NovelToon NovelToon
Suami Dinginku

Suami Dinginku

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Perjodohan / Cintamanis / Tamat
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Aiza-ra

Sebuah cerita tentang kehidupan dua manusia yang dijodohkan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aiza-ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30 — untuk yang pertama kali

Jifan masih berdiri di dekat ranjang, napasnya sedikit tidak stabil. Emosi yang sejak beberapa hari terakhir ia tahan akhirnya menemukan titiknya malam ini—bukan dalam amarah, tapi dalam sesuatu yang lebih sulit ia kendalikan.

Diara duduk di tepi kasur, menatapnya dengan ekspresi yang masih campur aduk. Antara kesal, bingung, dan… sesuatu yang tidak ia akui sepenuhnya.

“Mas…” suara Diara pelan. “Jangan tiba-tiba seperti ini.”

Jifan tidak langsung menjawab.

Ia hanya menatapnya lama.

Terlalu lama sampai Diara merasa dadanya ikut berdebar tanpa alasan yang jelas.

“Aku sudah terlalu sering menahan diri akhir-akhir ini,” suara Jifan akhirnya keluar, rendah dan berat.

Diara terdiam.

Langkah Jifan mendekat.

Pelan.

Tidak tergesa.

Seolah memberi ruang untuk Diara menolak… tapi juga memastikan ia tidak benar-benar menjauh.

Tangannya terangkat, menyentuh lembut sisi wajah Diara.

Hangat.

Diara menahan napas.

“Mas…” ulangnya lebih lirih, tapi kali ini tidak menyingkir.

Jifan mendekat sedikit lagi.

Matanya bertemu dengan mata Diara.

Dan untuk pertama kalinya, tidak ada jarak yang tersisa di sana.

Ia mengecup bibir Diara—lembut, hati-hati, seperti seseorang yang takut merusak sesuatu yang sangat berharga.

Diara membeku sesaat.

Lalu perlahan… matanya terpejam.

Tangannya yang semula ragu akhirnya memegang lengan Jifan, tidak menolak.

Ciuman itu tidak terburu-buru.

Tidak kasar.

Lebih seperti jawaban dari semua kalimat yang tidak sempat mereka ucapkan selama ini.

Ketika Jifan menarik diri sedikit, ia masih menempelkan dahinya pada Diara.

“Jangan jauh-jauh lagi,” gumamnya pelan.

Diara membuka mata perlahan.

Wajahnya memerah.

Dan untuk pertama kalinya malam itu, ia tidak menjawab dengan kata-kata.

Hanya mengangguk kecil.

Jifan mengusap rambutnya pelan, lalu menariknya kembali ke dalam pelukan.

"Diara aku menginginkanmu" bisik Jifan di telinga Diara.

Diara berdebar, ia bingung. Disatu sisi dia masih belum siap dan di sisi lainnya itu adalah kewajiban seorang istri, mereka menikah sudah 4 bulan tp belum pernah melakukan itu.

Suasana kamar menjadi hening.

Namun bukan hening yang dingin.

Melainkan hening yang penuh sesuatu yang akhirnya menemukan tempatnya.

Akhirnya Diara mengiyakan permintaan Jifan.

Jifan melakukannya dengan lembut dan hati-hati.

Dan malam itu, mereka tidak lagi berbicara.

Karena beberapa perasaan… tidak lagi butuh kata-kata.

🪻🪻🪻🪻

Cahaya pagi masuk perlahan melalui celah tirai kamar. Hangat, lembut, dan tidak tergesa-gesa.

Diara membuka matanya perlahan.

Butuh beberapa detik sebelum ia benar-benar sadar di mana ia berada.

Lalu ia merasakan sesuatu.

Lengannya masih berada dalam dekapan Jifan.

Wajahnya sedikit menempel di dada suaminya, sementara tangan Jifan masih melingkar di pinggangnya, seolah tidak ingin melepaskan bahkan saat tidur. Mereka masih sama-sama polos.

Diara terdiam.

Matanya membesar sedikit.

“…Mas Jifan…” gumamnya pelan, hampir tidak terdengar.

Jifan bergerak sedikit.

Lalu membuka mata.

Beberapa detik pertama, ia juga tampak masih setengah sadar.

Sampai akhirnya tatapannya jatuh pada Diara yang ada di pelukannya.

Hening.

Tidak ada yang langsung bergerak.

Tidak ada yang langsung bicara.

Jifan yang pertama kali sadar sepenuhnya.

Tangan yang tadi memeluk Diara sedikit mengendur, tapi tidak dilepas sepenuhnya.

“Sudah pagi…” suaranya serak, pelan.

Diara langsung duduk sedikit, menarik selimut ke dadanya.

Wajahnya langsung berubah merah tipis.

“Iya…” jawabnya singkat.

Hening lagi.

Tapi kali ini bukan hening yang tegang.

Lebih seperti… canggung yang tidak ingin dihilangkan.

Jifan menatapnya lama.

Lalu pelan berkata,

“Masih marah?”

Diara tidak langsung menjawab.

Ia menunduk sebentar, lalu menggeleng kecil.

“Tidak.”

Jawaban itu sederhana.

Tapi cukup membuat Jifan menghela napas pelan.

Seperti beban yang akhirnya turun.

" Terima kasih sayang tentang yang tadi malam" ucap Jifan sambil mengecup kening Diara.

Mendengar panggilan sayang dari Jifan, pipi Diara langsung memerah.

“…Mas,” jawabnya cepat, tanpa menoleh.

Jifan tersenyum tipis.

“Kenapa?”

Diara menunduk sedikit.

“Jangan panggil begitu.”

Jifan melangkah masuk.

“Kenapa tidak boleh?”

Diara langsung menoleh sekilas, lalu kembali fokus ke piring di tangannya.

“Karena… bikin aneh.”

Jifan mengangkat alis.

“Aneh bagaimana?”

Diara diam.

“…deg-degan,” jawabnya akhirnya pelan.

Jifan terdiam sepersekian detik.

Lalu tersenyum semakin jelas.

“Oh.”

Diara langsung menoleh cepat.

“Jangan oh begitu.”

Jifan mendekat satu langkah.

“Berarti kamu deg-degan kalau aku panggil sayang?”

Diara langsung panik kecil.

“Bukan begitu!”

“Lalu?”

“…aku cuma belum terbiasa.”

Jifan mengangguk pelan, seolah memahami.

“Kalau begitu aku bantu biasakan.”

Diara langsung melirik tajam.

“Jangan.”

Tapi Jifan tidak berhenti di situ.

“Sayang.”

Diara langsung membeku di tempat.

“…Mas Jifan.”

Jifan mendekat lagi sedikit.

“Kenapa? Aku cuma panggil kamu.”

Diara menunduk cepat.

“Panggilnya jangan seperti itu…”

Jifan sedikit membungkuk, mencoba menangkap wajah Diara yang terus menghindar.

“Seperti apa?”

Diara makin salah tingkah.

“…seperti kamu sengaja.”

Jifan tersenyum kecil.

“Memang sengaja.”

Diara langsung menatapnya kaget.

“Mas!”

Jifan tertawa pelan, lalu menyandarkan tubuh di ranjang.

“Kalau kamu terus bereaksi seperti ini, aku jadi semakin ingin memanggil kamu begitu.”

Diara memalingkan wajah.

“…Mas Jifan itu menyebalkan.”

Jifan mengangguk santai.

“Iya.”

Diara langsung menoleh.

“Loh kok iya?”

Jifan menatapnya tenang.

“Tapi kamu tetap suka, kan?”

Diara langsung diam.

Wajahnya perlahan memerah lagi.

“…tidak jawab.”

Jifan tersenyum kecil, lalu mendekat pelan.

“Sayang.”

Diara langsung menutup wajahnya dengan tangan.

“…Stop!”

Jifan tertawa pelan, kali ini lebih hangat.

“Baik, aku stop.”

Diara mengintip dari balik tangannya.

“Serius?”

Jifan mengangguk.

Lalu menambahkan pelan—

“Untuk lima menit.”

Diara langsung menurunkan tangan.

“…Mas Jifan!”

Dan Jifan hanya tertawa, menikmati reaksi istrinya yang untuk pertama kalinya tidak lagi dingin, tapi benar-benar tersipu di hadapannya.

Jifan menggeser posisi duduknya, bersandar di kepala ranjang.

“Kenapa kamu tidak bilang dari kemarin kalau itu cuma bunga dari Baila?”

Diara meliriknya sekilas.

“Karena kamu sudah terlanjur emosi duluan.”

Jifan terdiam.

Lalu menghela napas pendek.

“…aku memang salah.”

Diara tidak langsung menanggapi.

Namun ekspresinya sedikit melunak.

Beberapa detik kemudian, Jifan menoleh.

“Diara.”

“Hm?”

“Jangan pergi lagi tanpa bilang.”

Diara menatapnya.

Ada jeda kecil sebelum ia menjawab.

“Kalau kamu tetap seperti kemarin… aku juga capek.”

Jifan mengangguk pelan.

“Aku akan perbaiki.”

Kalimat itu tidak terdengar seperti janji kosong.

Lebih seperti keputusan.

Diara masih duduk di atas ranjang, selimut sedikit ditarik naik hingga ke dada. Wajahnya yang semula sudah mulai tenang kini kembali berubah merah tipis ketika Jifan bergerak lebih dekat untuk mengambil baju dan celananya di sisi tempat tidur.

Jarak mereka pagi itu terlalu dekat.

Terlalu… nyata.

Diara spontan menunduk, lalu tanpa sadar menutupi sebagian wajahnya dengan telapak tangan.

“Mas…” suaranya pelan, sedikit panik. “Jangan terlalu dekat.”

Jifan berhenti sejenak.

Matanya menatap Diara yang sekarang tampak berusaha menyembunyikan wajahnya sendiri.

“Kenapa?” tanyanya santai, tapi ada nada usil yang samar.

Diara tidak menjawab.

Hanya semakin menunduk.

Tangannya masih menutup sebagian wajahnya, seolah itu bisa membuatnya menghilang dari situasi sekarang.

Jifan mendekat sedikit lagi.

“Diara.”

“Hm…” jawabnya lirih dari balik tangan.

“Kenapa kamu malah nutup wajah?”

Diara menarik napas kecil.

“malu....”

Jifan mengernyit.

“malu kenapa?”

Diara diam.

Beberapa detik.

Lalu jawab pelan, hampir seperti bisikan,

“…Mas terlalu dekat.”

Jifan terdiam.

Lalu menoleh sedikit, seolah baru menyadari posisi mereka.

Jaraknya memang hanya beberapa senti.

Dan Diara—yang biasanya keras kepala dan tegas—kali ini justru terlihat benar-benar salah tingkah.

Sudut bibir Jifan terangkat sedikit.

“Sekarang kamu yang malu? Bukannya semalam kamu sudah melihat semuanya” tanyanya pelan.

Diara langsung menurunkan sedikit tangannya, tapi wajahnya tetap merah.

“iihhh mas jangan bahas itu, Bukan malu.”

“Lalu apa?”

“…tidak tahu.”

Jawaban itu membuat Jifan tertawa kecil.

Pelan.

Hangat.

Bukan mengejek.

Lebih seperti lega.

Jifan menggeser posisi sedikit, memberi ruang.

“Kalau tidak nyaman, bilang.”

Diara meliriknya sekilas.

“Tadi juga aku sudah bilang.”

“Iya,” Jifan mengangguk. “Tapi kamu bilangnya setelah menutupi wajah.”

Diara langsung diam lagi.

Beberapa detik kemudian, Jifan berdiri dari sisi ranjang, mengambil bajunya.

Jifan belum memakai apa-apa, Diara bertambah malu.

“ih mas Jifan pakai bajunya dong“ sambil menutup muka

“biarin“ jawabnya cuek sambil memakai baju di depan Diara.

Sebelum pergi, ia menoleh.

“Diara.”

“Hm?”

“Kalau kamu terus seperti itu setiap pagi, aku bisa telat kerja.”

Diara langsung menoleh cepat.

“Apa hubungannya?!”

Jifan hanya tersenyum tipis.

“Karena kamu yang terlalu mengganggu fokus.”

Diara langsung membeku sebentar.

Lalu buru-buru memalingkan wajah.

“…Mas Jifan tidak tahu malu.”

Jifan tertawa kecil, lalu melangkah keluar kamar.

Diara masih duduk di tempatnya.

Tangannya perlahan turun dari wajahnya.

Tapi pipinya masih hangat.

Dan untuk pertama kalinya pagi itu, ia tidak merasa sepi.

Hanya terlalu dekat.

Terlalu cepat.

Terlalu membuat jantungnya bekerja tidak normal.

Tapi kali ini berbeda.

Lebih hangat.

Lebih dekat.

Jifan tersenyum kecil, sangat tipis.

“Berarti sudah baikan?”

Diara mengangguk kecil.

“Iya.”

Jifan mengulurkan tangan, menyentuh rambut Diara dengan lembut.

Kali ini Diara tidak menghindar.

Tidak menolak.

Hanya diam.

Menerima.

Di luar kamar, pagi terus berjalan.

Tapi di dalam ruangan itu, sesuatu yang sempat retak perlahan kembali menyatu—tidak sempurna, belum sepenuhnya tenang, tapi cukup untuk membuat mereka kembali saling duduk di ruang yang sama tanpa jarak yang terasa seperti kemarin.

1
Kaira Caem
sebentar manggil mas,. sebentar manggil Jifan.. ngantuk ya thoor🤣
Kaira Caem
tapi Diara pake hijab.. kok bilang rambut nya diikat rapi.. kadang² ngelindur ini author nya
Aiza-ra: Sorry kak, baru pertama kali nulis jadi suka ada yang typo 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!