Kinan dan Darwin bertemu pada malam hujan yang penuh bahaya. Untuk menghilang dari masa lalu mereka, keduanya pindah ke sebuah desa dan berpura-pura menjadi suami istri.
Di balik kehidupan sederhana sebagai guru TK dan petugas kebersihan puskesmas, mereka menemukan berbagai kejanggalan yang merugikan warga. Saat berusaha mengungkap kebenaran, perasaan yang awalnya hanya sandiwara mulai berubah menjadi nyata.
Namun tidak ada yang tahu bahwa Kinan adalah bos mafia yang ditakuti, dan Darwin adalah CEO yang sengaja menghilang dari dunia bisnis.
Ketika rahasia mereka terbongkar, mana yang lebih sulit dipertahankan: penyamaran, atau perasaan yang terlanjur tumbuh?
Pernikahan 2 Rahasia: Antara CEO dan Bos Mafia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketukan di Luar
Ketukan keras mendadak terdengar dari luar apartemen.
Tok.
Tok.
Tok.
Keduanya langsung diam.
Ketukan itu terdengar lagi. Lebih keras. Darwin menoleh ke arah pintu. Sementara tangan Kinan sudah bergerak lebih dulu menuju pisau di balik jaketnya. Mereka saling pandang. Tidak ada yang berbicara.
Ketukan ketiga datang bersamaan dengan suara pria dari luar. "Pak Darwin?"
Darwin mengembuskan napas pelan.
"Pak, ini saya. Satpam."
Tidak ada yang bergerak. Suara itu terdengar lagi.
"Boleh bicara sebentar?"
Kinan dan Darwin saling pandang. Lalu Darwin berjalan mendekati pintu.
"Kau kenal dia?" tanya Kinan waspada.
"Kalau dia satpam apartemen ini, iya aku mengenalnya."
Lalu Ia membuka pintu beberapa sentimeter.
Seorang pria berseragam keamanan berdiri di luar. Lalu ia membuka pintu beberapa sentimeter.
Seorang pria berseragam keamanan berdiri di luar.
"Wah, syukurlah masih bangun," ujar satpam berusia sekitar lima puluh tahun.
"Ada apa, Pak?" tanya Darwin sambil melirik koridor.
Satpam itu ikut menoleh ke kanan dan kiri sebelum merendahkan suaranya. "Tadi ada beberapa orang mencari seseorang di gedung ini."
Ekspresi Darwin tidak berubah. Di belakang pintu, Kinan ikut mendengarkan.
"Mereka keliling dari lantai bawah. Tanya ke beberapa penghuni juga."
"Mencari siapa?"
Satpam itu menggaruk tengkuk. "Seorang perempuan."
Jeda sesaat.
"Mereka bahkan menunjukkan foto."
Kinan menahan napas.
"Kelihatannya bukan orang baik-baik."
Darwin bersandar di kusen pintu. "Lalu?"
"Saya cuma mau mengingatkan. Kalau melihat sesuatu yang aneh, segera hubungi pos keamanan."
"Oke."
Satpam itu mengangguk lalu berbalik. Baru dua langkah berjalan, ia berhenti. "Pak Darwin?"
Darwin menoleh. "Hm?"
Satpam itu menunjuk lantai tepat di dekat pintu.
"Ada apa itu?"
Darwin mengikuti arah telunjuknya. Setitik darah terlihat di keramik. Meski kecil namun cukup jelas di bawah cahaya lampu koridor.
Di belakangnya, Kinan langsung menegang.
Tangannya bergerak pelan menuju pisau di balik jaket.
Darwin sempat memejamkan mata sepersekian detik. Lalu kembali menatap satpam itu. "Oh, itu."
Satpam menunggu penjelasan.
"Tadi saya jatuh waktu bawa belanjaan."
Satpam itu mengernyit.
"Jatuh?"
"Iya. Kaleng sarden. Ternyata lebih berbahaya dari yang saya kira."
Darwin mengangkat telunjuk kanannya. Ada goresan tipis di ruas jarinya. Bekas yang bahkan baru ia sadari saat itu.
Satpam menatapnya beberapa detik. Kemudian pandangannya sempat bergerak ke dalam apartemen.
Jantung Kinan mengencang.
Darwin tetap berdiri di ambang pintu, tanpa sadar menghalangi sebagian besar pandangan ke dalam.
Setelah beberapa detik, satpam itu mengangguk.
"Ya sudah. Hati-hati, Pak."
"Siap."
"Kunci pintunya baik-baik."
"Pasti."
Satpam akhirnya pergi. Suara langkahnya perlahan menjauh menyusuri koridor.
Darwin menunggu sampai suara lift tertutup.
Baru kemudian ia menutup pintu.
Klik. Kunci diputar. Apartemen kembali sunyi.
Darwin menoleh. Kinan masih berdiri di tempat yang sama. Tatapannya tertuju ke setitik darah di dekat pintu.
"Lain kali," kata Darwin sambil mengambil tisu, "usahakan berdarah di tempat yang tidak terlihat."
Kinan memandangnya beberapa saat. "Lain kali?"
Darwin mulai menghapus bercak darah itu. "Kalau ada lain kali, berarti kita berhasil melewati malam ini."
"Kau punya rencana?" tanya Darwin kemudian.
"Kabur sebelum pagi."
"Bagus."
Kinan mengernyit. "Kau setuju?"
"Aku tidak ingin apartemenku menjadi lokasi baku tembak."
"Itu alasanmu?"
"Alasan yang masuk akal."
Darwin menutup kotak P3K lalu berdiri. Luka Kinan sudah dibersihkan sementara. Tidak sempurna, tetapi cukup untuk menghentikan pendarahan. "Kau butuh rumah sakit."
"Tidak."
"Klinik?"
"Tidak."
"Puskesmas?"
"Tidak."
Darwin menghela napas. "Kau pelanggan yang merepotkan."
"Aku tidak pernah menjadi pelangganmu."
"Itu juga benar." Ia berjalan menuju dapur lalu membuka kulkas.
Kinan memperhatikan. Isinya menyedihkan.
Beberapa botol air. Telur. Saus sambal. Dan entah kenapa 2 bungkus mi instan yang sama.
"Kau hidup dari itu?"
Darwin mengikuti arah pandangannya. "Oh."
"Kau sadar itu bukan makanan?"
"Aku sadar."
"Lalu?"
"Aku malas."
Kinan menatapnya beberapa detik. Darwin terlihat sangat serius dengan jawaban itu.
"Kau akan mati muda."
"Kalau beruntung."
Kinan hampir tertawa, ia rasa pria asing di depannya ini punya selera humor yang tinggi.
Darwin berjalan ke dapur lalu mengambil dua bungkus mi instan. "Kau lapar?"
Kinan mengira ia salah dengar. "Apa?"
"Kau lapar?"
"Mereka sedang mencariku."
"Aku tahu."
"Kita mungkin harus kabur."
"Aku juga tahu."
Darwin meletakkan panci di atas kompor. "Tapi kau tetap butuh makan."
Api menyala. Suara air mulai mendidih beberapa menit kemudian.
Kinan berdiri di dekat jendela. Ia sudah terbiasa menghadapi situasi buruk. Namun biasanya ia memiliki orang-orang yang bisa diandalkan.
Orang-orang yang akan datang ketika dipanggil.
Orang-orang yang bisa diperintah. Malam ini tidak ada. Ponselnya hilang saat pelarian. Jalur komunikasi terputus. Dan, ia benar-benar sendirian sekarang.
Darwin meletakkan semangkuk mi di meja.
"Asal kau tahu, ini satu-satunya makanan yang bisa kubuat."
"Kau tidak bisa memasak?"
"Bisa."
"Apa?"
"Mi instan."
Kinan menatap mangkuk itu. Uap tipis masih mengepul. Perutnya yang sejak siang belum terisi apa pun akhirnya bereaksi.
Darwin benar. Ia lapar.
Beberapa menit kemudian mereka duduk berhadapan. Makan dalam diam. Sesekali suara kendaraan terdengar dari luar.
Namun tidak ada yang berbicara. Sampai Darwin meletakkan garpunya. "Namaku Darwin."
Kinan mengangkat kepala. "Itu nama di depan pintu."
"Ya."
"Kau sering memperkenalkan diri kepada orang asing?"
"Tidak."
"Lalu?"
Darwin berpikir sejenak. "Kita sudah berbagi apartemen, mengobati lukamu, dan mi instan."
"Itu kombinasi yang aneh."
"Setuju."
Kinan menatap mangkuknya. Beberapa detik berlalu. "Kinan."
Darwin mengangguk. Tidak ada keterkejutan.
Tidak ada pertanyaan lanjutan. Seolah nama itu cukup. Namun diam-diam ia mengulanginya dalam kepala.
Kinan.
Cocok dengan pemiliknya. Tajam. Pendek. Sulit ditebak.
Darwin berjalan menuju jendela setelah makanannya habis. Hujan mulai mengecil. Jalanan di bawah tampak lebih sepi dibanding beberapa jam lalu. Namun sebuah mobil hitam masih terparkir di sisi jalan. Mesinnya mati.
Lampunya mati. Tetapi mobil itu belum pergi.
Darwin memperhatikan beberapa saat. Lalu matanya menyipit. "Itu teman-temanmu?"
Kinan mendekat ke jendela. Hanya sekali lihat.
Rahangnya langsung mengeras. "Mereka."
Darwin menoleh, ia melihat sesuatu yang berbeda dari wanita di depannya. Bukan takut atau panik. Melainkan kemarahan yang dingin dan tajam. Seperti seseorang yang sedang mengingat daftar nama.
Di bawah sana, pintu mobil hitam terbuka. Salah satu pria keluar sambil berbicara melalui telepon.
Kemudian menunjuk ke arah apartemen.
Darwin mengikuti arah telunjuknya. Tepat ke gedung tempat mereka berada. "Kurasa malam kita belum selesai."
Kinan tidak menjawab. Tatapannya masih tertuju ke luar jendela.
Sementara di bawah, satu mobil hitam lagi baru saja berhenti di pinggir jalan.
Di bawah sana, satu mobil hitam lagi baru saja berhenti di pinggir jalan. Salah satu pria turun.
Ia tidak menuju lobi. Ia berjalan ke arah pos keamanan.
Beberapa saat kemudian, satpam yang tadi datang ke apartemen Darwin keluar bersama mereka.
Kinan langsung menjauh dari jendela.
"Kita harus pergi."
Nada suaranya membuat Darwin menoleh.
"Sekarang."