Keana Aluna, seorang anak perempuan yang di angkat oleh keluarga Hardian. Ditemukan tak berdaya oleh sepasang suami-istri saat keana duduk termenung sendirian didepan ruangan rawat kedua orang tuanya yang telah dinyatakan meninggal dalam insiden kebakaran.
Keana menjadi adik bungsu di antar kedua kakak laki-laki angkatnya.
Kakak keduanya_Gavin Reynald Hardian sangat dekat dengannya. Bersikap jahil, tapi sangat menyayanginya. Gavin sangat senang dengan kehadiran Keana di tengah keluarganya.
Berbeda dengan kakak pertamannya_Elvan Dewangga Hardian yang selalu bersikap dingin. Keana dan Elvan memang jarang bersama, karena Elvan yang sedang menyelesaikan studinya di luar negeri.
Elvan selalu memasang tembok tinggi jika bersama denganya dan sering memarahinya hingga membuat Keana merasa takut.
Namun siapa sangka, di antara kedua kakak beradik itu, menyimpan rasa yang berbeda selain sebagai seorang kakak.
Bagaimana tanggapan orang tua mereka atas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yaya haswa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan Elvan
Jam sudah menunjukkan pukul enam malam lewat saat Gavin akhirnya kembali ke tempat di mana Keana duduk dengan napas terengah-engah, membawa sebotol air mineral untuk Keana. Acara pameran luar ruangan sudah mulai ditutup, digantikan dengan persiapan awarding night internal yang tidak wajib mereka ikuti.
"Yuk, Ndut, pulang. Udah kemaleman, ntar dicariin Mama," ajak Gavin sambil meraih tas ranselnya dan merangkul bahu Keana untuk membantunya berdiri.
Lampu-lampu jalanan kota sudah menyala terang, membiaskan cahaya kekuningan di atas aspal saat SUV hitam milik Gavin melesat membelah jalanan pulang. Suasana di dalam mobil terasa hangat, ditemani alunan lagu radio yang disetel pelan.
Keana yang duduk di kursi sebelah Gavin mendadak menoleh ke arah Gavin dengan senyuman penuh arti. Kedua alisnya naik-turun jahil.
"Kak Gav..." panggil Keana, nadanya sengaja dibuat mendayu-dayu misterius.
Gavin yang fokus menatap jalanan hanya mendeham.
"Hmm? Kenapa? Kaki lo perih lagi?"
"Kaki Kea aman. Tapi... hati Kak Gavin gimana? Aman?" pancing Keana, sukses membuat dahi Gavin berkerut bingung.
"Maksud kamu? Ngomong yang jelas, Ndut," sahut Gavin sambil melirik adiknya sekilas.
Keana terkekeh geli, memajukan sedikit posisi duduknya agar bisa menatap profil samping kakaknya.
"Tadi pas Kak Gavin lagi sibuk bahas instalasi di panggung, Kea liat ada mbak-mbak jilbab yang merhatiin Kak Gavin terus. Pas Kak Gavin nengok, dia langsung salah tingkah mukanya merah gitu. Cantik banget tahu, Kak!"
Mendengar itu, Gavin sempat terdiam sejenak sebelum akhirnya mendengus tawa, menggelengkan kepalanya santai. "Oh, itu... paling si Nayla, anak kriya angkatan gue. Dia emang satu tim proyek instalasi sama Theo."
"Ih, namanya Kak Nayla? Tuh kan, Kak Gavin aja hafal namanya!" goda Keana semakin gencar, menyenggol lengan Gavin pelan.
"Sepertinya Kak Nayla suka deh sama Kak Gavin? Terus Kak Gavin sendiri... suka dia gak?"
Gavin terkekeh, memutar setir mobilnya memasuki area kompleks perumahan mereka. Ekspresi wajahnya terlihat santai, tidak ada tanda-tanda salah tingkah sama sekali.
"Nggak lah, Kea. Ngaco kamu," jawab Gavin tenang. "Nayla emang baik, anaknya pintar juga kalau urusan konsep maket. Tapi kalau nanya kakak suka atau nggak... jujur, gue belum ada perasaan apa-apa sama dia."
Keana mengerucutkan bibirnya, agak kecewa karena tebakannya meleset. "Masa sih? Kak Nayla cantik gitu loh, tipikal cewek adem yang disukain Mama. Kok Kak Gavin gak tertarik?"
Gavin memperlambat laju mobilnya saat gerbang rumah keluarga Hardian sudah mulai kelihatan di depan mata. Ia menghentikan mobil di halaman depan rumah, lalu menoleh menatap Keana dengan senyuman tipis yang hangat.
"Fokus kakak sekarang belum ke sana, Kea. Kuliah DKV lagi padat-padatnya, tugas maket numpuk, dan yang paling penting..." Gavin mengulurkan tangan, menyentil pelan dahi Keana hingga adiknya itu mengaduh.
"Kakak masih harus jagain kamu. Gimana kakak mau pacaran kalau adek kakak aja masih ceroboh dikejar anjing sampai lututnya bolong gini?"
"Ih, Kak Gavin mah bawa-bawa dengkul Kea terus!" protes Keana sambil cemberut, walau dalam hati ada rasa hangat yang kembali menjalar.
Gavin tertawa lepas melihat wajah kesal adiknya,"Dah, turun. Gendong lagi gak nih?"
"Nggak usah" jawabnya ketus, lalu keluar dari mobil meninggalkan Gavin disana.
Saat masuk ke dalam rumah, keadaan terlihat sepi. Sepertinya kedua orang tuanya sedang berada di kamar. Keana naik ke atas kamarnya. Ia sungguh lelah hari ini dan juga badannya terasa lengket. Seharian ia memakai seragam sekolah. Ia segera mandi, lalu berganti pakaian.
Setelah bersih, ia naik ke atas kasur dan membaringkan tubuhnya sembari bermain handphone. Di saat ia tengah asik, pintu kamarnya terbuka. Ia melirik siapa yang membuka, terlihat Gavin berdiri di sana.
Gavin sudah terlihat segar, ia melangkah mendekati adiknya, lalu merebahkan tubuhnya di sebelah Keana.
"Gak diketok dulu sih, Kak? Main masuk aja," protes Keana, walau ia menggeser tubuhnya memberi ruang di kasur berukuran sedang miliknya.
Gavin melipat kedua tangannya sebagai bantalan, mengembuskan napas lega yang panjang. "Kamar adek sendiri ini. Lagian kamu belum tidur, kan?"
"Belum, masih scrol-scroll," jawab Keana, kembali fokus ke layar ponselnya.
Gavin memiringkan tubuhnya, menopang kepala dengan satu tangan sambil memperhatikan adiknya. "Gimana tadi di kampus kakak? Seru gak?"
"Seru banget! Keren parah instalasi lampu-lampunya. Terus... es krim gratisnya juga enak," kekeh Keana, melirik Gavin dari sudut matanya.
"Tapi yang paling seru tetep pas ngeliat Kak Nayla curi-curi pandang ke Kak Gavin sih. Sumpah ya, sampai sekarang Kea masih gak percaya cowok kaku kayak kakak ada yang naksir."
Gavin langsung menyentil pelan lengan Keana. "Mulutnya ya. Udah dikasih es krim gratis masih aja ngeledek abangnya.
Keana mencibir, tapi kemudian keheningan perlahan merayap di antara mereka. Suara detak jam dinding terdengar semakin jelas. Keana menurunkan ponselnya, menatap langit-langit kamar dengan gurat kecemasan yang mendadak kembali hadir di wajahnya.
"Kak..."
"Hmm?"
"Besok... Bang El sampai di sini jam berapa?" tanya Keana, suaranya mencicit pelan. Ketakutan kini kembali menyergapnya.
Gavin menghela napas lembut. Ia mengulurkan tangan, mengacak rambut Keana dengan sayang. "Kata Papa sih sore, pesawatnya mendarat jam empatan. Kamu gak usah tegang gitu kenapa, sih? Tadi malam Papa udah jelasin ke kakak. Bang El itu gak benci sama kamu. Dia cuma... khawatir."
"Khawatir gimana?"
"Dia khawatir kita gak becus jaga kamu. Bang El itu perfeksionis, Kea. Dia pengennya kalau kita bawa kamu ke rumah ini, kita harus bisa kasih perhatian penuh. Dia gak mau kamu merasa telantar karena Papa, Mama, sama kakak punya kesibukan masing-masing," jelas Gavin menirukan poin pembicaraannya dengan Papa Arland tadi malam.
"Jadi, dia bukan gak suka sama kamu secara pribadi. Dia cuma mikirin kesiapan keluarga kita aja."
Keana terdiam, mencerna kata-kata Gavin. Ada sedikit rasa lega, namun rasa canggung dan takut menghadapi sosok dingin yang selama ini hanya ia lihat lewat foto keluarga.
"Beneran?"
"Iya, Bocah. Lagian ada kakak. Kalau dia macem-macem, ntar kakak aduin ke Mama," canda Gavin, mencoba mencairkan suasana.
Obrolan mereka berlanjut, beralih membahas tugas-tugas sekolah Keana hingga kelucuan anjing yang mengejarnya kemarin. Perlahan, rasa lelah yang menumpuk seharian membuat kelopak mata Keana terasa semakin berat. Ponsel di tangannya tergelincir begitu saja di atas kasur. Gavin yang awalnya berniat kembali ke kamarnya sendiri pun tanpa sadar ikut terbuai oleh rasa kantuk, menyusul adiknya ke alam mimpi dengan posisi masih mengunakan tangannya sebagai bantalan.
******
Keesokan paginya, suasana rumah yang harusnya masih sunyi mendadak terusik. Perkiraan Papa Arland meleset total. Elvan ternyata berhasil mengambil penerbangan paling cepat dan tiba di rumah pagi-pagi sekali, saat matahari bahkan belum sepenuhnya terbit.
Kedatangan Elvan yang tiba-tiba dengan koper besarnya tentu saja membuat Papa Arland dan Mama Soraya yang baru selesai salat Subuh terkejut bukan main di lantai bawah.
"Eh...sudah sampai, El. Kok gak ngabarin?" ucap Papa Arland
"Takut ganggu waktu tidur papa sama mama. Lagian El bisa pulang sendiri"
Setelah kecupan singkat di pipi sang mama dan salaman tegas dengan papanya, Elvan langsung membawa kopernya naik ke lantai atas di mana kamarnya berada. Kebetulan kamarnya lebih dekat dengan tangga, lah kamar Gavin, barulah kamar Keana di ujung.
"El mau bersih-bersih dulu, Ma, Pa. Capek di jalan."
"Iya, Sayang. Kamu mandi dulu, Mama bangunin adik-adikmu ya. Pasti mereka seneng banget kamu pulang cepet," ujar Mama Soraya berseri-seri.
Mama Soraya segera melangkah naik ke lantai atas. Tujuan pertamanya adalah kamar Gavin. Namun, saat pintu kamar anak keduanya itu diketuk dan dibuka, keadaannya kosong melongpong. Kasurnya masih rapi.
"Lho, Gavin ke mana subuh-subuh begini? Gak biasanya," gumam Mama Soraya heran.
Langkah kakinya kemudian beralih menuju ujung koridor, ke arah kamar Keana. Berpikir mungkin Gavin sedang menjahili adiknya atau ada hal lain, Mama Soraya memutar gagang pintu kamar Keana yang ternyata tidak dikunci, lalu mendorongnya perlahan.
Begitu pintu terbuka, Mama Soraya terpaku di ambang pintu.
Di atas ranjang, Gavin dan Keana masih meringkuk lelap. Gavin tidur telentang dengan satu tangan dijadikan bantal untuk kepala Keana, sementara Keana sendiri mendusel nyaman di lengan kakaknya, memeluk sebuah guling erat-erat dengan kaki yang masih diperban diluruskan ke atas bantal kecil.
"Ya ampun, pantesan kamar Gavin kosong" gumam Mama Soraya menggeleng-gelengkan kepala, merasa gemas melihat kedua anaknya begitu akur.
Namun sosok tinggi tegap berbalut kaus hitam polos muncul dan berdiri di sebelanya. Wajahnya tegas, dengan rahang kokoh dan sepasang mata tajam yang memancarkan aura dingin yang sangat dominan. Handuk kecil tersampir di bahunya, menandakan ia baru saja selesai mandi.
"Elvan" ucap Mama pelan
Matanya yang tajam langsung mengunci pemandangan di dalam kamar, menatap Gavin dan Keana yang masih terbuai di alam mimpi.
"Gavin kenapa tidur di sini, Ma?" tanya Elvan. Suaranya berat, rendah, dan langsung membuat atmosfer hangat di pagi hari itu terasa membeku seketika.
"Mungkin semalam mereka lagi ngobrol, terus gak sadar ketiduran" jelas Mama.
"Ckk... seharusnya Gavin tidak seperti itu. Tidak baik seorang laki-laki tidur di kamar perempuan" Elvan sangat tidak suka melihatnya. Ia langsung masuk dengan langkah cepat.
"Elvan, jangan" Mama seketika panik. Ia menahan tangan putra sulungnya, namun kekuatan itu tidak cukup.
Elvan tetap melangkah masuk dengan tegas, mengabaikan tarikan lembut ibunya. Aura otoriter seorang anak pertama begitu menguar kuat dari dirinya.
"Gavin, bangun," suara berat dan dingin Elvan menggelegar sembari menepuk pipi Gavi.
Sentakan itu sukses membuat Gavin langsung terduduk tegak dengan mata membelalak sempurna. Jantungnya berdegup kencang, nyawanya belum terkumpul seutuhnya. Namun, begitu manik matanya menangkap sosok tinggi tegap yang berdiri di ujung kasur dengan tatapan menghakimi, kantuk Gavin seketika lenyap.
"B-Bang El...?" gumam Gavin terbata.
Di sebelah Gavin, Keana ikut menggeliat terusik. Suara keributan itu memaksanya membuka mata perlahan. Begitu kesadarannya pulih, pandangan Keana langsung berbenturan dengan sepasang mata tajam milik Elvan. Tatapan dingin, lurus, dan menusuk yang dua hari membuat dirinya takut.
Tubuh Keana mendadak kaku, rasa takut menjalar cepat dari ujung kaki hingga kepalanya. Ia refleks menarik selimut hingga sebatas dada, menyusut ke sudut ranjang di belakang punggung Gavin.
"Punya kamar sendiri kan, Gav? Pindah sekarang," perintah Elvan tanpa basa-basi, nadanya mutlak tak terbantahkan.
Gavin mengusap wajahnya kasar, mencoba menguasai diri. Ia melirik Keana yang mulai gemetar di belakangnya, lalu menatap abangnya dengan berani.
"Banbg El, apa-apaan sih. Kan bisa kasi bangun orang pelan-pelan. Kenapa harus teriak" Gavin jadi kesal, apalagi melihat Keana yang ketakutan.
"Terus, kenapa kamu tidur di sini?" tanya Elvan
"Bang, gue cuma ketiduran semalam abis ngobrol sama Kea. Emang kenapa sih? adik sendiri juga"
"Tidak seharusnya kamu disini. Harusnya kamu paham batasan dan privasi adik perempuan mu. Keluar sekarang !!"potong Elvan, tajam dan tanpa ampun.
Gavin mengembus napas berat. Tahu bahwa mendebat Elvan di pagi buta seperti ini tidak akan menyelesaikan masalah, ia akhirnya menurunkan kakinya dari kasur. Sebelum melangkah keluar, Gavin sempat menepuk pelan puncak kepala Keana yang menunduk dalam, mencoba menyalurkan kekuatan, lalu berjalan melewati Elvan sambil menatap abangnya itu dengan dahi berkerut sebal.
Setelah Gavin keluar, Elvan tidak langsung pergi. Pria paruh dua puluhan tiga itu menatap Keana datar.
"Lain kali, jangan biarkan Gavin tidur di kamar mu, sekalipun itu tidak sengaja"
"I...i..iya kak" cicit Keana.
Elvan langsung melangkah keluar meninggalkan Keana di sana, melewati Mamanya yang mengusap sebentar lengannya.
Mama kemudian menghampiri Keana yang masih diam di atas kasurnya.
"Maafin, Abang El yah, dia hanya khawatir"
"Iya, Ma" jawab Keana dengan senyum sangat kecil, namun di paksakan.
"Yaudah, kamu mandi, terus turun ke bawa untuk sarapan. Kamu sama Gavin semalam melewatkan makan malam"