun Bai Shu berasal dari keluarga terhormat, sikapnya yang meledak-ledak dan berteriak di tempat umum justru membuatnya terlihat kurang memiliki tata krama, sedangkan Yanfei yang tetap tenang justru terlihat lebih anggun dan berwibawa.

Yan Xumin yang melihat kejadian itu pun merasa lega sekaligus kagum. Ia melihat bagaimana sahabatnya mampu menghadapi situasi sulit dengan kepala dingin, sesuatu yang mungkin belum tentu bisa ia lakukan jika berada di posisi yang sama. Ia menyadari bahwa meskipun keduanya memiliki kedudukan yang berbeda, ketenangan dan kekuatan hati yang dimiliki Yanfei adalah hal yang tidak bisa dibeli dengan gelar atau kekayaan apa pun.

Di sisi lain, Bai Shu menyadari bahwa ia sudah menarik perhatian orang banyak dan membuat dirinya terlihat buruk. Ia menggertakkan gigi, namun tidak tahu lagi harus berkata apa untuk membalas ucapan Yanfei. Ia hanya bisa berdiri di tempat sambil menahan rasa malu dan marah yang meluap di dadanya, sementara tatapan mata orang-orang di sekitarnya membuatnya semakin merasa tidak nyaman.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!