NovelToon NovelToon
Jalan Kultivasi Sang Dewa

Jalan Kultivasi Sang Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi Timur / Epik Petualangan
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Adit

Di sebuah desa kecil yang terlupakan dunia, seorang anak pemburu hidup dalam kemiskinan sambil merawat ibunya yang sakit parah. Setiap hari ia mempertaruhkan nyawanya di hutan demi bertahan hidup, tanpa mengetahui bahwa takdir besar sedang menunggunya.
Sebelum menghembuskan napas terakhir, sang ibu mengungkap rahasia yang selama ini disembunyikan—ayahnya masih hidup, dan berada di Dunia Atas, tempat para kultivator kuat menguasai langit dan bumi.
Dengan tekad untuk menemukan ayahnya dan mengubah nasibnya, pemuda itu memulai perjalanan kultivasi dari dunia paling bawah. Bersama teman yg ditemui Nya waktu dia masih kecil, ia menghadapi monster, sekte, pengkhianatan, dan perang antar dunia demi mencapai puncak kekuatan.
Sebuah perjalanan dari seorang pemburu desa… menuju penguasa langit tertinggi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 3 - Gadis Misterius dan Kawanan Serigala

Keesokan paginya, ketika matahari baru saja muncul dari balik pegunungan di kejauhan dan menyebarkan cahaya keemasan yang lembut ke seluruh penjuru desa, Cang Xuan sudah meninggalkan rumahnya sejak lama. Udara pagi yang masih dingin berembus perlahan melewati jalan-jalan tanah yang sepi, sementara sebagian besar penduduk desa bahkan belum memulai aktivitas mereka. Dengan langkah yang sudah terbiasa, ia berjalan meninggalkan desa dan kembali memasuki hutan yang membentang luas di luar wilayah perlindungan penghalang.

Pedang tua yang selalu menemaninya tergantung di pinggang, bergoyang perlahan mengikuti langkahnya. Meskipun usianya masih muda, sorot matanya menunjukkan keteguhan yang jauh melampaui anak-anak seusianya. Ia bergerak di antara pepohonan dengan tenang, sesekali mengamati jejak-jejak hewan yang mungkin dapat membawanya kepada mangsa.

Namun kondisi tubuhnya sebenarnya tidak berada dalam keadaan terbaik. Sejak hari sebelumnya, ia belum benar-benar mengisi perutnya dengan makanan yang layak. Sepotong roti yang dibelinya kemarin telah diberikan kepada ibunya, sementara dirinya sendiri hanya bertahan dengan menahan rasa lapar yang terus mengganggu. Bahkan hingga pagi itu, perutnya masih terasa kosong, membuat tubuhnya sedikit lebih lemah dibandingkan biasanya.

Meski demikian, Cang Xuan tidak mengeluh. Ia sudah terlalu sering menghadapi keadaan seperti ini sehingga rasa lapar bukan lagi sesuatu yang asing baginya. Bagaimanapun juga, ia tidak memiliki banyak pilihan. Jika tidak berburu, tidak akan ada uang yang bisa digunakan untuk membeli makanan maupun obat. Kehidupan mereka bergantung pada hasil buruannya setiap hari, dan satu-satunya cara untuk mempertahankan kehidupan sederhana bersama ibunya adalah terus memasuki hutan, mencari mangsa, lalu menukarkannya dengan beberapa keping koin.

Hutan pada pagi itu terasa jauh lebih tenang dibandingkan biasanya. Cahaya matahari yang hangat menembus celah-celah dedaunan lebat di atas, membentuk bercak-bercak cahaya keemasan di atas tanah yang dipenuhi rerumputan dan akar pohon. Dari berbagai arah terdengar suara burung yang saling bersahutan, menciptakan suasana damai yang membuat sulit membayangkan bahwa tempat yang sama akan berubah menjadi wilayah mematikan ketika malam tiba.

Cang Xuan berjalan menyusuri jalur yang sudah sangat dikenalnya. Sejak kecil ia telah berkali-kali melewati daerah ini untuk berburu, sehingga hampir setiap pohon besar, semak belukar, dan jalan setapak telah terekam jelas dalam ingatannya. Dengan langkah yang tenang, ia terus mengamati sekeliling sambil mencari jejak-jejak hewan yang dapat dijadikan mangsa.

Sayangnya, keberuntungan tampaknya tidak berpihak kepadanya hari itu.

Selama hampir satu jam berkeliling hutan, ia hanya menemukan beberapa kelinci liar yang bersembunyi di antara rerumputan serta beberapa kucing hutan yang bergerak lincah di antara pepohonan. Meskipun hewan-hewan tersebut tetap memiliki nilai jual, harganya jauh lebih rendah dibandingkan serigala atau mangsa berukuran besar lainnya yang biasa ia cari.

Cang Xuan bahkan tidak berusaha mengejar mereka. Ia hanya memperhatikan beberapa saat sebelum melanjutkan perjalanan ke area lain. Pengalamannya selama bertahun-tahun telah membuatnya memahami nilai dari setiap hasil buruan. Jika ia menghabiskan seluruh hari hanya untuk menangkap hewan-hewan kecil itu, uang yang diperolehnya kemungkinan besar tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan yang harus ia beli nanti.

Memikirkan hal tersebut, ia tidak dapat menahan diri untuk menghela napas pelan. Tatapannya menyapu hutan di sekelilingnya, berharap menemukan jejak mangsa yang lebih berharga, tetapi yang terlihat hanyalah pepohonan dan semak belukar yang bergoyang perlahan diterpa angin pagi.

"Kalau hanya mendapatkan hewan kecil seperti ini, aku bahkan tidak bisa membeli obat."

Ketika sedang melangkah melewati area hutan yang semakin asing, telinga Cang Xuan tiba-tiba menangkap suara yang membuat langkahnya terhenti. Dari kejauhan terdengar lolongan panjang yang menggema di antara pepohonan, memecah ketenangan pagi yang sebelumnya menyelimuti hutan.

"Awooo!"

"Awooo!"

Lolongan itu terdengar lebih dari satu kali dan berasal dari arah yang sama. Begitu mendengarnya, mata Cang Xuan langsung berbinar. Pengalamannya berburu selama bertahun-tahun membuatnya dapat mengenali suara tersebut dengan mudah.

"Itu suara kawanan serigala."

Sudut bibirnya perlahan terangkat.

"Sekali ini aku pasti bisa mendapatkan banyak koin."

Serigala memiliki nilai jual yang jauh lebih tinggi dibandingkan kelinci atau kucing hutan. Jika berhasil memburu beberapa ekor sekaligus, uang yang diperolehnya mungkin cukup untuk membeli obat dan kebutuhan lain selama beberapa hari ke depan.

Tanpa membuang waktu, Cang Xuan segera berlari ke arah asal suara tersebut. Tubuhnya bergerak lincah melewati semak-semak dan akar pohon yang menjulur dari tanah. Semakin jauh ia bergerak, suara lolongan itu terdengar semakin jelas, menandakan bahwa ia sudah semakin dekat dengan kawanan tersebut.

Namun sesaat setelah menyingkap semak belukar yang menghalangi pandangannya, langkahnya langsung terhenti.

Ekspresi antusias yang sebelumnya terlihat di wajahnya menghilang seketika, digantikan oleh keterkejutan yang sulit disembunyikan.

"Apa?"

Di sebuah area terbuka yang dikelilingi pepohonan, seorang gadis muda yang tampaknya seusia dengannya sedang terbaring tidak sadarkan diri di atas rerumputan. Pakaiannya tampak robek di beberapa bagian, sementara noda darah yang telah mengering terlihat pada lengan dan dahinya. Kondisinya jelas tidak baik.

Yang lebih mengkhawatirkan adalah keberadaan beberapa ekor serigala yang sedang mengelilinginya.

Mata para binatang buas itu tertuju pada tubuh gadis tersebut. Mereka bergerak perlahan sambil menggeram rendah, seolah sedang menunggu saat yang tepat untuk menerkam mangsa yang tidak mampu melawan. Air liur menetes dari mulut mereka, menunjukkan bahwa mereka sudah menganggap gadis itu sebagai santapan yang akan segera mereka nikmati.

Cang Xuan tidak dapat menahan rasa heran yang muncul di dalam hatinya.

"Bagaimana bisa ada gadis di tengah hutan seperti ini?"

Pertanyaan itu muncul secara naluriah, tetapi ia tahu bahwa sekarang bukan waktunya mencari jawaban.

Pandangan para serigala semakin berbahaya dari detik ke detik.

Dengan gerakan tenang, ia menggenggam gagang pedang di pinggangnya.

"Entah dia masih hidup atau tidak, yang penting aku harus mengusir para serigala itu."

Hampir pada saat yang sama, seekor serigala yang berada paling dekat dengannya menyadari keberadaannya. Binatang itu langsung menoleh dan memperlihatkan taring-taring tajamnya sebelum menerjang dengan kecepatan tinggi.

Namun Cang Xuan tidak menunjukkan sedikit pun kepanikan.

Selama bertahun-tahun berburu di hutan, menghadapi serigala bukan lagi sesuatu yang asing baginya.

Sreet!

Kilatan pedang melintas di udara.

Tubuh serigala yang baru saja melompat langsung terpotong sebelum sempat mencapai targetnya. Darah segar memercik ke rerumputan ketika bangkainya jatuh menghantam tanah.

Kematian mendadak salah satu anggota kawanan membuat suasana berubah seketika.

Serigala-serigala lainnya menggeram marah.

Mata mereka yang sebelumnya tertuju pada gadis itu kini beralih kepada Cang Xuan.

Detik berikutnya, beberapa serigala menerjang secara bersamaan dari berbagai arah.

Pertarungan pun pecah.

Tubuh Cang Xuan bergerak cepat di antara para serigala yang menyerangnya tanpa henti. Meskipun usianya masih muda, gerakannya jauh lebih terlatih dibandingkan pemburu biasa. Ia memanfaatkan ukuran tubuhnya yang kecil untuk menghindari serangan-serangan mematikan, lalu membalas dengan tebasan pedang yang cepat dan tepat.

Setiap kali bilah pedangnya berayun, darah segar kembali memercik ke udara.

Seekor demi seekor serigala tumbang.

Raungan kesakitan dan geraman marah terus bergema di area terbuka itu. Rerumputan yang semula hijau perlahan berubah merah akibat darah yang mengalir selama pertarungan.

Meski harus menghadapi beberapa lawan sekaligus, Cang Xuan tidak mundur sedikit pun. Tatapannya tetap fokus, sementara pedang di tangannya terus bergerak dengan efisien tanpa membuang tenaga yang tidak perlu.

Setelah pertarungan berlangsung cukup lama, enam ekor serigala telah tergeletak tak bernyawa di atas tanah.

Melihat sebagian besar kawanan mereka terbunuh, keberanian para serigala yang tersisa akhirnya runtuh. Mereka mengeluarkan geraman rendah beberapa kali sebelum mundur perlahan. Tidak lama kemudian, satu per satu binatang itu berbalik dan melarikan diri ke dalam hutan, menghilang di antara pepohonan yang rapat.

Cang Xuan mengangkat tangannya dan mengusap keringat yang membasahi dahinya. Pertarungan melawan kawanan serigala itu memang tidak terlalu sulit baginya, tetapi menghadapi beberapa lawan sekaligus tetap menguras tenaga, terlebih dalam kondisi perut yang masih kosong sejak hari sebelumnya.

"Nampaknya mereka akhirnya kabur."

Pandangannya menyapu area di sekelilingnya untuk memastikan tidak ada serigala lain yang bersembunyi di antara pepohonan. Setelah yakin keadaan benar-benar aman, matanya beralih ke enam bangkai serigala yang tergeletak di atas rerumputan yang berlumuran darah.

Melihat hasil buruannya kali ini, ia tidak dapat menahan senyum tipis yang muncul di wajahnya.

"Hasil sebanyak ini jauh lebih baik dibandingkan kemarin yang cuma dapat satu ekor serigala saja."

Jika keenam bangkai itu berhasil dibawanya kembali ke desa, uang yang diperoleh pasti tidak sedikit. Setidaknya untuk beberapa waktu ke depan, ia tidak perlu terlalu khawatir mengenai obat ibunya.

Namun pikiran tersebut tidak bertahan lama.

Perhatiannya segera kembali tertuju pada sosok gadis yang masih terbaring tak bergerak di tengah area terbuka itu.

Cang Xuan berjalan mendekat lalu berjongkok di sampingnya. Dari jarak yang lebih dekat, luka-luka di tubuh gadis itu terlihat jauh lebih jelas dibandingkan sebelumnya. Ada banyak lecet pada tangan dan kakinya, seolah ia telah mengalami perjalanan yang sangat berat sebelum tiba di tempat ini. Selain itu, salah satu lengannya juga memiliki luka goresan yang cukup dalam dan belum mendapatkan perawatan apa pun.

Dengan sedikit ragu, Cang Xuan mengulurkan tangan dan memeriksa napasnya.

Sesaat kemudian, ekspresinya sedikit mengendur.

"Sepertinya dia masih hidup."

Meskipun kondisinya terlihat buruk, napas gadis itu masih ada. Hanya saja kesadarannya belum menunjukkan tanda-tanda akan kembali dalam waktu dekat.

Cang Xuan terdiam selama beberapa saat.

Tatapannya perlahan beralih menuju enam bangkai serigala yang berada tidak jauh dari sana. Setelah itu, ia kembali menoleh ke arah gadis yang pingsan di hadapannya.

Untuk pertama kalinya sejak menemukan gadis itu, ia benar-benar memikirkan situasi yang sedang dihadapinya.

Jika ia memilih membawa keenam serigala tersebut pulang sekarang, hasil yang diperolehnya akan sangat besar. Dengan uang sebanyak itu, ia bisa membeli lebih banyak makanan dan obat-obatan untuk ibunya.

Namun jika ia meninggalkan gadis itu sendirian di tengah hutan, kemungkinan besar ia tidak akan bertahan lama.

Hutan bukanlah tempat yang aman bagi seseorang yang tidak sadarkan diri. Bahkan jika serigala-serigala tadi tidak kembali, masih ada banyak binatang buas lain yang dapat muncul kapan saja.

Memikirkan hal itu membuat alis Cang Xuan sedikit berkerut.

Ia memang hidup dalam kesulitan, tetapi membiarkan seseorang mati begitu saja di depan matanya bukanlah sesuatu yang bisa dilakukannya.

Pada akhirnya, ia hanya menghela napas pelan.

"Serigala-serigala itu tidak akan lari."

Tatapannya kembali jatuh pada gadis tersebut.

"Aku harus membawa gadis ini ke tempat yang lebih aman dulu."

Setelah mengambil keputusan, ia tidak lagi ragu-ragu.

Cang Xuan menyarungkan kembali pedangnya, lalu dengan hati-hati mengangkat tubuh gadis itu ke punggungnya. Tubuh gadis tersebut terasa ringan, jauh lebih ringan dari yang ia bayangkan. Mungkin karena kondisinya yang lemah akibat luka-luka yang dideritanya.

Setelah memastikan tubuh gadis itu tidak akan terjatuh, ia berdiri perlahan dan mulai berjalan meninggalkan area pertempuran. Langkahnya tetap berhati-hati karena tidak ingin memperparah luka yang ada pada gadis tersebut.

Dengan gadis misterius yang masih tidak sadarkan diri di punggungnya, Cang Xuan terus melangkah menuju ke tempat yg lebih aman. Sementara itu, keenam bangkai serigala yang berhasil diburunya tetap tertinggal di area terbuka sebelumnya, menunggu pemiliknya kembali mengambil hasil kerja keras yang telah diperjuangkannya dengan susah payah.

End Chapter 3

1
asri_hamdani
tangkap 1-2 kan bisa untuk ganjel perut lapar 🤔
.: karena menurut Cang xuan menangkap hewan hewan kecil seperti kelinci ataupun kucing hutan itu hanya membuang-buang waktu karena hewan tersebut memiliki pergerakan yg cukup lincah Apalagi walaupun berhasil menangkap dia hanya mendapatkan koin yg sedikit apalagi dia mempunyai waktu terbatas yaitu jangan sampai malam hari karena banyak monster abbys yg berkeliaran oleh karena itu daripada membuang buang waktu ke hewan yg memiliki nilai koin yg sedikit menurut Cang xuan lebih baik mencari hewan yg ukuran nya cukup besar dan mendapatkan koin yg lebih banyak dibandingkan harus bersusah payah menangkap hewan ukuran kecil
total 1 replies
Kevandra
B🌻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!