Sejak kematian istrinya, Darren, seorang CEO kaya raya, hidup dalam kesepian. Bukannya mendapat dukungan, ia justru dimanfaatkan oleh ketiga anaknya yang hanya peduli pada harta warisan. Saat mencari ketenangan di taman, hidupnya berubah ketika bertemu Jihan, gadis baik hati yang baru saja dihina dan ditinggalkan kekasihnya karena penampilannya.
Ketika Darren tiba-tiba terkena serangan jantung, Jihan tanpa ragu menolongnya dan bahkan menghabiskan tabungan terakhirnya untuk biaya rumah sakit. Ketulusan Jihan menyentuh hati Darren hingga ia melamar gadis itu sebagai bentuk rasa terima kasih dan kekaguman.
Akankah Jihan menerima lamaran pria kaya yang jauh lebih tua darinya? Dan mampukah mereka menghadapi amarah anak-anak Darren yang merasa posisi mereka terancam oleh kehadiran calon ibu tiri yang tak pernah mereka bayangkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Waktu terus bergulir di dalam keheningan ruang perawatan VIP.
Di luar jendela, pekatnya malam perlahan memudar, digantikan oleh semburat cahaya fajar yang menyelinap masuk melalui celah gorden.
Setelah hampir lima jam terbius total oleh obat pasca-operasi, kelopak mata Jihan yang lentik tampak bergerak pelan.
Jemarinya yang berada di dalam genggaman Darren memberikan sedikit sentakan kecil.
Jihan perlahan membuka matanya, mengerjapkan pandangan yang semula buram akibat efek sisa obat bius.
Hal pertama yang tertangkap oleh indra penglihatannya adalah langit-langit putih kamar rumah sakit, diikuti oleh aroma obat-obatan yang khas.
Jihan menolehkan kepalanya yang masih terasa sedikit berat ke samping kanan dan kiri.
Ia melihat Darren dan Deacon yang sedang menjaganya dengan setia.
Darren duduk di sisi ranjang dengan wajah lelah yang dipenuhi kelegaan luar biasa, sementara Deacon berdiri tegap tidak jauh dari sana, melipat tangan di depan dada dengan tatapan tajam namun meneduhkan layaknya seorang pelindung.
"M-mas..." bisik Jihan, suaranya terdengar sangat lirih dan parau di balik masker oksigen.
Mendengar suara yang begitu dirindukannya, Darren langsung menegakkan tubuhnya.
Matanya yang semula dirundung kecemasan kini berbinar terang.
Ia mendekatkan wajahnya, mengecup kening Jihan dengan penuh perasaan, membiarkan air mata kebahagiaan menetes di pipinya sendiri.
"Iya, Sayang. Ini aku. Mas di sini," sahut Darren dengan suara bergetar, mempererat genggaman tangannya pada jemari Jihan yang perlahan mulai terasa hangat.
"Kamu sudah aman, Jihan. Operasimu berjalan lancar."
Deacon melangkah satu langkah mendekat ke tepi ranjang, memberikan anggukan hormat dengan seulas senyum tipis di wajah maskulinnya.
"Kamu melakukan tugasmu dengan sangat baik, Jihan. Kamu wanita yang luar biasa kuat."
Jihan tersenyum lemah di balik masker oksigennya.
Meski rasa nyeri di punggungnya masih terasa berdenyut, melihat suaminya utuh tanpa luka sedikit pun membuat seluruh rasa sakit itu menguap tak berbekas.
Pengorbanannya tidak sia-sia; sang Singa telah kembali, dan fajar kemenangan kini benar-benar telah menyapa mereka.
Darren menatap lekat sepasang mata Jihan yang masih sayu.
Genggaman tangannya di jemari istrinya mengencang, bukan karena marah, melainkan karena rasa bersalah yang teramat besar kembali menghunjam dadanya melihat selang-selang medis dan perban yang membungkus tubuh wanita itu.
"Besok lagi jangan diulangi, seharusnya aku yang terkena pisau itu, Sayang," bisik Darren dengan suara yang tercekat di tenggorokan.
Air matanya kembali mengalir tanpa bisa dibendung.
Sebagai seorang suami, dan sebagai pria yang dulu memegang takhta Bramantyo Corporation dengan mutlak, Darren merasa gagal karena membiarkan istrinya menjadi tameng hidup demi melindungi nyawanya sendiri.
"Aku ini suamimu, Jihan. Tugasku yang seharusnya melindungimu, bukan malah membuatmu meneteskan darah seperti ini lagi," lanjut Darren, suaranya bergetar hebat saat ia membawa jemari Jihan ke bibirnya, mengecupnya berulang kali dengan penuh penyesalan.
Jihan yang melihat gumpalan emosi dan rasa bersalah di mata Darren perlahan menggelengkan kepalanya dengan lemah.
Ia menggerakkan ibu jarinya, mengusap punggung tangan Darren seolah ingin menyalurkan sisa-sisa kekuatan yang ia miliki.
Di sudut ruangan, Deacon yang menyaksikan momen emosional itu hanya terdiam.
Ia menepuk pundak Darren sekali lagi, memberikan isyarat bahwa ia akan keluar untuk memberikan ruang privasi bagi sepasang suami istri yang baru saja lolos dari maut tersebut, sekaligus memastikan Jonas dan Angela mendapatkan kabar baik ini.
"Pikirkan kesembuhanmu dulu, Jihan," ujar Deacon pelan sebelum membalikkan tubuh dan melangkah keluar kamar perawatan dengan tenang.
Kini, di dalam kamar yang hanya dihangatkan oleh sinar fajar, Darren menyandarkan keningnya di tepi ranjang Jihan, masih mendekap erat tangan istrinya.
Janji setia yang sempat retak di masa lalu kini telah merekat kembali dengan begitu kuat, ditempa oleh darah dan pengorbanan yang tak ternilai harganya.
Jihan mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar VIP yang luas itu.
Setelah menyadari keberadaan Darren dan Deacon, ia baru menyadari ada yang kurang di ruangan tersebut.
"Dimana Angela?" tanya Jihan lirih, suaranya masih sedikit parau.
Darren mengusap rambut Jihan dengan penuh kelembutan, mencoba menenangkan istrinya agar tidak terlalu banyak bergerak.
"Angela pulang untuk mengambil pakaian gantiku, Sayang. Sejak semalam, baju yang kupakai sudah kotor." Darren melirik sekilas ke arah kemejanya yang bernoda darah kering, lalu kembali menatap Jihan.
Jihan mengangguk paham. Mengingat kembali kejadian mengerikan di gudang pelabuhan malam itu, sorot mata Jihan mendadak berubah serius.
"Lalu, mereka?"
Mendengar pertanyaan itu, rahang Darren seketika mengeras.
Aura Singa Bisnis yang dingin kembali terpancar dari wajahnya.
"Mereka sudah berada di tempat yang seharusnya."
Jihan mencoba menegakkan sedikit tubuhnya, berniat menanyakan detail keberadaan Andre dan Riko, namun Darren segera menahan bahu istrinya dengan sangat hati-hati.
"Aku melarangmu untuk bertemu dengan mereka," ucap Darren dengan nada bicara yang mutlak, tak menerima bantahan.
"Kondisimu belum pulih, Jihan. Biar aku dan Deacon yang menemui mereka. Mereka harus membayar setiap tetes darah yang keluar dari tubuhmu."
Jihan menatap mata suaminya dan melihat kilatan amarah yang terukur di sana.
Ia tahu, jika Darren sudah mengambil keputusan dengan tatapan seperti itu, tidak akan ada satu orang pun yang bisa menghentikannya.
Tepat pada saat itu, Deacon yang sejak tadi berdiri di dekat jendela besar melihat layar ponselnya yang bergetar.
Ia mengangkat ponselnya, mendengarkan laporan dari agen taktisnya di lapangan selama beberapa saat dengan wajah tanpa ekspresi, lalu menutup panggilan tersebut.
Deacon melangkah mendekati ranjang Jihan dan Darren, sebuah senyuman sinis yang dingin terukir di wajah maskulinnya.
"Darren, Jihan. Ada kabar baru dari jaringanku," ujar Deacon dengan suara beratnya yang berwibawa.
Ia membalikkan layar ponselnya yang menampilkan sebuah foto dokumen rahasia.
"Albert baru saja ditangkap di Malaysia saat
mencoba melarikan diri ke luar Asia. Orang-orangku berhasil mengamankannya sebelum dia sempat menghilang."
Mendengar nama Albert disebut, kilatan dendam membara di mata Darren dan Jihan.
Skenario pembalasan kini telah lengkap. Tiga orang yang telah menghancurkan hidup mereka kini telah masuk ke dalam perangkap, tinggal menunggu waktu bagi sang Singa Bisnis untuk mengeksekusi mangsanya.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu yang ritmis dan ceria memecah keheningan kamar VIP tersebut.
Pintu terbuka perlahan, menampilkan sosok Angela yang melangkah masuk dengan senyum lebar di wajahnya.
Di kedua tangannya, ia membawa sebuah tas belanja berisi pakaian ganti untuk ayahnya dan sebuah kotak kue yang diikat pita cantik.
"Mama..." panggil Angela dengan nada manja yang sudah lama tidak terdengar.
Ia langsung melangkah cepat dan duduk di kursi samping ranjang Jihan yang sebelumnya ditempati oleh Darren.
Gadis itu menatap ibu tirinya dengan mata berbinar-binar, penuh dengan rasa syukur karena wanita di hadapannya telah melewati masa kritis.
"Mama, coba tebak aku bawa apa?" tanya Angela misterius, menggoyang-goyangkan kotak kue di tangannya.
Jihan tersenyum lemah namun tulus, masker oksigennya kini sudah diganti dengan selang nasal kanula yang lebih kecil, membuatnya lebih leluasa berbicara.
"Bawa apa, Sayang?"
"Taraa! Brownies kesukaan Mama!" seru Angela sambil membuka tutup kotak tersebut, memamerkan brownies cokelat premium dengan taburan keju dan almon yang melimpah di atasnya.
Aroma manis kue itu seketika memenuhi ruangan, mengalahkan bau obat-obatan yang pekat.
Darren yang baru saja selesai mengganti kemejanya di kamar mandi dalam, melangkah keluar sambil mengancingkan pergelangan tangan kemeja hitam barunya.
Melihat interaksi manis antara putri dan istrinya, sudut bibir pria paruh baya itu terangkat, membentuk senyuman hangat.
Darren berjalan mendekat, lalu bersandar di tiang ranjang sembari menatap Jihan dengan pandangan menggoda.
"Sebenarnya, aku lebih suka Cinderella-ku berubah seperti dulu lagi. Lebih menggemaskan kalau dipeluk."
Mendengar celetukan ayahnya, Angela langsung mengerucutkan bibirnya dan menoleh dengan tatapan protes.
"Ishh, Papa! Kalau Mama Jihan gemuk lagi, nanti nggak bisa balapan lari sama aku!" ucap Angela ketus, disambut tawa renyah Jihan yang tertahan karena harus menjaga jahitan di punggungnya.
Tawa kecil dan candaan hangat itu seolah menghapus seluruh ketegangan berdarah yang terjadi beberapa jam lalu.
Di dalam kamar rumah sakit ini, mereka bukan lagi keluarga konglomerat yang sedang diburu, melainkan sebuah keluarga utuh yang telah berhasil mempertahankan kebahagiaan mereka dari cengkeraman badai.
"Padahal dulu ada yang marah-marah kalau Mamanya antar ke kampus naik motor," ledek Deacon tiba-kira dari dekat jendela.
Mantan perwira itu melipat tangan di dada dengan senyum jail yang jarang sekali ia perlihatkan, sengaja membongkar gengsi Angela di masa lalu.
Wajah Angela seketika merona merah karena malu rahasia lamanya dibongkar di depan Jonas.
Ia langsung menoleh ke arah Deacon dengan cemberut.
"Om Deacon, itu kan sudah masa lalu! Sekarang aku mau Mama sehat dulu dan bisa antar aku ke kampus lagi, mau naik motor atau apa pun aku tidak peduli," sahut Angela membela diri.
Ia lalu menggenggam erat tangan Jihan, menatap ibu tirinya dengan mata berkaca-kaca penuh ketulusan.
"Aku tidak peduli dengan omongan teman-teman sosialitaku lagi. Yang penting Mama ada di sampingku."
Jihan tersenyum haru mendengar kedewasaan putri tirinya.
Ia mengusap punggung tangan Angela dengan lembut, merasa pengorbanannya selama ini berbuah manis.
Di tengah suasana hangat itu, Jonas yang sejak tadi berdiri diam di sudut ruangan tiba-tiba melangkah maju.
Wajahnya yang biasa tenang dan taktis kini tampak sangat serius, bahkan ada sedikit ketegangan yang tertangkap dari sorot matanya.
"Dan, Pa..." panggil Jonas memecah obrolan.
Deacon menoleh, menatap putranya dengan kening berkerut.
"Ada apa, Jonas?"
Jonas menarik napas dalam-dalam, menegakkan tubuhnya, lalu mengalihkan pandangannya langsung ke arah Darren yang berdiri tidak jauh dari ranjang.
Dengan suara yang lantang dan penuh keyakinan, Jonas berucap, "Aku mau melamar Angela."
Suasana kamar VIP itu mendadak sunyi seketika. Angela membelalakkan matanya, jantungnya berdegup kencang hingga ia lupa bagaimana cara bernapas karena kejutan yang luar biasa mendadak ini.
Darren yang mendengar kalimat tegas dari tangan kanan Deacon itu perlahan membalikkan tubuhnya.
Aura Darren yang intimidatif seolah keluar secara refleks.
Ia melirik tajam ke arah Angela yang kini menunduk malu dengan wajah semerah kepiting rebus, lalu kembali menatap Jonas dengan tatapan menyelidik yang teramat dalam.
Sebuah lamaran tak terduga baru saja dijatuhkan di tengah masa pemulihan keluarga Bramantyo.