Tim gabut generasi delapan dan tim gabut generasi sembilan
Sambungan GD 2, GD 3 dan The Buwono Family.
Tiga sepupu yang satu sekolah dan satu kelas di SMP PRC, dikenal memiliki jiwa kepo tinggi. Seperti hal para ayah mereka, Sheva Sasono, Kenzie Buwono dan Zane Sihasale, sering tidak sengaja terlibat ( melibatkan diri ) dalam kasus kriminal. Bersama tim ayah mereka, ketiganya saling bahu membahu memecahkan misteri.
Generasi ke delapan klan Pratomo
Generasi ke sembilan klan Pratomo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Korban Shock
"Ela, Papa tahu kamu suka kepo bareng sama trio detektif hantu itu tapi tolong, jangan bawa-bawa nama Papa, jabatan Papa dan pangkat Papa dong. Nanti kamu akan kebiasaan. Cukup ya Ela," ucap Wira.
"Tapi kan aku pakai bukan buat aneh-aneh atau buat sombong kemana-mana. Kita hanya ingin melindungi kekayaan negara. Papa tahu, ada pemalsuan artefak. Jadi kita cari tahu siapa artisnya," eyel Naela.
"Iya tapi sudah cukup ya? Papa sudah bilang sama kamu, yang Jendral itu Papa. Kamu tidak punya hak bawa-bawa jabatan dan pangkat Papa. Kalau kamu ada masalah, cari dulu jalan keluarnya sendiri. Kalau kamu tidak bisa, diskusi sama Papa tapi sebagai ayah kamu! Bukan sebagai beking mentang-mentang kamu anak Jendral! Jabatan dan pangkat Papa ini sementara sifatnya. Papa juga akan pensiun jadi jangan sombong," ucap Wira.
Uus menatap Wira dengan tatapan kagum dan respek. Meskipun Naela hanya meminta memeriksa artefak palsu tapi setidaknya mereka tahu ada inisial nama disana. Naela juga meminta dengan sopan dan tidak sombong.
"Pak Uus, maafkan putri dan keponakan saya yang hobi jadi detektif. Mereka memang anak-anaknya tim kasus dingin Polda Metro Jaya dan sejak kecil suka jadi detektif." Wira menatap Uus dengan wajah tidak enak.
"Tidak apa-apa Jendral. Mereka juga meminta dengan sopan. Mbak Ela dan Mas Dragon juga tidak membawa-bawa nama bapak setiap saat," bela Uus. "Apalagi dengan adanya anak muda, kami lebih senang. Jujur, saya lebih respek dengan anak muda yang seperti putri dan keponakan bapak."
"Jangan terlalu banyak memuji Pak. Mereka kadang suka kebablasan kalau sudah menemukan sesuatu. Macam Sherlock Holmes next gen," senyum Wira.
"Tidak apa-apa Pak. Saya jadi semangat kok!" cengir Uus.
Wira menggelengkan kepalanya. "Ela, kamu masih kepo?"
Naela mengangguk penuh semangat begitu juga dengan Dragon. "Seru lho Oom," cengir pemuda ganteng itu.
"Haaaiiissshh! Ya sudah! Selama tidak mengganggu kuliah kamu saja. Tapi kalau sudah berhadapan dengan penjahat, jangan maju sendiri! Harus hubungi Oom Victor dan Oom Steven ya?" putus Wira.
***
Kediaman keluarga Buwono
Sheva, Kenzie and Zane
Ketiga remaja itu meletakkan kepalanya diatas meja makan. Mereka mencari nama A.S hingga larut malam dan kalau tidak ditegur dokter Lucky, mungkin mereka akan begadang.
"Kalian itu jangan sampai sakit ya? Tahu kalian penasaran tapi ... kesehatan juga utama. Apalagi besok sudah masuk sekolah karena hari Senin," tegur dokter Lucky.
"Iya Papa ...."
"Iya Oom ...."
Pum dan Bik Tur mendatangi ketiga remaja itu. "Pada mau sarapan apa Mas? Mbak?" tanya Pum.
"Apa yang ada Bik?" tanya Kenzie dengan muka bantal.
"Nasi goreng udang dan sosis mau?" tawar Bik Tur.
"Mau! Ada acar?' tanya Kenzie semangat.
"Ada. Bibik ambilkan ya?" senyum Bik Tur.
"Terima kasih Bik," jawab ketiganya.
***
Sementara itu di Divisi Kasus Dingin Polda Metro Jaya
Iptu Cristiano dan AKP Samsudin menatap datar pria yang semalam pingsan, berangsur sadar. Jangan ditanya sudah berapa kopi yang sudah mereka minum dengan tidur bergantian di ruang kerja.
"A ... Aku ... Dimana?" gumamnya.
"Di sel, Daud! Apa kamu semalam tidak ingat?" jawab Iptu Cristiano judes.
"Ah. Kuntilanak! Aku ingat ada kuntilanak! Akan aku tuntut hotelnya!" ucap Daud.
"Tuntut hotelnya kepalamu peyang!" amuk AKP Samsudin. "Elu itu mau rudapaksa anak malang!"
"Apa? Bagaimana bisa aku dituduh rudapaksa. Itu hal yang biasa dalam dunia entertainment," balas Daud cuek.
Kedua polisi itu tampak geram. "Biarkan saja dia disini. Biar bertemu dengan akamsi yang keren-keren!" ucap Iptu Cristiano.
"Hei, kamu cocok jadi aktor lho. Mau aku orbitkan?" cengir Daud genit.
Iptu Cristiano hanya menyipitkan matanya. "Sorry, aku bukan orang yang butuh duit! Mobilku saja melebihi uang kamu!"
"Halah ... hanya asbun!" ejek Daud.
"Sudahlah! Ngomong sama kaum boti itu sama saja bicara sama orang gila! Kamu tinggal disini ... Akamsi ... Temani orang gila satu ini," ucap AKP Samsudin sambil keluar bersama dengan Iptu Cristiano.
Pintu sel pun ditutup dan suasana dalam ruangan sel itu menjadi gelap. Meskipun ada sinar dari luar, tapi tetap saja Daud merasa gelap. Tak lama tampak sosok yang tidak bisa dijabarkan. Daud merasa badannya merinding hebat dan menggigil.
"Apa ini ...." Mata Daud terbelalak saat melihat sosok dengan tubuh tidak utuh.
Suara teriakan terdengar di ruang sel. Para tim gabut pun bodo amat.
***
RS Bhayangkara Jakarta
Di ruang observasi rumah sakit, Guntur masih duduk membeku di atas ranjang. Selimut putih menutupi tubuhnya hingga dada, tetapi kedua tangannya terus gemetar. Tatapannya kosong mengarah ke lantai, seolah bayangan peristiwa yang baru saja dialaminya terus berulang di kepalanya.
Napasnya memburu ketika suara pintu terbuka pelan. Iptu Casey masuk lebih dulu, diikuti Dokter Wayan dan Dean Thomas. Ketiganya sengaja melangkah perlahan agar tidak mengejutkan Guntur.
"Guntur..." panggil Iptu Casey dengan suara lembut. "Kami boleh masuk?"
Pria itu hanya mengangguk pelan tanpa mengangkat wajah.
Dokter Wayan mengambil kursi dan duduk tidak jauh darinya. "Kondisi fisikmu sudah kami periksa. Tidak ada cedera yang mengancam nyawa. Tapi kamu mengalami syok berat. Reaksi seperti ini sangat wajar setelah mengalami kejadian yang traumatis," ucapnya dengan tenang. Pendekatan yang tenang, empatik, dan meyakinkan bahwa korban telah aman merupakan bagian penting dalam membantu korban mulai merasa memiliki kendali kembali setelah peristiwa traumatis.
Mendengar kata "traumatis", bibir Guntur bergetar. "Aku... aku hampir..." suaranya tercekat. Air mata mulai mengalir tanpa bisa ditahan. "Dia bilang dia produser film... katanya mau kasih aku kesempatan main sinetron...." Kalimatnya terhenti. Bahunya berguncang hebat.
Dean Thomas menghela napas panjang sambil mengepalkan tangan, berusaha menahan emosinya. "Kamu tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri," katanya tegas namun lembut. "Orang seperti Daud memanfaatkan kepercayaan korbannya. Yang salah adalah pelaku, bukan kamu."
Iptu Casey ikut mengangguk. "Kamu berhasil bertahan. Dan sekarang kamu sudah aman. Daud tidak akan bisa menyentuhmu lagi."
Guntur menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Aku takut... kalau dia datang lagi...."
Iptu Casey menggeleng. "Itu tidak akan terjadi. Dia sudah berada dalam pengawasan polisi. Mulai sekarang kami yang akan melindungimu."
Dokter Wayan menyerahkan segelas air hangat. "Coba minum sedikit."
Dengan tangan masih gemetar, Guntur menerima gelas itu. Setelah beberapa teguk, napasnya mulai sedikit lebih teratur.
Dean Thomas menatap serius, "Kami juga tidak akan memaksamu bercerita sekarang. Kalau nanti kamu sudah merasa lebih tenang, kami akan mendengarkan semua keteranganmu pelan-pelan. Tidak perlu terburu-buru."
Ucapan itu membuat Guntur akhirnya mengangkat wajah. Matanya merah karena menangis. "Benarkah... aku sudah aman?"
Iptu Casey menatapnya dengan penuh keyakinan."Ya. Kamu sudah aman. Serius."
Untuk pertama kalinya sejak diselamatkan, Guntur merasa beban di dadanya sedikit berkurang. Meski rasa takut belum hilang, kehadiran Iptu Casey, dokter Wayan, dan Dean Thomas memberinya keyakinan bahwa dia tidak lagi menghadapi semuanya sendirian.
***
Yuhuuu up malam yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
btw....spa jdoh ela sbnrnya???🤔🤔🤔...mau nanya ka hana,pst jwbnya rahasia.... wkwkwk.
takuti si mayjend serakah itu
Dulu ke istrinya, sekarang ke anak
Memang dok Lucky totalitas ke absurdannya
kunti comel emang bisa diandalkan
melayang sna sni smbil ngoceh,untng dia hntu jd yg bs dngerjg ssama hntu....🤣🤣🤣....