Warning
Lima tahun menikah, sikap Elang pada Rindu tetap sama. pria itu jarang menyentuh istrinya, padahal Rindu memiliki hasrat yang tinggi.
Rindu yang merupakan anak yatim piatu dengan perangai santun dan lembut, memberikan pesona pada wanita paruh baya yang tak lain adalah Bella, Ibu kandung Elang. Lalu, mereka pun dijodohkan.
Siapa sangka, ternyata sikap dingin Elang menutupi sebuah rahasia yang tidak diketahui Rindu. Dan saat rahasia itu terungkap, Rindu pun memiliki rahasia yang sama.
Rahasia apa yang tersimpan dalam rumah tangga yang selalu Rindu pertahankan mati - matian hingga akhirnya ia memilih menyerah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Molly Marco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mendua
Dada rindu bergemuruh, ia baru tahu dibalik sikap manis ibu mertuanya ternyata menyimpan satu rahasia yang tak pernah ia duga sama sekali. Alih‑alih memendam kekecewaan ini sendiri, demi menjaga kesehatan dan perasaan sang ibu, justru Rindu yang terkejut sendiri mengetahui fakta ini.
“Mama, jadi selama ini Mama sudah mengetahui kelakuan anak kesayangan Mama?” Rindu meringis, diirngi isakan tangisnya yang terdengar sinis.
“Mama tega. Rindu pikir Mama menyayangi benar‑benar tulus. Ternyata, Mama menyayangiku hanya untuk menutupi aib putra Mama.”
Rindu mengusap pipinya yang basah. Sepertinya sudah cukup ia menangis. Sebelumnya ia menangis seharia semalan untuk Elang, tapi kali ini ia tidak akan melakukannya lagi untuk Bella. Rindu tidak akan meratapi kepedihan hidupnya seorang diri.
Ia menolehkan wajahnya ke jendela. Rindu menatap matanya keluar cukup lama, hingga ia benar‑benar menghilangkan airmata itu di pipinya. Rindu sudah terlanjur menyetujui keputusan itu. ia sudah terlanjur memilih untuk memaafkan dan kembali bertahan.
“Baiklah, aku akan mencobanya untuk yang terakhir kali,” ucap Rindu dengan lirih.
Kemudian, ia menarik nafasnya kasar dan melangkah gontai menuju kamar mandi untuk membersihkan diri karena pertemuannya dengan klien bersama sang bos, sebentar lagi.
“Deal. Saya setuju dengan penawaran itu,” ucap klien yang sedang berhadapan dengan Rindu.
Kini, wanita berada di depan dua pria asing dan bosnya yang duduk di samping. Dengan menggunakan bahasa asing dan sesekali Indonesia, Rindu ikut meyakinkan dua orang itu untuk menerima eksport barang yang ditawarkan.
“Oke, Deal!” Rayen menerima jabatan tangan kliennya sebagai simbol bahwa pertemuan mereka menemukan titik terang dan satu keputusan.
Rindu tersenyum. senyum tipis yang terulas, bukan senyum lebar dan manis seperti biasanya. Memang, sejak bertemu wanita itu dan beberapa kali ikut bicara demi meyakinkan klien, arah mata Rayen terus melirik dan menatap Rindu yang terlihat berbeda.
Usai bernegosiasi, bercengkerama dan menikmati ramah tamah menu restoran hotel mewah yang ditawarkan. Rayen dan Rindu berada di dalam lift untuk kembali ke lobby dan pulang.
“Hei, kamu sakit?” tanya Rayen dengan mendekatkan tubuhnya pada Rindu yang berdiri di depannya.
Rindu menoleh dan tersenyum diiringi dengan gerakan kepala yang menggeleng setelahnya. “Tidak. Saya tidak sakit.”
“Come on, Rindu! Dari tadi kamu seperti tidak konsentrasi. Tubuhmu di sini, tapi pikiranmu tidak. Ada yang ingin kamu ceritakan?” tanya Elang dengan mengorek apa yang sedang wanita itu rasakan.
Rindu kembali menggeleng. “Ini terlalu rumit, Om. Om ga akan ngerti.”
Ucapan Rindu salah besar, justru Rayen lebih tahu dari apa yang Rindu tahu.
“Benar kamu tidak ingin cerita?” tanya Rayen sekali lagi.
Rindu pun kembali menggeleng. “Tidak ada.”
Rayen pun menarik nafasnya kasar. “Baiklah. It’s oke.”
Meski sebenarnya Rayen kesal karena Rindu masih belum bercerita dan percaya padanya, Rayen pun tidak berani terlalu mendesak agar wanita itu bercerita.
Rayen memilih mengalah, lalu diam demi kenyamanan seorang Rindu.
Tring
Percakapan itu berhenti, diiringi dengan bunyi lift yang menandakan bahwa mereka sudah tiba di lantai yang diinginkan.
Rayen dan Rindu berjalan beriringan menuju pintu lobby. Seperti biasa, Rayen pasti akan membukakan pintu itu untuk Rindu. Saat mobilnya pun tiba, pria itu lagi‑lagi membukakan pintu itu untuknya. Kali ini adalah pintu mobil.
Rayen begitu menghargai wanita, hingga terkadang Rindu terlena oleh sikapnya.
“Kita ke kantor?” tanya Rayen dengan wajah riang, agar Rindu yang duduk di sebelahnya pun ikut riang.
Rindu mengangguk. “Ya, kita langsung ke kantor. Aku ada janji sama Lita untuk membeli camilan bersama.”
“untuk besok?” tanya Rayen lagi.
“Ya.” Rindu juga mengangguk lagi. “Untuk gathering besok.”
“Kalau begitu, belikan juga camilan untukku.”
Rindu menoleh ke arah Rayen.
“Ya, ya, aku akan transfer. Tenang saja.”
Dahi Rindu mengernyit, sebenarnya bukan itu yang ia mau. “Bukan itu, Om. Tapi, aku ga tahu camilan apa yang Om suka. Camilan pedas, manis, atau asin?”
“Aku suka yang manis sepertimu,” ucap Rayen pelan, hingga Rindu kembali bertanya. “Apa, Om?”
Rayen yang fokus menyetir pun menoleh sekilas. “Apanya, apa?”
“Tadi, Om ngomong apa?”
“Tidak apa‑apa,” jawab Rayen berbohong.
“tadi, Om jawab apa?” tanya Rindu lagi.
“Jawab apa?” Rayen masih pura‑pura tidak tahu.
“Itu loh, pas tadi Rindu tanya Om mau camilan yang apa? Pedas, asin, atau Manis.”
“Manis,” jawab Rayen tanpa melebihi kalimat yang sempat ia ucapkan tadi.
“Oh.” Rindu membulatkan bibirnya. “Oke, nanti Rindu belikan. Apa saja yang penting manis kan?”
Rayen mengangguk dan tersenyum. Pria itu melajukan mobilnya menuju kantor.
“Lang, jangan jemput aku di kantor! Jemput di mall depan kantorku. Aku sedang belanja sama Lita di sini.”
Rindu mengirim pesan pada suaminya, karena lepas jam pulang kantor tadi, Rindu dan Lita langsung pergi ke tempat ini. Mereka membeli banyak keperluan yang dibutuhkan untuk acara besok.
“Lit, perasaan baru kemaren deh kamu beli sepatu sport, sekarang beli lagi?” tanya Rindu yang baru kemaren menemani sahabatnya membeli sepatu running.
“Yang kemaren, sepatunya dipakein adikku terus. Paling males kalau barangku udah dipake orang. Udah ga sreg, pakainya lagi, Rin.”
“Dih belagu,” ujar Rindu julid.
Lita pun tertawa.
“Terus kalau cowok kamu dipakai orang, udah ga mau lagi dong?” tanya Rindu yang mengisyaratkan tentang dirinya. Ia ingin tahu keputusan orang lain jika berada di posisinya saat ini.
“Jelas ngga lah. Aplagi itu. Kalau si Bagas selingkuh, gue langsung putusin.”
“Tapi kan kamu udah tunangan, Lit,” sahut Rindu.
“Yang udah nikah aja bisa cerai karena suaminya selingkuh, apalagi Cuma baru tunangan doang,” jawab Lita tegas.
“Emang kamu ga cinta sama Bagas?” tanya Rindu lagi.
“Cinta lah, tapi kalau dia berkhianat, otomatis cinta itu juga hilang, Rin.”
Ucapan Lita cukup membuat Rindu terdiam. Jika orang tahu posisinya saat ini, mungkin orang akan mengatakan jika dirinya lemah dan mudah luluh. Tapi, seperti apa yang dikatakan Lita tadi, cintanya pada Elang memang sudah otomatis hilang. Anggap saja keputusan menerima pria itu lagi adalah untuk balas budi.
Jika Elang benar‑benar berubah, maka ia pun akan kembali memupuk rasa cinta itu. Namun, jika sang suami masih belum berubah, dengan kelegaan hati, ia akan menyerah.
Tring
Tiba‑tiba pesan masuk ke ponselnya.
Rindu benda yang sedang memegang benda itu pun langsung membuka dan membacanya. Dahinya mengernyit dan bibirnya tersenyum aneh.
“Rin, saya sudah transfer. Terima kasih.”
Pesan itu diringi oleh bukti transfer sebesar lima juta yang suh terkirim ke rekening Rindu.
“Ciye … yang senyum‑senyum sendiri. Pasti dari Elang ya?” tanya Lita yang melihat ekspresi sahabatnya, usai membaca pesan di ponselnya.
Rindu menggeleng. “Bukan, ini dari Pak Rayen. Beliau minta dibelikan makanan camilan buat besok.”
Lita yang memiliki keingintahuan tinggi, langsung menoleh ke arah ponsel yang dipegang Rindu. “Waw, lima juta cuma buat camilan? Luar biasa.”
Rindu tertawa. “Ngga tahu, ngapain coba transfernya sebanyak ini?”
“Bos mah beda. Uang lima juta serasa lima puluh ribu,” sahut Lita tertawa.
Rindu ikut tertawa dan mengetik pesan untuk membalas pesan itu.
“Ini terlalu banyak, Pak.”
Rayen yang selalu online jika Rindu sedang online, langsung membalas lagi pesan itu.
“Pergunakan saja semaumu. Oke!”
Rindu menggelengkan kepala dan tak lagi membalas pesan itu. Setelah mengantar Lita membeli sepatu, mereka pun beralih ke supermarket. Rindu juga mampir ke toko kue kesukaan Rayen. Kebetulan di mall ini terdapat toko yang sering disinggahi Rayen beebrapa kali usai mereka melakukan dinas luar.
“Si bos suka tiramisu cake?” tanya Lita saat menemani Rindu membayar dan menerima kue yang dibelinya.
Rindu mengangguk. “Ya, dia itu suka yang manis‑manis.”
“Ish, diabetes entar. Lagian doi kan udah manis.”
Sontak, Rindu tertawa mendengar celotehan sahabatnya. “Iya, ya. doi kan udah manis.”
Lita semakin tertawa. “Dih, mengakui. Elang mau dibawa ke mana?”
“Perempuan juga boleh dong mendua, emang cowok aja.” Tanpa sengaja, Rindu berceletuk seperti itu, membuat Lita hanya menggelengkan kepala.
Rindu memang belum menceritakan hal terakhir yang menimpanya pada sahabatnya itu. Namun, Lita cukup tahu bagaimana sikap dingin dan cueknya seorang Elang.
Setelah membeli banyak makanan, mereka pulang. Lia sudah dijemput bagas, tunangannya. Dan, tak lama kemudian Rindu pun melihat sang suami di lobby.
“Sudah selesai?” tanya Elang yang hanya menghampiri tanpa berinisiatif untuk membantu mengambil brang bawaan yang cukup banyak di tangan Rindu.
“Temanmu mana?” tanya suaminya lagi.
“Sudah pulang sama tunangannya.”
“Oh.” Elang hanya membualtkan bibir dan kembali berjalan menuju parkiran.
Rindu hanya bisa menatap Elang yang berjalan lenggang, tanpa kasihan melihatnya membawa banyak barang, meski barang yang ia bawa bukan untuknya. Berbeda dengan Rayen, pria itu selalu sigap ketika Rindu butuhkan. Bahkan ketika pernah dalam posisi ini, Rayen langsung meraih belanaan itu dari tangan Rindu dan membantu membawanya, meski Rindu tidak meminta hal itu.
Rindu menarik nafasnya kasar. Ia kesusahan membawa barang sebanyak ini, ditambah kue yang harus ia bawa dengan posisi yang tetap terjaga. hingga sampai diparkiran dan berapa langkah lagi tiba di depan mobil, Elang baru menyadari.
“Rin, belanjaanmu banyak sekali. Boros sekali kamu, Rin.”
“Sini, aku bawakan sebagian!”