NovelToon NovelToon
Pengantin 1,2 Triliun.

Pengantin 1,2 Triliun.

Status: sedang berlangsung
Genre:Roman-Angst Mafia / Romansa / Nikahmuda
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rinnaya

Apa yang terjadi saat seorang putri kaya yang jahat akhirnya jatuh miskin? Adakah yang akan menolongnya dari jeratan? Dialah Prisha.
Di titik paling kelam saat ia hampir menyerah pada hidup, sebuah uluran tangan asing datang menawarkan pelampung darurat. Sebuah kesepakatan rahasia bernilai triliunan rupiah disodorkan ke hadapannya.
​Demi bertahan hidup dan merebut kembali apa yang menjadi haknya, Prisha terpaksa melangkah masuk ke dalam sangkar emas milik keluarga Tanubrata. Ia harus berhadapan dengan Saka Tanubrata, pria yang memegang kunci keselamatan sekaligus kehancurannya.
​Ini adalah kisah tentang harga diri yang dipertaruhkan, rahasia di balik kemewahan, dan sebuah takdir bersyarat. Mampukah Prisha bertahan di dunia barunya, atau justru ia akan hancur dalam permainan yang ia mulai sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rinnaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

32. Sogokan.

Prisha masuk kembali ke dalam kamarnya, ia menghela napas berat lalu kemudian duduk di dekat meja belajarlah lagi. Dia menoleh ke arah jendela, goldennya menari tertiup angin. Meskipun begitu Prisha tidak ada niat menutup jendela, angin tersebut sedikit membantu meringankan pemikirannya.

“Mereka mencoba menghiburku,” gumamnya dalam bisikan kecil. “Apa emosiku terlalu jelas?”

Bukan maksud Prisha mendiamkannya mereka semua, hanya saja ia memang kesulitan saat ini sampai-sampai membuatnya bingung. Lagi pula Prisha menumpang di rumah ini, terlebih ia banyak libur setelah kejadian jatuh dari tangga sekolah. Satu-satunya yang bisa menyelamatkan muka Prisha yaitu nilai akademiknya, jangan sampai Tanubrata memelihara gadis dengan nilai akademik rendah.

“Itu akan sangat memalukan.”

Seorang Prisha juga punya malu. Demi membalas budi, dia harus melakukan apa yang bisa diusahakan. Meskipun tidak memiliki apapun untuk diberikan, setidaknya punya sesuatu untuk dibanggakan.

Ia tahu terus menyesali catatan yang rusak itu percuma, ia sangat sadar tantang hal tersebut. Sejak tadi dia mencoba mulai membuat catatan baru, sayangnya dia tidak tahu mulai dari mana sebab materinya saja tidak ada. Semua yang ia catat adalah sesuatu yang tidak ia pahami, jika ia memahaminya tidak mungkin ia catat.

“Jika ingin membuat catatan ulang, meminjam catatan teman satu angkatan adalah solusi. Tapi tidak ada siapapun yang akan merelakan catatan mereka untukku.”

“Kalau begitu bayar saja.”

Prisha kaget mendengar suara itu, ketika ia menoleh Saka sudah berada di belakangnya. Ini yang kedua kalinya Saka masuk ke dalam kamar Prisha, apalagi dalam satu malam yang sama.

Mata mereka saling mengunci, entah kenapa Saka tidak mengalihkan pandangan sedangkan ia sering ketahuan tidak sudi melihat Prisha. Tirai yang menari turun naik menjadi dinding transparan di antara mereka berdua. Kedua pasang mata yang jernih itu seolah enggan berkedip.

Prisha lebih dahulu melepaskan pandangan, ia kembali duduk lurus menatap meja. “Kak Saka tahu maksudnya?”

“Catatanmu rusak, kan?”

“Dari mana Kak Saka tahu.”

“Bora menanyakan itu pada temanmu.”

Bora melakukan hal itu? Pasti seseorang menyuruhnya melakukan hal itu, kemungkinan terbesarnya adalah Ratih. Tapi Ratih tidak tahu tentang Ayu, tapi tidak mungkin juga Saka. Yah, anggap saja Ratih mengetahuinya dari pelayan lain.

“Sebentar lagi ujian, kan?” Saka berjalan ke samping, mengambil buku yang terbuka lebar namun tidak ada satupun tulisan di sana. “Uang jajanmu pasti cukup untuk menyogok. Sebenarnya bukan sesuatu yang ilegal, kau hanya meminjam buku dengan memberikan jaminan.”

“Dibayar ya?” ucap Prisha merasa tidak yakin.

“Setiap orang memiliki catatan yang berbeda-beda, cara pandang yang berbeda, dan tulisan itu atas dasar pemahaman mereka atau justru hal yang tidak mereka pahami seperti ... catatanmu?”

“Em, aku mencatat yang tidak aku mengerti.”

Saka berbalik, dia berjalan menuju arah pintu namun sambil mengatakan, “Mustahil catatan mereka sama denganmu, tapi setidaknya kau memiliki pemahaman baru daripada terung murung seperti ini.” Ketika dia sudah keluar, dia muncul lagi dengan membuka pintunya sedikit. “Lebih baik tutup jendela kamarmu, jangan sampai hantu masuk dari sana menarik kakimu saat tidur.”

Saka menghilang, Prisha masih memandang pintu yang baru saja ditutup rapat itu sambil berkedip-kedip polos. Aneh sekali, apa Saka repot-repot datang ke kamarnya untuk memberi saran itu? Lamunannya segera buyar saat notifikasi bank di ponselnya masuk, saat ia melihatnya, ada sejumlah uang masuk dari Saka.

“Sepertinya dia serius menyuruhku menyogok orang.”

Angin berhembus lebih kencang, bulu kuduk Prisha seketika berdiri. Ia jadi teringat tentang perkataan terakhir Saka, cepat-cepat ia menutup jendela kamar.

***

Para mahasiswa semester pertama berlarian ke lapangan tenis membawa buku catatan masing-masing. Kabar Prisha akan membayar untuk peminjaman buku mereka sudah tersebar luas. Jumlah uangnya menggiurkan, Rp 500.000 untuk satu buku, lalu jika buku mereka rusak akan diganti 10x lipatnya.

Mereka berbaris teratur sementara Prisha mencatat nama mereka dan benar-benar terpampang nyata ia mentransferkan uang.

“Bukannya seharusnya keluarganya sudah bangkrut? Melihat dia masih seperti nona kaya ... Apa rumor dia jadi simpanan benaran nyata?”

Barisan belakang saling berbisik, meskipun begitu mereka tetap maju ketika barisan bergerak.

“Siapa yang peduli? Yang penting buku catatanku menghasilkan uang.”

Orang yang menginginkan uang akan datang tidak peduli seberapa buruk sikap Prisha yang pernah mereka lihat. Termasuk Yunha. Ketika gadis itu tiba di depannya, ia seperti seseorang yang tidak tahu malu. Rasanya Prisha ingin membuat pengecualian khusus untuk Yunha seperti: “Catatanmu tidak diterima, keluar dari barisan cepat!” Akan tetapi Prisha ingat catatan Yunha itu rapi dan tulisannya juga cantik.

“Kenapa memandangku seperti itu? Jika aku punya uang, aku tidak akan datang ke sini.”

“Cih, kau masih butuh uangku ternyata.”

Yunha tersenyum tipis menerima notifikasi bank di ponselnya, tanpa mengucapkan terima kasih dia segera pergi. Prisha memutar bola mata malas. Kenapa orang seperti Yunha yang memiliki tulisan tercantik? Apa karena dia kidal?

Orang berikutnya adalah Ayu, dia dengan ekspresi merasa bersalah meletakkan bukunya ke atas meja. “Jangan membayar untuk catatanku, Prisha. Aku tidak pantas.”

Prisha yang masih kesal dengan Ayu cuman mengangguk. Ayu tampak terkejut sesaat, Prisha benar-benar cuman mencatat namanya tanpa meminta mengeluarkan barkot..

“Hei kenapa kau lama sekali berdiri di situ?” teriak orang di belakang. Cuacanya panas, semua orang gerah kecuali Prisha yang duduk di balik bayangan bagaikan seorang panitia.

Ayu meminta maaf, kemudian keluar dari barisan. Ia menoleh ke Prisha sekali lagi, gadis itu tidak memandangnya sama sekali. Tangan Ayu terkepal erat, lalu kaget oleh tepukan di pundaknya.

Yunha tersenyum. “Kasihan gak dapat bayaran.” Selanjutnya ia tertawa mengejek.

Kelembutan di wajah Ayu menghilang, rahangnya mengeras sambil menyingkirkan tangan Yunha dari pundaknya. “Tidak sepertimu, aku tidak mengharapkan bayaran!”

Yunha melipat kedua tangannya di dada. “Orang sepertimu adalah orang yang paling menjijikan, Ayu.”

“Aku tidak sudi mendengar hal itu dari mulutmu!”

Di sisi lain akhirnya Prisha melirik ke Ayu, ia mengernyitkan dahi melihat Yunha tampak seperti sedang mengganggu Ayu. Dan setelah itu Ayu pergi dengan wajah marah, ia penasaran dengan apa yang mereka bicarakan, namun membiarkannya.

Buku yang Prisha dapatkan sangat banyak, jangankan memikirkan bagaimana cara merangkumnya nanti, dia sudah bingung bagaimana cara membawa semua buku ini pulang.

“Sepertinya harus menyewa mobil pengangkut,” gumam Prisha sendiri. Akhirnya ia menghubungi Bora untuk mempersiapkan segalanya, wanita itu sedang dalam perjalanan menjemputnya.

Joslan Relus datang ke lapangan tenis, dia merupakan rektor kampus ini. Dengan gaya tangan dilipat ke belakang, dia memandangi buku-buku bertumpuk.

Bagi orang lain dia adalah sosok yang dihormati, bagi Prisha Joskan hanyalah setumpuk sampah bau.

“Sudah lama tidak melihatmu. Rasanya aneh, pria tua ini jadi merinding sosok Prisha Kaelen,” ucap Joslan.

“Kau hanya merindukan uang keluargaku, pria tua sialan. Aku tidak akan membuat masalah lagi, tidak ada uang untuk membuatmu menyembunyikan masalahku.”

Joslan duduk di tumpukan buku tinggi itu—karena hanya ada kursi yang diduduki Prisha—memandang Prisha sambil mengangguk-anggukan kepala. Prisha tidak tahan dengan tatap pria tua bejat itu, ingin pergi namun ia harus menjaga buku ini sampai bora datang.

“Bisakah kau pergi Pak? Wajahmu memuakkan.”

“Dasar bocah gak tahu sopan santun, kau tidak takut ditendang dari kampus ini ya?”

Prisha tertawa. “Memangnya Bapak berani? Kenapa tidak lakukan sejak tahu keluargaku bangkrut saja? Aku kan tidak punya apa-apa lagi.”

Joslan menggeram pelan. Prisha benar, dia tidak memiliki keberanian untuk itu. Setelah keluarga Prisha bangkrut, di matanya Prisha hanyalah pengganggu yang dapat menghancurkannya ketika gadis itu ingin. Ia menyesali Prisha yang memegang tali rentan miliknya.

Di saat kedua orang dengan perbedaan usia yang jauh itu saling melemparkan tatapan kebencian, beberapa orang datang memecahkan ketegangan. Salah satunya adalah Bora, dengan empat orang di belakangnya; termasuk sopir pribadi dan petugas mobil pengangkut barang.

“Nona, apa semua buku ini sudah semua? Atau ada yang lain?” tanya Bora mewakili.

“Ya, tidak ada yang lain.” Prisha beralih memandang dua orang petugas pengangkut barang. “Boleh langsung diangkut saja sekarang.”

Walaupun mereka sudah datang, Prisha tidak pergi, ia mengawasi di sini bersama Bora agar tidak ada yang datang untuk merusak buku ketika pengangkut sedang bolak balik memasukkan barang ke mobil. Siapapun bisa melakukan itu demi mendapatkan bayaran 500.000x10, atau niat lainnya adalah untuk membuat Prisha dalam masalah.

“Sebenarnya dari mana kau mendapatkan uang?” tanya Joslan. Tidak aneh jika dia bingung, apalagi dengan Prisha yang bisa mengeluarkan banyak uang untuk menyogok catatan teman seangkatannya.

“Bukan urusanmu. Kalau kau benar ingin tahu pun akan kujawab dengan: Aku memiliki tabungan.”

Joslan berdecak, kemudian dia pergi.

Setelah ini rumor buruk Prisha pasti akan dibenarkan, tapi sudahlah, ia tidak akan mati hanya dengan mendengar orang lain memfitnahnya. Simpanan? Prisha tertawa, merasa sedikit ada kebenaran dalam kata tersebut namun juga kurang tepat.

‘Aku hanya gadis penggoda bayaran.’

Bersambung....

1
Aiden Den
up
Amal Syafiqah
aa novel nya bagus, cepat update nya ye. aku tunggu
Rinnaya: Ok. Up setiap hari, tapi hari ini sibuk jadi besok malam ya.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!