Catalea Yoora merupakan salah satu dari pewaris perusahaan Rotasi Company. Perusahaan yang bergerak di bidang makanan, bakery, dan kuliner yang sudah membuka cabang lebih dari lima provinsi. Beberapa menit menjelang akad nikahnya Alea menghilang. Gosip yang beredar Alea pergi karena ia tidak mencintai calon suaminya karena perjodohan keluarga. Kecurigaan itu beralasan, karena tamu yang dimaksud ternyata mantan Alea, Zahran Adrian Adiguna. Mantan kekasih yang pernah menjalin hubungan dengan Alea. Namun hubungan itu berakhir karena hubungan keluarga. Akhir-akhir ini hubungan kedua keluarga itu membaik. Tapi kejadian hilang nya Alea berkaitan Erat dengan Zahran. Beberapa orang menduga Alea di culik oleh Zahran karena dendam. Namun sebagian orang merasa alasan hilangnya Alea sangat sederhana ia masih cinta dengan mantan kekasih nya. Motif yang hanya bisa di ketahui publik ketika Alea di temukan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AssaZahara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lokasi
Isak tangis yang semalam menguras emosi di pelataran pom bensin terbengkalai Mojokerto kini telah mengering, berganti dengan tekad baru yang jauh lebih berbahaya. Sebelum matahari menembus kabut pagi, Zahran telah memindahkan pelarian mereka ke sebuah rumah peristirahatan terbengkalai di kawasan kaki Gunung Welirang. Tempat itu adalah bekas vila milik seorang kontraktor lokal yang gulung tikar—sepi, terisolasi, dan yang terpenting, tidak tercatat dalam aset resmi keluarga Adiguna maupun Yoora.
Di dalam ruangan tengah yang berdebu, laptop milik Zahran kembali menyala. Tas kulit milik Hasanudin yang mereka bawa dari gudang Sidoarjo kini terbuka lebar di atas meja kayu. Lembar demi lembar dokumen korupsi, manipulasi arus kas Rotasi Company oleh Benny Priyatno, serta keterlibatan Gautama Adiguna terpampang jelas di bawah sorot lampu minyak.
Alea, yang kini mengenakan jaket milik Zahran yang kebesaran, menatap grafik jaringan perusahaan cangkang di layar dengan pandangan sedingin es.
"Kita punya cukup bukti untuk menjatuhkan Om Benny dan Gautama ke ranah hukum, ran... Tapi gimana dengan Reynald Pratama? Dia menggunakan Bramantyo untuk memburu kita secara ilegal. Jika kita bergerak ke polisi sekarang, Bramantyo akan mencegat kita di jalan sebelum dokumen ini sampai ke meja penyidik."
Zahran tidak langsung menjawab. Jemarinya menari di atas papan tik, memeriksa log aktivitas firewall sekuritas privat yang ia pasang untuk memantau pergerakan eksternal.
"Bramantyo adalah seorang profesional. Dia gagal di Sidoarjo karena dia meremehkan memori spasialku. Tapi dia tidak akan melakukan kesalahan yang sama dua kali. Dia pasti sedang memperluas radius pencariannya menggunakan satelit pelacak kendaraan."
"Lalu apa rencana kita?"
"Kita tidak akan pergi ke polisi, Alea. Kita akan membuat musuh-musuh kita saling memangsa di Jakarta. Kita gunakan insting keserakahan mereka untuk menjatuhkan diri mereka sendiri." ujar Zahran menoleh, menatap Alea dengan senyum tipis yang sarat akan kalkulasi matang.
Namun, sebelum Zahran sempat menjabarkan strateginya lebih lanjut, layar laptopnya mendadak berkedip merah. Lampu indikator pengacak sinyal jammer di sudut meja kembali bergetar pelan. Seseorang baru saja menembus enkripsi jaringan satelit komersial yang mereka gunakan.
Bzzzt...
Suara kresek statis keluar dari pengeras suara laptop, diikuti oleh sebuah panggilan audio interaktif yang memaksa masuk ke dalam sistem. Zahran segera meraih senjatanya, sementara Alea menahan napas, bersiap untuk kemungkinan terburuk jika Bramantyo kembali menemukan mereka.
Namun, suara yang keluar dari pengeras suara bukanlah suara berat Bramantyo yang mengancam. Itu adalah suara seorang wanita, tenang, berwibawa, dan sangat familier di telinga Zahran.
"Zahran, matikan senjata dan egomu. Ini aku," ucap suara itu dari seberang jaringan.
"Mbak ... Elena?" Zahran tertegun, menurunkan senjatanya perlahan.
Alea menatap Zahran dengan bingung. Elena Adiguna adalah kakak kandung perempuan Zahran, anak kedua Hutomo Adiguna yang selama ini memilih menetap di Singapura untuk mengelola lini bisnis perhotelan internasional keluarga, menjauhkan diri dari perebutan takhta antara Zahran dan kakak tiri mereka, Gautama.
"Bagaimana Mbak bisa menemukan frekuensi privatku?" tanya Zahran, suaranya sarat akan kewaspadaan.
"Aku yang mendanai proyek awal studiotu di Bandung lewat pihak ketiga, Zahran. Kamu pikir aku tidak tahu protokol komunikasi cadangan yang kamu rancang?" Elena menghela napas di seberang telepon satelit.
"Dengarkan aku baik-baik. Jakarta sedang membara. Gautama panik karena ancamanmu tentang berkas Yogyakarta, dan dia baru saja menyetujui rencana gila bersama Benny Priyatno untuk melenyapkan kalian berdua di Jawa Timur sebelum ayah tahu kebenaran yang sesungguhnya."
Elena terdiam sejenak, memberikan jeda yang menegangkan.
"Bramantyo tidak lagi diperintah untuk membawa Catalea pulang hidup-hidup," lanjut Elena dengan nada serius.
"Reynald Pratama tahu posisinya terancam jika audit palsu itu terbongkar. Perintah untuk Bramantyo dari mereka bertiga sekarang adalah: hilangkan barang bukti, termasuk kalian berdua. Mereka akan merekayasa kematian kalian sebagai kecelakaan pelarian di jurang gunung."
Mendengar hal itu Alea merasakan buku-buku jarinya memutih karena mengepal terlalu kuat.
"Jadi mereka ingin membunuhku juga? Seperti mereka membunuh Ibuku?"
"Nona Catalea," terdengar suara Elena melunak dari seberang sana.
"Aku turut berduka atas apa yang terjadi pada ibumu. Kematian Nyonya Sofia adalah alasan kenapa aku memilih pergi ke Singapura dua tahun lalu. Aku mengendus kebusukan Gautama dan Benny, tapi aku tidak punya bukti fisik yang kuat saat itu. Sekarang, karena kalian memegang kartu as tersebut, kalian adalah target mati bagi mereka."
"Kenapa Mbak membantuku sekarang? Ini bisa menghancurkan posisi Mbak di depan Ayah." Ujar Zahran sambil mendekat ke arah mikrofon laptop
"Karena aku tidak ingin melihat adik bungsuku mati di tangan kakak seperti Gautama," jawab Elena tegas.
"Dan aku tidak ingin Adiguna Group dipimpin oleh seorang pembunuh. Seseorang baru saja memberikan koordinat lokasi vilamu kepada Bramantyo sepuluh menit lalu melalui pelacakan nomor rangka mobil sedan sewaanmu. Mereka sedang menuju ke sana sekarang."
Zahran seketika memeriksa layar sensor luar. Benar saja, tiga titik lampu infra-merah berintensitas tinggi terdeteksi merayap naik dari jalur bawah lereng Welirang. Bramantyo telah menemukan lokasi mereka untuk kedua kalinya.
"Mbak Elena, apa yang harus kami lakukan?" tanya Alea, matanya berkilat penuh tekad.
"Di belakang vila itu, ada jalur evakuasi tua menuju perkebunan teh milik kenalanku," ujar Elena cepat.
"Sebuah helikopter privat dengan izin penerbangan domestik ke Surabaya sudah siap di sana atas namaku. Naik ke helikopter itu. Kita tidak akan lari lagi, Zahran. Aku akan membawa kalian berdua langsung ke Jakarta malam ini. Kita selesaikan perang ini di tempat semuanya dimulai—di dalam ruang rapat pleno Adiguna Tower, di depan Ayah dan Baskoro Yoora sendiri."
Panggilan terputus.
Zahran menutup laptopnya dengan satu sentakan keras, lalu menyandangnya ke punggung. Ia berbalik menatap Alea, mengulurkan tangannya yang hangat—sentuhan yang kini menjadi sumber kekuatan terbesar bagi wanita itu.
"Ini adalah akhir dari pelarian kita, Al..," kata Zahran, matanya memancarkan keberanian yang mutlak.
"Kita tidak akan lagi bersembunyi di tempat asing. Kita akan kembali ke Jakarta sebagai badai yang akan meruntuhkan mereka."
Alea menyambut genggaman tangan Zahran tanpa ragu. Di luar, suara deru mesin SUV milik tim Bramantyo mulai terdengar membelah kesunyian lereng gunung, namun kali ini, tidak ada lagi ketakutan di wajah sang pewaris Rotasi Company. Seseorang telah menemukan lokasi mereka, bukan untuk menangkap mereka sebagai mangsa, melainkan untuk mengantarkan mereka menuju gerbang pertempuran terakhir yang akan mengubah takdir kedua keluarga selamanya.