Rumah tangga Xena dan Reyhan terlihat sempurna, penuh cinta dan kesetiaan. Apalagi dari dulu hingga sekarang, Reyhan selalu memperlakukan Xena dengan baik. Malah cenderung meratukan istrinya tersebut.
Tapi semuanya hancur ketika terdengar kabar bahwa Reyhan diam-diam menikahi wanita lain demi mendapatkan keturunan karena Xena tak kunjung hamil. Lebih menyakitkan lagi, wanita itu adalah tetangga mereka sendiri yang selama ini terlihat baik di depan Xena.
Dikhianati setelah semua pengorbanannya, Xena memilih pergi. Tapi sebelum itu, ia membongkar identitas dan rahasia besar yang selama ini ia sembunyikan dari suaminya. Saat kebenaran terungkap, Reyhan baru sadar bahwa wanita yang ia sia-siakan ternyata bukan wanita biasa, dan penyesalannya datang ketika semuanya telah terlambat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zenun smith, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kontras Kehidupan
Sementara badai besar sedang memporak-porandakan Bu Mirna hingga menyisakan puing-puing penyesalan, di sisi lain, kehidupan Xena justru berjalan ke arah yang sepenuhnya berbeda. Langit malam yang sama membentang, tetapi atmosfer di kamar Xena terasa seratus kali lipat lebih menyejukkan.
Sejak melangkah keluar dari lingkaran racun keluarga mantan suaminya, dunia Xena terbuka lebar. Bisnis yang ia kelola berkembang pesat, proyek-proyek baru terus berdatangan, dan auranya memancarkan kebahagiaan. Xena telah lahir kembali sebagai wanita yang mandiri, berkelas, dan dihormati.
Tak hanya sola itu, hubungannya dengan Ibra juga mengalami kemajuan. Pada awal kedekatan mereka, Dokter Ibra adalah sosok yang sangat formal, kaku, dan lurus seperti penggaris. Maklum saja, pria itu menghabiskan sebagian besar waktunya di dunia medis.
Namun lambat laun, es di dalam diri dokter spesialis kandungan itu mulai mencair. Ibra mulai belajar menyesuaikan diri. Ia sadar bahwa Xena bukan lagi pasiennya, tapi wanita yang kelak akan menjadi pendamping hidupnya.
Demi Xena, pria yang biasanya irit bicara itu kini mulai belajar bagaimana cara memberikan perhatian kecil, meskipun kadang masih terasa canggung dan menggemaskan.
Kesibukan mereka berdua belakangan ini memang luar biasa padat. Kepadatan jadwal praktik Dokter Ibra yang sering kali harus menangani operasi darurat, berbenturan dengan jadwal Xena yang sedang sibuk mengurus ekspansi bisnisnya. Alhasil, dalam dua minggu terakhir, mereka sama sekali tidak punya waktu untuk bertemu langsung. Komunikasi mereka hanya terbatas pada pesan singkat di sela-sela jam istirahat.
Malam itu, jam dinding sudah menunjukkan pukul delapan malam. Xena yang baru saja menyelesaikan beberapa laporan pekerjaan akhirnya bisa bernapas lega. Ia merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk, ditemani laptop yang masih menyala di pangkuannya.
Tring!
Sebuah notifikasi m-banking muncul di layar ponselnya yang tergeletak di samping bantal. Xena meraih ponsel tersebut dengan malas. Namun begitu matanya membaca nominal dan nama pengirim yang tertera di layar, kedua matanya seketika membelalak sempurna.
Xena langsung terduduk tegak. Laptopnya hampir saja merosot kalau ia tidak sigap menahannya. Ia mengucek matanya berulang kali, memastikan bahwa ia tidak salah lihat.
Nominalnya lumayan besar, dan yang paling membuat Xena bingung adalah, seingatnya, ia tidak pernah memberikan nomor rekening pribadinya kepada Dokter Ibra.
Tanpa membuang waktu, Xena langsung mencari kontak nama Dokter Ibra dan menekan tombol panggilan. Sibuk atau tidak sibuk, pokoknya malam ini juga ia harus mendapatkan klarifikasi. Ia takut pria itu salah mengirimkan uang yang mungkin seharusnya ditujukan untuk keperluan atau investasi lain.
Tut... Tut... Tut...
Panggilan pertama tidak diangkat. Xena mendesah pelan, menduga pria itu mungkin sedang berada di ruang operasi atau sudah tertidur karena kelelahan.
Xena memutuskan untuk menunggu. Tepat tiga puluh menit kemudian, ponselnya bergetar. Nama Dokter Ibra tertera di layar digitalnya. Xena langsung menggeser tombol hijau ke atas tanpa menunda satu detik pun.
"Halo, Assalamualaikum, Pak Dokter? Maaf ya mengganggu malam-malam."
"Waalaikumsalam. Tidak apa-apa, Xena. Kebetulan saya baru saja selesai memeriksa pasien urutan terakhir. Ada apa? Suaramu terdengar panik sekali."
"Pak Dokter, saya mau tanya soal transferan yang baru saja masuk ke rekening saya. Ini dokter tidak salah kirim, kan? Nominalnya besar lho, Pak. Lagipula, dari mana Dokter tahu nomor rekening saya?"
Mendengar rentetan pertanyaan itu, terdengar suara dehaman kecil. "Saya tidak salah kirim. Itu memang sengaja saya kirimkan ke rekening kamu. Soal nomor rekening, saya minta bantuan asisten saya untuk melihatnya di bagian bukti transfer ke Klinik beberapa waktu lalu."
Xena mengernyitkan alisnya, masih belum puas dengan jawaban tersebut. "Iya, tapi maksudnya untuk apa ya, Pak Dokter? Kita kan tidak ada urusan bisnis atau utang-piutang?"
"Untuk nafkah pacaran, Bu."
Uhuk!
Xena refleks tersedak air liurnya sendiri. Ia ternganga lebar di tengah kamarnya, lalu sekuat tenaga menahan tawa agar tidak meledak di telepon.
"Siapa yang pacaran, Pak?" tanya Xena memancing, mencoba menggoda pria kaku itu.
"Kita," jawab Ibra cepat. Maaf, Bu Xena, status kita ini sebenarnya disebutnya apa ya? Dua orang dewasa yang berniat dan hendak menikah. Saya kurang mengerti istilah anak muda zaman sekarang. Mohon maaf jika sebutan hubungan kita tadi kurang berkenan di hati Bu Xena."
Xena menggigit bibir bawahnya, Ya ampun, nih Pak Dokter kenapa bisa gemes amat sih? batin Xena berteriak. Rasanya sangat menyenangkan jika bisa mengerjai pria seformal Ibra.
"Pak Dokter, biasanya yang namanya pacaran itu adalah dua orang yang saling mengungkapkan perasaan secara langsung, terus ada komitmen untuk jadian. Nah, mereka juga biasanya punya tanggal jadian buat dirayain tiap bulan atau tiap tahun. Sekarang saya tanya, kita berdua pernah begitu tidak? Ada tidak tanggal jadian kita?"
"Ehm... tidak ada."
"Nah, kalau tidak ada, berarti hubungan kita ini bukan pacaran namanya."
"Oh... begitu, ya."
"Iya, Pak Dokter. Makanya, kita itu hubungannya masih belum jelas dan masih abu-abu sebelum akad nikah nanti. Atau bagaimana kalau kita sebut saja hubungan kita ini sebagai hubungan antara Dokter dan Pasien? Karena panggilan kita juga masih seperti ini."
"Ya, tidak bisa begitu, Bu--eh, maksud saya, Xena. Kita ini bukan lagi dokter dan juga pasien. Ada-ada saja kamu ini," bantah Ibra, diakhiri dengan kekehan kecil yang sangat jarang ia tunjukkan. Mendengar tawa renyah Ibra, hati Xena mendadak menghangat.
"Oh, tidak mau disebut dokter dan pasien? Kalau begitu, Mas Ibra bisa jawab tidak, apa perbedaannya aku dengan alat USG yang setiap hari Mas pakai?"
Ibra terdiam sejenak, tampaknya otak jeniusnya sedang mendadak bekerja keras memikirkan analogi medis. "Bedanya yang satu itu makhluk hidup, dan yang satu lagi adalah benda mati."
"Kurang tepat. Masih salah jawabannya, Mas Ibra."
"Memangnya apa perbedaannya?" tanya Ibra, terdengar sangat penasaran.
"Perbedaannya ya itu--" Namun belum sempat jawaban itu keluar dari bibir Xena, pintu kamarnya tiba-tiba diketuk dari luar.
"Xena, kamu sudah tidur?" suara Mami terdengar dari balik pintu.
Xena langsung menjauhkan ponselnya sebentar. "Belum, Mam Masuk saja, pintu tidak dikunci."
"Xena, di bawah ada tamu yang datang dan mau bertemu denganmu sekarang juga."
Xena mengernyitkan dahi. "Jam segini, Mam? Siapa?"
"Katanya orang yang waktu itu mengurus proses penjualan rumah barumu. Itu lho, rumah yang tadinya mau kamu jadikan hadiah pernikahan untuk Reyhan."
Xena hanya bisa ber-oh pendek, Ia segera tersadar bahwa ia masih tersambung di telepon dengan Ibra.
"Mas Ibra, maaf sekali ya, sepertinya teleponnya harus aku akhiri dulu. Ini di bawah ada tamu mendesak yang harus aku temui sekarang juga, mau mengurus soal penjualan rumah yang sempat tertunda kemarin."
"Ah, iya, tidak apa-apa, Xena. Selesaikan urusanmu dulu. Selamat malam," jawab Ibra dengan penuh pengertian.
"Malam, Mas."
Telepon ditutup.
Kabarnya, sampai detik ini, Dokter Ibra masih memikirkan apa perbedaan antara Xena dan alat USG?
Sementara itu, saat Xena sudah bertemu dengan tamunya, ia memgeryitkan dahi.
Bersambung.
jd pnsran,gmna nsib emaknya reyhan???kn dia biang keroknya....
mntn mrtua gila msh aja usaha....
mga xena cpt hmil deh,biar yg onoh pd bungkam......